Arsip untuk 25 Maret 2015


( diposting ulang dari : Wong Edan Bagu )
Di waktu yang lalu, saya sudah menyinggung sedikit tentang IMAN. ISLAM. IHSAN, sekarang di kesempatan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal tersebut, lebih rinci dan jelas lagi. Dengan Tema. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG. Semoga pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at berkah bagi sekalian sahabat-sahabat saya, terutaman anak-anak didik saya Terkasih, sebagai tambahan pemahaman di dalam pengalaman Spiritual Hakikat Hidup.

PENGERTIAN SHALAT:
Shalat secara bahasa berarti berdo’a. dengan kata lain, shalat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian shalat menurut syara’ terlalu banyak, ada yang mengartikan, shalat itu adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ada yang mengartikan, shalat itu adalah bacaan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a, ada yang mengartikan kalau shalat itu merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. ADA YANG MENGARTIKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, ADA PULA YANG MENGARTIKAN SEBAGAI : DOA, TIDAK KIKIR, SELALU BERSYUKUR, MENGHUBUNGKAN (SILATURAHIM ), AGAMA, AMANAH, PERKATAAN YANG BERGUNA, MENJAGA KEMALUAN, SHOLAWAT, BERBUAT BAIK DAN SEBAGAINYA. ISTILAH SHALAT DI DALAM AL-QUR’AN SUNGGUH TERAMAT LUAS MAKNA DAN PENGERTIANNYA, KARENA “ KATA SHALAT “ MEMPUNYAI KOSA KATA YANG SANGAT LUAS MAKNANYA JIKA DITINJAU DARI SEGI BAHASA ARAB MELAUI NAHWU SOROF, BALAGHO, BAYAN, BADI’, MA’ANI DAN LAIN SEBAGAINYA. dan masih banyak lagi Arti-arti DAN MAKNA-MAKNA lainya yang memusingkan kepaLa dan membingungkan otak. Seperti banyaknya hadist yang harus di percayai dan di benarkan, karena si empunya hadist adalah orang-orang yang diyakini adalah pilihan Tuhan. Contoh hadis dari satu tokoh dibawah ini:

“(Hasbi Asy-Syidiqi, 59) mengartikan bahwa shalat itu merupakan berhadapannya hati (jiwa) kepada Allah, dengan cara mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan keperluan kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya”

Disisi lain (Hasbi Asy-Syidiqi) mengartikan lain lagi, bahwa shalat yaitu beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. POKOKNYA
. pusing, karena saking banyaknya hadist dan riwayat yang mengartikan tentang Shalat yang harus kita akui kebenaranya walaupun semuanya berbeda-beda dalam mengartikannya.

Padahal INTInya sangat sederhana alias tidak sulit, tidak rumit, tidak jlimet tidak repot, tidak muter-muter, tidak memusingkan lagi. Karena makna dan arti Shalat itu. Adalah
 INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Tidak muter-muter memusingkan kepala kan
?

PENGERTIAN SEMBAHYANG:
Sembahyang adalah suatu bentuk kegiatan keagamaan yang menghendaki terjalinnya hubungan dengan Tuhan, dewa, roh atau kekuatan gaib yang dipuja, dengan melakukan kegiatan yang disengaja. Sembahyang dapat dilakukan secara bersama-sama atau perseorangan. Dalam beberapa tradisi agama, sembahyang dapat melibatkan nyanyian berupa hymne, tarian, pembacaan doa atau puji-pujian dan naskah agama dengan dinyanyikan atau disenandungkan, pernyata’an formal kredo, atau ucapan spontan dari orang yang berdoa.

Seringkali sembahyang dibedakan dengan doa, doa lebih bersifat spontan dan personal, serta umumnya tidak bersifat ritualistik. Meskipun demikian pada hakikatnya aktivitas ini sama, yakni sebuah bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Kebanyakan agama menggunakan salah satu cara dalam melaksanakan ritual persembahyangannya. Beberapa agama meritualkan kegiatan ini dengan menerapkan berbagai aturan seperti waktu, tata cara, dan urutan sembahyang. Ada juga yang menerapkan aturan ketat mengenai apa saja yang harus disediakan, misalnya benda persembahan atau sesaji, pakaian dan tempat serta kapan ritual itu harus dilakukan. Sementara beberapa pandangan lainnya memandang berdoa atau bersembahyang dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja.

JELASNYA TENTANG PERBEDA’AN ANATAR SHALAT DAN SEMBAHYANG ADALAH:
Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
KALAU SHALAT tidak pakai waktu dan aturan, karena di lakukan seiring keluar masuknya napas selama 24 jam. SEDANGKAN SEMBAYANG harus tepat waktu dan aturan yang sudah di tentukan oleh masing-masing agama.
KALAU SHALAT bisa di lakukan dalam keada’an apapun dan dimanapun. SEDANGKAN SEMBAYANG harus di lakukan di tempat-tempat tertentu dan dengan waktu-waktu tertentu.
KALAU SHALAT lebih mengutamakan suara hati, bahasa hati dan tidak mengharuskan raga. SEDANGKAN SEMBAYANG lebih mengutamakan suara lisan dan gerakan raga.
SEMBAHYANG ADALAH GERAKAN TAPI SHALAT ADALAH PERILAKU 
.
Saya Ulangi sekali lagi; Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
He he he . . . Edan Tenan.

LANJUT PUNYA CERITA:
Sekarang saya ingin mengungkap INTISARI dari Keduanya itu;
HAMPIR SEMUA UMAT MUSLIM MENGETAHUI BAHWA SHALAT ITU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ( INNASSHOLTA TANHA ANIL FAHSYAI WAL MUNKAR )
TAPI PADA KENYATAANNYA HAMPIR DISETIAP LORONG YANG saya JUMPAI, JUSTRU SEBALIKNYA, YAITU : YANG SHALAT MALAH MENGAJAK MANUSIA UNTUK BERBUAT KEJI DAN MUNGKAR
TERUTAMA KAUM HAWA ( KHUSUSNYA IBU IBU ) YANG SAMPAI SAAT INI MASIH SAJA MEMANFAATKAN MEDIA NGERUMPI DAN GHOSIB UNTUK MENJADI AJANG PERTEMUAN YANG HANGAT DAN SALING JOR JORAN UNTUK MEMBUKA AIB ORANG LAIN DENGAN PENUH KEAKRABAN. KELOMPOK WANITA YANG SATU MENG OLOK OLOK SEKELOMPOK WANITA YANG LAIN
DEMIKIAN PULA LELAKI YANG SATU MENGOLOK OLOK KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN
DAN SETERUSNYA .
DAN BAHKAN YANG LEBIH PARAH LAGI. SEKELOMPOK LAKI-LAKI YANG SATU MENGAJAK BEBERAPA KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN UNTUK MENFITNAH. MENCEMOH. MENGHINA BAHKAN MEMBUNUH, DAN MEMBINASAKAN ORANG2 YANG TAK BERDOSA LAINNYA


BEGITULAH PEMAHAMAN SHALAT YANG AYAT DAN DALILNYA ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ITU DIPERKOSA OLEH PARA BADUT – BADUT YANG MERASA SHALAT 5 WAKTUNYA ADALAH TIKET EXCUTIV UNTUK MASUK SURGA, PADAHAL PERBUATAN DIA SANGAT TIDAK SESUAI ( BERTENTANGAN ) DENGAN KEMAUAN ALLAH YANG TERCANTUM DI ALQURAN BAHWA YANG DISEBUT SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR.

029:045 “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih utama. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

049:011 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri”
[1410] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman
[1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

049:012 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”

YANG SAYA HERANKAN
. KENAPA TOKOH TOKOH AGAMA TIDAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENCARI DEVINISI SHALAT YANG SEBENARNYA MELALUI PEDOMAN HIDUP ( AL-QURAN ) YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADA PARA NABI. MENGAPA SHALAT 5 WAKTU YANG JELAS-JELAS MASIH MENGGUNJING, BERPRASANGKA BURUK, DAN BAHKAN MEMBUNUH SECARA KEJI DAN BIADAB ITU MASIH DIANGGAB SHALAT YANG KATANYA DILAKSANAKAN OLEH PARA NABI ITU.
BUKANKAH MASIH ADA PENGERTIAN DAN MAKSUD YANG LAIN TENTANG SHALAT ITU. DISAMPING HANYA SEKEDAR TUNGKAT-TUNGKIT. JENGKANG-JENGKING TETAPI TERNYATA MASIH KEJI DAN MUNGKAR ITU ??

JANGAN- JANGAN PARA NABI DALAM MENGAJARKAN SHALAT ITU TIDAK SEPERTI PENGAJARAN NENEK MOYANG KITA YANG TIDAK DAPAT PETUNJUK DAN TERSERET KE NERAKA OLEH IBLIS SYAITAN YANG TERKUTUK ITU
??!
ATAU BARANG KALI SEMUA INI TERJADI OLEH AKIBAT UMAT YANG MINIM PENGETAHUAN DAN HANYA MENGIKUTI KATANYA PARA PENDAHULU TANPA MENGETAHUI SUMBER YANG ASLINYA
??!
He he he . . . Edan Tenan. Piye Lurr
!!!

017:036 “Janganlah sekali-kali kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hatimu, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

ATAU BARANG KALI TIDAK HANYA MENGIKUTI KATANYA SAJA. YANG MENJADIKAN KEBANYAKAN DARI KITA TERSESAT DAN TULI TERHADAP PENGERTIAN SHALAT YANG SEBENARNYA, JANGAN – JANGAN BANYAKNYA BUKU IMPORT DAN OKNUM YANG MEMUTAR-MUTAR LIDAHNYA ITU, JUGA MENJADI ANDIL KESALAH PAHAMAN SAUDARA-SAUDARI KITA SECARA TURUN TEMURUN SAMPAI KINI HINGGA YANG AKAN DATANG 
? Waduh
 payah tur parah kie


TENTU AKAL DAN LOGIKA YANG BERDASARKAN AL-QUR’AN LAH YANG DAPAT MENYELAMATKAN UMAT ISLAM YANG SA’AT INI SEDANG DIRUDUNG PERSOALAN BESAR DI TENGAH MASYARAKAT YANG KEBANYAKAN MELAKSANAKAN SHALAT 5 WAKTU NAMUN TIDAK DAPAT MENCEGAH KEJI DAN MUNGKAR ITU. CUMA YANG JADI MASALAH
 MEREKA MALU DAN GENGSI TIDAK UNTUK MEMBUKAN AL-QUR’AN DAN MEMPELAJARINYA DARI AWAL LAGI
? AL-QUR’AN DAN AKAL YANG DIBERI RAHMATLAH YANG MAMPU MENYELAMATKAN ANAK CUCU ADAM YANG TELAH LAMA TERSESAT DARI KATANYA DAN MEMBACA BUKU-BUKU YANG DIKARANG OLEH MANUSIA MANUSIA YANG TIDAK BERPEMBUTIAN DAN YANG TIDAK PULA MENDAPAT PETUNJUK ( HIDAYAH ) LANTARAN TIDAK PERNAH LAKU KETUHANAN SENDIRI
 TAUNYA KULAK JARE ADOL NDEAN TERUS DI BUKUKAN LALU DI SYI’ARKAN
 WELEH-WELEH
 JAN UEEEEDAN TENAN.

MAKSUD DAN TUJUAN ALLAH MENJADIKAN DAN MENURUNKAN AL-QUR’AN DENGAN BERBAHASA ARAB. ITU HANYA DAPAT DIBUKTIKAN OLEH SESEORANG, KETIKA ORANG ITU MENGALAMI DISTORSI TERHADAP SEBUAH ISTILAH YANG BERTENTANGAN DENGAN NALURI KEBANYAKAN ORANG PADA SAAT TERTENTU DAN DI TEMPAT-TEMPAT TERTENTU
 KARENA ITU ALLAH MENYERUKAN AGAR AL-QUR’AN YANG BERBAHASA ARAB ITU. TIDAK HANYA SEKEDAR DIBACA SAJA, NAMUN LEBIH TAJAM LAGI HENDAKNYA DAPAT DIPAHAMI DAN DAPAT DILAKSANAKAN HUKUM-HUKUMNYA ..

PERSOALAN PEMAHAMAN INILAH YANG DAPAT MENYEBABKAN PERBEDAAN SUDUT PANDANG DI KALANGAN AKAR RUMPUT YANG MEMBUAHKAN PERSELISIHAN ANTAR KELOMPOK TURUN TEMURUN HINGGA SEKARANG INI. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG SAJA SAMPAI SAAT INI MEMPUNYAI TINGKAT KEBUNTUAN YANG SULIT UNTUK DIMENGERTI. ADA YANG MENGATAKAN SHALAT DAN SEMBAHYANG ITU SAMA, ADA YANG MENGATAKAN SHALAT ITU BAHASA ARAB ( KHUSUS UNTUK ORANG ISLAM ), SEDANGKAN SEMBAHYANG ADALAH SHALATNYA ORANG DILUAR ISLAM, BAHKAN ADALAGI YANG MENGATAKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH SEMUA PERBUATAN BAIK.

BAGI UMAT ISLAM SEMBAHYANG ITU WAJIB HUKUMNYA AGAR MANUSIA TETAP INGAT UNTUK TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK PELIT, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK MENGGUNJING, AGAR TETAP INGAT UNTUK SELALU BERBUAT BAIK DAN BERMANFAAT BAGI MANUSIA. SEMBAHYANG BAGI UMAT ISLAM MERUPAKAN REMAINING SISTEM YANG SELALU BERBUNYI DALAM SEHARI 5 KALI,

SEMBAHYANG ADALAH SHALAT YANG DIATUR WAKTUNYA
SEMBAHYANG ADALAH ALAT MENUJU SHALAT
SEMBAHYANG ADALAH CARA MENGINGAT ALLAH DI WAKTU WAKTU TERTENTU, DI TEMPAT TEMPAT TERTENTU, DAN MEMPUNYAI SYARAT SYARAT TERTENTU,

TAPI SHALAT ADALAH MELAKSANKAN PERINTAH YANG DISUKAI DAN DIRIDHAI ALLAH DISETIAP SAAT TANPA MENGENAL WAKTU DAN TEMPAT ( TERMASUK MELAKSANAKAN SEMBAHYANG ITU SENDIRI ), MAKA SEMBAHYANG PUN BISA DIARTIKAN SEBAGAI SHALAT JIKA DI JALANKAN DENGAN KHUSU’ KARENA SEMBAHYANG SEBAGIAN KECIL DARI PADA SHALAT, AKAN TETAPI SHALAT BELUM TENTU SEMBAHYANG
BISA BERSEDEKAH, BISA BERBUAT BAIK, BISA SILATURAHIM, BISA MENCARI NAFKAH, BISA BERDZIKIR, BISA BERSAMADI ATAU BERMEDITA DAN LAIN SEBAGAINYA.

WAHAI SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI KUSUSNYA ANAK-ANAK DIDIKKU
MARI KITA PAHAMI SHALAT KITA
.DAN MARI KITA PAHAMI SEMBAHYANG KITA
.JANGANLAH SEMBAHYANG KITA DIANGGAB OLEH ALLAH SEBAGAI SIULAN DAN TEPUK TANGAN BELAKA. YANG MENYEBABKAN AZAB BESERTA KITA
. YAITU SEMBAHYANG YANG TIDAK TAHU APA APA
.SEMBAHYANG YANG HANYA IKUT-IKUTAN KATANYA


MASIH BANYAK ORANG SEMBAHYANG YANG MELAMUN KEMANA -MANA
.MEREKA MENGATAKAN MENGHADAP ALLAH YANG SELALU DIUCAPKAN DALAM DOA IFTITAH, YAITU : IINI WAJJAHTU WAJHIYA LILLADHI FATOROS SAMAWATI WAL ARDHO ) SESUNGGUHNYA KU HADAPKAN WAJAHKU KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI
TAPI KENYATAANNYA DI HATI KITA MASIH MENGHADAP SESUATU YANG BUKAN ALLAH, PADAHAL MEREKA MENGUCAPKAN HUSOLLI SEBELUM TAKBIR
 YAITU HUSOLLI FARDHOL MAGHRIBI SALASA ROKAATIM MUSTAKBILAL KIBLATI
.HUSALLI YANG DIUCAPKAN ADALAH MUSTAKBILAL KIBLATI TETAPI DISAAT YANG SAMA KITA SEDANG MENGHADAP KA’BAH
.KENAPA TIDAK DIGANTI DENGAN MUSTAKBILAL KA’BAITI


AWALNYA SAYAPUN INGIN MENDAPAT PENJELASAN YANG SEBENAR BENARNYA MELALUI AL-QUR’AN, APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH
..? LALU APA PULA BEDANYA ALLAH, KIBLAT DAN KA’BAH
? PADAHAL YANG KITA UCAPKAN DI DOA IFTITAH ADALAH ALLAH
 YANG KITA UCAPKAN DI AYAT INI, BAHWA KITA MENGHADAPKAN DIRI KITA KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI DENGAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN NYA
. TAPI NIAT UCAPAN KITA DI AWAL SEBELUM TAKBIR MENGATAKAN MENGHADAPKAN DIRI KITA KE KIBLAT
.SEMENTARA KENYATAAN ASLINYA KITA MENGHADAP KE BARAT ATAU KE ARAH KA’BAH
. SEMENTARA LAGI ALLAH BERFIRMAN BAHWA APA YANG KAMU SEMBAH SELAIN ALLAH ITU ADALAH BERHALA DAN MEMBUAT KAMU DUSTA


LALU PERTANYAANNYA ADALAH : APA BEDANYA ALLAH DENGAN KIBLAT
 APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH
DAN APA BEDANYA ALLAH, KIBLAT, KA’BAH DAN BERHALA
.?
INILAH YANG MENJADI PERTANYAAN SAYA SELAMA LAKU SPIRITUAL
?
DAN ALHAMDULILLAH SAYA BERHASIL MENDAPAT JAWABAN DARI WAHYU PANCA GA’IB (KUNCI), BAHWA SEMBAHYANG ITU HARUS BERDASARKAN WAHYU
.BUKAN BERDASARKAN KITAB KITAB SELAIN WAHYU


TERNYATA SEMBAHYANG ITU HARUS DIBIMBING WAHYU
.OLEH KARENA ITU SAYA SELALU BERUSAHA BERSAMA KUNCI DI SETIAP SEMBAHYANG SAYA. AGAR SELALU BENAR-BENAR NYAMBUNG DENGAN ALLAH DAN MENGURANGI BAYANG BAYANG KESYIRIKAN AGAR SUPAYA DAPAT MERASAKAN KHUSYU’ NYA TAKHIATAL MASJID
.SUBUH
DHUHUR
ASHAR
MAGRIB DAN ISYA’ TANPA MEMPERSEKUTUKAN ALLAH
.LHA ILA HA ILLALLAH
..
ASSHADU ALLA ILA HAILLALLAH, WA ASSHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLAH
 JIKA TIDAK. SAYA HANYA AKAN SHALAT SAJA. TIDAK AKAN SEMBAHYANG. MAKA
 JANGAN HERAN JIKA BERSAMA DENGAN SAYA. MELIHAT SAYA TIDAK SEMBAHYANG. KARENA SAYA HANYA MAU SEMBAHYANG KETIKA BERSAMA KUNCI. JIKA TIDAK, SAYA MERASA RUGI DALAM SEMBAHYANG. UNTUK APA SAYA JENGANG JENGKING SEMBAYANG, JIKA TIDAK BISA NYAMBUNG DENGAN TUHAN
. BAGI SAYA, SEMBAHYANG. HUKUMNYA HARUS DAN WAJIB NYAMBUNG/BERTEMU DENGAN TUHAN.

SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI SEKALIAN. KUSUSNYA ANAK-ANAK DIDIK SAYA
. APAPUN YANG SAYA TULIS/WEDARKAN INI. MASIH BERUPA KONSEP
. JADI. JANGAN LANGSUNG DI CERNA. IBARATNYA MAKANAN, JANGAN LANGSUNG DI MAKAN/DI EMPLOK
 HARAN DAN MOHON DIKOREKSI DAN DI RENUNGKAN SEBAIK MUNGKIN. AGAR TAMBAH MENJADI YANG TERBAIK BUAT KITA SEMUANYA
 AMIIN

SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SELAMAT BERKAH SELALU.


 “…………..maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

(QS : Thaahaa,14)

Sudah menjadi Tradisi bagi setiap Umat Muslim se Dunia bahwa setiap melaksanakan Sembahyang/Sholat, maka yang terbenak dalam pikirannya adalah Penyembahan/Menyembah. Entah darimana Bahasa itu berasal, tetapi yang jelas hampir semua dari seluruh Umat Muslim meyakini bahwa kita harus menyembah kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, jika tertanam pada diri untuk Meyembah Allah dalam Amal Ibadah maka yang terjadi adalah pengkultusan suatu “sosok”/”personal”. Padahal telah diketahui dan diyakini oleh Umat Muslim bahwa Allah adalah “Laisa Kamitslihi Syai’un”/Tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun
 He he he . . . Edan Tenan

Kata-kata “Menyembah/Penyembahan”, maka masih bisa dimisalkan dengan seseorang yang menyembah kepada sesuatu misalnya Patung, Pohon, Matahari, Api bla
 bla
 bla
 dll, yang mana ada suatu “sosok” yang berada di luar atau di depan atau di atas atau dikanan atau dikiri dari diri Sang Penyembah. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menyembah Patung, Pohon, Matahari, Api bla
bla
dllnya
????. Melihat ataupun tidak melihat akan yang di SEMBAH, tetap saja bertentangan dengan TAUHID yang sebenarnya. Karena TAUHID itu, bukan PENYEMBAHAN melainkan SADAR akan KESADARAN ke ESA an Allah Swt
 He he he . . . Edan Tenan

KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt MUTLAK tidak bisa di ganggu gugat, karena Allah Muhitum Fil ‘Aaalamiin/Allah Meliputi sekalian Alam. Tetapi jika dimaknai dengan MENYEMBAH, maka menunjukkan bahwa Allah itu adalah suatu “sosok” yang berada di suatu Tempat yang berada Nan jauh disana
.., ada yang meyakini bahwa Allah bersemayam di Atas Arsy yang berada di atas langit ke tujuh, Salahkah jika dikatakan demikian
 Benar dan Tidak salah. Tetapi yang salah adalah Penafsiran dari pada Ayat tsb. Apalagi Ayat tsb terdapat dalam Al-Qur’an, berarti itu sudah benar adanya, tetapi
jika salah menafsirkan maka salah pula lah Keyakinan yang ada. Bahasa al-Qur’an adalah Perkataan Allah/Suara Allah, tentunya tidak bisa di cerna dengan Akal pikir Manusia, karena Akal pikir Manusia itu terbatas dan juga Akal itu tercipta. Sesuatu yang tercipta itu adalah Baru dan tidak Kekal, apakah bisa sesuatu yang baru dan tidak kekal itu mengetahui Hakikat sebenarnya dari kata-kata/Firman/Suara Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an
???

Jika akal mencerna lalu menafsirkan hanya sebatas kata-kata yang menurut akal pikir semata, maka Nyata SALAH lah
.penafsiran yang demikian. Sebab, Allah itu Laitsa Kamitslihi Syai’un, bagaimana mungkin bisa dikatakan berada di suatu tempat, sedangkan Allah tidak terikat oleh Ruang dan Waktu. Ruang dan Waktu menunjukkan Tempat, dan hanya Makhluk lah
.yang berada dan terikat oleh Ruang dan Waktu. Sedangkan Allah
.., Tidak bertempat tetapi yang memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat).

Karenanya dalam pandangan TAUHID dan TASAWUF atau MA’RIFATULLAH, maka siapa yang menyembah Allah maka mereka berada dalam ke kufuran, Karena telah menyamakan Allah dengan “sosok” yang berada di suatu tempat
 He he he . . . Edan Tenan

Para Arifbillah(yang Mengenal akan Allah), menilik kata-kata “MENYEMBAH” itu bukanlah suatu “PENYEMBAHAN” melainkan “KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”.

Jadi

..mendirikan Sembahyang/Sholat adalah untuk mengenal akan ALLAH MAHA BESAR (ALLAHU AKBAR) yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa BENAR lah
.ALLAH itu ESA tiada sekutu bagi-Nya, Tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan-Nya meliputi tiap-tiap sesuatu.

Karenanya renungkanlah
..kenapa pada saat Takbiratul Ihram mengangkat ke dua tangan dan mengatakan “ALLAAHU AKBAAR”. Ternyata Itu adalah Tanda dan Bukti bahwa dalam Penyerahan Diri akan Tumbuh Kesadaran bahwa “YA” BENAR!!!!
..Allah Maha Besar dan Meliputi”.


(1). MEMAHAMI FILOSOFI LELUHUR JAWA

 

Leluhur masyarakat Jawa memiliki beraneka filosofi yang jika dicermati memiliki makna yang begitu dalam. Tetapi, anehnya filosofi yang diberikan oleh para leluhur itu saat ini dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Dibawah ini ada beberapa contoh filosofi dari para leluhur/nenek moyang masyarakat Jawa.


“Dadio banyu, ojo dadi watu” (Jadilah air, jangan jadi batu).

Kata-kata singkat yang penuh makna. Kelihatannya jika ditelaah memang manungso kang nduweni manunggaling roso itu harus tahu bagaimana caranya untuk dadi banyu.

