Arsip untuk 13 Agustus 2011


Don’t cry over anyone who won’t cry over you.
If love isn’t a game, why are there so many players?
Good friends are hard to find, harder to leave, and impossible to forget.
You can only go as far as you push!
Actions speak louder than words.
The hardest thing to do is watch the one you love, love somebody else.
Don’t let the past hold you back, you’re missing the good stuff.
Life’s short. If you don’t look around once in a while you might miss it.
A best friend is like a four leaf clover, hard to find and lucky to have.
Some people make the world special by just being in it.
Best friends are the siblings God forgot to give us.
When it hurts to look back, and you’re scared to look ahead, you can look
beside you and your best friend will be there.
True friendship never ends.
Friends are forever.

Good friends are like stars….you don’t always see them, but you know
they are always there.
Don’t frown, you never know who is falling in love with your smile.

What do you do when the only person who can make you stop crying is the
person who made you cry?

Nobody is perfect until you fall in love with them.
Everything is okay in the end. If it’s not okay, then it’s not the end.

Most people walk in and out of your life, but only friends leave
footprints in your heart.

Send this on to everyone special in your life, even the people who really
make you mad sometimes. Remember, every minute spent angry is sixty
seconds of happiness wasted.

arti cinta menurut islam

Posted: 13 Agustus 2011 in islamic

Assalaamu’alaikum.

Episode ( Cinta ) kali ini, mengingatkan kita untuk hati – hati terhadap
apa
dan siapa yang kita cintai.

**waktu mau makan ingat kamu, waktu bercermin ingat kamu, waktu mau
belajar
ingat kamu, waktu mau tidur ingat kamu,……**
( kalo nggak salah dina mariana yang nyanyi, betul nggak Mas Gugah )

Demikianlah kira-kira bunyi sebuah syair lagu (kalau nggak salah) yang
pernah ngetrend. Lagu itu memang bertema cinta. Cinta suci katanya.
Eit… tapi tunggu dulu apa benar cinta suci, apa benar cinta sejati. Atau
sekedar cinta syahwati.

Cinta adalah karunia Allah. Bahkan Allah menciptakan alam semesta ini
karena
cintaNya. Karenanya alam dan dunia ini adalah lautan cinta.

Cinta itu suka atau senang. Cinta itu keinginan untuk memberi, demikian
kata
orang. Tapi bila mendengar kata cinta, yang muncul di otak adalah pacar.
Inilah kesalahan kebanyakan orang dalam mengartikan cinta. Cinta yang
mereka
kenal adalah cinta syahwati. Apa memang sedemikian rendah nilai cinta.

Cinta memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dan kekuatan cinta mampu
membikin pribadi yang nekat atau pribadi yang taat. Nekat dalam arti
berani
melanggar aturan-aturan dari Allah. Sehingga sampai-sampai bilang,”Khan
cuma-pegang-pegangan tangan.” Na’udzubillah min dzalik.

Kalau bicara masalah cinta memang tak kan habis-habis. Namun berapapun
banyaknya nuansa cinta, sebenarnya hanya ada dua versi cinta, yaitu cinta
imani (cinta robbani), adalah cinta yang berlandaskan kepada keimanan, dan
cinta syahwati, cinta yang berlandaskan pada hawa nafsu yang ditunggangi
oleh syaithon laknatullah.

Cinta imani inilah sesungguhnya yang merupakan cinta sejati. Tapi
pengertian
ini telah diputar balik, sehingga cinta syahwati dianggap sebagai cinta
suci
yang harus diperjuangkan sampai tetes darah penghabisan, dengan bunuh diri
misalnya.

Mahabbah (kecintaan) seorang mu*min adalah harus berlandaskan keimanan.
Dan
kecintaan tertinggi adalah kecintaan kepada Allah (mahabbatullah).
Kecintaan kepada Allah adalah mutlak dan di atas segala-galanya. Sedangkan
bagi orang kafir sudah jelas cintanya adalah cinta syahwati.

Tanda-tanda Cinta.

Cinta secara umum mempunyai tanda-tanda dan gejala-gejala yang sama.
Pertama
adalah banyak mengingat (pada yang dicintai). Sebagaimana syair lagu di
atas, hatinya selalu teringat dan terkenang kepada yang dicintai. Di
mana-mana pun pokoknya ingat deh. Apabila suatu saat secara tiba-tiba
disebutkan nama yang kita cintai, maka hati kita tersentak.
Hati kita deg-deg sir,”Ada apa ini.” Demikian pula bila kita mendapatkan
surat dari yang kita cintai.

 

Maka bagi seorang mukmin karena kecintaan
kepada Allah adalah yang tertinggi, bila disebut namaNya, gemetarlah
hatinya
dan jika dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah imannya. (QS Al Anfal ayat
2).

Tanda yang kedua adalah takjub dan kagum (kepada yang dicintai).
Kalau sudah cinta katanya hidung pesek jadi mancung. Atau bahkan tahi
kambing dirasa coklat, ucap seorang penyanyi.. Karena begitu kagumnya
kepada
yang dicintai. Bagi cinta yang dilandasi syahwat, kekaguman nya bersifat
sementara dan tidak membekas dalam hati, karena manusia mempunyai rasa
selalu tidak puas. Maka tepatlah petunjuk Rasulullah SAW, bila mencari
istri, pilihlah karena agamanya sebagai prioritas utama, bukan cantiknya,
bukan kayanya, bukan kebangsawanannya.

Kekaguman karena iman akan memberikan hal yang berbeda, ia akan membekas
dalam hati. Apalagi kekaguman akan kebesaran dan kekuasaan Allah.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan
bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS
Ali
Imran ayat 191).

Yang ketiga dan keempat adalah ridlo (rela) dan pengorbanan.
Seorang mu’min karena cintanya yang sangat kepada Allah, ia akan rela
mengorbankan segalanya demi mencapai keridloan Sang Pemberi cinta, Allah
SWT. Kalau cinta syahwati, keridloannya pun bersifat untuk memenuhi hawa
nafsunya saja. Karena jabatan mau saja menyembah-nyembah atasan. Karena
ridlo dengan si dia sampai-sampai mengorbankan kehormatannya. Atau SPP
amblas, sehingga orang tua yang kalang kabut.

Kecintaan kepada sesuatu dengan tanda-tandanya di atas akan melahirkan
rasa
takut dan harap serta suatu ketaatan. Ini merupakan hal yang wajar dan
logis. Karena mencintainya, kita takut kehilangan, atau kawatir cinta kita
diterima apa nggak. Dan kita mengharapkan selalu dekat dengan yang kita
cintai. Otomatis supaya kekawatiran kita tidak terjadi dan harapan kita
terpenuhi, kita taat kepada yang kita cintai.

Jika dibilang,”Kalau cinta, traktir dong…” kemudian ia mentraktir dengan
uang SPP nya, maka ini adalah salah satu bentuk ketaatan. Tentu saja
bentuk
pengorbanannya adalah uang SPP. Demikian pula bila diajak nonton film di
bioskop, padahal yang ngajak itu orang lain, kemudian mau, juga merupakan
ketaatan. Ketaatan yang salah. Ketaatan yang sesat.

Kecintaan yang haq (yang berlandaskan iman) akan melahirkan ketakutan,
pengharapan dan ketaatan hanya kepadaNya. Meskipun memiliki tanda-tanda
yang
sama, tetap saja antara cinta imani dan cinta syahwati adalah bertolak
belakang. Karena yang satu haq dan yang lain bathil.

Prioritas dan Peringkat-peringkat cinta.

Dalam cinta pun ada skala prioritas seperti halnya membelanjakan uang. Ada
seseorang yang tidak punya baju sama sekali, kemudian ia tidak membeli
baju
tapi malahan membeli sepeda. Suatu hari ia bersepeda tanpa pakaian. Tentu
saja orang-orang berkata,”Orang itu sudah sinthing. Mbok ya beli baju
dulu.”

Demikianlah kita harus punya prioritas cinta, supaya tidak dibilang
sinthing. Untuk itu kita harus mengenal apa yang disebut maratibul
mahabbah
(peringkat-peringkat cinta). Dengan memahami peringkat-peringkat cinta ini
mudah-mudahan kita tidak terjerumus dalam syirik cinta.

Peringkat pertama adalah tatayyum.
Yaitu cinta yang melahirkan sikap untuk menghamba secara mutlak dan
melakukan pengorbanan sampai tetes darah penghabisan. Ini adalah kecintaan
tertinggi dan hanya kita berikan kepada Allah Rabbul ‘alamin. Seorang
mukmin
amat sangat cintanya kepada Allah. (QS Al Baqarah ayat 165).

Peringkat kedua adalah ‘isyq.
Yaitu cinta yang melahirkan ketundukkan terhadap segala perintah dan
larangannya, membangkitkan sikap hormat yang tinggi, mengikuti dan
membelanya. Kecintaan seperti ini adalah hak Rasulullah. Namun ‘isyq tidak
mendorong seseorang menjadi hamba Muhammad. Inilah yang membedakan dengan
tatayyum.