Mengapa kita manusia ini harus bisa menjadi banyu (air)? Karena air itu bersifat menyejukkan. Ia menjadi kebutuhan orang banyak. Makhluk hidup yang diciptakan GUSTI ALLAH pasti membutuhkan air. Nah, air ini memiliki zat yang tidak keras. Artinya, dengan bentuknya yang cair, maka ia terasa lembut jika sampai di kulit kita.

Berbeda dengan watu (batu). Batu memiliki zat yang keras. Batu pun juga dibutuhkan manusia untuk membangun rumah maupun apapun. Pertanyaannya, lebih utama manakah menjadi air atau menjadi batu? Kuat manakah air atau batu?

Orang yang berpikir awam akan menyatakan bahwa batu lebih kuat. Tetapi bagi orang yang memahami keberadaan kedua zat tersebut, maka ia akan menyatakan lebih kuat air. Mengapa lebih kuat air daripada batu? Jawabannya sederhana saja, Anda tidak bisa menusuk air dengan belati. Tetapi anda bisa memecah batu dengan palu.

Artinya, meski terlihat lemah, namun air memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetes demi tetes air, akan mampu menghancurkan batu. Dari filosofi tersebut, kita bisa belajar bahwa hidup di dunia ini kita seharusnya lebih mengedepankan sifat lemah lembut bak air. Dunia ini penuh dengan permasalahan. Selesaikanlah segala permasalahan itu dengan meniru kelembutan dari air. Janganlah meniru kekerasan dari batu. Kalau Anda meniru kerasnya batu dalam menyelesaikan setiap permasalahan di dunia ini, maka masalah tersebut tentu akan menimbulkan permasalahan baru.

“Sopo Sing Temen Bakal Tinemu”

Filosofi lainnya adalah kata-kata “Sopo sing temen, bakal tinemu” (Siapa yang sungguh-sungguh mencari, bakal menemukan yang dicari). Tampaknya filosofi tersebut sangat jelas. Kalau Anda berniat untuk mencari ilmu nyata ataupun ilmu sejati, maka carilah dengan sungguh-sungguh, maka Anda akan menemukannya.

Namun jika Anda berusaha hanya setengah-setengah, maka jangan kecewa jika nanti Anda tidak akan mendapatkan yang anda cari. Filosofi di atas tentu saja masih berlaku hingga saat ini.

“Sopo sing kelangan bakal diparingi, sopo sing nyolong bakal kelangan”
(Siapa yang kehilangan bakal diberi, siapa yang mencuri bakal kehilangan).

Filosofi itupun juga memiliki kesan yang sangat dalam pada kehidupan. Artinya, nenek moyang kita dulu sudah menekankan agar kita tidak nyolong (mencuri) karena siapapun yang mencuri ia bakal kehilangan sesuatu (bukannya malah untung).

Contohnya, ada orang yang dicopet. Ia akan kehilangan uang yang dimilikinya di dalam dompetnya. Tetapi GUSTI ALLAH akan menggantinya dengan memberikan gantinya pada orang yang kehilangan tersebut. Tetapi bagi orang yang mencopet dompet tersebut, sebenarnya ia untung karena mendapat dompet itu. Namun,ia bakal dibuat kehilangan oleh GUSTI ALLAH, entah dalam bentuk apapun.

Dari filosofi tersebut, Nenek moyang kita sudah memberikan nasehat pada kita generasi penerus tentang keadilan GUSTI ALLAH itu. GUSTI ALLAH itu adalah hakim yang adil.

 

(2). SOPO ORA NANDANG SUKA LAN SUNGKAWA ?

Para maos layang iki tak pastekake ora beda karo pangriptane layang iki; wis kerep kataman ing SUKA ( Bungah ) lan SUNGKAWA ( Susah ). Ora mung kerep wae, satemene panandang sing kita jenengi BUNGAH lan SUSAH kuwi pancen kita sandang sedina-dinam ing saben jam, saben menit, saben sekon.

Ujare kawruh BEGJA ( Kyai Ageng Surjamataram ) ; pancen lelakone wong urip kuwi mung gek bungah gek susah, gek bungah gek susah, mangkono sadina dinane. Ora ana wong bungah terus-terusan sing tanpa susah lan ora ono wong susah terus-terusan sing tanpa bungah. Ing sajroning bungah sing kaya ngapa wae banjur thukul susahe, ing sajroning susah sing tumpuk-tumpuk tumpang tindihya isih bisa tuwuh bungahe.

Miturut wewarahe kawruh mau, thukule BUNGAH  lan SUSAH  kuwi jalaran saka mulur mungkrete karep. Wong duwe kekarepan kuwi yen katekan BUNGAH yen ora katekan SUSAH. Mangka karep kuwi yen wis katekan mesti banjur mulur, mulur maneh lan mulur maneh nganti


.ora katekan. Kosok baline karep kui yen ora katekan mesti banjur mungkret, mungkret maneh, mungkret maneh, nganti

.katekan.

Mulane lelakone yo mung gek bungah gek susah – gek bungah gek susah, mangkono wae janji ish urip ora nganggo mikir.

Teruse wedare kawruh mau: lalakon gek bungah gek susahh kuwiwong sajagad-rat iki pada wae, ora ana bedane babar pisan, antarane RATU karo KERE, Wali Karo Bajingan. Mung wae SABABE lan WUJUDE

Ana Candhake












(3). AJI PAMELENG

Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun. 

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun.

 

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat.

 

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.

 

Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun, margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau.

 

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil.

 

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, serta kedah santun angrasuk agami Islam.

 

Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara, ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados manungsa.

 

Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.

 

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik.

 

Purwo saking tembung klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

 

Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados, menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten; dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.

 

Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun, lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab, daim saking daiwan basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam.

 

Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim, punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.

Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata.

 

Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh asamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.

 

Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.

 

Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang.

Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika :

 

Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes- sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :

1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai, pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.


2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika :

1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.

2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.

3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.

4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking dayaning mas picis rajabrana.

5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman.

Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun.

 

Mila makaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.

Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika makaten :

 

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.

Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun .

 

Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara, pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinaning panganggep.

 

Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan.

 

Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas, inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon.

 

Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking puser, minggah dumugi ing suhunan.

 

Lajeng `ya’, kasarengan kalihan wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah – haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).

 

Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil, sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi sampun sareh, inggih lajeng ka’angkatana malih, makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa.

 

Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil.

 

Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung, utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.

 

Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu.

 

Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu – wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan, katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun, sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun.

 

Tiyang sakit sirna sakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara.

 

(4). PANDAWA LIMA

 1. PRABU YUDHISTIRA

PRABU YUDHISTIRA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja jin negara Mertani, sebuah Kerajaan Siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker. Prabu Yudhistira mempunyai dua saudara kandung masing-masing bernama ;Arya Danduwacana, yang menguasai kesatrian Jodipati dan Arya Dananjaya yang menguasai kesatrian Madukara. Prabu Yudhistira juga mempunyai dua saudara kembar lain ibu, yaitu ; Ditya Sapujagad bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.Prabu Yudhistira menikah dengan Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala, raja jin negara Madukara dengan permaisuri Dewi Sumirat.

 

Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Ratri, yang kemudian menjadi istri Arjuna.Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian Bagawan Wilwuk/Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani. Prabu Yudhistira kemudian menyerahkan seluruh negara beserta istrinya kepada Puntadewa, sulung Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Prabu Yudhistira kemudian menjelma atau menyatu dalam tubuh Puntadewa, hingga Puntadewa bergelar Prabu Yudhistira. Prabu Yudhistira darahnya berwarna putih melambangkan kesuciannya.

 2. BIMA atau WERKUDARA

Dikenal pula dengan nama; Balawa, Bratasena, Birawa, Dandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, atau Wijasena. Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa.

 

Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur. Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol. Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga.

 

Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem. Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Bima mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :

1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,

2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan

3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.

Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.

3. ARJUNA

Adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita  putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara.

 

Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa. Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ).

 

Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain:

 

Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.  Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah :

  1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.

  2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.

  3. Dewi Srikandi

  4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan

  5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti

  6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka

  7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni

  8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga

  9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati

10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma

11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa

12. Dewi Maeswara

13. Dewi Retno Kasimpar

14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada

15. Dewi Dyah Sarimaya.

 

Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).

 

Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.

Arjunaa memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata.

Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain. 

4. NAKULA

Nang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat) adalah putra ke-empat Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Nakula lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa (pedalangan Jawa), Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Nakula adalahtitisan Bathara Aswi, Dewa Tabib.

 

Nakula mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Nakula juga mempunyai cupu berisi, “Banyu Panguripan atau Air kehidupan” (tirtamaya) pemberian Bhatara Indra. Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia.

 

Nakula tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:

1. Dewi Sayati putri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan

    memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang

    Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

2. Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa

    yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita,

    Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala)

    dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung.

 

Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik. Setelah selesai perang Bharatyuda, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa bersama keempat saudaranya.

5. SADEWA atau Sahadewa

Dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima atau bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuriDewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula. Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib.

 

Sadewa sangat mahir dalam ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus. Mahir menunggang kuda dan mahir menggunakan senjata panah dan lembing. Selain sangat sakti, Sadewa juga memiliki Aji Purnamajatipemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa. Sadewa mempunyaiwatak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia.

 

Sadewa tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu, wilayah negara Amarta. Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa). Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira. Akhir riwayatnya di ceritakan, Sahadewa mati moksabersama ke empat saudaranya.

 

(5). PAMORING KAWULA GUSTI-
MANUNGGALING KAWULA GUSTI;

Para kadang kang kang anggilud pangelmon kawruh Jawi, supaya sakabehing reh kang digilud iku bisoa manjing dadi keyakinan kang lebune lumantar pikir pratitis, dadi ora banjur mung mbalilutan tanpa landesan pamgerten, sing wahanane andhakan sok banjur dadi kukuh amengkoki keyakinan sing tanpa katerangan kasunyatan.

 

Anandena pamarsudi / panggilude kudu sing kelawan genep, ora mung nyumurupi ngelmune wae, nanging uga ameruhana gegebengane kang sejati. Kudu bisa anyumurupi cangkok lan isine, wadah lan sing di wadahi, mula mengkono awit yen mung salah siji wae, dadine malah bakal kapitunan.

 

Upama mung nyumurupi teori iki samangso ngenani babagan kawikyan nanging ora ngidhepi marang prakteke, utawa kosok baline, weruh prakteke nanging ora weruh uger-uger teorine iku jejere banjur ora sampurna. Dadi tiwas bisa, nanging bisane mung separo, ora tatas, temah dadine malah ora putus.

 

Yen dijinggleng, gelaran pemut kaya kang wis di terangake ing duwur iki, salugune mung ya mampri amprih utamane lan sampurnane ngilud ngelmu iku.

 

Ana dene bakuning wos mungguhing pemud kasebut, gelarane mengkene :
a. Marsudia ngelmu amrih bisane weruh pamoring semu prasemon gaibing Widi, iki sing dadi sing dadi gegayuhan baku, ya pakeme giludan, yen ora bisa meruhi perkara kasebut, anggone mersudi ngelmu dadi tuwas tanpa tanja.
b. Murih bisa meruhi pamoring semu, prasemon gaib ing Widi iku mau saranane kudu jangkep meruhi cankok lan isine, salah siji ora kena ditinggal.
1. Cangkok – wadah – gelar kelahiran- laku.
2. Isi sing diwadahi – sing netepi gelar kelahiran – ngelmu.

Dadi amrih bisa nyandhak marang susurupan lan gegayuhan kang satune kudu jangkep anindakake ngelmu lan laku, jer ngelu kang ora dikanteni laku iki muspra, ora ana guna paedahe, karo-karone kudu ditindakake kanti bebarengan, ora kena cewet salah siji.

Anadene laku mungguhing pangelmon iku ona patang perkara, urut-urutane lan lekase ora kena ditinggalake salah siji yaiku :
1. Syariat
Tegese anindakake kelawan pakarti nyata miturut angger-angger pranatane pangelmon, endi sing kena lan endi sing ora kena dilakoni, endi sing wajib ditindakake lan endi sadengah kang bisa dileksananikanti mana suka (suah).
2. Tarekat
Tegese kawruh mungguhing angger-angger kasebut, dadi nindakake syariat kudu kanthi dilambari pangerten apa sebab lan guna paedahe dene sawiji-wiji iki wajib utawa ora kena ditinggalake.
3. Hakekat
Tegese nuju marang kasunyatan woh mungguhing pangiludan, yaiku sing kasebut laku sing wis nyandakmarang tataran kebatinan (luwih jero maneh).
4. Makrifat
Tegese nyumurupi kasunyatan wohing pangiludan.

Laku patang perkara kasebut kudu katindakake kabeh kanti urut miturut undha usuking tataran, yen ta nganti gotang salah suji, mesti ora biso tekan punjering gegayuhan, ateges wis marsudi kongsi ngenting, toging data malah ora idep apa-apa.

Ing sarehning dasare ngelmu ana ing kene ana gandheng gaibing Widhi, gelarane banjur sambung rapet karo prakara urip lan pauripan alandesan katerangan iku, tembung cangkok lan isine mau kajaba bisa kaumpama kanggo negesi blegering ngelmu lan laku uga bisa katujokake prasemon bleger kapribadenkang urip lan ngalami panguripan.

 

Kaplase banjur endi kang disemu mawas sesbutan cangkok lan endi sing disemu mawa tembung isi. Rehning urip ya bleger kapribaden iku mengku badan rong prakara, keplase tembung cangkok lan isi iku banjur nuju bebadan rong prakarakasebut, yaiku jiwa lan raga , sing jroning lagi urip iki pada manunggal dadi siji.

 

Kasunyatane jroning urip iku raga lan nyawa oa bisa pisah, raga kang minangka dadi wadahe, ya cangkoke, dene nyawa kang minangka sing diwadahi mbah lan musik. Sanajanta sakarone pada manunggal dadi siji lan dayane pada tarik tinarik sarta bawa mrabawani, jejere pada anduweni lungguh dewe-dewe kang mbaka siji kudu disumurupi kalawan taandes, kepriye lungguhe siraga, kepriye lungguhe si nyawa.

 

Raga kang asipat kasar iki bisane mobah lan mosik karana kadunungan nyawa kang asipat alus lan nyawa anggone bisa mobah mosike karana dumunung ing raga. Gamblange sing diuripi ora bakal klakon bisa urip samangsa ora didunungi dening sing nguripi ora bisa makarti gawe urip yen ora dumunung ana ing badan kang diuripi, dadi bebadan sakarone pada samad sinamadan lan daya-dinaya.

 

Ing sarehne raga orabisa urip yen ora di enggoni nyawa lan nyawa iku sawarna badan kang menehi urip, ing kene pilah-pilahing lungguh banjur dadi :
a. Siraga obah krembyah-krembyah mung karana manut sarehe si nyawa, jejere banjur dadi prabot pakarting nyawa, utawa bebadan kang dikuwasani, sing sateruse diarani KAWULA.
b. Si nyawa kang duwe daya anguripi lan mobah mosike manut sakrenahe, jejere banjur dadi bebadan kang nguwasani kahanan raga, sebutane banjur dadi kosok baline KAWULA YA GUSTI.

 

Manunggale sifat sakarone mau, manunggale siraga lan sinyawa. Manunggale KAWULA lan GUSTI iku minangka semu prasemon gaibing Widhi, dadi gaibing Widhi ya gaibing Pangeran iku disemu dining manunggale raga lan nyawa, disemu dening bleger urip sing awujud jejer kapribaden.

Sak mangkonoa nyumurupi gaibing KAWULA lan GUSTI, ya pada wae karo nyumurupi gaibing pangeran, ya nglereg marang nyumurupi pribadene dewe, ya weruh marang uripe kang sejati.

 

Ana dena jablase keterangan kasebut yaiku raga iku lungguhe banjur dadi kasunyatane nyawa, lire rehne raga iku bisa krembyah-krembyah obah lan makarti dadi cihna yen ing jrone terange ana nyawane lan nyawa iku kang minangka dadi kasunyatane urip, lire ana nyawa bisa ngobahake raga lsp, iku mujudage bukti yen nyawa iku nggerba urip lan urip iku asipatlanggeng, dumunung ana ing panguasaning pangeran kang asipat jumeneng klawan sarta ora owah gingsir lan dayane nglimputi saindenge jagad rat pramudinata, jagad geda lan jagad cilik.

 

Miturut larasan ing duwur terang banget yen blegger wujud kapribaden kang urip iki ya wujud manunggale KAWULA lan GUSTI, ya manunggale Manngsa lan Pangeran kang ing sarandene kalawan urut-urutan sarta tumata tanpa kuciwa kadayan dening panguasane.

 

Ing sarehne wis disumurupi, yen blegger kapribaden iku minangka prasemon gaibing Pangeran kang kagungan sipat-sipat pinesti, perlu uga disemurupi sipat-sipat Pangeran kang jangkep, yaiku kang diarani sipat 20. Dadi terange ing sarehne manungsa iku dadi prasemone dadi wewayangane pangeran kang kagungan sipat 20 iku mau, sing gelare kaya kasebut ing ngisor iki :

1. Wujud : Ana
2. Kidam : Disik ora ana kang disiki
3. Baka : Langgeng
4. Muhalawatil lil kawadisi : Beda karo kang anyar
5. Kiyamuhu binafsihi : Jumeneng kalawan piyambak
6. Wahdaniyat : Sawiji
7. Kodrat : Kuwasa
8. Iradat : Karsa
9. Ilmu : Kawruh
10. Hayat : Urip
11. Samak : Miyarsa
12. Basar : Wuninga
13. Kalam : Ngandika
14. Kadiran : Kang kuwasa
15. Muridan : Kang kagungan karsa
16. Aliman : Kang kagungan kawruh
17. Hayan : Kang kagungan gesang
18. Samian : Miyarsa
19. Basyiran : Nguningani
20. Mutakaliman : Ngandika

Kang supaya biso nyumurupi manunggale Kawula lan Gusti mau lekase kudu kalawan lumintu-mintu lan carane kudu ora kena gotang salah siji, lire anetepana syarat syariate panggiludan sing kanti jangkep, yaiku anenepana laku syariat, tarekat, hakekat lan makrifat, iki mau kabeh linakonan kanti ora kena diblenjani salah siji.

 

Pamoring Kawula Gusti iku pinda damer murub, mula bener yen gawe kekes lan wedi, karana kang nyumurupi rumangsa kasoran ing daya. Mula pamedare kudu sing kalawan pratitis, aja kongsi tumpangsuh.

Yen ditanding boboting ngelmu iku, nyatane pancen abot lan kenceng, naging ora kenceng kdidene kencenging, nanging ora kenceng iku mung sedyane. Kang murih enteng ing tembe burine. Samangsa di ecakake yen ana gawe parigawe, ora medosol nuwuhake reribet apa-apa.

Olahing rembug ing satibaotibane tansah titis lan kawetune ora wengku sajak arep ngejori, arang kading mung trima urun-urun, nanging malah dadi kaundakaning kawruh. Kang mengkono mau malah banjur bisa ditrisnani ing akeh.

 

Luwih-luwihyen bisa nambahi jembaring ngelmu, iku yekti sing dadi sisipane wong linuwih. Sakehing tindake ora sinamudana mung kanggo ngumpak (nglembana)ing liyan lan ora mamprih pangalembana dewe, awit jejere wis waskita dadi pandita kang kinacek.

Kaceke adoh banget mungguh ing kapiterane ulah lan tanduk, duduga lan prayoga tansah dienggoni, wanine kadidene jajaka, nanging wani sing ora ateges maoni ngelmu kang wis mapan.

 

Ngenggoni tapa-brata kang pitung prakara :
* Kapisan, tapane jasmani oja sok darbe rasa serik, kudu narima ing lair trus ing batin.


Tapane badan wadag utawa tapene kalairan, yaiku sing ingaran Sarenggat (ngenggoni angger-angger ing pranatan mungguhing panggiludan) tinemune ditemeni kalawan tulus mulusing sedya lair batin.

1. Ngendaleni sarta meper lakune hawa napsu kang patang prakara, sing kabeh mau asal pinangkane saka jasad kadagingan.
2. Asih marang sapade tumitah, sing ateges sugih ing pangapura marang kaluputaning liyan.
3. Sing bisa ngayomi sasamaning ngaurip dedasar kawicaksanan.

 

* Kapindo, mono satuhuning tapa.
Yaiku tappane budi, lekase mung supaya bisa mbirat sakehing budi nista lan remeh sarta ngilangana watak demen goroh.

* Kaping telu, tapane hawa napsu
Kudu nglakoni sabar lan alim sarta sugih pangakema marang sapa wae, sajan marang wong sing wis milara awake, percayaan marang Pangeran.

 

* Kaping papat, tapane sang rasa sejati.
Pikir utawa ati kudu kagawe supaya meneng lan wening, ngudiya mamrih bisa tansah muja lan semedi yen kabeh wis meneng lan wening, gegayuhane mesti bakal kacekel.


* Kaping lima, tapane sukma.
Gelara sarana lembah manah lan grapyak semanak, atine kudu lega rila sarta ora kena muna-sika ing sesamane urip. Kudu bisa ngemong atine wong.

 

* Kaping nem, tapane cahya kang manter.
Ora samar ing sakabehing kahanan lan tansah eling damang marang pilahing kapalson lan kasunyatan, eling marang sakehing pambudi mamrih wilujenge bisa antuk ati kang padang lan resik, tataran MAKRIFAT, tataran jumeneng kapribaden.

 

* Kaping pitu, tapane urip.
Kudu santosa budine lan ati-ati, tumindake uga kudu disaranani kateguhaning iman lan timbuling kekarepan kang lumintu, ora kena uwas sumelang ing ati sarta kudu kumandel-kandel marang panguwasane Hyang Widi.

Wigantining wus tumrap sakabehing laku iku mau tinemu ana ing bongkot lan pucuk, iku wae wis cukup dadi ora mindo gaweni / mindo laku. Eohing laku mau bisa murakapi marang patine yaiku oncading sukma saka alam jasmani, ngacik ngambah ing alam gaib.

Manjing suruping pati iku kalakone mung sakedeping netra, anggone ngukut jagade nyata patitis, kabeh dikut digolongake marang tekat sawiji, digemblekake mamrih mlebu ing kraton.

 

Kayu lan watu pada dianggep lan digawe swarga kang mulya ake, kang nyukupi ing sakabehe sarwa endah banget, yen manggon ing kono jenak awor brekasakan lan jrangkong.

Pati kang kaya mangkono iku satemene mindo gaweni, nanging sing kaya mangkono mau ora dimangi. Ngertine samangsa kahanan wis kuwalik karana kurang bisa mbedakake lan karana salah tanpa, mula dadine banjur kasasar.

 

Mula sing teguh ing iman sarta eling lan was pada, aja kleru ing pamawas. Kraton sing sejati iku satemene ora kraton.

Gegebengan mau katampa kanggo gagaran ngukut jiwa raga, kang asipat setroli, padange kaliwat-liwat lan sipate langgeng ora owah gingsir.

 

Ya iku sing dadi margane mulih ngumpul Dzating Pangeran.

Ana dene wahanan-wahanan kang dialami ing jrone ngadepi bakal kukuting jiwa raga iku, kajaba sudane kabeh kekuataning angga lan panca driya (pangrasa, pangganda, pandulu, pangrungu lan panggrayang), uga bakal manoni molah-malihinh cahya, sing kabeh mau asale saka pakartining napsu, napsu sing wis arep kukut. Ana dene cahya mau molah-malih gilir gumanti urut-miturt dodok selehing napsu, sing terange kaya ing ngisor iki :
a. Abang mrakata : banjur suda-suda lan manjing dadi.
b. Kuning amita : saya suwe saya suda temah sirna lan kagilir dening cahya.
c. Ireng tunteng : peteng dedet lilimengan nanging wekasane banjur ganti dadi cahya.
d. Putih memplak :

Cahya 4 prakara kasebut, iku cahyane napsu 4 prakara, yaiku amarah, luamah, supiyah lan mutmainah, sing kabeh pada tinemu lan lenggah ana sarira pribadi. Kasunyating kabeh mau mung minangkadadi sasmita, yen pakartining napsu 4 prakara kasebut wis arep sigeg.

 

Ing sawise iku banjur tinemu ana cahya mencorong padang ambleringi kang sipate ora owah gingsir lire ora bakal gumilir ing cahya liyane. Yen wis tekan cahya sing kaya mengkona kahanane iki, nyata wis tekan titi mangsanw nyawa oncad ninggalake kurungane, mulih marang asal muasale sakawit.

Meneng, anteng, langgeng ora obah ora ngucap ora dulu kaendahaning swarga, ora rumangsa dumunung ana ing pangauban, aing ana mung trawanging ati, meleng dadi manunggale nabi-wali.

 

Katrangane :
Samangsa wis manoni cahya kang kukuwung putih mencorong kayo kang kaceta ing duwur yaiku cahya kang asipat langgeng ora owah gingsir wis ateges bisa jumeneng pribadine, wis manunggal karo Dzating Pangeran (wis jejer manunggal Kawula Gusti).

 

Yen wis kaya mengkono, kalangengan iku mau mahanani kahanan ora bisa sumurup kaendahan apa-apa, apa dene kaendahaning swarga, ora rumangsa ngayom marang apa wae, lire ora mangeran marang saliyane Pangeran Kang Maha Luhur, nanging jejere ngalela pribadine ana ing alam sonya-ruri. Yen wis kaya mengkono kahanane wis ara ana sipat-sipat kang beda ing antarane pribadi lan Pangeran, Kawula lan Gusti wis manunggal, pada wae karo wis bisa napaki lekasing para nabi lan para wali sing wis pada jejer dadi makrifat. Kasare pribadine wis prasasat nabi utawa wali, karana wis bisa nggayuh tataran sing wis kagayuh dening para nabi lan wali duking nguni, yaiku asarira – Batara.

(6). MANUNGGALING KAWULO GUSTI;

SIAPAKAH   SYEH SITI JENAR ?

Kehadiran Syekh Siti Jenar ternyata menimbulkan kontraversi, apakah benar ada atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah diketemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syekh Siti Jenar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi. Tapi suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.


Pandangan Syekh Siti Jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat Wali Songo, dalil dan hadits, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan Demak dalam memerintah yang didukung oleh para Wali. Siti Jenar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan kerajaan, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri).

 

Akan tetapi kematian Siti Jenar juga bisa jadi karena masalah politik, berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Majapahit non Islam yang tidak menyingkir ke timur dengan kerajaan Demak, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kebokenongo/Ki Ageng Pengging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Jin Bun/R. Patah yang memerintah kerajaan Demak dengan gelar Sultan Bintoro Demak I, dimana Kebokenongo yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Siti Jenar yang beragama Islam.

 

Nama lain dari Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang, Seh Sitibang, Seh Sitibrit atau Siti Abri, Hasan Ali Ansar dan Sidi Jinnar. Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

 

Dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, dikatakan bahwa ia berasal dari rakyat kecil yang semula ikut mendengar saat Sunan Bonang mengajar ilmu kepada Sunan kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Sedangkan dalam buku Sitijenar tulisan Tan Koen Swie (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jenar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jenar (Seh Siti Luhung/Seh Lemah Bang/Lemah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Sunan Giri. Namun menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon.

 

Informasi tambahan di sini, bahwa Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) adalah cucu Raja Brawijaya V (R. Alit/Angkawijaya/Kertabumi yang bertahta tahun 1388), yang dilahirkan dari putrinya bernama Ratu Pembayun (saudara dari Jin Bun/R. Patah/Sultan Bintoro Demak I yang bertahta tahun 1499) yang dinikahi Ki Jayaningrat/Pn. Handayaningrat di Pengging. Ki Ageng Pengging wafat dengan caranya sendiri setelah kedatangan Sunan Kudus atas perintah Sultan Bintoro Demak I untuk memberantas pembangkang kerajaan Demak. Nantinya, di tahun 1581, putra Ki Ageng Pengging yaitu Mas Karebet, akan menjadi Raja menggantikan Sultan Demak III (Sultan Demak II dan III adalah kakak-adik putra dari Sultan Bintoro Demak I) yang bertahta di Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijoyo Pajang I.

 

Keberadaan Siti Jenar diantara Wali-wali (ulama-ulama suci penyebar agama Islam yang mula-mula di Jawa) berbeda-beda, dan malahan menurut beberapa penulis ia tidak sebagai Wali. Mana yang benar, terserah pendapat masing-masing. Sekarang mari kita coba menyoroti falsafah/faham/ajaran Siti Jenar.

 

Konsepsi Ketuhanan, Jiwa, Alam Semesta, Fungsi Akal dan Jalan Kehidupan dalam pandangan Siti Jenar dalam buku Falsafah Siti Jenar tulisan Brotokesowo (1956) yang berbentuk tembang dalam bahasa Jawa, yang sebagian merupakan dialog antara Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, yaitu kira-kira:

Siti Jenar yang mengaku mempunyai sifat-sifat dan sebagai dzat Tuhan, dimana sebagai manusia mempunyai 20 (dua puluh) atribut/sifat yang dikumpulkan di dalam budi lestari yang menjadi wujud mutlak dan disebut dzat, tidak ada asal-usul serta tujuannya;

 

Hyang Widi sebagai suatu ujud yang tak tampak, pribadi yang tidak berawal dan berakhir, bersifat baka, langgeng tanpa proses evolusi, kebal terhadap sakit dan sehat, ada dimana-mana, bukan ini dan itu, tak ada yang mirip atau menyamai, kekuasaan dan kekuatannya tanpa sarana, kehadirannya dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda, tidak dapat diinterpretasikan, menghendaki sesuatu tanpa dipersoalkan terlebih dahulu, mengetahui keadaan jauh diatas kemampuan pancaindera, ini semua ada dalam dirinya yang bersifat wujud dalam satu kesatuan, Hyang Suksma ada dalam dirinya;

 

Siti Jenar menganggap dirinya inkarnasi dari dzat yang luhur, bersemangat, sakti, kebal dari kematian, manunggal dengannya, menguasai ujud penampilannya, tidak mendapat suatu kesulitan, berkelana kemana-mana, tidak merasa haus dan lesu, tanpa sakit dan lapar, tiada menyembah Tuhan yang lain kecuali setia terhadap hati nurani, segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah;
Segala sesuatu yang terjadi adalah ungkapan dari kehendak dzat Allah, maha suci, sholat 5 (lima) waktu dengan memuji dan dzikir adalah kehendak pribadi manusia dengan dorongan dari badan halusnya, sebab Hyang Suksma itu sebetulnya ada pada diri manusia;

 

Wujud lahiriah Siti jenar adalah Muhammad, memiliki kerasulan, Muhammad bersifat suci, sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat pancaindera;

Kehendak angan-angan serta ingatan merupakan suatu bentuk akal yang tidak kebal atas kegilaan, tidak jujur dan membuat kepalsuan demi kesejahteraan pribadi, bersifat dengki memaksa, melanggar aturan, jahat dan suka disanjung, sombong yang berakhir tidak berharga dan menodai penampilannya;

 

Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, jasad busuk bercampur debu menjadi najis, nafas terhembus di segala penjuru dunia, tanah dan air serta api kembali sebagai asalnya, menjadi baru;

 

Dalam buku Suluk Wali Sanga tulisan R. Tanojo dikatakan bahwa :

Tuhan itu adalah wujud yang tidak dapat di lihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang bersinar cemerlang yang berwujud samar-samar bila di lihat, dengan warna memancar yang sangat indah;

 

Siti Jenar mengetahui segala-galanya sebelum terucapkan melebihi makhluk lain ( kawruh sakdurunge minarah), karena itu ia juga mengaku sebagai Tuhan;

Sedangkan mengenai dimana Tuhan, dikatakan ada di dalam tubuh, tetapi hanya orang terpilih (orang suci) yang bisa melihatnya, yang mana Tuhan itu (Maha Mulya) tidak berwarna dan tidak terlihat, tidak bertempat tinggal kecuali hanya merupakan tanda yang merupakan wujud Hyang Widi;

 

Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati) tapi kehidupan dunia itu kematian, bangkai yang busuk, sedangkan orang yang ingin hidup abadi itu adalah setelah kematian jasad di dunia;


Jiwa yang bersifat kekal/langgeng setelah manusia mati (lepas dari belenggu badan manusia) adalah suara hati nurani, yang merupakan ungkapan dari dzat Tuhan dan penjelmaan dari Hyang Widi di dalam jiwa dimana raga adalah wajah Hyang Widi, yang harus ditaati dan dituruti perintahnya.

Dalam buku Bhoekoe Siti Djenar karya Tan Khoen Swie (1931) dikatakan bahwa :

Saat diminta menemui para Wali, dikatakan bahwa ia manusia sekaligus Tuhan, bergelar Prabu Satmata;

 

Ia menganggap Hyang Widi itu suatu wujud yang tak dapat dilihat mata, dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang, warnanya indah sekali, memiliki 20 (dua puluh) sifat (antara lain : ada, tak bermula, tak berakhir, berbeda dengan barang yang baru, hidup sendiri dan tanpa bantuan sesuatu yang lain, kuasa, kehendak, mendengar, melihat, ilmu, hidup, berbicara) yang terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut DZAT dan itu serupa dirinya, jelmaan dzat yang tidak sakit dan sehat, akan menghasilkan perwatakan kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramah-tamahan;

 

Tuhan itu menurutnya adalah sebuah nama dari sesuatu yang asing dan sulit dipahami, yang hanya nyata melalui kehadiran manusia dalam kehidupan duniawi.

Menurut buku Pantheisme en Monisme in de Javaavsche tulisan Zoetmulder, SJ.(1935) dikatakan bahwa Siti Jenar memandang dalam kematian terdapat sorga neraka, bahagia celaka ditemui, yakni di dunia ini. Sorga neraka sama, tidak langgeng bisa lebur, yang kesemuanya hanya dalam hati saja, kesenangan itu yang dinamakan sorga sedangkan neraka, yaitu sakit di hati. Namun banyak ditafsirkan salah oleh para pengikutnya, yang berusaha menjalani jalan menuju kehidupan (ngudi dalan gesang) dengan membuat keonaran dan keributan dengan cara saling membunuh, demi mendapatkan jalan pelepasan dari kematian.

 

Siti Jenar yang berpegang pada konsep bahwa manusia adalah jelmaan dzat Tuhan, maka ia memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang mana jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan dan raga adalah bentuk luar dari jiwa dengan dilengkapi pancaindera maupun berbagai organ tubuh. Hubungan jiwa dan raga berakhir setelah manusia mati di dunia, menurutnya sebagai lepasnya manusia dari belenggu alam kematian di dunia, yang selanjutnya manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.

 

Siti Jenar memandang bahwa pengetahuan tentang kebenaran Ketuhanan diperoleh manusia bersamaan dengan penyadaran diri manusia itu sendiri, karena proses timbulnya pengetahuan itu bersamaan dengan proses munculnya kesadaran subyek terhadap obyek (proses intuitif). Menurut Widji Saksono dalam bukunya Al-Jami’ah (1962) dikatakan bahwa wejangan pengetahuan dari Siti jenar kepada kawan-kawannya ialah tentang penguasaan hidup, tentang pintu kehidupan, tentang tempat hidup kekal tak berakhir di kelak kemudian hari, tentang hal mati yang dialami di dunia saat ini dan tentang kedudukannya yang Mahaluhur. Dengan demikian tidaklah salah jika sebagian orang ajarannya merupakan ajaran kebatinan dalam artian luas, yang lebih menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah, sehingga ada juga yang menyimpulkan bahwa konsepsi tujuan hidup manusia tidak lain sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula-Gusti).

 

Dalam pandangan Siti Jenar, Tuhan adalah dzat yang mendasari dan sebagai sebab adanya manusia, flora, fauna dan segala yang ada, sekaligus yang menjiwai segala sesuatu yang berwujud, yang keberadaannya tergantung pada adanya dzat itu. Ini dibuktikan dari ucapan Siti Jenar bahwa dirinya memiliki sifat-sifat dan secitra Tuhan/Hyang Widi.

 

Namun dari berbagai penulis dapat diketahui bahwa bisa jadi benturan kepentingan antara kerajaan Demak dengan dukungan para Wali yang merasa hegemoninya terancam yang tidak hanya sebatas keagamaan (Islam), tapi juga dukungan nyata secara politis tegaknya pemerintahan Kesultanan di tanah Jawa (aliansi dalam bentuk Sultan mengembangkan kemapanan politik sedang para Wali menghendaki perluasan wilayah penyebaran Islam).

 


Dengan sisa-sisa pengikut Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan beragama Hindu-Budha yang memunculkan tokoh kontraversial beserta ajarannya yang dianggap “subversif” yaitu Syekh Siti Jenar (mungkin secara diam-diam Ki Kebokenongo hendak mengembalikan kekuasaan politik sekaligus keagamaan Hindu-Budha sehingga bergabung dengan Siti jenar).

 

Bisa jadi pula, tragedi Siti Jenar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran terhadap hegemoni Sultan Demak yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual para Wali yang pada saat itu sangat berpengaruh. Disini politik dan agama bercampur-aduk, yang mana pasti akan muncul pemenang, yang terkadang tidak didasarkan pada semangat kebenaran.

 

Kaitan ajaran Siti Jenar dengan Manunggaling Kawula-Gusti seperti dikemukakan di atas, perlu diinformasikan di sini bahwa sepanjang tulisan mengenai Siti Jenar yang diketahui, tidak ada secara eksplisit yang menyimpulkan bahwa ajarannya itu adalah Manunggaling Kawula-Gusti, yang merupakan asli bagian dari budaya Jawa. Sebab Manunggaling Kawula-Gusti khususnya dalam konteks religio spiritual, menurut Ir. Sujamto dalam bukunya Pandangan Hidup Jawa (1997), adalah pengalaman pribadi yang bersifat “tak terbatas” (infinite) sehingga tak mungkin dilukiskan dengan kata untuk dimengerti orang lain. Seseorang hanya mungkin mengerti dan memahami pengalaman itu kalau ia pernah mengalaminya sendiri.

 

Dikatakan bahwa dalam tataran kualitas, Manunggaling Kawula-Gusti adalah tataran yang dapat dicapai tertinggi manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Tataran ini adalah Insan Kamilnya kaum Muslim, Jalma Winilisnya aliran kepercayaan tertentu atau Satriyapinandhita dalam konsepsi Jawa pada umumnya, Titik Omeganya Teilhard de Chardin atau Kresnarjunasamvadanya Radhakrishnan. Yang penting baginya bukan pengalaman itu, tetapi kualitas diri yang kita pertahankan secara konsisten dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pengalaman tetaplah pengalaman, tak terkecuali pengalaman paling tinggi dalam bentuk Manunggaling kawula Gusti, yang tak lebih pula dari memperkokoh laku. Laku atau sikap dan tindakan kita sehari-hari itulah yang paling penting dalam hidup ini.

 

Kalau misalnya dengan kekhusuk-an manusia semedi malam ini, ia memperoleh pengalaman mistik atau pengalaman religius yang disebut Manunggaling Kawula-Gusti, sama sekali tidak ada harga dan manfaatnya kalau besok atau lusa lantas menipu atau mencuri atau korupsi atau melakukan tindakan-rindakan lain yang tercela. Kisah Dewa Ruci adalah yang menceritakan kejujuran dan keberanian membela kebenaran, yang tanpa kesucian tak mungkin Bima berjumpa Dewa Ruci.

Kesimpulannya, Manunggaling Kawula-Gusti bukan ilmu melainkan hanya suatu pengalaman, yang dengan sendirinya tidak ada masalah boleh atau tidak boleh, tidak ada ketentuan/aturan tertentu, boleh percaya atau tidak percaya.


Kita akhiri kisah singkat tentang Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”.*

Sidang para Wali

 

Sunan Giri membuka musyawarah para wali. Dalam musyawarah itu ia mengajukan masalah Syeh Siti Jenar. Ia menjelaskan bahwa Syeh Siti Jenar telah lama tidak kelihatan bersembahyang jemaah di masjid. Hal ini bukanlah perilaku yang normal. Syeh Maulana Maghribi berpendapat bahwa itu akan menjadi contoh yang kurang baik dan bisa membuat orang mengira wali teladan meninggalkan syariah nabi Muhammad.

 

Sunan Giri kemudian mengutus dua orang santrinya ke gua tempat syeh Siti Jenar bertapa dan memintanya untuk datang ke masjid. Ketika mereka tiba,mereka diberitahu hanya ALLAH yang ada dalam gua.Mereka kembali ke masjid untuk melaporkan hal ini kepada Sunan Giri dan para wali lainnya.Sunan Giri kemudian menyuruh mereka kembali ke gua dan menyuruh ALLAH untuk segera menghadap para wali. Kedua santri itu kemudian diberitahu, ALLAH tidak ada dalam gua, yang ada hanya Syeh Siti Jenar. Mereka kembali kepada Sunan Giri untuk kedua kalinya. Sunan Giri menyuruh mereka untuk meminta datang baik ALLAH maupun Syeh Siti Jenar.

 

Kali ini Syeh Siti Jenar keluar dari gua dan dibawa ke masjid menghadap para wali. Ketika tiba Syeh Siti Jenar memberi hormat kepada para wali yang tua dan menjabat tangan wali yang muda. Ia diberitahu bahwa dirinya diundang kesini untuk menghadiri musyawarah para wali tentang wacana kesufian. Didalam musyawarah ini Syeh Siti Jenar menjelaskan wacana kesatuan makhluk yaitu dalam pengertian akhir hanya ALLAH yang ada dan tidak ada perbedaan ontologis yang nyata yang bisa dibedakan antara ALLAH, manusia dan segala ciptaan lainnya.

 

Sunan Giri menyatakan bahwa wacana itu benar, tetapi meminta jangan diajarkan karena bisa membuat masjid kosong dan mengabaikan syariah. Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir. Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu kelihatannya bahwa yang menjadi masalah bukanlah substansi ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi cara penyampaian kepada masyarakat luas. Menurut Sunan Giri, paham/pandangan Syeh Siti Jenar belum boleh disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka bisa bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk islam, karena seperti disampaikan di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M.

 

Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie.

 

Pedah punapa mbibingung, (Untuk apa membuat bingung)
Ngangelaken ulah ngelmi, (Mempersulit ilmu)
Njeng Sunan Giri ngandika, (Kanjeng Sunan Giri berkata)
Bener kang kaya sireki, (Benar apa yang Syekh Siti Jenar Katakan)
Nanging luwih kaluputan, (Tetapi lebih keliru -kurang tepat-)
Wong wadheh ambuka wadi. (Orang berani membuka rahasia)
Telenge bae pinulung, (Kelihatannya saja menolong)
Pulunge tanpa ling aling, (Pertolongannya tanpa penghalang -tahapan-)
Kurang waskitha ing cipta, (Kurang waspada dalam cipta)
Lunturing ngelmu sajati, (-akan berakibat- Lunturnya ilmu sejati)
Sayekti kanthi nugraha, (Yang seharusnya diberikan sebagai anugerah -kepada yang mereka yang benar-benar telah matang-)
Tan saben wong anampani. (Yang diberikan kepada siapa saja)

 

Artinya :

Syeh Siti Jenar berkata,

Untuk apa kita membuat bingung, untuk apa pula mempersulit ilmu?, Sunan Giri berkata, benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya.


Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.

 

Ngrame tapa ing panggawe
Iguh dhaya pratikele
Nukulaken nanem bibit
Ono saben galengane

Mili banyu sumili
Arerewang dewi sri
Sumilir wangining pari
SĂȘrat Niti Mani

 

. . . WontĂȘn malih kacarios lalampahanipun Seh Siti JĂȘnar, inggih Seh LĂȘmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatĂȘng sarengat. Saking karsanipun nĂȘgari patrap ing makatĂȘn wau kagalih ambĂȘbaluhi adamĂȘl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti JĂȘnar anampeni hukum kisas, tĂȘgĂȘsipun hukuman pĂȘjah.

 

SarĂȘng jaja sampun tinuwĂȘg ing lĂȘlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. AmĂȘsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita.

Kinanti

Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pĂȘpuntoning tekad, santa-santosaning kapti.
Nora saking anon ngrungu, riringa rĂȘngĂȘt siningit, labĂȘt sasalin salaga, salugune den-ugĂȘmi, yeka pangagĂȘme raga, suminggah ing sangga runggi.


Marmane sarak siningkur, kĂȘrana angrubĂȘdi, manggung karya was sumĂȘlang, ĂȘmbuh-ĂȘmbuh den-andhĂȘmi, iku panganggone donya, tĂȘkeng pati nguciwani.
Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinĂȘn pangesthinira, ginĂȘlĂȘng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika,neng kaanan ĂȘnĂȘng ĂȘning.

 

(7). ANANE SWARGA LAN NERAKA:

PURWAKA:

BAB I

ANANE SWARGA LAN NARAKA

Ngrasakake utawa eling, marang kabecikaning Pangeran, iku arane : weruh ing kasukuran.

Ngrasakake utawa ngelingi marang kabecikaning sapadha-padhane tumitah, iku aran : weruh ing panarima.

Weruh ing kasukuran, tegese : sembah nuwun marang Pangeran.

Weruh marang panarima, tegese : ngrumangsani tampa kabecikaning liyan.

Weruh ing kasukuran iku kosok baline : manglah, ngeluh, ngesah, ngresula sapanunggalane.

Weruh ing panarima lan weruh ing kasukuran iku kerep bae lira-liru, sebab karo pisan ateges NGRUMANGSANI TAMPA KABECIKAN.

Manglah, ngeluh utawa ngresula iku ngemu rasa ORA ADIL marang pepesthening Pangeran kang tumiba ing awake.

 

Munek-munek, pegel utawa muring iku ateges ora NGANGGEP ADIL marang panggawening liyan kang tumiba ing awake.

Titikane wong kang wis dewasa MANUSANE SAJATI, iku SIJI : yen kerep ngrasakake kasukuran, aran ngresulane. LORO : yen kerep ngrasakake kabecikaning liyan, arang murang-muring.

Titikane wong kang durung dewasa MANUSANE SAJATI, iku : SIJI : yen kerep manglah (ngresula), arang ngrasa marang kasukuran. LORO : yen kerep ngeling-eling alaning liyan, arang ngelingi kabecikaning liyan.

Dhemen ngetungi lan ngeling-eling kabecikaning Pangeran iku dayane marakake akeh kasukurane, arang ngresulane.

 

Dhemen ngetungi lan ngeling-eling kabecikaning liyan iku dayane marakake akeh panarimane marang sapadha-padha, arang pengunek-uneke.

Wong kulina ngrasakake kasukuran lan panarima iku ngenggalake dewasaning kamanungsane kang sejati.

Wong kulina manglah lan muring iku ngrendhetake dewasaning kamanungsane sejati.

Wong kang ngrasakake kasukuran lan panarima iku kasinungan ing ati adhem, ayem, tentrem lan engetane padhang.

Wong kang ngrasakake kasukuran lan panarima iku ing batin kadunungan ing bebakalan kang dayane marakake adhem lan padhang. Bebakalan mau kang narik marang nananing swarga.

Wong kulina ngrasakake pangresula lan pamuring iku ing batine kadunungan ing bebakalan kang dayane marakake panas lan peteng. Bebakalan mau kang narik marang ananing naraka.

 

Swarga naraka iku sejatine : RASA PANGRASA dudu PANGGONAN.

Swarga iku asal saka RASA kang adhem lan padhang. Naraka iku asal saka RASA kang panas lan peteng.

Wong kang atine adhem lan padhang : tansah dikinthil ing swarga.

Wong kang atine panas lan peteng : tansah dikinthil ing naraka.

Rasa adhem lan padhang apa dene panas lan peteng iku arane : alam sahir. Dene swarga – naraka iku alam kabir.

 

Dadi alam kabir : iku terusane alam sahir. Tegese : terusaning rasa pangrasa.

ANANE alam kabir : saka ANANE alam sahir. Nanging dumadine bareng.

Sirnane alam kabir, saka sirnane alam sahir. Nanging enggone sirna : b a r e n g.

Sadhengah wong, bisa gawe swarga lan bisa gawe naraka.

Swarga gaweyane mau, sing ngrasakake ya mung sing gawe dhewe. Sing ora melu gawe : ora melu ngrasakake.

Naraka gaweyane mau, sing ngrasakake yang mung sing gawe dhewe. Sing ora gawe : ora melu ngrasakake.

Wong kang ngalami swarga : ora precaya yen naraka iku ana. Mung swarga sing dikira ana. Awit rumangsane kang ana ing swarga, ing ngendi-endiya : kaswargan kabeh. Sajagad rad pramudita, diubresa : ora tinemu kang aran naraka. Ora ana enggon salengging edom kang ana narakane. Cekake : Awang-uwung kang tanpa wates jembare : isine kasenengan kang madhangi ati. Isining jagad ora ana kang ora nyenengake ati, lan ora ana kang ora madhangake ati. Kabeh kang kumelip padha nyenengake lan madhangake ati.

 

Wong kang ngalami naraka, ora percaya yen swarga iku ana. Mung naraka thok sing dikira ana. Awit rumangsane kang ana ing naraka : ing ngendi-endiya : kanerakan kabeh. Sajagad rad pramudita, diubresa : ora tinemu kang aran swarga. Cekake : awang-uwung kang tanpa wates jembare : isine mung rasa panas bingung rungsang lan petenging engetan. Isining Jagad ora ana kang ora memanas lan nusahake ati. Kabeh kang kumelip padha agawe susah lan memanas sarta metengi engetan.

 

Wong kang ngalami swarga, enggone ora ngira yen naraka pancen ana : iku ora beda kaya dene wong ing ngalam donya. Enggone ora precaya yen swarga lan naraka pancen ana. Disengguh mung alam donya thok sing ana. Awit awang0uwung kang tanpa wates jembare, diubresa : ora ana rnggon salenging dom kang ana swargane utawa narakane. Kang ana mung kadonnyan thok.

Wong kang ngalami naraka, enggone ora precaya yen swarga iku ana : iya ora beda karo wong kang ana ing alam donya : bab enggone ora precaya yen alam kaalusan iku ana. Awit Sajagad pramudita, diubresa : ora tinemu kang aran alam ka-alusan.

Yen ana kang takon mangkene : swarga utawa naraka iku ANA apa ORA, iku ; prayoga kang takon dipurih mikir dhisik bab tegese ANA lan ORA ANA. Ana tegese apa, ora ana tegese apa.

 

Ing kono yen wis ngreti terang tegese ANA karo ORA ANA, lah iku lagi bisa mangerti, yen swarga iku pancen ana tumrap kang ngalami. Ora ana : tumrap kang ora ngalami. Naraka iku ana : tumrap kang ngalami. Ora ana : tumrap kang ora ngalami.

Ing ngisor iki dadiya tuladha :

Swarga, iku ana apa ora. Sing duwe pangrungu ngarani : ana. Sing ora duwe pangrungu netepake ora ana.