Peringkat ketiga adalah syauq (kerinduan).
Yaitu cinta yang membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang), menjadi
perekat yang kuat dalam membangun ummat. Ini adalah cinta antara mu*min
dengan mu*min lainnya,
antara orang tua dengan anak, antara suami dengan istri, dengan saudara
yang
mukmin.

Peringkat keempat adalah shababah. Ditujukan kepada sesama muslim yang
akan
melahirkan ukhuwah (persaudaraan).

Peringkat kelima adalah ‘ithf (simpati). Ditujukan kepada sesama manusia.
Rasa simpati mendorong seorang mu’min untuk menolong manusia ke jalan yang
benar (dakwah). Bila hilang rasa simpati, seseorang menjadi cuek, tak
peduli
dengan kerusakan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Peringkat keenam dan yang paling sederhana adalah ‘alaqah. yaitu kecintaan
kepada selain yang di atas, harta benda misalnya. Islam membenarkan cinta
ini dalam bentuk intifa’ (memanfaatkan, mendayagunakan). Cinta pada harta
benda yang berlebihan membahayakan manusia sendiri. Para salafusshalih
berdoa kepada Allah agar jangan sampai dunia menempati hati mereka, cukup
di
tangan saja. Artinya jangan sampai dunia yang menguasai mereka tapi mereka
yang menguasai dunia.

Jadi kecintaan tertinggi seorang mukmin adalah untuk Allah, kemudian
Rasulullah dan jihad di jalan Allah. Baru setelah itu kepada orang tua,
saudara yang mukmin, suami atau istri, anak dan seterusnya.

“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,
kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
kawatiri kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah
lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di
jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”(QS At Taubah ayat 24).

Memang manusia secara naluriah mempunyai rasa cinta kepada lawan jenis,
anak-anak, harta benda, seperti Firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 14.
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.”

Namun hal itu bukanlah legitimasi untuk menjadikan cinta syahwati sebagai
yang dipuja sedemikian rupa. Karena Allah telah menentukan
batasan-batasan.
Kecintaan tertinggi adalah untuk Allah, maka kecintaan kita kepada sesuatu
adalah karena kecintaan kita kepada Allah. Maksudnya sesuai dengan
atura-aturan dari Allah. Kita boleh mencintai lawan jenis, tapi caranya
adalah yang sesuai dengan aturan Allah, yaitu setelah menikah, bukan
pacaran. Model pacaran itu bukan dari Allah, tapi dari
syaithon laknatullah.

Jika kita lihat dalam realitas, banyak orang masih menempatkan kecintaan
tidak pada tempatnya. Ada yang menempatkan cinta tertinggi untuk sesuatu
selain Allah. Entah harta atau yang lain-lain. Mereka lebih mencintai
dunia
daripada akherat. Inilah sikap orang yang buta cinta. karena buta cinta
dunia menjadi tuan, kekasih menjadi pujaan. Menjadi ilah-ilah yang lain.

Kelaziman Cinta.

Ibnu Taimiyah berkata,”Mencintai apa yang dicintai kekasih adalah
kesempurnaan dari cinta pada kekasih.”

Apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah inilah yang disebut kelaziman cinta,
lumrahnya sesorang kepada yang dicintainya. Lumrahnya seseorang kepada
yang
dicintai adalah mencintai siapa-siapa dan apa apa yang dicintai kekasih.
Dan
membenci siapa-siapa dan apa-apa yang dibenci kekasih.

Jika Allah mencintai nabi dan RasulNya, kita pun harus mencintai mereka.
Allah mencintai orang- orang yang beriman, amal sholeh, akhlaqul karimah,
maka demikian pula seharusnya dengan kita.

Allah mencintai kebersihan. Bagaimana kita bisa disebut cinta kepada Allah
kalau kita tidak menyukai dan menjaga kebersihan. Allah membenci
orang-orang
kafir, munafiq maka kita pun demikian. Allah membenci perbuatan tercela,
seperti zina, memperturutkan hawa nafsu, berjudi, mabuk, korupsi maka kita
wajib menjauh perbuatan-perbuatan semacam ini.

Aljabar Cinta.

Aljabar atau perhitungan cinta tidak sama dengan aljabar dalam pelajaran
matematika kita. Kalau dalam matematika yang kita pelajari 100 dibagi 2
sama
dengan 50.

Dalam aljabar cinta tidak begitu. Bila kita mencintai Allah, Rasul dan
jihad
bukan berarti untuk Allah 70%, untuk Rasulullah 20% dan seterusnya. Sama
sekali bukan.