Pepadhang, rerupan utawa werna, iku ana apa ora. Sing duwe pandulu ngarani ana. Sing ora bisa ndulu, ora ngarani ana.

Swarga iku ana apa ora. Sing duwe rasa padhang lan adhem ngarani ana. Sing ora duwe rasa padhang lan adhem ngarani ora ana.

Naraka iku ana apa ora. Sing duwe rasa peteng lan lara ngarani ana. Sing ora duwe : ngarani ora ana.

Jagad iku ana apa ora. Sing duwe engetan lan rasa pangrasa : ngarani ana. Sing ora duwe engetan lan rasa pangrasa ora ngarani ana.

Pamngeran iku ana apa ora. Sing duwe budi lan rasa : ngarani ana. Sing ora duwe budi lan rasa : ora ngarani ana.

Tuladha liyane :

Woh pare iku enak apa ora. Sing doyan ngarani enak, sing ora doyan ngarani ora enak.

Si Naya becik apa ala. Sing dhemen ngarani becik, sing gething ngarani ala.

Mangkana sapanunggalane.

 

****

WIRANGRONG

1. Densamya marsudeng budi, wiweka dipunwaspaos, aja dumeh bisa muwus, yen tan pantes ugi, sanadyan mung sakecap, yen tan pantes prenahira.

2. Kudu golek mangsa ugi, panggonan lamun miraos, lawan aja age sira muwus, dununge denkesthi, aja age kawedal, yen durung pantes rowanya.

3. Rowang sapocapan ugi, kang pantes ngajak calathon, ajo sok metua wong calathu, ana pantes ugi, rinungu mring wong kathah, ana satengah micara.

4. Tan pantes akeh ngawruhi, mulane lamun miraos, dipun ngarah-arah ywa kabanjur, yen sampun kawijil, tan kena tunututan, mulane dipunprayitna.

SERAT WULANG REH

(8). NGRATONI ALAM KARAHAYON:

“If you don’t care for the roots of the plant, you cannot expect the flower to blossom beautifully”. Rerangken sesotya ingkang rineka dening Thomas Dinan, priyantun Amerika ingkang kasengsem dhateng budaya Jawi, punika wau nyandhi wewangening kandha bilih manawi kita sampun boten kersa ngupakara oyotipun, mokal kita badhe saged nyawang asrining sekar ingkang anjrah mekar ngrembaka. Manawi oyot ingkang tinandur punika namung badhe dipun lebur, dipun rerabuk namung badhe dipun remuk, dipun rumpaka namung badhe dipun prawasa, punapa budaya Jawi minangka oyotipun tiyang Jawi punika lajeng kedah siningid ing weca kalanggengan? Saeba cuwa lan kuciwa manah punika manawi tiyang Jawi ngantos kicalan kiblating pangluru, tundhonipun namung nyancang ewoning pangangen-angen ingkang tumlawung tumangsang ing korining mendhung ngenguwung. Bakal lungkrah sakabehing rasa sumarah yen jiwa Jawi klakon nganti bubrah.

 

Ila-ila dina sinabetna ing ila duni tinebihna tulak sarik dhumawahing tawang-towang. Para priyagung hanung-hanung lebda ing salwiring reh menggahing kawruh lan kautaman, kalilanana manawi ing riki kula nekad tumut njegur mak byur ing tuking kaweruh lumantar andharan ing ngandhap punika, lajeng ceciblon penak seger munyer-munyer sinambi tetembangan hambarang jantur tuwin hambalang gondhang tutur, rengeng-rengeng angegidung pameling dhiri kangge hanggondheli werdi ingkang kuwawi nedhahaken samukalir kiblating pangluru kanthi kumawantun anggelar gulung medhar weriting perkawis Jiwa Jawi punika kacundhukaken kaliyan kabetahan samangke tanpa nilar piwulang kina ingkang ngemu aji langgeng.

 

Kumalancang kula adhapur anyerep-nyerepaken linggih salehing Jiwa Jawi hing ngarsa panjenengan punika sayektosipun namung saderma hanetepi darmaning ngagesang wonten ing samadyaning bebrayan. Kula rumaos kajibah tumut hambundheli sarta mulat edi endahing budaya lan sastra Jawi supados boten mingsad-mingsed, mulur mungkret, ewah gingsir anggen kula angegungngluhuraken kabudayan piyambak amrih lestari widada salaras kaliyan kayektosan mekar mungkaring jaman. Ing pangajab, mugi andharan kula punika sageda mujudaken satunggaling bab ingkang kenging kangge ubarampening imbal wacana supados wawan rembag punika langkung menthes lan mikantuki. Jer wajibing tiyang gesang punika rak namung kalih, inggih punika sinau lan mulang, tamtunipun kanthi wicaksana inggih punika sageda ngrumaosi lan mangertosi dhateng cacading dhiri sarta mbudidaya kepripun amrih karaos manis, matis, pantes lan sakeca tanpa nyampyok pangreksaning darbeking liyan.

 

Dikotomi lawas anyar, kuna modheren, sing modheren kudu digondheli rapet sing tradhisional kudu ditinggal glanggang utawi kosokwangsulipun, punapa dene “romantisasi masa lalu” vs “nguri-uri budaya”, udreg-udregan perkawis punika badhe tansah wonten lan sah-sah kemawon, kapara malah sae amargi saged sangsaya njembaraken wawasan kita, saengga kita saged mahyakaken pamikiran-pamikiran kita kanthi langkung patitis lan menthes saha saged katampi dening nalar. Tuwuhipun mawarni-warni pamanggih, kalebet sadaya panyaruwe ingkang kawedal saking lathi, punika rak sampun nama limrah. Pramila kita sampun was sumelang malih, ingkang baken kita kedah jejeg, jajag, jumujug anggen kita sami lelumban tumut andhudhuk, andhudhah, adamel mekar ngrembaka budaya Jawi. Sikep toleran dhateng dikotomi punika ugi perlu kangge gladhen olah rasa supados kita tansah waspada, tansah ngangge petungan ing sabarang tumindak, nora kena den awur ing satemah sasar susur.

Tembung waspada piyambak mengku teges “tansah awas ing pada”. Manawi padane punika “pada lingsa” (tandha koma ing aksara Jawi), inggih kedah wonten let-letane, ambegan rumiyin sawetawis lajeng lumampah malih. Semanten ugi manawi padane punika “pada lungsi” (tandha titik), inggih kedah purun mandheg mak sssst, direm sampun ngantos bablas mindhak kadrawasan mangke. Wonten ing jagad pakeliran, sinambi ndhodhog kothak ki dhalang asring paring sasmita “kadya kukila mung weng gantangan”. Para niyaga, wiraswara, lan waranggana sadaya sampun sami nyumerabi sasmita wau, inggih punika boten kepareng ngglajus nggelar sampak sakarepe udele dhewe (sing arepe mangan udele dhewe kaya cak sapta ya sapa cak), amargi sasmita wau minangka tandha manawi sampun wancinipun nabuh gendhing Perkutut Manggung.

 

Sapunika sumangga kita gagas-gagas, kita sadaya punika rak ‘korban’ saking prastawa sejarah ta? Pramila kangge ngadhepi mangsa samangke lan ingkang badhe kalampahaken, prayoginipun kita kedah purun noleh mawingking supados boten kesampar kesandhung anggen kita badhe tumapak lumampah mangajeng manggihi karahayoning bebrayan ing alam sawegung. Ning kosokwangsulipun, kula ugi boten kuwawi angluputaken satunggaling pamanggih ingkang mratelakaken bilih punjering kawigatosan ing salabetipun kita tumandang damel, punika kedah mligi tumuju ing riki lan ing wekdal samangke. Pamanggih punika manawi kamamah lembut inggih pancen wonten leresipun, sauger pamanggih makaten wau boten pisan-pisan anglirwakaken dhateng sadaya kedadosan ingkang sampun nate gumelar, nanging tetep dipun kantheni kaweruh saking pundi sangkan kita punika lan daya pangaribawa saking prastawa sejarah ingkang pundi ingkang handadosaken kita kados sapunika. Rumangsa melu handarbeni, wajib melu hanggondheli, mulat sarira hangrasa wani.

 

Santayana, salah satunggaling filosof saking sabrang Kilenan ugi nate asung wewarah, kinten-kinten makaten ungelipun “Those who don’t know their own history are condemned to repeat it.” [Sok sintena ingkang boten ngawuningani sejarahipun, padatanipun lajeng angambali prastawanipun.] Ancasipun angrikataken anggenipun badhe anggayuh kamajengan, gumregah enggal tata-tata murugi ingkang saweg dados sawangan, bebasan nginanga durung abang ngidua durung asad, mak jleg sampun dumugi ing pucuk. Nanging sarehning sampun kicalan ingkang saged dados pancadan, boten sanes inggih punika budaya Jawi minangka perangan jati dhirinipun piyambak–ingkang sami dipun singkiri kapara malah kaasoraken drajatipun–temahan ing satengahing margi ingkang pinanggih namung reribed, jebul malah dharedhah tansah panca bakah kaliyan bangsanipun piyambak. “Kasmaran angimpun kawrin, ngaran Suluk Sangkan Paran, amrih wruh bener lupute, wong tumitah aneng ndonya, purwane saking apa, angandika Kanjeng Rasul, sapa kang wruh ing sarira, sayekti wruh Hyang Widdhi, pesthi ananing manungsa, kadis punika pakone pan nora kuwasa nora, manungsa ngawruhana, inya ingkang nedya weruh, wruh babarira kamulyan
.”

 

Ingkang dados sedyaning manah kula, inggih punika namung badhe mawas salah satunggaling wataking manungsa ingkang ing wekdal samangke perlu sanget kagesangaken. Manungsa punika kasinungan watak saged nata. Sinten ingkang nglirwakaken tamtu badhe manggihi kapitunan ageng boten saged angratoni alam karahayonipun. Gesangipun manungsa punika saged katitik saking cipta, rasa, lan karsanipun. Sipating gesangipun manungsa warni tiga wau kenging kula tembungaken daya-dayaning Gusti ingkang wonten ing manungsa.

 

[1] Cipta punika keplasipun dhateng kaweruh. Ananging manungsa kedah enget dhateng weting kodrat, bilih kaweruh wau kedah tumuju dhateng pangurbanan, inggih punika sepi ing pamrih karenan lereming reh rahayu, dados tumuju dhateng karahayon. 

 

[2] Karsa punika pentokipun dhateng panguwasa, amargi manungsa punika manawi sampun saged mranata badhanipun piyambak, inggih saged mranata dhateng kiwa tengenipun. Namung kemawon, kawasa ingkang sampun kasarira dening manungsa punika wau kedah kangge angayomi.

 

[3] Rasa punika keplasipun dhateng katresnan, dados kedah mawi kekiyataning raos.

Watak punika dumunung wonten ing utek, naminipun pamikir. Sadaya ingkang medal saking wewengkon punika nami pikiran. Samangsa manungsa gadhah pikajeng, pamikir lajeng kataman dhateng dayaning pikajeng wau, lajeng ebah. Lha ebahing pamikir punika ingkang dipun wastani mikir, sanes mikir-mikir. Dene bentenipun, tiyang mikir punika mesti wonten ancas tujuwanipun. Pikiran satunggal lan satunggalipun ingkang jumedhul saking pamikir punika lajeng kagathuk-gathukaken, kasaring-saring, perlunipun ngupadi pamanggih ingkang mikantuki dhumateng ingkang ngebahaken pikiran wau.

 

Tiyang mikir punika kados dene tiyang mlampah: dumugi ing prasekawanan boten sumerab lajenging lampahipun, punapa mangiwa punapa manengen. Samangsa tiyang punika namung linggih kemawon, tamtunipun boten badhe sumerab margi pundi ingkang kinten-kinten leres. Benten sanget samangsa tiyang wau lajeng purun menek uwit inggil upaminipun, saged sumerab tlatah sakiwa tengenipun. Ing inggil uwit saged angsal pamanggih, margi pundi ingkang sakinten saged dumugi ing papan ingkang katuju. Lepat lan leresipun pamanggih wau badhe kayektosan manawi sampun dipun lampahi. Kosokwangsulipun, tiyang mikir-mikir punika namung anampeni saben pikiran ingkang medal saking kajengipun piyambak, boten wonten punthonipun, tanpa pamanggih punapa-punapa.

 

Dados punthoning tiyang mikir punika angsal pamanggih. Pamanggih wau yen kacobi nembe kasumeraban leres lan lepatipun. Cekakipun: tiyang purun mikir punika manawi angsal reribed, wujuding karibedan warni-warni, kajengipun namung badhe ngicali karibedan wau. Punika ingkang dados pamrihipun tiyang mikir, mila wonten tetembungan yen boten wonten lampah tanpa pamrih tegesipun tanpa tuju. Dene lampahipun kados makaten, samangsa tiyang punika manggih karibedan, lajeng pamikiripun kendel jegreg kados tiyang lumampah ingkang kaalang-alangan. Ing batos wonten pikajeng badhe ngicali pepalang wau.

 

Pamikir, kadayan saking dayaning pikajeng, lajeng samekta badhe nyambut damel. Karibedan wau kapilah-pilah, perlunipun badhe nyumerabi sapinten agenging karibedan sarta badhe kabucal mbaka sakedhik. Pilah-pilahan lajeng kawawas mbaka satunggal, urut, boten sapurun-purun kemawon pamendhetipun. Sadaya pangalamaning pamikir lajeng kawedalaken. Pangalaman wau dipun gothak-gathukaken, wiwit nyobi-nyobi pangalaman pribadi pundi ingkang sakinten saged ngicali karibedan punika. Wekasaning panyobi wau angsal pamanggih satunggal kalih ingkang sajak saged katindakaken, salah satunggal kedah kapendhet. Manawi kacobi, badhe nyumerabi leres lan botenipun. Manawi panci leres, nama yen pamikiran leres. Manawi pamanggih wau boten mikantuki, nama yen pamikiranipun lepat utawi klentu.

Saged ngrumaosi lan mangertosi, punika perkawis ingkang raket keket supeket cathok gawelipun kaliyan muluring pamikir, ingkang sakawit saged mangertos sebab saking mikir utawi mangertos sebab saking pangraos. Sadaya kempaling pangertosan ingkang mijil saking pamikir utawi pangraos mujudaken undhuh-undhuhan saking weruh, amila lajeng kasebat kaweruh, amargi ingkang dados empan paraning gilig punika inggih saking tumanduk ing weruh. Inggih pikajenganing manungsa ingkang kasurung dening rumaos hambetahaken saha niyatipun kepingin mangertosi dhateng samukawis punika ingkang dados dhasaring kaweruh.

 

Saking daya pakartining pikir, kaweruh punika lajeng nuwuhaken pangertosan. Hewadene pangertosan ingkang tuwuh saking muluring pamikir ingkang dipun kantheni kekiyataning pangraos, keplasipun mangke lajeng tumuju dhateng katresnan, tresna dhateng sasamining ngagesang. Tuwuhing pangertosan punika boten cekap namung kandel-kumandel saking moncering pepaking kaweruh ilmu-ilmu pangawikan kemawon, utawi saking ngapalaken punapa dene nirokaken isining buku lan reriptan sanesipun, lajeng njajal-njajal piyambak ngiras pantes nyinau neniteni lan nggagas-nggagas utawi nglimbang-nglimbang., nanging ugi kedah saged nyumerabi kawontenan sarana kersa migatosaken dhateng kawontenan wau, punika ingkang nama maca kahanan.

 

Migatosaken dhateng kawontenan punika tegesipun nanggapi dhateng ebahing indriya, nabet saha mangertos dhateng tabet punika saperlu kangge nggugah raos. “Sing sepi resepana, sanadyan sing sepa ora muspra.” Moncering wejangan punika saged kangge cakotan manawi badhe mirantosaken margi ingkang kedah dipun ambah dening para lelampah, murih boten angececer wanci sarta saged rancag dumugining gegayuhanipun. Wohipun tiyang migatosaken kawontenan punika tamtu gesang raosipun, kagigah raosipun, lajeng purun ngraosaken dhateng kawontenan. Manawi tiyang punika sampun gesang raosipun, padatanipun lajeng tuwuh niyatipun tumut hangrerencangi kadumugening sedya angratoni alaming karahayon ing salebeting gesangipun.

 

“Pepindhanipun gupala kawarsan [reca lumuten saking lawasipun], punika kangge nggambaraken manungsa ingkang gesangipun tanpa linambaran raos,” makaten Rama Topo ing Pakuncen paring damar seserepan ngengingi perkawis raos punika. “Kudu nginang suruh, sumuruba nganti weruh, bisoa nganti tekan rosing rasa, gaduk ing rasa, candhak ing tata.” Ngerti punika pancen jembar tegesipun, amila ing blabaraning piwulang, panglantih sagedipun olah nalar lan gineman kanthi patitis–tegesipun saged njlentrehaken punapa ingkang sampun dipun sumerabi–punika gandheng renteng kaliyan piwulang ngrembag samubarang kanthi olah nalar lan panglantih olah cecaturan ngangge basa lan lagu ingkang becik, ngampil basanipun ndara tuwan kolonial mungel Zaakonderwijs verbonden met spreeken verstandsoefeningen.

Perkawis olah nalar lan mahyakaken pamikiran arupi seratan utawi gineman kanthi patitis punika lajeng ngemutaken kula ngengingi tata cara ing pawiyatan nalika jaman kolonial Walandi, inggih punika opstelletje makenkados ingkang sampun nate kapratelakaken ing buku anggitanipun Rama J.B. Mangunwijaya asesirah Impian dari Yogyakarta. Ing tata cara opstelletje maken punika, para siswa kadhawuhan kapurih adamel reriptan, lajeng seratanipun punika kawaos ing sangajengipun kelas. Ingkang kajibah mbiji (saged ugi arupi pitakenan langsung) punika boten namung guru, nanging ugi kalebet kanca-kancanipun sesami siswa.

 

Kanthi panglantih nyerat lan mbabar isining seratan ing sangajengipun akathah punika, punapa malih manawi katindakaken saben dinten, para siswa wiwit taksih mambu kencur sampun dipun kulinakaken mahyakaken pamikiran-pamikiranipun kanthi patitis lan boten dados gampang nesu lajeng ngrancang reridhu anjlumati laku manawi pinuju pikantuk panacad utawi panyaruwe.

 

Kawuningana, ngelmu punika sagedipun dados kaweruh kasunyatan kedah kanthi laku. Ngelmu ingkang tanpa laku, boten badhe saged nekseni kasunyatanipun namung kandheg wonten ing gagasan kemawon, rumaosipun sampun bontos kaweruhipun, garanipun sampun apil dhateng apalaning piwulang, nanging sayektosipun dereng paja-paja. Yen panjenengan kagungan Serat Wulang Reh, yasan dalem PB IV, ing kono kapacak tembang kawitan Sekar Dhadhanggula, lha mangga diwaos sinambi rengeng-rengeng: “Sasmitane ngaurip punika, mapan ewuh yen nora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.”

 

Kaweruh bab ngelmu punika manawi taksih saking piwulangipun asanes, utawi piwulangipun buku-buku, punika taksih dereng kenging dipun percados wetah, jalaran piwulang wau sayektosipun namung ancer-ancer minangka kangge cocogan ing tembe. Dados sadaya piwulang punika sagedipun tumanja boten cekap namung taberi ngemba-ngemba damel warna-warni pitakenan, nanging kedah dipun pirsani kepriye tandang grayange, gada gitike, labuh labete marang tugase, carane pasrawungan bisa samat-sinamatan apa ora, bisa tanggap marang kaperluwan apa ora. Ing Serat Wedhatama yasan dalem Kanjeng Gusti Mangkunegara IV wonten tetembungan minangka gagaran tumrap para ingkang sami ngudi kaweruh, ungelipun makaten: “Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya buda pangekese dur angkara”.

 

Sekar Pucung punika wosipun nyethakaken menggah ngelmi punika sagedipun tumama kedah mawi lampah lan kawiwitan saking santosaning lahir lan batos. Manawi sampun tuhu bebudenipun tamtu badhe saged hambengkas tumindak awon sarta angkaranipun. Sanadyan kagungan ngelmu, nanging manawi boten kersa hanglampahi, punika pepindhanipun kados dene wastra lungset ing sampiran. Dados para ingkang ngupadi dhateng kaweruh lan kautaman samya ngrumaosi kajibah nyepeng tanggel jawab tumut lelumban aneng samodraning pakaryan njejegaken kawontenan lan sadaya tumindak ingkang karaosaken singlar, nalisir, geseh, mencong, menceng, serong, cengkah, punapa dene ingkang mbadal saking pepoyaning kautaman, supados ingkang kaesthi, ingkang kawijil ing lathi saha ingkang binabar ing tindak-tanduk lan solah-bawaning pakarti sageda murakabi ing kardi.

 

Tiyang ingkang saya berag anggenipun ngudi ngelmi kasampurnaning agesang, satemah cahyaning wadananipun katingal sumunar kaprabadan resik weninging budinipun. Manawi tiyang punika tansah taberi ngudi kasembadaning gegayuhanipun, tansah incang-inceng luru ngelmu, thruthusan sinau linambaran ing lampah sesirik sarwa gengsi, satemah badhe saged sumerab lan mangertos sayektos kasunyatan kawontenaning jagad nginggil lan jagad ngandhap.

 

Jagad nginggil ingkang padhang narawang anjog dhateng kasuwargan. Jagad ngandhap ingkang kebak pepeteng, rereged lan sarwa dosa. Awit saking sanget ing pangudi, satemah saged kadumugen gegayuhanipun saged nutul kembang sadhompol, inggih punika sekaring kasampurnan marganing asuwargan ingkang satuhu, ingkang rupinipun mancawarna, abramarkata kados manekawarninipun drijining asta, panjang celak, ageng alit, lan maneka warni tujuwan sarta pigunanipun.

 

Minangka jangkeping wawasan, kula badhe mratelakaken lampahing panggulawentah gandheng kaliyan wataking manungsa. Ing saderengipun jabang bayi lair, punika sampun anggadhahi wewatakan ingkang dipun wastani dhasaring watak. Anggegesang wewatakan ingkang sae saha amejahi watak ingkang kirang prayogi punika ingkang dipun wastani panggulawentah. Manawi para juru panggulawentahipun boten saged dados patuladhan, lajeng kados pundi wewatakanipun lare ing tembe wingking? Kacang ora ninggal lanjaran. Anak molah bapa kepradhah. Manawi panggulawentahipun klentu, satemah watak ingkang sae wau lajeng saged kasilep, katutupan dening ngrembakaning watak ingkang kirang prayogi. Amila, patrapipun para juru panggulawentah anggenipun nuntun dhateng lare kedah sarana ngulataken dhateng dhasaring wewatakanipun lare, supados tuntunanipun sageda laras kaliyan ancasing lare.

 

Sanadyan katuntun kados punapa kemawon, rancaging lampah anggayuh karaharjaning putra ngantos dados tiyang pinter, nanging manawi kasagedan wau boten laras kaliyan dhedhasaring wewatakan ingkang sumimpen ing dalem putra wau, ing tembe tamtu badhe wonten benceng cewengipun tumrap wewatakanipun, bebasan pintere mung pinter keblinger boten uninga punapa ingkang perlu katindakaken utawi pundi margi ingkang kedah kaambah amrih saged kadumugen gesangipun. Lare punika jiwa ingkang gadhah lelampahan piyambak, ingkang perlu anggayuh satunggaling pakaryan ingkang sampun dados tetanggelanipun, gadhah kewajiban ingkang kedah karampungaken ing salabeting gesangipun.

 

Sadaya kadadosan punika rak mesthi wonten sebab-musababipun, pramila punika manawi kita badhe ngundhuh woh ingkang miraos, inggih lajeng perlu ngengeti damel wiji utawi sebab ingkang saged nguwoh miraos. Mbokmanawi sampun dados wewataking manungsa, manawi dereng wonten lelampahan ingkang sangsara, limrahipun dereng kraos klentu lan sok ugi dereng wonten niyat badhe andadosi sebabipun nandhang papa cintraka wau. Dados nedhah-nedhahaken kasangsaran, ngertos-ngertosaken dhateng risaking kawontenan, bibrahing tatanan ingkang tundhonipun damel kapitunanan dhateng asanes, punika perlu supados bebrayan umum saged tumut ngraosaken lelampahan ingkang sinandhang. Manawi sampun saged kraos, yakin yen sangsara, limrahipun lajeng gampil dipun ajak mikir punapa ta sebabipun lan kados pundi anggen kita saged ngrungkeb ingkang dados gedibaling ontran-ontran, rengka-rekasaning laku, rungsit-gawating gesang ing ngalam bebrayan Nuswantara punika.

 

Anggenipun bangsa kita ebah ngupados kamulyan tuwin kaluhuran sampun 58 warsa, ananging kedah sami dipun akeni manawi dumugi samangke ebah-ebahan wau dereng saged mujudaken woh kados ingkang dipun ajeng-ajeng. Pramila ebah-ebahan wau kedah dipun santosakaken, supados kekiyatanipun langkung ageng katimbang samangke. Sadaya panjangka ingkang dipun lambari kekiyatan ingkang rosa punika mesti enggal kadumugenipun. Awit saking punika, sumangga kita para mudha ingkang sami jumagar-jumagar tuwin ingkang wekdal samangke sami ngudi kaweruh mawarni-warni sampun ngantos kesupen bilih pangudi kaweruh punika namung satunggaling sarana kangge nyamektekaken anggenipun badhe dados bebrayan.