Kecintaan seorang mukmin kepada Allah adalah mutlak. Kecintaan kepada yang
lain tidak mengurangi kecintaan kita kepada Allah. Karena pada dasarnya
kecintaan kepada yang lain bagi seorang mu*min adalah karena kecintaannya
kepada Allah.

Mulai sekarang kita harus tahu mana cinta imani dan mana cinya syahwati.
Maka jangan sampai salah menempatkan cinta. Sehingga syair lagu di atas
seharusnya “waktu mau makan ingat Allah, waktu bercermin ingat Allah,
waktu
mau belajar ingat Allah, waktu mau tidur ingat Allah..,” dengan doa-doa
yang
diajarkan Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam.


 

Allah Taโ€™ala berfirman:
ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ุงุตู’ุจูุฑููˆุง ูˆูŽุตูŽุงุจูุฑููˆุง ูˆูŽุฑูŽุงุจูุทููˆุง ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.โ€ (Aali โ€˜Imraan:200)

Dan Allah Taโ€™ala berfirman:
ูˆูŽู„ูŽู†ูŽุจู’ู„ููˆูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ูˆูŽุงู„ู’ุฌููˆุนู ูˆูŽู†ูŽู‚ู’ุตู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ุฃูŽู†ู’ููุณู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู…ูŽุฑูŽุงุชู ูˆูŽุจูŽุดู‘ูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑููŠู†ูŽ

โ€œDan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.โ€ (Al-Baqarah:155)

Dan Allah Taโ€™ala berfirman:

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠููˆูŽูู‘ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑููˆู†ูŽ ุฃูŽุฌู’ุฑูŽู‡ูู…ู’ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูุณูŽุงุจู

โ€œSesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.โ€ (Az-Zumar:10)
Dan Allah Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽู„ูŽู…ูŽู†ู’ ุตูŽุจูŽุฑูŽ ูˆูŽุบูŽููŽุฑูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽู…ูู†ู’ ุนูŽุฒู’ู…ู ุงู„ุฃูู…ููˆุฑู

โ€œTetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.โ€ (Asy-Syuuraa:43)

Dan Allah Taโ€™ala berfirman:
ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ุงุณู’ุชูŽุนููŠู†ููˆุง ุจูุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑููŠู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.โ€ (Al-Baqarah:153)

Dan Allah Taโ€™ala berfirman:
ูˆูŽู„ูŽู†ูŽุจู’ู„ููˆูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูุฌูŽุงู‡ูุฏููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑููŠู†ูŽ

โ€œDan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.โ€ (Muhammad:31)

Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.

Pengertian dan Jenis-jenis Sabar

Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: โ€œqutila shabranโ€ yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syariโ€™at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.

Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para โ€˜ulama.

Jenis sabar yang pertama: yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.

Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ุงุตู’ุจูุฑููˆุง ูˆูŽุตูŽุงุจูุฑููˆุง ูˆูŽุฑูŽุงุจูุทููˆุง ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.โ€ (Aali โ€˜Imraan:200)

Allah juga berfirman
ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽูƒูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุงุตู’ุทูŽุจูุฑู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง

โ€œDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.โ€ (Thaahaa:132)

ุฅูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุญู’ู†ู ู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุกูŽุงู†ูŽ ุชูŽู†ู’ุฒููŠู„ุงู‹(23) ููŽุงุตู’ุจูุฑู’ ู„ูุญููƒู’ู…ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ

โ€œSesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qurโ€™an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.โ€ (Al-Insaan:23-24)

Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.

Dan Allah Taโ€™ala berfirman:
ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู

โ€œDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.โ€ (Al-Kahfi:28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

Jenis sabar yang kedua: yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.

Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.

Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf โ€˜alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-โ€™Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ุณู‘ูุฌู’ู†ู ุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽู†ููŠ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูู„ุงู‘ูŽ ุชูŽุตู’ุฑููู’ ุนูŽู†ู‘ููŠ ูƒูŽูŠู’ุฏูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ุจู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุฃูŽูƒูู†ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู†ูŽ

โ€œYusuf berkata: โ€œWahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.โ€ (Yuusuf:33)

Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.

Jenis sabar yang ketiga: yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).

Karena sesungguhnya taqdir Allah โ€˜Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.

Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya โ€“yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.

Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.

Allah berfirman:
ููŽุงุตู’ุจูุฑู’ ู„ูุญููƒู’ู…ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ

โ€œMaka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.โ€ (Al-Insaan:24)

stagnasi

Posted: 13 Agustus 2011 in PUISI-ku

heyda ku

Posted: 13 Agustus 2011 in PUISI-ku