 

Para sepuh ingkang ing wekdal samangke lelumban wonten ing ebah-ebahaning bangsa boten dangu malih badhe lengser saking palenggahanipun kabekta saking sampun yuswa utawi kekiyatanipun sampun suda kangge nyambut damel migatosaken kabetahanipun bebrayan. Para taruna ingkang samangke nedheng ing pawiyatan kedah sami ngrumaosi gadhah wajib anggentosi palenggahanipun para sepuh. Para nem-neman punika wewatakanipun banter sakliring tindak, mila dhatengipun para nem-neman ing jagading ebah-ebahan badhe njurung lampahipun ebah-ebahan wau, tegesipun angrikataken badhe kadumugening sedya. Ananging, Kanjeng Gusti Mangkunegara IV sampun paring suka pepadhang tuwin suka pepenget, ungelipun “mung bae wekasing wang, ywa pegat teteki”.

 

Sadaya tumindak punika kedah linambaran teteki. Teteki ing riki tegesipun mulat dhateng punapa ingkang dipun tindakaken. Dados teteki ing riki boten ateges cegah dhahar lawan guling, nanging tansah mulata dhateng sakathahing tumindak, amargi tindak makaten manawi anggenipun nglampahaken boten mawi kawicaksanan, tuna dungkapipun sok inggih andrawasi.

 

Tiyang gesang punika kedah nelangsa, tegesipun nalangsa dede bingah dede sisah, nanging prihatin. Prihatin ing riki tegesipun tansah nglanggengaken raos eling, mangesti marang kang mesti. Wewarah ing inggil wau ugi cundhuk kaliyan piwulang dalem eyang Breges Sotya Tunggul Negara, inggih Sinuwun P.B. V, sinawung Sekar Dhandhanggula mungel makaten: “Yen tegese wong prihatin iki, ora nyirik dhahar lawan nendra, ngemana ragamu angger, awit prihatin iku, dadi wajib lakuning urip, amrih temtreming manah, dimen ora numbuk, ya iku wong olah padhang, ngrasakake bener luput ala becik, dununge kang sanyata.

 

Satunggaling bangsa ingkang badhe anggarap satunggaling pakaryan agung, ingkang ngangkah murih rahayuning bebrayanipun, punika boten perlu kesesa supados enggal saged ngundhuh wohipun, nanging langkung perlu utawi langkung utami manawi ing salebetipun angudi kacepenging gegayuhanipun wau dipun kanteni ngudi murih kawontenaning bebrayanipun samangke punika ing tembe sageda sami nurunaken bebrayan enggal ingkang ambegipun laras kaliyan kekudanganipun murih sageda widada kawontenanipun, samangsa pancering gegayuhan wau saged kadarbe. Punika amargi sanadyan tiyang saged kadumugen sedyanipun andarbe kawontenan ingkang endah, edi tuwin peni, nanging manawi ambeging bebrayan wau dereng sami rahayu, saestu boten saged widada, telenging gegayuhan badhe muspra sabab badhe gampil risakipun, manawi tewah cocongkrahan rebut unggul ing dalem kalanganipun piyambak.

 

Lir pindhane geni murub siniram lenga patra, boten saged enggal hambirat ingkang ngenggreg-enggregi, lha kok malah sangsaya ndadra, sangsaya angel panyirebe anggenipun sami remen nuruti hardha puwa-puwaning ati. Kamanungsan lebur tanpa aran ing satengahing palagan antarane urip lan kanisthan.Watuk ingkang taksih cumondhok ing wataking bangsa punika badhe sangsaya awrat anggenipun ngusadani. Nuwun

 

BEBUKANING WIRID:

Bebukaning Wirid kang amratelakake ganepe patraping amejang ngelmu makrifat kasampurnaning ngaurip, ing jaman semana wis katindakake dening para Wali kabeh, urute sawiji-wiji ing ngisor iki.

 

Ingkang dingin, wiwitan patrap kang dadi kawajiban, iku guru karo bakal murid pada amet banyu wudu, sarta niayat kang karepe mengkene : “Nawaitu raf’al hadasi suharata walakabirata fardlanlillahi ta ala Allahu akbar” (Niyatingsun amet banyu kadas, angilangake kadas cilik lan gede perlu karana Allah).

Nuli pada dandan anganggo sandangan sarwa suci, ora kena anganggo kang mawa emas, utamane manawa karsa anganggo kuluk, banjur ngliga sarira kekonyo gando wida, sarta nganggo sumping kembang oncen-oncen Surengpati ana ing kuping kiwa, karo nganggo kalung kembang oncen-oncen Margasupana, wangun kaya oncen-oncen usus pitik karangkep telu, utawa nganggo gombyok keris kaya pangaten anyar.

 

Nuli ing pamejangan katata dipasangi tetuwuhan maju papat,sarta kadodokan lampit kang resik, banjur katumpangan klasa pasair kang tigas, ing duwur pisan katumpangan mori putih saules lapis pitu, apese lapis telu, mawa kasebaran kembang campur bawur.

Nuli sesaosan srikawin salaka putih bobot satail, kadokok ing wewadah tunggal karo lengz sundul-langit, sarta menyan bobot saringgit, kasasaban mori putih mawa pangiring sesanggan gedang agung suruh ayu, jambene tanganan, kasasaban mori putih dadi rong wadah sarta kembar mayang sajodo pada sumaji ana ing pamejangan.

 

Nuli ing antara manawa wis sirep wong utawa wayah tengah wengi, pada tindak menyang enggon pamejangan, kang bakal kawejang linggih madep mangulon , sarta dedupa ratus kaasepake ing kuping kiwa, banjur ing irung, wekasan ing dada, iku wiwit kawejang teka gurune. Dene kang kawejangake, anurut pamejange para Wali wolu ing Tanah Jawa, kakumpulake dadi sawiji. Wijose pada amet wijining ngelmu kekiyasan saka Dalil pangandikaning Allah, kang kasebut ing dalem Hadis pangandikane Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah marang Sayidina Ali kawisikake ing kuping kiwa, pepangkatane dadi wolung wejangan, kapratelakake ing ngisor iki jarwane kabeh :

 

1. Wisikan Ananing Dzat

Wejangan punika dipun-wastani wisikan ananing Dzat, awit dening pamejangipun kawisikaken ing talinga kiwa, wiyosipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang wiwitan, nukilan saking warahing kitab Hidayat khakaik, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, makaten jarwanipun :
“Sejatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin iku ingsun, ora ana Pangeran Nanging Ingsun, sajatining Dzat Kang Maha Suci anglimput ing Sipatingsun, anartani ing asmaningsun amratandhani ing afngalingsun”.

 

2. Wedharan Wahananing Dzat

Wejangan punika dipun wastani Wedharan Wahananing Dzat, awit dene pamejanganipun amarah urut-urutan dumadining Dzat, sipat, wahanipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping kalih, nukilan saking sarahing kitab Dakaikalkaik.

Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :
”Sajatine ingsung Dzat Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodratingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning afngalingsun kang minangka bebukaning IraDzatingsun, kang dhingin Ingsun anitahaken kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam Adamm akdum azali abadi, nuli cahya aran Nur Muhammad, nuli kaca aran Mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh Idlapi, nuli damar aran Kandhil, nuli sesotya aran Darah, nuli dhindhing jalal aran Kijab kang minangka warananing Kalaratingsun”.

 

3. Gelaran Kahaning Dzat

Wejangan punika dipun wastani gelaran kahaning Dzat, awit dening pamejanganipun ambabar dados kanyataan anasiring Dzat sipat, inggih punika nalika Pangeran Kang Maha Suci karsa amujudaken sipatipun. Gumelar kahananipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping tiga, nukilan saking Kitab bayan Humirat mupakat kaliyan Kitab Bayan Alip, kitab Madinil Asror, kitab Makdinil Maklum, inggih punika bangsaning kitab tasawup sadaya. Sami amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah karaos ing dalem rahsa, makten jarwanipun ;
”Sajatine manungsa iku rahsaningsun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake Adam, asal saking anasir patang prakara : 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. banyu, Iku kang dadi kawujudaning Sipatingsun. Ing kono ingsun panjingi mudah limang prakara : 1. Nur, 2. Rahsa, 3. Roh, 4. Napsu, 5. Budi, iya iku minangka warananing wajahingsun Kang Amaha Suci”.

 

4. Pambuka Tata Malige Ing Dalem Bait-al-makmur

Wejangan punika dipun wastani, kayektening kahanan Kang Maha Luhur, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-makmur. Awit dening pamejangipun ambuka kodrat iraDzating Pangeran Kang Maha suci, anggenipun karsa anjenengaken maligening Dzat minangka Baitullah wonten ing sarahipun manungsa, punika sajatosipun dados pitedhah kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat Kang Maha Mulya langgeng boten kenging ewah saking gingsir saking kahanan jati.

 

Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping sekawan nungkilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kapisan karaosaken ing dalem rahsa, makaten jarwanipun.
”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-makmur, iku omah enggoneng Parameyaningsun, jumeneng ana sirahing Adam, kang ana sajroning sirah iku dimak, iya iku utek, kang ana antraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun Dzat Kang anglimputi ing kahanan jati”.

 

5. Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Bait-al-muharram

Wejangan punika dipun wastani kayektening kahanan Kang Maha Agung. Inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-muharram, awit dening pamejanganipun pambuka kodrat iraDzating Pangeran kang Maha suci, enggenipun karsa anjenengaken maligening Dzat, minangka Baitullah wonten ing dhadhaning manungsa.

Kasebut ing dalem daliling dados pitedahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat kang Maha Mulya lenggah boten kenging ewah ginsir saking kahanan jati.

 

Kasebut ing dalem daliling ngemi ingkang kaping gangsal, inggih ugi sami nukilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, ayat ingkang kaping kalih karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :
”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-muharram, iku omah enggoning lelaranganingsun, jumeneng ana ing dhadhaning Adam, kang ana ing sajroning dhadha iku ati, kang ana ing antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, iya iku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati”.

 

6. Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Bait-al-mukaddas

Wejangan punika dipun wastani ; kayektening kahanan Kang Maha Suci, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas, awit dening pamejangipun ambuka kodrat iraDzating Pangeran Kang Maha Suci angenipun karsa anjenengaken maligening Dzat, minangka Baitulah katata wonten ing kontholing manungsa. Punika sajatosipun ugi dados pitedhahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat Kang Maha Mulya, lenggah boten kenging ewah gingsir saking kahanan jati. Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping enem, inggih ugi sami nukilan saking sarahing Kitab Insan Kamil. Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha suci dhateng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kaping tiga, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun :


”Sajatine Ingsun nata malige sajroning Bait-al-mukkadas, iku omah enggoning Pasuceningsun, jumeneng ana ing kontholing Adam, kang ana sajroning konthol iku pringsilan, kang ana antarane pringsilan iku nutfah, iya iku mani sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran angin Ingsun Dzat kang nglimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam ahadiyat, alam wahdat, alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajtining sipat Ingsun”.

7. Panetep Santosaning Iman

Wejangan punika dipun wastani panetep santosaning iman, abebuka sahadat jati, awit dening pamejangipun amangsit ingkang dados pikekahing pangandel kita, denira angestokaken dhateng kayektining gesang kita pribadi, manawi sampun tetep minangka tajalining Pangeran Kang Maha Suci sajati. Kasebeut ing dalem ijemak riwayating para wiliyullah, nukilan saking kadis makdus, salebeting bab maklumatul uluhiyah. Wiyosipun anyariyosaken kakekating taukid. Ingkang terus dhateng iktikad, wewiridan saking cipto sasmitanipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah ingkang kawangsittaken dhateng sayidina Ali, makaten jarwanipun :
”Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun”.

 

Menggah dunungipun makaten :
a. Ingkang dipun wastani Pangeran meniko Dzating gesang kita pribadi, sebab sajatosipun sagung asya sami kukum napi sadaya, tegesipun asya ; sawiji-wiji, tegesipun napi, boten wonten, mila kasebut boten wonten Pangeran isbatipun inggih namung Dzating gesang kita pribadi. Tegesing isbat ; tetep, dados teteping ingkang anyebut kaliyan ingkang sinebut Pangeran punika boten wonten sanesipun, suraos tunggal tanpa wewangenan amung kaot lair batin kemawon.

b. Ingkang dipun wastani Muhammad punika sipating cahya kita, mila dipun basakaken utusan, amargi dados pangeran rahsaning Dzat, kawistara wonten ing netya, kados ingkang kasebut wonten ing dalil salebeting Qur’an makaten jarwanipun :


“Sayekti temen-temen teka ing sira kabeh, utusaning Dzat metu saka ing awakira kang maha mulya, mungguhing utusan iku anembadani barang saciptanira, yen angandel sayekti antuk sih pangapuraning Pangeran”.

Manawi sampun anampeni dalil Qur’an pangandikanipun Pangeran Kang Maha Suci makaten wau, dipun waskitha ing galih. Inggih gesangkita pribadi wahananing nugraha, kahananing kanugrahan. Nugraha punika Dzating Gusti, kanugrahan punika sipating kawula, tunggal tanpa wewangenan dumunung wonten ing badan kita. Sampun uwas sumelang malih, sebab ingkang kasebut ing Kitab Insan Kamil amarah manawi namaning Allah punika inggih namaning Muhammad. Umpami sabet kaliyan warangkanipun. Ing mangke Allah minangka warangka, Muhammad minangka sabet, ing tembe wewangsulan.

Wisiyating guru ingkang amedharaken ngelmi panetep santosaning iman, kaprayogekaken sami anglampahana boten karsa dhahar ulam lembu. Kabar angsal paedah manjing dados putra muridipun Kanjeng Susuhunan ing Kudus, kaidenan ingkang dados saesthining galihipun.

Wonten riwayating guru manawi amedharaken ngelmi panetep santosaning iman, ingatasipun amejang dhateng pawestri, wenang kawewahan makaten jarwanipun.
”Ingsu ankeseni, satuhune ora ana Pangeran anging ingsun, lan anekseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusan Ingsun Fatimah iku umat Ingsun”.


8. Sasahidan

Wejangan punika dipun wastani sasahidan, awit dening pamejanganipun kinen asahida dhateng wahananing sanak kita. Inggih punika ananing dumadi ingkang gumelar wonten ing alam dunya, kadosta, bumi, langit, wulan, lintang, latu, angin, toya, sapanunggalipun sadaya. Sami aneksenana yen kita mangke sampun purun angakeni “ Jumeneng Dzating Gusti “ Kang Maha Suci, dados sipating Allah Kang sajati. Kasebut ing dalem kiyas wewarahing para pandhita, anggenipun amencaraken nukilan saking kadis mahdus, salebeting bab Maklumating Huluhiyah. Wosipun anartani ing panetep santosaning iman, dados panuntuning tokid ingkang ambontos dhateng iktikad. Inggih ugi pepiridan saking cipta sasmitaning Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah ingkang kawangsitaken dhateng Sayidina Ali, makaten jarwanipun ;


”Ingsun anekseni ing Dzatingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku rahsaningsun, iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena gingsir ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana Ora kekurangan ing pangerti, Byar sampurna padang tarawangan, Ora krasa apa-apa Ora ana katon apa-apa, Amung Ingsun kang anglimuti ing alam kabeh kalawan kodratingsun”.

Menggah dunungipun makaten :

Ingkang dipun wastani Pangeran punika Dzating gesang kita pribadi, ingkang dipun wastani Muhammad punika sipating cahya kita pribadi. Manawi ingkang kasebut ing dalem dhikir “ La Illaha Ilullah, Muhammad Rasulullah “ tegesipun boten wonten Pangeran anging Allah, Nabi Muhammad punika utusaning Allah punika afngaling Rasul, dumunung ing badan kita. Rasul punika asmaning Muhammad, dumunung ing rahsa kita. Muhammad tuwin sipating cahya, dumunung ing gesang kita. Sajataning gesang kita punika, Dzating Pangeran Kang Maha Suci.

 

Kayektosanipun kasebat ing dalem daliling Al Qur’an, manawi Pangeran Kang Mahasuci punika kawasa amijilaken gesang saking pejah, wijiling pejah saking gesang, inggih gesang kita pribadi punika. Sayekti awit saking pejah, ing wekasan boten kenging pejah. Dipun basakaken ; kayun pidareni. Tegesipun : gesang ing kaanan keakalih, wonten ing alam sahir kita gesang, wonten ing alam kabir inggih gesang. Sarta boten kasupen ing Dzat kita kang agung, boten ewah gingsir ing sipat kita kang elok, boten kasamaran ing sama kita kang wisesa, boten kekirangan ing afngal kita kang sampurna, dados pepuntoning taukid ingkang ambontos dhateng iktikad. Sampurnaning gesang kita punika boten wonten karaos utawi tanpa katinggal punapa-punapa. Amung waluya sajati lajeng anglimputi ing alam sadaya ; sampun uwas sumelang.

 

Wasiyating guru ingkang medharaken ngelmi sasahidan, kaprayogekaken sami anglampahana sampun ngantos anyebut Allah, kaisbatna anyebut Pangeran, kadosta : ing bebasan saking karsaning Allah, isbatipun saking karsaning Pangeran. Kabar pakantukipun ingkang sampul kalampahan asring kadhawahan ilham. Dados amewahi teranging pambudi, ananing wasiyating guru ingkang sami kawaleraken sadaya punika manawi kasupen boten dados punapa, sebab sajatosipun ingkang dados awisaning ulah ngelmi kasampurnan punika namung napsu. Manawi saged ambirat hawa napsu, saking aDzat kadunungan manah awas tuwin emut. Manawi tansah awas emut saestu manggih kamulyan ing sangkan paran sasaminipun kados riwayating para ahli ngelmi ingkang kasebut ing ngandhap punika :


a. Taberi suci temen ; Minangka pambirating durgandana ing tembe, tegesipun ; ganda awon.
b. Angengirangi dhahar nginum ; Minangka paluluhaning raga ing tembe.
c. Angawisi sare shawat ; Minangka pangluyutaning jiwa ing tembe.
d. Nyenyuda napsu wuwus ; Minangka panglenyepaning rahsa ing tembe.

Manawi sampun lenyep rahsanipun, kabar dumugining delahan ing tembe lajeng layat dados cahaya gum, ilang tanpa wewayangan ing kaanan kita kang sejati. Punika sarehning kula dereng saged anglampahi piyambak, dados namung anyumanggakaken ing pamanggihing galih kemawon. Bokmanawi kalampahan makaten inggih wallahu alam katarimahipun.

 

Sawise ganep pamejange, nuli amarah patrape paraboting ngilmu dadi wolung pangkat, kasebut ing ngisor iki :

 

1. Pamuja.

“Ana pepujaningsun sawiji, Dzate iya Dzatingsung, sifate iya sifatingsun, asmane iya asmaningsun, afngale iya afngalingsun, Ingsun puja ing patemon tunggal sakahananingsun, sampurna kalawan kudratingsun”.

 

2. Tobat utawa Panalangsa.

“Ingsun analangsa maring Dzatingsun dewe, regeding jisimingsun gorohe ing atiningsun, serenge ing napsuningsun, laline ing uripingsun salawas-lawase ing mengko Ingsun ruwat sampurna ing sadosaningsun kabeh saka ing kudratingsun”.

 

3. Pangruwat.

“Ingsun angruwat kadangingsun papat kalmia pancer kang dumunung ana ing badaningsun dewe, Mar Marti Kakang Kawah Adi Ari-ari Getih Puser, sakehing kadang ingsun kang ora katon lang kang ora karawalan, utawa kadangingsun kang metu saka marga ina, sarta kadangingsun kang metu bareng sadina kabeh pada sampurnaa nirmala waluya kahanan jati dening kudratingsun”.

 

4. Saksi ing Dzat Kita, kaya Sasahidan.

“Ingsun anakseni ing Dzatingsun dewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anakseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusaningsun, iya sajatine kang Allah iku badaningsun, Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku cahyaningsun, iya Ingsun kang urip ora kena ing pati, iya Ingsun kang eling ora kena lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskita ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa Wicaksana ora kekurangan ing pangreti, byar sampurna padang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, mung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kudratingsun”.

 

5. Anucekake Sakehing Anasir.

“Ingsun anucenaken sakaliring anasiringsun kang abangsa jasmani, suci mulya sampurna anunggal kalawan sakaliring anasiringsun kang abangsa Rochani, nirmala walya ing kahanan jati dening kudratingsun”.

 

6. Angawinake Badan Karo Nyawa.

“Allah kang kinawin, winalenan dening Rasul, pangulune Muhammad, saksine Malaekat papat, iya iku Insun kang angawin badaningsun, winalenan dening rahsaningun, kaunggahake dening cahyaningsun, sinaksenan dening Malaekatingsun papat, Jabarail, iya iku pangucapingsun, Mikail pangambuningsun, Israfil paningalingsun, Idjrail pamiyarsaningsun, srikawine sampurna saka ing kudratingsun”.

 

7. Sangkan Paraning Tanazultarki.

“Ingsun mancad saka ing alam Insan Kamil, tumeka ing alam Ajsam, nuli tumeka ing alam Misal, nuli tumeka ing alam Arwah, nuli tumeka ing alam Wachidiyat, nuli tumeka ing alam Wahdat, nuli tumeka maring alam Insan Kamil maneh, sampurna padang tarawangan saka ing kudratingsun”.

 

8. Pambirat Asaling Cahya.

“Cahya ireng kadadeyaning napsu, Luwamah sumurup maring cahya kang abang, cahya abang kadadeyaning napsu, Amarah sumurup maring cahya kang kuning, cahya kuning kadadeyaning napsu, Sufiyah sumurup maring cahya kang putih, cahya puti kadadeyaning napsu, Mutmainah sumurup maring cahya kang amancawarna, cahya kang amancawarna kadadeyaning Pramana, sumurup marang Dzating cahyaningsun kang awening mancur mancorong gumilang tanpa wewayangan, byar sampurna padang terawangan, ora ana katon apa-apa, kabeh-kabeh pada kalimputan dening Dzatingsun saka ing kudratingsun”.

Sawise mangkono, nuli amarah maneh praboting amatrapake panjenenganing Dzat, dadi sangang pangkat, kasebut ing ngisor iki.

 

1. Angumpulake Kawula Gusti.

“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun”.

 

2. Maha Sucekake Ing Dzat.

“Ingsun Dzat Kang Amaha Suci Kang Sifat Langgeng, kang amurba amisesa kang kawasa, kang sampurna nilmala waluya ing jatiningsun kalawan kudratingsun”.

 

3. Angrakit Karatoning Dzat.

“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening karatoningsun, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun”.

 

4. Angracut Jisim.

“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana ing jaman karamating maha mulya, waluya kulit daging getih balung sungsum sapanunggalane kabeh, asala saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna bali marang ingsun maneh saka ing kudratingsun”.

 

5. Anarik Sampurnaning Akrab.

“Jaganingsun sapanduwur sapangisor kabeh, kang pada mulih ing jaman karamating alame dewe-dewe, pada suci mulya sampurnaa kaya Ingsun saka ing kudratingsun”.

 

6. Angukud gumelaring Jagad.

“Ingsun andadekake alam dunya saisen-isene kabeh iki, yen wis tutug ing wewangene, Ingsun kukud mulih mulya sampurnaa dadi sawiji kalawan kahananingsun maneh saka ing kudratingsun”.

 

7. Ambabar Karaharjaning Turas.

“Turasingsun kang maksih pada kari ana ing alam dunya kabeh pada nemuwa suka bungah sugih singgih aja ana kang kekurangan, rahayu salameta sapanduwure sapangisore saka ing kudratingsun”.

8. Amasang Pangasihan.

“Sakahe titahingsun kabeh, kang pada andulu kang pada karungu pada asih welasa marang Ingsun, saka ing kudratingsun”.

9. Amasang Kamayan.

“Sakeha machlukingsun kabeh, kang ora angendahake maring Sun, pada kaprabawa dening kamayan dening kudratingsun”.

Ing wekasan kang kawejang dijantenana yen panggonaning patrap pratikele sawiji-wiji, kapratelakake ana Babaring Wirid amawa murad maksud kasebut dadi pituduhane dununging ngelmu makrifat kabeh mau iku.

 

Sawise mangkono, kang amejang maca dunga Istiqfar karo dunga Kabula, sajeroning batin anuwun pangapura marang Kang Amurba Amisesa ing ngurip, supaya aja nganti pleh wewalak anggone amerake rahsaning Dzat iku.

Nuli kang kawejang dijanjeni, Manawa isih urip gurune, ora kena mejang, kang wis kalakon andadekake ora prayoga, dene Manawa kaburu ing perlu, ana akrabe kang lara lara-banget, mangka during ngelmu, iku kena amisik Ananing Dzat bae.

Kajabone saka mangkono, saupama kang kawejang mau during anarima utawa isih kurang padang ing panampane, Manawa arep anggeguru ing liyane maneh ora dadi apa, angger anajaluk idening guru kang amejang ngelmu iku.

Sawise mangkono banjur pada sesalaman, utamane kang kawejang mau yen karsa angabekti marang kang amejang.

 

Sawise luwar saka pamejangan, ing kono nuli pada angepung mabengan, salamating jiwa raga, mungguh kehing ambengan dadi telung asahan, ing ngisor iki pratikele :
1. Memule angaturi dahar Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, sega wuduk, lembarang pitik, utawa endog, karupuk, lombok, terong.
2. Memule angaturi dahar para Sahabat Rasul karo para Waliyullah, sego golong, pecel pitik, jangan menir, iwak kebo siji kagoreng.
3. Memule angaturi dahar marang leluhur kang pada amedarake rahsaning ngelmu makrifat apa kang dadi dedaharane nalika isih urip, sarta nganggo kinang, kembang konyoh, kabeh iku pada kadonganan onga Rasul, Majmuk Kabula, Tulak-bilahi wekasan Salamet.

Dene pakolehing amejang iku, yeng amarengi sasi tanggale sapisa ing dina Jum’at, pamejange anuju purnama, anggere or sangar ora na’as, sarta ora taliwangke, Manawa sangaraning sasi anuju dina Jum’at, pamejang ing dina Anggara Kasih (selasa Kliwon), ora angetung purnama.

Mungguh pakolehing enggon pamejang iku, bumi sucikang becik arane, sarta ora kauban wangon, utamane yen ana ing gunung, ing ara-ara, ing banyu, angger becik jenege sarta sepen, prayoga kanggo panggonan amejang, kaya ta : ing gunung Agung,ara-ara ing Purwadadi, ing Ngadipala, bangawan ing Ngobol, luwih utama pisan Manawa amejang ana ing Sitinggil, utawa palataran ing Masjid Gede, sapepadane kang sakira pakoleh ing jeneng karo panggonane.

Makna Ajaran Wong Urip:

Secara harafiah, “Wong urip iku mung mampir ngombe” dapat diartikan orang hidup itu hanyalah istirahat sejenak untuk minum. Meskipun ungkapan tersebut mempunyai arti yang sederhana tetapi makna yang terkandung sangat dalam. Untuk dapat memahami makna ungkapan itu kita dituntut untuk memahami kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam budaya Jawa kehidupan manusia dimulai semenjak tumbuhnya bayi dalam kandungan ibu kemudian setelah bayi dilahirkan ke dunia, dimulailah kehidupan yang sebenarnya dunia. Dengan kematian seseorang, yaitu berpisahnya roh dan wadag manusia, dimulailah kehidupannya di alam lain yang belum kita ketahui pasti. Pemahaman tentang tiga kehidupan ini biasa dimanifestasikan sebagai alam purwa, madya dan wasana. Makna ungkapan “Wong urip itu mung mampir ngombe” mengacu kepada alam madya, yaitu kehidupan setelah manusia dilahirkan di dunia.

Mengisi Kehidupan yang Sesaat
Seperti kita ketahui manusia terlahir di dunia ini berbekal empat sifat dasar yang mewarnai kehidupannya, yang sering diistilahkan dengan aluamah, sefiah, amarah dan mutmainah, atau yang biasa juga diistilahkan dengan nafsu angkara, amarah, keinginan dan perbuatan suci. Nafsu-nafsu tersebut timbulnya dirangsang oleh anasir-anasir yang ada di dunia ini dan masuk melalui paningal (mata), pengucap (mulut), pangrungu (telinga) dan pangganda (hidung).

Anasir alam yang masuk melalui mata berwujud nafsu keinginan akibat rangsangan sesuatu yang terlihat oleh mata. Anasir alam yang masuk melalui mulut berupa kata-kata kotor yang diucapkan oleh mulut. Anasir alam yang masuk melalui telinga berwujud suara yang tidak enak didengar oleh telinga dan menyebabkan seseorang marah, kasar dan mata gelap. Sedangkan anasir alam yang masuk melalui hidung berwujud tindakan-tindakan baik karena hidung tidak mau menerima bau-bau yang tidak enak. Dengan bekal empat sifat dasar hidup itu, manusia diwajibkan menguasai keempat nafsu yang melekat pada dirinya. Dengan kata lain, manusia harus menguasai ketiga nafsu yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan yang kurang baik, yaitu aluamah, amarah dan sufah, dan mengutamakan nafsu yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan baik, yaitu mutmainah. Menguasai di sini diartikan sebagai memelihara mengatur ataupun mengendalikan. Apabila manusia dapat memelihara mengatur serta mengendalikan keempat nafsu-nafsu tersebut akan menjadi manusia teladan dalam arti dapat diteladani oleh orang-orang disekitarnya karena tindakan-tindakannya selalu terpuji.

Sebaliknya apabila manusia tidak dapat memelihara mengatur serta mengendalikan keempat nafsu-nafsunya, orang tersebut akan menampilkan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, sehingga ia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya, oleh karena itu kehidupan di dunia yang hanya sesaat tersebut, yang dalam budaya Jawa diungkapkan istlah “wong urip iku mung mampir ngombe”, haruslah disibukkan dengan tindakan-tindakan memelihara, mengatur serta mengendalikan keempat nafsu manusia ini, sehingga kehidupan di dunia yang sifatnya hanya sesaat tersebut diisi dengan tindakan-tindakan terpuji, seperti tolong-menolong, mengasihi sesama, berbakti kepada nusa dan bangsa, saling hormat-menghormati, bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan lain-lain. Dengan demikian apabila pada saat kematian, yaitu berpisahnya roh dan wadag manusia dapat diharapkan roh manusia tersebut akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu causa pria segala kehidupan di dunia ini.

Selamat sampai Tujuan
Kehidupan di dunia ini dapat diibaratkan sebagai perang antara nafsu baik dan nafsu yang tidak baik. Agar manusia dapat memenangkan perang tersebut, sehingga pada saat kematian rohnya kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia harus dapat menempatkan hati nuraninya di atas nafsu. Dengan kata lain, hati nurani manusia haruslah menguasai nafsu. Jika hati nurani dikuasai oleh nafsu pada saat kematian roh manusia dapat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana agar seseorang dapat menjaga hati nuraninya selalu berada di atas nafsu? Budaya Jawa mengajarkan agar seseorang selalu menjalani laku, seperti berpuasa dan lain-lain, sebagai latihan pengendalian diri sehingga dapat mengendalikan diri apabila timbul rangsangan untuk bertindak yang tidak baik. Selain itu budaya Jawa juga mengajarkan agar seseorang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu mendapatkan terang dari-Nya yang akan menyebabkannya dapat berpikir secara jernih dan bersih.

Tujuan hidup manusia adalah selamat di dunia maupun di alam kelanggengan. Untuk dapat mencapai tujuan itu manusia dituntut untuk terus menerus berjuang menegakkan kebenaran. Dalam kehidupan di dunia yang sesaat, manusia harus dapat mengisinya dengan tindakan baik. Oleh karena itu budaya Jawa selalu mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara sifatnya. Peringatan tersebut diungkapkan dalam istilah “wong urip iku mung mampir ngombe”. Apabila seseorang selalu ingat akan hal ini dan mengisi kehidupan sesaat dengan tindakan baik, maka dapatlah diharapkan tujuan hidup seseorang akan tercapai, yaitu selamat di dunia maupun di alam kelak nanti.

Aja dumeh mujudake pitutur luhur warisane para leluhur lan pinisepuh kang ngemu teges supaya jalma manungsa utawa titah sewantah anggone nglakoni penguripane ana ing alam donya ora ngendelake aji mumpung. Dumeh, mujudake kahanan kajiwan kang njalari sawijining pawongan nggunakake kesempatan(aji mumpung) kanggo kepentingane dhewe tanpa ngelingi sak padhane urip. Kesempatan kasebut ing ndhuwur bisa maujud drajat, pangkat, bandha donya, panguwasa, ilmu linuwih, kebagusane rupa lan liyane.
Ing donya Eropa utawa dunia barat uga nduweni sanepa “power tends to corrupt” kang nduweni teges yen kuwasa bisa njalari wong kang nyekel kuwasa kuwi nylewengake kekuwasaane kanggo kepentingane pribadhi lan ngianati marang wong kang ngamanati .


Wong urip mono kudu tansah eling marang kang nitahake urip ing alam donya, kudu tansah mawas marang sangkan paraning dumadi. Seko ngendi bibit kawite urip, ana ngendi saiki dumunung lan papan ngendi kang tembene bakal dituju. Kahanan kang bisa direngkuh ora kena njalari lali marang kodrate minangka kawulane Gusti. Kanthi mengkono sifat aja dumeh bisa njalari wong tansah eling marang asal-usule, sahengga ora nglali yen apa kang diduweni mung minangka titipan utawa amanate kang gawe urip. Sikep ini bisa nyurung supaya manungsa tansah nyukuri peparingane Gusti, kanthi nggunakake peparingane mau kanggo nyengkuyung kewajibane minangka khalifahe Gusti ing alam donya, kang nduweni kewajiban memayu hayuning bawana.


Kahanan urip kang dilakoni manungsa kena digambarake kaya dene cakramanggilingan utawa rodha kreta, kang ana sakperangane rodha sakwijining wektu mapan ing dhuwur nanging ing kala wektu liyane ganti mapan ing ngisor. Urip mujudake ganti gumiliring nasib. Mula saka kuwi nalikane wong lagi nduweni nasib kang apik ora kena gumedhe lan umuk marang sak padha-padha lan nalikane ngalami nasib kang ala uga aja nglokro utawa mutung.


Kadangkala wong urip diparingi kanikmatan kang tanpa kinira. Ana ing kahanan iki pitutur aja dumeh trep banget kanggo diamalake. Wong kudu tansah syukur lan uga kudu loma marang sak padhaning urip, ora kena umuk lan gumedhe nanging kudu tansah bisa sakmadya lan andhap asor.
Ana uga kahanane urip kang lagi diparingi pacoban nganti kadangkala wong sing rumangsa ora kuwat nglakoni kahanan mau nduweni panganggep yen donyane wis kiamat. Ngadepi kahanan mengkene, manungsa kudu tansah pasrah sumarah marang kang gawe urip lan sabar anarima ing pandum. Manungsa kudu nduweni keyakinan yen pacoban mau uga mujudake wujud katresnane Gusti kanggo nggembleng manungsa supaya tatag lan tanggon anggone nglakoni uripe.
Aja dumeh ngajarake manungsa tansah mawas diri lan nduweni keyakinan kang kuat menawa urip ing alam donya iki mung sakwetara mampir ngombe. Kabeh lelakone urip mujudake proses kang ora langgeng lan kabeh bakale dijaluk pertanggungjawabane mbesuk ing alam akherat.

 


Sifat utawa watak aja dumeh bisa diwedhar kanthi pitutur kayadene:

1. Aja dumeh kuwasa, tumindake daksura lan daksiya marang sakpadha-padha.
2. Aja dumeh pinter, banjur tumindak keblinger.
3. Aja dumeh sugih, banjur tumindak lali marang wong ringkih.
4. Aja dumeh menang, tumindake sak wenang-wenang.
5. Aja dumeh bagus, banjur gumagus.
6. Aja dumeh ayu, banjur kemayu, lan sakpiturute.
“Nyawa mung gaduhan, bandha donya mung sampiran”, mengkono pituture para winasis. Kanthi mengkono sejatine manungsa urip ing alam donya ora duwe apa-apa. Kayadene nalika dilahirake manungsa ora nggawa apa-apa, smono uga mengko yen wis tumeka titi wancine sowan ing ngarsa Gustine uga ora sangu apa-apa. Dadi apa kang bisa diumukake manungsa

(9). ORA KEPENAKING LUPUT UTAWA SIKSANING DOSA

Ngrumangsani luput utawa reged iku lerege marang paniti priksa adiling kodrat.

 

Paniti priksa marang adiling kodrat iku lerege marang paniti priksa ing lupute dhewe, kang aran ngrumansani.

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, elinga bae yen iku : jaban, ora dadi barang bareng tumrap : jeron. Munggguh bab lase : sanajan gunungan njeblug lan perenga bratayuda pisan, iya njaban.

Anane ora kepenak marga luput, lupute : marga lali ing dhuwur iku.

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, elinga yeng kang ora ngepenakake iku satemene iya PANGGAWENING ATINE DHEWE, dudu : SING ANA SAJABANING ATI. Yen dhasar batine bener lan resik temenan, mokal ora kepenak. Mungguh resik mau ana resik tumrap : Jaban, ana resik tumrap : Jeron.

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, elinga yen anane

siksa saka dosa. Lire : anane ora kepenak saka luput. Mokal menawa ora marga dosa, utawa : mokal ana ora kepenak, merga bener lan resik. Ora susah adoh-adoh nglulur dosa kang wis klakon. Dosa saiki bae kang wus karuhan (nalika lagi ora kepenak bae). Dosane yaiku : dene dadak ngrasakakesing gawe ora kepenak, wong genah ngambah sing ora kepenak, kok ora nyimpang. Apa iku dudu luput. Rehne luput, apa ora tampa pasiksane. Sapata : sing prentah nglakoni gawe ora kepenak marang ati mau.

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, wis ora susah takon maneh : mesthi saka lakuning atine dhewe sing susah, (salah pakarti), nyimpang saka : benering bener, yaiku bener jeron, dudu : bener jaban. Tandhaning  salah : kabukten enggone mujudake ora kepenak iku.

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, mangka ora bisa mupus kaya ing dhuwur mau rehne angel, elinga : apa ORA BISA iku dudu kaluputan. Apa si ORA BISA utawa SI-ANGEL, arep dianggo gagaran anyelaki lupute. Ora weruh yen ORA BISA lan ANGEL iku wis kalebu marang luput, tegese : Iku wewengkoning luput, utawa anak putuning luput, dadi kalingane : mung saka DURUNG WERUH bae marang lupute. Dene ora weruh iku iya anak putuning luput maneh.

 

Yen nemoni apa-apa maneh kang ora ngepenaki ati, aja mung meruhi : sing ana sajabaning ati. Meruhana : sing ana sajroning ati atine dhewe. (Aja ngeling-eling SING DIRASAK-RASAKAKE ngelingana : SING DIANGGO ngrasak-ngrasakake).

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, takona marang pikire dhewe : apa ORA KEPENAK iku maedahi. Yen maedahi, karuwane oleh sengkut nandangi. Dene yen wis dhenger : ora maedahi, mangka teka ditrajang, iku salahe sapa. Cara jabane bae wis takon mangkene : sing maedahi IHTIYARE apa GELANE.

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ora ngepenaki ati, yen durung ketemu lupute, ya isih luput enggone nggoleki. Tandhaning lupute : durung bisa nemokake iku.

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenaki ati, mangka tetela saka luputing liyan sajabaning ati lan wis mupakat wong akeh yen mesthine utawa benere ora kepenak (marga wis lumrah) elinga bae yen iku lagi aran bener, durung : bebering bener.

 

Kang tinuju ing layang iki : BENERING BENER, ora mung BENER bae. Bener iku mung tumrap jaban. Benering bener tumrap jeron. Yen mung trima lumrah bae, ora susah mbicara jeron, awit mundhak dipurih kang nggayuh : benering bener, kang angeling-angel gayuh-gayuhane.

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, nyobaa takon marang budine dhewe APA YA RASA JATI MELU ORA KEPENAK, REHNE WIS BENER, LUMRAH LAN MUPAKAT WONG SAJAGAD. Mesthi ora, awit rasa jati ora mesthi nganggep becik marang kang wis dianggep becik dening rahsa.

 

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, elinga paribasan Walanda : “De liefde is blind”, tegese : katresnan iku bisa micakake. Ora kepenak iku asal saka KABOTAN TRESNA marang dhirine. Iku kang micakake ati. Picaking ati : lali yen dhirine iku dudu bener-benering kahanan kang tumuju ing sih katresnane kang ngebeki jagad.

Yen nemoni apa-apa kang ora ngepenakake ati, AWAKMU TAKONANA DHEWE : he

.., pangudi, ketokna gawemu, sabab saiki aku lagi nemoni kang ora kepenak. Apa gunane aku ngudi kawruh batin, yen senengku mung yen : oleh kang lumrahe nyenengake, utawa : susah yen nemoni kang nusahake. Yen mung lumrah mangkono bae, ora leh dene ngudi kawruh kabatinan.

 

(10). WEDHARING SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT;

Ingkang dipun wastani kawruh Sastra Jendra anĂȘnggih punika pituduh ingkang sanyata, anggĂȘlarakĂȘn dununging kawruh kasampurnan, winiwih saking pamĂȘjangipun para wicaksana ing Nungsa Jawi, karsa ambuka pitĂȘdah kasajatining kawruh kasampurnan. Kawruh Sastrar Jendra Hayuningrat pangruwat barang sakalir, kapungkur sagung rarasan ing kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastra-di, pungkas-pungkasaning kawruh, ditya diyu raksasa  myang sato isining wanadri, lamun weruh surasane kang Sastra Jendra saged rinuwat dening bathara, sampurna patinireki, atmane awor lan manungsa, manungsa kang wus linuwih yen manungsa udani awor lan dewa patinipun, jawata kang minulya mangkana  duk miyarsa tyasira andhandhang sastra. Ingandhap punika wedharing kang Sastra Jendra Hayuningrat saking Serat Lokapala.

 

Pupuh 177
Dhandhanggula;

1.      Mas Cebolang kalawan Nurwitri rĂȘsĂȘping tyas de binojokrama tan mantra-mantra yrn nĂȘbe, supĂȘkĂȘt imbal wuwus, dyan tumĂȘnggung maringkĂȘn aglis, srat Lokapala kawya, dumuginya kondur, risang Rama mring  Ngayodya, lah anakmas kinarya sasamben linggih, jujugĂȘn kaca sangga.

 

2.      Caritane sang Prabu Sumali, ing Ngalengka kala puruita, mring Bagawan Wisrawa-ne, sĂȘrat tinampan sampun, wus binuka turira aris, nuhun kauningana, estu jugul punggung, tĂȘmbung tuwin sĂȘkarira , sajĂȘg ulun  sawĂȘg sapisan puniki, sumĂȘrĂȘp sĂȘrat kawya.

 

3.      SagĂȘd maos nanging dlĂȘmik-dlĂȘmik, dyang tumĂȘnggung alon angandika, lah rĂȘka wacanĂȘn wae, ywa nganggo tĂȘmbang lagu, wus winaca kalankung rindhik, angel kĂȘdaling lesan, dyang tumĂȘnggung nuntun, miwah anjarwani pisan, ragi lanyah nggigit suraosing tulis, tĂȘmah kataman rimang.

 

4.      WĂȘdharing kang Sastra Harjendra di, wus tinangkĂȘp sĂȘrat kang winaca, makidhupuh trapsilane, ing nayana mawĂȘlu, dyan tumĂȘnggung mesĂȘm ing galih, ing tyas tan kasamaran, kalejĂȘming sĂȘmu, minawas wawas jroning tyas, anaratas pantĂȘs lamun dentĂȘtĂȘsi, luwĂȘs lon angandika.

 

5.      Babo jĂȘbeng ngagĂȘsang puniki, mrih waspada pandoming kadadyan, kang pasthi ring pangesthine, panjutaning tyas tuhu, tarlen kawruh jiwa sajati, mangsa suryaning alam, wikan kang manglimput, myang pandak panduking driya, kasantaning udaya kang anartani, ing surasa kĂȘrtarta.

 

6.      Kang kapusthi pangesthining kapti, tan lyan mamang katamaning tingkah, ing tumitah mammrih lanteh, tinĂȘtah siang dalu, tinalisik osiking ati, tiniti mrih tetika, kasidaning dunung, dumunung reh sangkan-paran, aywa samar pamoring kawula Gusti, mangkana duk miyarsa.

 

7.      Mas CĂȘbolang matur mangĂȘnjali, dhuh pukulun sĂȘmbahan kawula, mugi mĂȘlasa ta mangke, maring pun mudha punggung, kang tuhu tan satmateng gati, ring silastutining tyas, trapsilaning tuwuh, tumuwuh tanpa pituwas, tĂȘmah tiwas ing pangesthi tanpa dadi, saking kirang wĂȘjangan.

 

8.      Ingkang wijang jerenganereki, pakartine ing reh jagad raya, tan mantra uning jatine, marmantakĂȘdah matur, minta tanya kawruh kang jati, jatine kang winastan, kawruh kang linuhung, Sastra Jendra Hayuning-rat, ing nguni kang piningit Jawata luwih, myang kang ran Sastra Cetha.

 

9.      MĂȘnggah tĂȘgĂȘsipun kadospundi, miwah dununging pikajĂȘngira, kang wijang wiji-wijine, dyang mĂȘnggung maluya rum, dhuh anakmas kalangkung rungsit, mungguhing patanyanta, Sastra Jendra iku liring sifat kayuwanan, -nira Sang Hyang Endra kang mĂȘngku ling-aling, badaling Hyang Wisesa.

 

10.  Yen wus wikan ing kajateneki, sayĂȘkti yen tĂȘtĂȘp hayuningrat, lire raharjeng jagade, dene ta inggahipung, Sastra CĂȘtha dipun wastani, liring kang Sastra CĂȘtha, kalĂȘpasanipun kawaskithaning panunggal, nora samar sangkan paraning dumadi, dumadya mardikeng-rat.

 

11.  Lire pamijining jagad yĂȘkti, marma tan kenging kengis ing kathah, sinĂȘngkĂȘr ing Batara-ne, kajaba para Dewa ku, kang linilan ing Jawata di, Sang Hyang Sukma KawĂȘkas, myang jalma linuhung, kang katimeng pamĂȘsunya, puja brata sinung wahyu dyatmikani, nanging mawa prabawa.

 

12.  Guntur wisesa myang guntur agni, guntur bumi miwah guntur braja, guntur ranu myang gunture, awang-awang punika lamun datan tumama yĂȘkti, pratandha katrima, dene cihnanipun, ingkang datan katrima, yĂȘkti sirna tanpa sesa ing dumadi, marma ta wis kaduga.

 

13.  MĂȘdhar ngilmi gaibing Hyang Widdhi, saking makatĂȘn ing purwanira, jrih sikuning Hyang Murbeng reh, nanging ta puntonipun, reh ta sami ngudi wawadi, mrih sidhine kasidan, titising pangawruh, kasampurnaning ngagĂȘsang, kadipundi mungkĂȘring reh tekat yĂȘkti, mrih babaring kamulyan.

 

14.  YĂȘkti wontĂȘn upamane anti, ing pangrĂȘman sarta kang tan lana, kumalĂȘkĂȘrĂȘn dadine, tan nĂȘtĂȘs dadinipun, tanpa kardi dennya dumadi, tiwas tanpa pituwas, kangelan saumur, luhung aywa dumadia, manungsa yen tan sampurna gĂȘsangneki, lir sato tanpa tekad.

 

15.  Babukaning carita ing nguni, karsaning Sang Hyang Girinata, angumpulakĂȘn ing kawruhe, wit saking mĂȘntas kawus, kawruh jati kalindhih dening, RĂȘsi Kanekaputra, mila tinartamtu, ngumpulkĂȘn para kadang Dewa, RĂȘsi Nrada kalih Bathara Basuki, tiga Sang Hyang Sriyana.

 

16.  Iya iku kang sinĂȘbut nami, Sang Hyang Panyarikan paparabnya, kalawan putra kaliye, Bathara Endra dwi Wisnu, samya tĂȘdhak pucuking wukir, ing ardi Jamusdipa, dennya mĂȘdhar kawruh, sawusing pĂȘpak sadaya, Sang Hyang Guru ambukani kawruh jati, ing ngarĂȘp wus binabar.

 

17.  Purwaningkang dumadi rumiyin, ingkang wrĂȘda pribadi pan cahya aulya dahana rumiyin, ingkang wrĂȘda pribadi panca jaladri, puniku pinabĂȘnan, ing Kanekasunu, ing pangancas taksih lĂȘpat, de mangeran marang kahananireki, sisip-tĂȘmbire*(sisip-sĂȘmbire) dadya.

 

18.  Sumurupe tĂȘteja sayĂȘkti, sarta maring kĂȘkuwung maring wangkawa, amarga ing sadurunge, isining rat kadulu, maksih awang-uwung awingit, wus ana swara kadya, gĂȘntha keleng ngungkung, iku Sang Hyang Girinata, sru anggilut jablasing surasaneki, Bathara Nrada sigra.

 

19.  MĂȘjangakĂȘn ing atur dumĂȘling, manis tutuk tatasing kang sabda, Hong Hyang Hyang ulun yĂȘktine, mĂȘnggah ta sagungipun, kawontĂȘnankesthi kajatin, kajatosan punika, wonten kahaneku, saksine wontĂȘn wonten manungsa, jagad ingkang manungsa estu tan pangling, lawan jagading donya.

 

20.  Mila binasakkĂȘn saderenging, wontĂȘn cahya wus ana swara, apindha gĂȘntha kakĂȘleng, pinika wardinipun, liring swara ingkang kapyarsi, yeku bawa jatinya, gĂȘntha jatinipun, kantha-kanthining kang warna, kĂȘkĂȘleng pan dudunungan jatineki, anjinging kang bicara.

 

21.  Dununging bawa neng kantha singgih, kantha punika sayĂȘkti samar, samar elek satuhune, elok gaib liripun, dene gaib punika mawi, sasandha kadadosan, babasaning catur, nora warna datan rupa, amimbuhi sipat wawarnen sakalir, tan ĂȘnggon ora arah.

 

22.  Nanging tansah dennira nglimputi, sagung ingkang gumĂȘlar neng donya, ngandika tanpa lesane, muhung nyawa puniku, ngganda tanpa garananeki, muhung purba kewala, myat tanpa netraku, muhung saking ing waskitha, amiyarsa tanpa karnanira kalih, muhung saking wisesa.

 

23.  Myang angraos tanpa raos nĂȘnggih, muhung pangraos sajatinira, dene ta kosok wangsule, purwaning ana estu, saking ora witipun lair, saking ing kabatosan, witing rame estu, saking ing ĂȘnĂȘng sanyata, wit gumĂȘlar saking ing sonya sayĂȘkti, nanging aywa kadriya.

 

24.  Tawang-tuwang tanpa wasananing, bĂȘbasane mangeran kumandhang, wusing atur ulun mangke, sirik saestunipun, anĂȘnampik tanapi milih, kalamun anampika, ing sadayanipun, kang gumĂȘlar ngalam-donya, punapinggih tan ginulung malih, kalamun amiliha.

 

25.  Punapa tan uninga manawi, sakehing kang kawontĂȘnan apan, saking gaib sejatine, babo ywa nganti kerut, utamine mandar ngurubi, myang sampun kawimbuhan, malah asung wimbuh, punika kewala cĂȘkap, dhumatĂȘng ing dunungnya pangsethi jati, jatining kauwusan.

 

26.  SigĂȘg ture Sang Kanekasiwi, Sang Hyang Guru sawusing miyarsa, saklangkung lĂȘga ing tyase, rumaos yen panuju, dennya darbe pangesthi bangkit, kadya Sang Hyang Athama, ngratoni sawĂȘgung, de kang nama Hyang Athama, ing srat Jitabsara panjĂȘnĂȘngan Nabi, ya Adam Abul Awan.

 

27.  Sang Hyang Guru nulya dhawuh maring, para kadang Dewa miwah putra, bisa-a ngudhuni* (ngudhoni/nguruni) ing reh, ambawa-rasa iku, Hyang Basuki wacana aris, mĂȘnggah atur punika, wus lĂȘrĂȘs sadarum, namung ing pamanggihingwang, sawĂȘg tĂȘlĂȘng dununging pangesthi jati, mring Kang Murbeng Gaiba.

 

28.  Analisir pantoging kang gaib, namung dunungipun kang pinurwa, ing suraos wau dereng, Hyang Guru ngndika rum, palibaya pantareng mami, mara katĂȘrangĂȘna, babar-pisanipun, sabda dadining kasidan, Hyang Basuki mangĂȘnjali turira ris, mĂȘdhar wangsit angandhar.

 

29.  Dhuh pukulun saking wasitaning, guru-ulun PĂȘksi Rukmawatya, wukir Mahendra dhepoke, Hyang Kang Murbeng Gaibul, lajĂȘng murweng anasir rannya, gĂȘni bumi angin we punika dadi, kaananing manungsa.

 

30.  Latu dadya napsune kang jalmi, martandhani cahya catur warna, abrit cĂȘmĂȘng jĂȘne putih, bumi badan jasmanu, martandhni sakawan warni, kulit daging myang tosan, sungsum jangkĂȘpipun, angin kaananing napas, pan ing lesan ing grana ing netra kalih, myang pamyarsaning karna.

 

31.  Dene toyo dados kaananing, ĂȘroh catur isining wiryawan, ing Jitabsara tĂȘmbunge, inggih asrar puniku, roh jasmani ĂȘroh kewani, ĂȘroh nabati lawan, roh nurani catur, punika bilih kawula, sigĂȘg ture Bathara Basuki sukci, mangkya Sang Hyang Sriyana.

 

32.  Matur alon ring Hyang Odipati, dhuh pukulun sang PadawinĂȘnang, manawi ing wasitane, ing gurunadi-ulun, parab RĂȘsi Pramana tunggil, saking pangraos-amba, langkung tlĂȘsihipun, ingkang wus kasĂȘbut ngarsa, pasĂȘmone Sang Hyang kang Amurbeng gaib, mĂȘnggah pralambangira.

 

33.  Catur sastra-suwara winarni  A, I, O RĂȘ*) myang antanwyanjana* (urut-urutaning aksara Jawi), sastra tridasa saptane, makatĂȘn wijangipun, aksara A () mila puniki, angka sakawan () lawan, aksara SA () wau, mĂȘnggah ing pikajĂȘngira, pan wijining panunggal kawan prakawis, Bahni bantala bajra.

 

34.  Myang baruna wijangipun nĂȘnggih, agni bumi angin miwah toya, dene aksaraBA () sinung, cĂȘrĂȘg ngandhap () pikajĂȘngneki, bayi dene tan sondha, dados wujudipun, manungsa ingkang sampurna, sarwa sangkĂȘp tan wontĂȘn kang kirang luwih, aksara O () wijangnya.

 

35.  Mila aksara WA () denpasangi, aksara DA () mĂȘnggah pikajĂȘngnya, mungĂȘl wĂȘdal ing tĂȘgĂȘse, pan katingal puniku, aksara RĂȘ () wijangireki, mila PAcĂȘrĂȘg ngandhap, padha kanjĂȘngipun, antara ing tĂȘgĂȘsira, sampun jangkĂȘp catur swara tĂȘgĂȘsneki, gantya wijiling dĂȘnta.

 

 

 

 

Pupuh 178
M i j i l;

1.      Myang wyanjana ing jarwanireki, pĂȘpĂȘking ponang wong, nanging dereng mawa repa lire, mabusana jangkĂȘping pakarti, lir jabang duk lair, sing garbaning biyung.

 

2.      Muhung Swara pracihnaning urip, de wujuding karo, sastra dwidasa lan pasangane, yeka kang ran  dĂȘnta-wyanjaneki, ha na ca ra ka- ki *) (); sapiturutipun.

 

3.      Ha na ca ra ka tĂȘgĂȘsneki, won duta kinaot **) (wonten duta kinaot), dunungipun winangsul swarane, ka ra ca na ha lire puniki, lesan ngucap ing da ta sa wa le-ku *) ().

 

4.      TĂȘgĂȘse Dat kacihna swareki, dununging suraos, wangsul swara la wa sa ta da-ne, nggih punika pratandha salami, pa dha ja ya nya-ki, () lire sami unggul.

5.      Pan punika pancadriya yĂȘkti, dununging suraos, wangsul swara nya ya ja dha pa-ne, lirnya tan pĂȘgat pangidhĂȘpneki, ma ga ba tha nga-ki (), nĂȘnggih tĂȘgĂȘsipun.

 

6.      Babatangan sarira puniki, wit dadosing kawroh, dunungipun winangsul swarane, nga tha ba ga ma tĂȘgĂȘsireki, ngentha satataning, ngantareng Hyang Agung.

 

7.      Sajatine wontĂȘn manungseki, srĂȘngkaraning raos, liring srĂȘngkara abĂȘn-manise, rasa-rumangsa saliring osik, kawula lan Gusti, pamor ing sawujud.

 

8.      Dene pasangan pĂȘcahireki, ricikan rajah wong, munggeng angga makatĂȘn wijange, ha () lidhah mila dipuntĂȘgĂȘsi, ngetokkĂȘn sakapti, awit lidhah wau.

 

9.      Anut pakening karsa sayĂȘkti, clupakan netra ro, pasangan na () mila ing tĂȘgĂȘse, katĂȘrangan wit luwakan aksi, pan karya wĂȘnganing, Hyang Pramana tuhu.

 

10.  Pasangan ca () tangan tĂȘgĂȘsneki, kancuhaning batos, awit tangan dados kancuhane, osiking tyas nartani pakarti, ra () manik winardi, sosotya punika.

 

11.  Wit tĂȘrsandhanira wontĂȘn manik, rahsa saraseng don, kang manrangi ing lair batine, ka () cangklakan pundhak denwĂȘrdeni, kukuh dene kardi, pikuwating bau.

 

12.  Pasangan da () kalamĂȘnjing warni, apanjang kinaot, wit manjangkĂȘn ing jangga wujude, pasangan ta () cangklakaning sikil, winastan cacĂȘthik, prĂȘnah tĂȘgĂȘsipun.

 

13.  Dene dadya lantaran yĂȘkti, kuwatin ngalunggoh, anartani tata-trapsilane, pan minangka lambaraning takrim, antuk suku kalih, dadya ugĂȘripun.

 

14.  Pasangan sa () jaja antaraning, tĂȘgĂȘsipun golong, dene dadya kanthi sayĂȘkti, awit jaja dununging piranti, pirantining urip, parabot kang parlu.

 

15.  Pasangan wa () bau ingkang kering, tinĂȘgĂȘsan karo. Dene dadya kanthi sayĂȘktine, bau kanan lalawananeki, jangkĂȘping pakarti, bau ro puniku.

 

16.  Pasangan la () gĂȘgĂȘr kanan kering, tĂȘrusan njaba jro, dene nĂȘrusi jaja ngajĂȘnge, pasangan pa () lambe ngandhap nĂȘnggih, mila dentĂȘgĂȘsi, patitis puniku.

 

17.  Dene bangkit mijilkĂȘn yĂȘkti, pangucap cumĂȘplos, tan kaleru tampining osike, pasangan dh () nnggih dentĂȘgĂȘsi, dadalan sĂȘjati, wit dhadha puniku.

 

18.  Dados margi pratandhaning uirp, kakĂȘtĂȘg ing jĂȘro, mangka paliwaraning Atmane, pasangan ja () sandhing thĂȘthĂȘngiling, jaja dentĂȘgĂȘsi, patitis puniku.

 

19.  Dene dados pangajĂȘnging ciri, ayu kajĂȘngipun peranging kono, aksara *)(wujuding aksara tuwin pasanganipun sami) ya () babau kanane, tinĂȘgĂȘsan cuthat wit nampeni, karĂȘntĂȘging ati, tumindak sakayun.

 

20.  Pasangan nya () luwakaning ngaksi, kang kering kinaot, mila tinĂȘgĂȘsan mulung lire, dene bangkit amĂȘngani kapti, sasmitaning liring, ngĂȘnani panuju.

 

21.  Pasangan ma () janggut dentĂȘgĂȘsi, bundĂȘran wang karo, aksara ga *)(wujuding asksa sami kalaiyan pasanganipun) () jangga wingking lire, agĂȘng dene panggenaning nginggil, sanginggil angkeki, kĂȘrĂȘtang pok gulu.

22.  Pasangan ba () pasu wujudneki tĂȘgĂȘsira karo, lire kĂȘmbar nrambahi mukane, pasangan tha () wujuding thi-athi, tinĂȘgĂȘsan nĂȘnggih, tulising mukeku.

 

23.  De mimbuhi asrining suwarni, antareng karno ro, pasangan nga () nĂȘnggih bolongane, ing grana mila dentĂȘgĂȘsi, pangingsĂȘp wit saking, panggandasmareku.

 

 

Pupuh 179
Asmaradana;

1.      De cĂȘcĂȘg () grana lirneki, sami lawan aksara nga, wulu () sirah ing tĂȘgĂȘse, pĂȘpĂȘt () tĂȘgĂȘse mbun-ĂȘmbunan, layar () lirira jaja, sami lawan rapunika, dene cakra () tĂȘgĂȘsira.

2.      MidĂȘr lawan amĂȘngkoni, yeku dhadha tĂȘgĂȘsira, ingaran sawarga lire, pangiraning tyas punika, kawĂȘngku jroning dhadha, marma pasangan dha jumbuh. PikajĂȘnge lawan cakra.

 

3.      Taling () tĂȘgĂȘsira kuping, tarung () thĂȘthĂȘngĂȘling karna, ingaranan srĂȘngkara, abĂȘn-manis tĂȘgĂȘsipun, marma ingaran mangkana.

 

4.      Krana dadi lantaraning, pacampuring rahsa mulya, dene wa () gĂȘmbung tĂȘgĂȘse, pan punika bau kiwa, pengkal () pan bau kanan, wignyan () cangkĂȘm tĂȘgĂȘsipun, ing dununging pamicara.

 

5.      Winastan wisarja nĂȘnggih, lire bĂȘcik klawan ala, saking tutuk ing margane, rinan malih awiyarja, luwih bĂȘcik tĂȘgĂȘsnya, saknya malih tĂȘgĂȘsipun, nut sapakon tĂȘgĂȘsira.

 

6.      Pakoning manah sayĂȘkti, mulya sae nulya ala, tutuk darma mĂȘdharake,pangkon () pandhaku lirira, ingaranan pĂȘjahan, sing aksara kang pinangku, sayĂȘkti wujud manungsa.

 

7.      De cahya kawan prakara, cĂȘmĂȘng abrit jĂȘne pĂȘthak, nĂȘnggih ing panjing surupe, cahya cĂȘmĂȘng anjingira, sumurup cahya rĂȘta, rĂȘta manjing surupipun, nĂȘnggih maring cahya jĂȘnar.

 

8.      JĂȘnar manjing surupneki, maring cahya ingkang pĂȘthak, cahya pĂȘthak ing surupe, maring cahya mancawarna, cahya kang mancawarna, mring cahya mancorong iku, nĂȘnggih panjing-surupira.

 

9.      Cahya kang mancorong manjing, mring cahya mancur surupnya, cahya umancur surupe, mring cahya wĂȘning punika, cahya wĂȘning surupnya, mring cahya gumilang iku, cahya gumilang surupnya.

 

10.  Marang cahya ingkang gaib, tĂȘgĂȘse gaib pan samar, kendĂȘl Sriyana ature, Hyang Guru kelangkung suka, karĂȘnan ing wardaya, dene ta punika kawruh, kapralambang saking sastra.

 

11.  Sang Hyang Sriyana sinung sih, pinaraban Panyarikan, jawata jumurung kabeh, mangayubagya ing karsa, sigĂȘg Sriyana turnya, tandya Sang Endra sumambung, matur sarwi ngaraspada.

 

12.  Saking raosipun maksih, kadho-kadho ing pangancas, nĂȘnggih dhatĂȘng ing kajaten, awit maksihkaroneyan, bokbilih tidha-tidha, pamanthĂȘnging tyas kalentu, korup dhatĂȘng panguripan.

 

13.  Manawi pamanthĂȘng kami, namung riningkĂȘs kewala, dhatĂȘng ĂȘnĂȘng lan ĂȘninge, dene dadose dumadya, rupa warna busana, pangracutipun pan namung, rasa ambu warna rupa.

 

14.  MĂȘnggahing pangancas-kami, saestu datan nalimpang, muhung mring nukat gaibe, pukulun pangraos amba, wus tan ana tisna-a, nĂȘtĂȘs naratas wus putus, wasana ulun sumangga.

 

15.  SigĂȘg Sang Hyang Endrapati, dennya medhar pangawikan, mangkya Hyang Wisnu ature, nuwun mĂȘnggah aturira, risang Hyang Panyarikan, kawruh kapralambang dhaup, lawan sastra samoanya.

16.  Ingkang punika mĂȘwahi, tĂȘranging kang sasĂȘrĂȘpan, mĂȘnggah saking wasitane, Sang Ngusmanajid gurwamba, kaananing manungsa, punika anunggil dhapur, lan kang nglimputi sarira.

 

17.  Purwanya namung satunggil, kadamĂȘl kalih ilapat, dene ta binasakake, kakalih ingkang ilapat, langkung kang amicara, winastan kalih saestu, winastanana satunggal.

 

18.  SayĂȘktosipun satunggil, mĂȘnggah sastra tanah Ajam, kang tumrap angga kathahe, jangkĂȘp tigangdasa sastra, saking enget kuwula, Hyang Pramesthi ngandika rum, mara kulup wĂȘdharĂȘna.

 

19.  Sang Hyang Wisnu mangĂȘnjali, sareh wĂȘdaling wacana, alip (
ïșâ€Š) maripat kalihe be (
ïșâ€Š) bolongane kang grana, te (
ïș•â€Š) ing utĂȘng dunungnya, se (
ïș™â€Š) daging jim (
ïșâ€Š) sirah lungguh, ke alit (
ïșĄâ€Š) karna kang kanan.

 

20.  Ke ageng (
ïș„
) karna kang kering, dal alit (
ïș©â€Š) bau kang kanan, dal agĂȘng (
ïș«â€Š) bau keringe, ra (
ïș­â€Š) iga tĂȘngĂȘn kiwa, je (
ïșŻâ€Š) iga ingkang kiwa, sin alit (..ïș±â€Š.) tĂȘngĂȘng kang susu, sin agĂȘng (
ïș”
) susu kang kiwa.

21.  Sad (
ïșč
) lambung kang tĂȘngĂȘn nĂȘnggih, ĂȘdhot (
ïșœâ€Š) lambung ingkang kiwa,te ( ﻁ ) kukulung ati nggonne, dha ( ﻅ ) ing jantung dunungira, ngain ( ﻉ ) pupu kang kanan, ghin ( ﻍ ) pupu kiwa dumunung, fe ( ﻑ ) suku tĂȘngĂȘn ĂȘnggonnya.

 

22.  Khaf ( ﻕ ) ing dhĂȘngkul tĂȘngĂȘn nĂȘnggih, kaf ( ﻙ ) suku kiwa dunungnya, lam( ﻝ ) ing wĂȘtĂȘng, min (â€Šï»Ąâ€Š) otote, nun ( ﻄ ) balung, wawu ( ﻭ ) gigirnya, ehe ( ﻫ ) tlapakan kanan, lam-alip ( ﻻ ) dunungipun, aneng lathining manungsa.

 

23.  Ambyah (
ïș€â€Š) dhĂȘngkul kiwa nĂȘnggih, ya ( ﻱ ) tlapakan ingkang kiwa, jangkĂȘp sastra tridasane, mangkya rĂȘringkĂȘsanira, badane kang manungsa, ing saestunipun sampun, inggih angucap piyambak.

 

 

*) Alip dumugi ya ing pada 19 dumugi 23, aksara Arab tigangdasa, panyĂȘratipun Latin kirang cocok kaliyan ungĂȘlipun, mila ing wingkingipun kasĂȘrat aksara Arabipun ing kurungan (

) ingkang boten perlu kawaos. Aksara Arab wau ing buku aslinipun botĂȘn kaserat. Ing ngriki katambahakĂȘn murih cĂȘthanipun.

 

24.  MakatĂȘn panabdaneki, Ashadu Allah illaha, Illa Allah de wijange, As kulit hadagingira du gĂȘtih, Allah, urat ilaha iku babalung, illa sungsum Allah utak.

 

25.  Manungsa kalamun guling, mangka matrapkĂȘn sukunya, kakalih dhinempetake, dumadi wujud sajuga, dlamakan kalih pisan, tinapakkĂȘn sikut kakalih tumumpang.

 

26.  Aneng ing prajaneki, asta kekalih kinĂȘmpal, dados sajuga wujude, ingadĂȘgakĂȘn sadaya, punika sampun tansah, anĂȘbut ing namanipun, tuwin namaning Pangeran.

 

27.  Gumaluntung ingkang jalmi, punika mungĂȘl Muhammad, dene pratingkahe sare, mungĂȘl Asmaning Pangeran, Allah Pangeraningrat, kang murbeng pasthi satuhu, wijange kawikanana.

 

28.  Awit ing sirah dumugi, pungkasan ingkang jangga, aksara min (mim) awalane, pinĂȘcah dumadya tiga, kĂȘlĂȘnging kalih netra, manjing mring Dating Allahu, kang kalair sadayanya.

 

29.  MĂȘnggah kajĂȘngipun nĂȘnggih, dhatĂȘng makripat mukadas, mungĂȘl la ing grĂȘbanane, mangkya awit ing pranaja, dumugi cĂȘthikira, aksara ahe (ehe) punika, lajĂȘng kawijang triwarna.

 

30.  Wujudipun khe manjing maring, Sipat Allah kang lair pan, dene punika kajĂȘnge, maring Kakekat mukadas, grĂȘbanipun winawas, anĂȘnggih tan liyan namung, ing ungĂȘlipun Illaha.

 

31.  LajĂȘng wit jĂȘnthik dumugi, ing dhĂȘdhĂȘngkul kering kanan, punika min (mimakirane, ugi einijang titiga, wujuding kang aksara, manjing maring Asma Allahu, ingkang kalair sanyata.

 

32.  KajĂȘngipun tan lyan maring, dhatĂȘng tarekat mukadas, ginĂȘrba ungĂȘle, muhung maring lapal Illa, pungasan winursita, awit kakalih kang dhĂȘngkul, dumugi driji dlamakan.

 

33.  Yeku aksara dal yĂȘkti, lajĂȘng kawijang titiga, wujuding kang aksarane, manjing mring ApĂȘngal Allah kang, lair de kajĂȘngnya, mring Sarengat mukadasu, grĂȘbanipun mungĂȘl Allah.

34.  Aturulun sampun titi, kawontĂȘnaning wasita, muhung amrih ywa tumpang so, winujudakĂȘn ing gambar, tinrapkĂȘn ing ron ĂȘtal, ciniren katranganipun, gambar kalih dyan binabar.

 

35.  Mawa cahya anĂȘlahi pindha ulading (alading dahana, ubaling) dahana, surem Hyang Rawi sorote, binarung swara gurnita, kilat thathit liwĂȘran, horĂȘg sapta bantalaku, mĂȘsĂȘs kanang bayu bajra.

 

36.  Lir kinĂȘbur kang jaladri, pĂȘthite Hyang Antaboga, kumitir horĂȘg anggane, satĂȘmah ingkang bantala, gonjang-ganjing ruhara, ardi Jamusdipa njĂȘpluk (njĂȘbluk), kadi papĂȘdhut rinaras.

 

37.  Sang Bathara Odipati, Sang RĂȘsi Kanekaputra, miwah Sang Hyang Basukine, Hyang Rndra Hyang Panyarikan, wus sadaya tan kuwawa, anyĂȘlaki gambar wau, lir sinambĂȘr gĂȘlap lĂȘpat.

 

38.  Sadaya wus dhawah saking, palĂȘnggahan sowang-sowang, sumaput lir nir jiwane, muhung Sang Bathara Suman, tan owah dennya lĂȘnggah, gambar kalih dyang ranacut, wus sirna kang gara-gara.

 

39.  NahĂȘn kang gumuling siti, pungun-pungun wus waluya, wangsul mring palĂȘnggahe, karsane Hyang Mahanasa, sadaya kang kawĂȘdhar, dening Hyang Bathara Wisnu, dilalah samya kalepyan.

 

40.  Kadya anggane angimpi, wungu nendra tan kengĂȘtan, dhumatĂȘng ing supĂȘnane, muhung Sang Hyang Guirinata, jroning tyas gung ginagas, ginilut jumbuhing kawruh, tambah ingkang pangawikan.

 

41.  Mangkono Hyang Wisnu Murti, graiteng tyas datan samar, dhumatĂȘng kaanane, pinunggĂȘl kang pangandika, amangsuli pangiwa, mangkana ing aturipun, dhuh Hyang Hyang PadawinĂȘnang.

 

42.  Aturnya Kanekasiwi, myang Basuki Panyarikan, tanapi Endra ature, ingkang MakatĂȘn punika, inggih lĂȘrĂȘs sadaya, nanging ing pamanggihulun, panggĂȘlar panggulungira.

 

43.  Taksih tumpang so tan mathis, manawi ing wasitanya, guru ulun Sang kinaot, Ngusmanajid ingkang usman, asalipun manungsa, inggih saking hĂȘb satuhu, tumurun pan dados cahya.

 

44.  Kasumupan ponang bumi, dahana maruta tirta, makatĂȘn mĂȘnggah dununge, jasat napsu napas rokyat (rohkyat), ingkang rumiyin dadya, ponang rohkyat napas napsu, kapat jasat kanthinira.

 

 

Pupuh 180
Kinanthi;

1.      SawĂȘg samantĂȘn turipun, dennya mĂȘdhar sabda rungsit, Hyang Guru aris ngandika, eh kulup bĂȘnĂȘr sireki, apa tan unggul dahana, de sira unggulkĂȘn bumi.

 

2.      Luwih asor bumi iku, yĂȘkti unggul ingkang agni, Hyang Wisnu matur manĂȘmbah, sami lĂȘrĂȘsipun ugi, manawi bangsaning Ejan, linuhurkĂȘn ingkang agni.

 

3.      Awit asal saking latu, luhuripun saking jin, Banujan jin Idajila, ing srat Jitabsara sami, Sang Hyang Handyan Hayang Banujan, di Anjiyasmal jibai.

 

4.      Hyang Guru malih tanya rum, balik sira iku kaki, asalmu saka ing apa, Wisnu matur mangĂȘnjali, ulun manungsa kajiman, nanging luhur ingkang saking.

 

5.      Manungsa sayĂȘktinipun, kaliyan kajiman mami, eh kulup apa ta nora, rumuhun bangsaning NgĂȘjin, lĂȘrĂȘs pukulun punika, nanging tumtaping ring mami.

 

6.      Miwah sarira pukulun, punika rumiyin janmi, kang awit Dang Hyang Ad-Hama, Sang Hyang Siwa ingkang ugi, Nabi Sis minulya, punika manungsa jati.

 

7.      SarVng ing dumuginipun, Sang Hyang  Nurcahya ing ngarsi, nVnggih nama Sayid Anwar, lajĂȘng Sang Hyang Nur-raseki, Sang Hyang WĂȘnang Sang Hyang Tunggal, sirna kamanungsaneki.

 

8.      Jisim rohkani sadarum, tan katon dipuntingali, sarĂȘng dumugi paduka, amĂȘngku ing Alam kalih, sagĂȘd botĂȘn katingalan, saged katingal ing jalmi.

 

9.      Amargi kanjĂȘng pukulun, mangesthi sagĂȘd ngratoni, manungsa lir Hyang Ad-Hama, Hyang Guru ngandika malih, bĂȘnĂȘr kaya tekatira, amung kanggo mĂȘnang ĂȘndi.

 

10.  Tekatira kang saestu, apa manungsa apa jin, Sang Hyang Wisnu aturira, ulun angge lair batin, ing batin manungsa-tama, ing lairipun pan ĂȘjin.

 

11.  Wit ulun urutkĂȘn estu, asale jiwa rageki, kamanungsan ulun asal, saking luluhur pribadi, mila kangge kabatinan, amarga jalu pinasthi.

 

12.  Dados lalantaranipun, kang wontĂȘnkĂȘn *) (ngawontĂȘnakĂȘn) jiwa mami, mĂȘnggah kajiman kawula, saking ing leluhur estri, kang awit Sang Hyang Nurcahya, kamantu dening Raja Jin.

 

13.  Mila punika pukulun, kawula anggĂȘp ing lair, eh kulup tĂȘlĂȘnging tekat, apa ora anĂȘtĂȘpi, babasan kabali sura, myang sungsang bawana balik.

 

14.  Bathara Wisnu turipun, boten ing saestu neki, ing ngandhap ing nginggil kebalt,  kawĂȘngku ing tĂȘngah awit, wontĂȘnipun winastanan, ing ngandhap tuwin ing nginggil.

 

15.  Yeku ancĂȘr-ancĂȘipun, wontĂȘn ing manungsa jati, Sang Hyang Guru duk myarsa, asru karĂȘnaning galih, babo atmajengsun Suman, sira angunggal pangesthi.

 

16.  Kalawan ing jĂȘnĂȘng-ingsun, mangkya sira su wĂȘwahi, paparaba Narayana, mratandhani kahananing, sira manungsa sanyata, Sang Hyang Wisnu mangastuti.

 

17.  Para jawata sadarum, abipraya nĂȘmbadani, sasampunira mangkana,  Sang Hyang Wisnu nulya kardi, ekal cakra dadya tandha, bundĂȘring santoseng ati.

 

18.  Nahan ta Bathara Guru, sawusira amiyarsi, ature kadang dewa, lan putra Bathara kalih, tyas langkung marwata suta, sinung ilhaming Hyang Widhi.

 

19.  Sadaya sampun kacakup, datan ana ingkang cicir, dhawuh wijiling kang sabda, kadang dewa sadayeki, myang putranipun bathara, ing samangkya karsamami.

 

20.  Kumpulung kawruh sadarum, ingsun dadekkĂȘn sawiji, minangka wawatoning kang, kawruh kadeatan adi, dadiya gĂȘbĂȘnganira, suteng-ulun Endrapati.

 

21.  Nanging ingsun kĂȘkĂȘr kukuh, sarta ingsun waranani, lawan hya kongsi kajambar, sadhengahing manungseki, supayane iku haywa, madhehkĂȘn ing Jawata di.

 

22.  Marmane manira asung, pralambang iku yen bangkit, iya dadya manrimanya, ingkang sarta banjur dadi, ing Sanstra CĂȘtha priyangga, ing sadurungira dadi.

 

23.  Ing Sastra CĂȘtha puniku, apan ta ingsun-aranni, Sastra jendra ayuninrat, pangruwat diyu rasĂȘksi, wanara salaminira, dĂȘlahan nunggal jalma-di.

 

24.  Iku ta ing lairipun, dadiya ambĂȘk bumi, mungguh ta ing kabatinan, dumadiya pancadaning, sangkan paraning dumadya, nunggal kawula lan Gusti.

 

25.  Mratandhanana saestu, kanugrahan ingkang dhingin, limang ukara kehira, dumadi ambĂȘgireki, mungguh ta ingkang ingaran, Panca purwanda pangrawit.

 

Pupuh 181
S i n o m;

1.      Kang dhingi ambĂȘging surya, kapindho ambĂȘnging bumi, katri ambĂȘging maruta, catur ambĂȘging jaladri, panca ambĂȘging langit, ing sapangkat maneh iku, aran Panca Dumadya, iku kadadyanireki, apan uga tumangkar limang prakara.

 

2.      Kang dhingi babaring tigan, dwi lĂȘpasing sastra-lungit, tumamaning punglu tri-nya, catur pĂȘdhang lumaraping, lima rĂȘmbĂȘsing warih, ing sapangkat maneh iku, aran Panca Pranata, dadi pratandhanireki, apan uga tumangkar limang prakara.

 

3.      MandhĂȘg iku kang kapisan, angkĂȘr ingkang kaping kalih, sumunu kang kaping tiga, sumulap kaping patneki, mamarap ping limeki, dadi tri golonganipun, lah para kadang dewa, lan putra bathara kalih, kono padha surasanen tranging nala.

 

4.      Kadiparan karĂȘpira, lawan kadadeyaneki, nahĂȘn para kadang dewa, lositanireng panggalih, bangkit mbabarkĂȘn nanging, tan sagĂȘd panangkaripun, tuwin kakalih putra, asagĂȘd mĂȘcah ananging, tan kuwawa maradhahi kang surasa.

 

5.      Sadaya matur sumangga, Hyang Guru ngandika malih, eh kadangingsun pra dewa, lan putraningsun kalih, marmanira sireki, ywa ngaku pintĂȘr kalangkung, mundhak kablingĂȘr padha, kang awit babasaning ling, jalma pintĂȘrpasthi kasor dening jalma.

 

6.      Kang sugih pratikel tatas, de jalma pratikel awig, kasor dening jalma ingkang, inggil luhur misesani, margi margi kang Murbeng pasthi, anamtokkĂȘn jĂȘnĂȘngingsun, ginadhuhan wisesa (ginadhukan kang wisesa), lwih kuwasa jĂȘnĂȘngmami, sumurupa duninunging andikaningwang.

 

7.      Mungguh abĂȘnging kang surya, amongat tĂȘmbungireki, jarwane among samoa, awit ta ananing rawi, tansah angon sakalir, ngulatkĂȘn sakeh tumuwuh, tumrape mring pambĂȘgan, eling dene dunungneki, ing pramana dadi nora kasamaran.

 

8.      Ambeging bumi winarna, sun-tĂȘbungkĂȘn amot yĂȘkti, karĂȘpe amot sadhengah, dene kaananing bumi, bobot sakeh dumadi tumraping, pambĂȘkan bakuh, dununge ing jatmika, sarira antĂȘng tyas mintir, ing wasana dadi nora berabeyan.

 

9.      AmbĂȘking kanang maruta, sun-tĂȘmbungkĂȘn kamrat yĂȘkti, karĂȘpe kamot sabarang, dene kaananing angin tansah katadhah dening, samoaning kang tumuwuh, tumrape mring pambĂȘkan, tĂȘmĂȘn dene dunungneki, aring ingkang napas dadi tan ndaleya.

 

10.  Nahan ambĂȘking sagara, sun-tĂȘbungakĂȘn mamrat yĂȘkti, karĂȘpe momot tan wĂȘgah, kaananing kang jaladri, tan nampik datan milih, sasarah tumaneng laut, tumrap pambĂȘkan sabar, neng rĂȘrĂȘming rasa jati, dadi nora pradulen sugih waonan.

11.  Kanang ambĂȘking akasa, sun-tĂȘmbungkĂȘn mangkyat nĂȘnggih, kaĂȘpe pamĂȘngka ika, dene kaananing langit, datan sah  angaubi, saisining ngrat kawĂȘngku, tumrap ambĂȘg santosa, dumunung sarehing kapti, dadi nora gimirĂȘn karĂȘp sadhengah.

 

12.  Lah ta padha kawruhana, kumpule pambĂȘkan gati, among amot kamot miwah, momot mĂȘngku jangkĂȘpneki, dene tumrapireki, pambĂȘkan lilima iku, eling tĂȘmĂȘn mantĂȘp lan, sabar santosaning ati, de dununge pambĂȘkan limang prakara.

 

13.  Pramana jatmika ing tyas, aringing napasireki, kalawan rĂȘrĂȘming rahsa, sareh ing karsa mumpuni, mungguh dadinireki, pambĂȘkan lilima mau, tan samar tan dahwenan, tan sĂȘmbrana lawan malih, tan panasan tan gimiran pungkasannya.

 

14.  MĂȘdhar kang Panca Dumadya, limang ukara ginupit, angin babaring antiga, nalika ingsun arani, tĂȘtĂȘp karĂȘpireki, tetela ing ananipun, tĂȘtĂȘp dadining gĂȘsang, kawahana tandhaneki, de tandhane iku ana ing pangrasa.

 

15.  Pindho lĂȘpasing kang manah, ramatas ingsun arani, karĂȘpe tatas naratas, yeku tĂȘdhas anĂȘdhasi, satuhu anĂȘtĂȘpi, sangkan paraning tumuwuh, dene ta pratandhannya, sonya ruri anartani, nyatanira ing pamyarsaning kang karna.

 

16.  Kaping tri tumamanira, punglu mamis sun arani, tumĂȘlĂȘng karĂȘpe apan, patitis iku ngencoki, datansah anĂȘtĂȘpi, marang dudununganipun, tumanĂȘm pratandhanya, nyatane lungguhireki, aneng lathi iya iku pamicara.

 

17.  Kaping pat laraping pĂȘdhang, maratas ingsun arani, karĂȘpe mring kaputusan, pĂȘgat tanpa kiwir-kiwir, babarpisan nĂȘtĂȘpi, tandha kasampurnanipun, nyatane ing pangganda, arum bangĂȘr amis bacin, arum sĂȘdhĂȘp kanyataan saka grana.

 

18.  Ping lima rĂȘmbĂȘsing toya, tumuhas ingsun arani karĂȘpĂȘ tumus arabas, iku tĂȘrus anĂȘrusi, dene ptatandhaneki, linggabathara satuhu, jumĂȘnĂȘng batharanya, mungguh kanyataaneki, ing paningal jangkĂȘp kang Panca dumadya.

 

19.  Kumpule kadadyan lima, tĂȘtĂȘp tatas sarta titis, putus tumus sah lilima, gĂȘnahe lilima maring, tetela tĂȘdhas tuwin, angincoki pĂȘgatipun, kanyataaning lima, kawahana sunyaruri, myang tumanĂȘm sampurna lingga-bathara.

 

20.  Nyatane ing kadadeyan, lilima tan liyan maring, pangrasa ingkang kapisan, ing karna kang kaping kalih, ing lesan kaping katri, ing grana kang kaping catur, ing paningal ping  gangsal, kadang dewa putra sami, sru katrĂȘsnan umatur kalajĂȘngĂȘna.

 

21.  Odipati mĂȘdhar sabda, prabawa limang prakawis, nahan landhĂȘp kang kapisan, iku sun arani lĂȘngit, marang singit karĂȘmpit, karĂȘpira iya iku, mamĂȘdeni wong kathah, dene wus anjumbuhi, kalawan Hyang Maha Suksma Kang KawĂȘkas.

 

22.  Wus anunggal sakaanan, sarira suksma pribadi, kapindhone kawaskitan, wikan purwaning dumadi, ing agal miwah rĂȘmit, sawujud Bathara Luhung, akaprabawan saka, waskithanireng panggalih, kaya-kaya uning sadurung winahya.

 

23.  Sumunu kang kaping tiga, iku lĂȘnyĂȘp sun arani, karĂȘpe wingit sanyata, antĂȘng ruruh anyĂȘnĂȘnni, de wus nugraha jati, Bathara ingkang linuhung, kaprabawanan saka, sarwa dyatmika ing budi, nĂȘnging(~) nala nĂȘrusi marang sarira.

 

24.  Sumulap ingkang kaping pat, lĂȘmarap ingsun arani, angulapi karĂȘpira, iya iku (m)balĂȘrĂȘngi, kang mandĂȘng tan kuwawi, dene ta uwus saestu, rikang sotya-bathara, awit kaprabawan saking, anarawang sadaya sarwa pramana.

 

25.  Mamarap kang kaping lima, lĂȘmahab ingsun arani, maladi karĂȘpe ika, iya iku angurubi, dene ta wus linĂȘwih, sajiwa bathara iku, wus kaprabawan saka, sarwa wibawa wiryadi, uwus ganĂȘp prabawa limang prakara.

 

26.  Kumpule prabawa lima, juga lungit kadwi wingit, tri wingit ngulabi warna, kaping limane maladim gĂȘnahe prabaweki, kang sapisan iku alus, mĂȘdeni kapindhonya, kaping trine anyĂȘnĂȘni, pat (m)blĂȘrĂȘngi amaladi limanira.

 

27.  Prabawa ingkang prabawa, waskitha ingkang rumiyin, pangrasa ping kalihira, dyatmika kang kaping katri, pramana caturneki, wibawa ping limanipun, atusing pangandika, -nira Sang Hyang odipati, myang pra dewa dyan muksa mring pakayagan.

 

28.  Mangkane kang Sastra CĂȘtha, mungguh Panca purwandeki, bumi gĂȘni angin toya, dadi jasate kang jalmi, langit ngibaratneki, ing alam suwung sathu, dene wus kanyataan, amĂȘngkoni ing dumadi, de karĂȘpe batin mĂȘngku kalairan.

 

29.  Dene ta Panca dumadya, Pancadriya dunungneki, pangraos ingkang sapisan (˚) pamyarsa kang kaping kalih, pangucap kang kaping tri, pangganda kang kaping catur, paningal kang kaping lima, sadayeku padha dadi, trĂȘsandhaning uripe ingkang manungsa.

 

30.  Mungguh kang Panca prabawa, puniku amratandhani, katarimaning manungsa, katarimaning manungsa, katingaling sarira di, waskitha tĂȘgĂȘsneki, lĂȘrĂȘsing pramana estu, pangrasa tĂȘgĂȘsira, lĂȘpasing karya sayĂȘkti, pramana pan lĂȘpasing pandulunira.

 

31.  Dyatmika ing tĂȘgĂȘsnira, sĂȘnĂȘnning cahya mranani, wibawa tĂȘgĂȘse apan, mĂȘngku sakeh raos jati, pinetak lima malih, sarira-bathara iku, uwus abadan budya, sawujud bathara nĂȘnggih, satuhune uwus nunggal warna rupa.

 

32.  Nugraha bathara ika, uwus ĂȘnĂȘng sarta ĂȘning, netra-bathara iku apan, uwus linĂȘpas ing budi, sajiwa-bathara di, wus langgĂȘng kaananipun, kawula Gusti nunggal, lah anakmas wus baresih, Sastra Jendra unggahe mring Sastra CĂȘtha.

 

Nyuwun agunging samudra pangaksama dumateng sadaya para sarjana ugi pinisepuh mugi purun nampi keladhug kurang trapsilaning pun Kumitir sampun kumalancang wantun ngedalaken kawruh ingkang sinengker punika, Kumitir namung sadermi ngleruri kabudayan Jawi paribasan : ‘canthing jail dicidhukna banyu segara olehe iya mung sathithik, lowung dene taksih saged nyidhuk, sanadyan namung saisining canthing jail, tinimbang suwung blung. Sampun titi tamat wedharing kawruh Sastra Jendra Hayuningrat menggah unggahing mring Sastra CĂȘtha, tumplĂȘg ing maknawi kinarya lalantaran ing agĂȘsang wus anyĂȘkapi, mugiya tansah angsal kanugrahan saking ngarsaning Hyang Murbeng Gesang. Rahayu.

 

(11). Belajar dari Wejangan Nabi Khiddir pada Sunan Kalijaga;

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman hidup, baik itu pengalaman hidup pribadi maupun orang lain. Orang Jawa menyebut belajar pada pengalaman orang lain itu sebagai “kaca benggala”. Nah, kini kita belajar pada pengalaman dari Kanjeng Sunan Kalijaga. 


Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaka berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi, niatnya itu akhirnya dihadang Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya Kanjeng Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yakni kembali ke pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau Jawa akan kembali kafir.

Bagaimana wejangan dari Nabi Khidir pada Kanjeng Sunan Kalijaga? Hal itu tercetus lewat Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Inilah kutipan wejangannya:

Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki

Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.

Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku

Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya Allah ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu

Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup

Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (S.Kalijaga) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.

mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan tersebut kita bisa lebih mengenal GUSTI ALLAH dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya semedi yang disebut “mati sajroning ngahurip” dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

 

(12). Wirid Maklumat Jati

WIRID MAKLUMAT JATI mengku 8 wiridan ;
1. Wirayat Jati
2. Laksita Jati.
3. Panunggal JAti.
4. Karana Jati.
5. Purba Jati.
6. Saloka Jati.
7. Sasmita Jati.
8. Wasa Jati.

8 Wiridan punika minangka Wedharing Ilmu Kebatosan.

” UILAHENG HONGMANGARCANA, MATAYA, AWIGNA MASTUNA MASHIDEM, UPAH MAYANA SIWAHA “

Suaroasipun : Dhuh hem adhuh, kawula manembah ing suksma, dununging panembah, sageda tinarimah lan angsal ganjaran saking kamirahanipun Sang Hyang Guru, ingkang mengku sakliring pepadhang.

 

Anenggih punika pituduh ingkang sanyata, anggelaraken dunung lan pangkating kawruh kasampurnan, wiwiwnih saking pamejangipun para wicaksana ing Nungsa Jawi, karsa ambuka pitedah kasajatining kawruh kasampurnan, tutladhan saking kitab TASAWUF. Panggelaring wejangan wau thukul sakingkaweningan raosing penggalih, inggih Cipta Sasmitaning Pangeran, rinilan ambuka wedharing pangandikaning Pangeran dhateng Nabi Musa Kalamolah, ingkang suraosipun mekaten ” ING SABENER – BENERE MANUNGSA IKU KANYATAHANING PANGERAN, LAN PANGERAN IKU MUNG SAWIJI “

 

Pangandikaning Pangeran ungkang mekaten wau, inggih punika ingkang kawesharaken dados witing kawruh kasampurnan, ingkang lajeng kawedharaken para gurunadi dhateng para ingkang sami katarimah puruitanipun. Dene wonten kawruh wau, lajeng kadhapuk 8 papangkatan sarta pamejangipun sarana kawisikaken ing talingan kiwa, Mangertosipun asung pepenget bilih wedharing kawruh kasampurnan punika mboten kenging kawejangaken dhateng sok tiyanga, dene kengingipun kawejangaken namung dhateng tiyamh imgkang sampun pinaringan Ilhaming Pangeran, tegesipun tiyang ingkang sampun tinarbuka papadhanging budi pangangen-angenipun ( ciptanipun ).

Awit saking punika, pramila ingkang sami kasdu maos serat punika sayuginipun sinembuha nunuwun ing Pangeran, murih tinarbuka ciptaning saged anampeni saha angecupi suraosipun wejangan punika, awit suarosipun pancen kapara nyata yen saklangkung Gawat. Mila kasembadanipun saged angecupi punapa suraosing wejangan punika, inggih muhung dumunung ing ndalem Raosing Cipta kemawon. Mila inggih mboten kenging kangge wiraosing kaliyan ingkang sampun NUNGGIL RAOS, wedaling pangandika ugi mawia DUDUGI lan PRAMAYOGI, mangertosipun kedah angen mangsa lan empan papan saha sinamun ing lulungidaning basa.

(13). Memahami Shalat Daim;

Sebelum kita memahami Shalat Daim, ada baiknya kita memahami apa sebenarnya arti dari kata Shalat itu. Arti daripada shalat adalah mengingat-ingat GUSTI ALLAH (Dzikrullah) di waktu duduk, berdiri dan melakukan aktivitas dalam kehidupan ini. Sedangkan kata Daim itu memiliki arti terus-menerus ataupun tak pernah putus.

Jadi, jika kedua kata itu digabungkan maka Shalat Daim itu berarti mengingat-ingat GUSTI ALLAH tanpa pernah putus. Atau Dzikrullah secara terus menerus. Salah satu contoh dari Shalat Daim dapat kita tauladani dari sejarah saat Sunan Bonang menggembleng Raden Mas Syahid sebelum bergelar Sunan Kalijaga.

Saat itu Sunan Bonang sudah mengajarkan apa yang dinamakan Shalat Daim pada Raden Mas Syahid. Bagaimana Shalat Daim itu? Pertama kali Sunan Bonang menyuruh Raden Mas Syahid untuk duduk, diam dan berusaha untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri.

Menurut ajaran dari Sunan Bonang, Shalat Daim itu hanya duduk, diam, hening, pasrah pada kehendak GUSTI ALLAH. Raden Mas Syahid tidak disuruh untuk dzikir ataupun melakukan ritual apapun. Apa rahasia dibalik duduk diam tersebut? Cobalah Anda duduk dan berdiam diri. Maka hawa nafsu Anda akan berbicara sendiri. Ia akan melaporkan hal-hal yang bersifat duniawi pada diri Anda. Hal itu semata-mata terjadi karena hawa nafsu kita mengajak kita untuk terus terikat dengan segala hal yang berbau dunia.

Awalnya, orang diam pikirannya kemana-mana. Namun setelah sekian waktu diam di tempat, akal dan keinginannya akhirnya melemas dan benar-benar tidak memiliki daya untuk berpikir, energi keinginan duniawinya lepas dan lenyap. Dalam kondisi demikian, manusia akan berada dalam kondisi nol atau suwung total. Karena ego dan hawa nafsu sudah terkalahkan.

Demikian juga dengan kondisi Raden Mas Syahid ketika bertapa di pinggir kali. Ia hanya pasrah dan tidak melakukan ritual apapun. Hanya diam dan hening. Hingga akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan GURU SEJATINYA.

“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH
.”

Lewat Suluk Wujil, Sunan Bonang sudah menjelaskan perihal Shalat Daim yaitu

UTAMANING SARIRA PUNIKI,
ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
SEMBAH LAWAN PUJINE,
JATINING SALAT IKU,
DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
SEMBAH ARANEKA,
WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT,
PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAT DAIM, INGARAN TATA KRAMA.

(Keutamaan diri ini adalah mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib (shalat 5 waktu). Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).

Shalat sejati tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Shalat sejati adalah SHALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat mengeluarkan nafas.

Lebih lanjut Sunan Bonang juga menjelaskan tentang cara melakukan Shalat Daim lewat Suluk Wujil, yaitu

PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI,
TAN SIMPANG DADI SEMBAH,
TEKENG WULUNIPUN,
TINJA TURAS DADI SEMBAH,
IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN.

(Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir).

 

Orang yang telah mengenal Tuhannya akan mampu sholat terus menerus dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan tidur nyenyak. Intinya adalah segala perbuatannya adalah sholat. Inilah yang disebut “sholat daim”. Aladzina hum ‘ala sholaatihim daa’imuun. Yaitu mereka yang terus menerus melakukan sholat (Q.S Al-Ma’aarij : 70:23)

 

Mereka yang mampu sholat daim adalah mereka yang tidak akan berkeluh kesah dalam hidupnya dan senantiasa mendapat kebaikan sebagaimana disampaikan Q.S 70 : 19-22. Nah, sholat daim ini modelnya seperti apa? Ah.. tentu saja tidak bisa dibeberkan disini karena sholat daim adalah “oleh-oleh” dari hasil pencarian spiritual manusia. Tidak bisa diceritakan ke semua orang kecuali mereka yang telah memiliki kematangan spiritual.

 

Sholat daim adalah sholatnya orang ‘arif yang telah mengenal Allah. Ini adalah sholatnya para Nabi, Rasul, dan orang-orang ‘arif. Ilmu ini memang tidak banyak diketahui orang awam. Lantas bagaimana dengan sholat lima waktu? Nah sholat lima waktu sebenarnya adalah jumlah minimal saja yang harus dikerjakan manusia untuk mengingat Allah. Pada hakekatnya kita malah harus terus menerus untuk mengingat Allah sebagaimana firman-Nya :

 

Dan ingatlah kepada Allah diwaktu petang dan pagi (Q.S Ar-Ruum (30) : 17)

Dan sebutlah nama Tuhanmu pada pagi dan petang. (Q.S Al-Insaan (76) : 25)

 

Ayat diatas bukan berarti mengingat Allah hanya dua kali saja yaitu waktu pagi dan petang sebab makna ayat diatas justru sehari-semalam! Yakni pagi dimulai dari jam 12 AM-12 PM, sampai dengan petang jam 12 PM-12 AM, begitu seterusnya. Nah, karena tidak semua orang sanggup untuk mengingat Allah dalam sehari-semalam maka sholat lima waktu itu adalah merupakan event khusus untuk mengingat-Nya. Jika orang awam tidak ada perintah sholat lima waktu maka tentu saja Allah akan mudah terlupakan. Kalau Allah

terlupakan maka bumi ini bisa rusak oleh berbagai kejahatan yang dilakukan manusia. Orang awam perlu dilatih disiplin melalui sholat lima waktu ini untuk mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, kontrol diri akan lebih kuat.

 

Namun demikian, janganlah merasa cukup puas hanya dengan sholat lima waktu. Tingkatkanlah agar kita mampu melakukan sholat daim. Mari kita simak kembali ungkapan Sunan Bonang yang tertulis dalam Suluk Wujil :

 

Utaming sarira puniki

Angawruhana jatining salat

Sembah lawan pujine

Jatining salat iku

Dudu ngisa tuwin magerib

Sembahyang araneka

Wenange puniku

Lamun aranana salat

Pan minangka kekembaning salat daim

Ingaran tata karma

 

Artinya : “Unggulnya diri itu mengetahui hakekat sholat, sembah dan pujian. Sholat yang sebenarnya bukan mengerjakan isya atau magrib. Itu namanya sembahyang, apabila disebut sholat maka itu hanya hiasan dari sholat daim. Hanyalah tata krama”

 

Dari ajaran Sunan Bonang diatas, maka kita bisa memahami bahwa sholat lima waktu adalah sholat hiasan dari sholat daim. Sholat lima waktu ganjarannya adalah masuk surga dan terhindar neraka. Tentu yang mendapat surga pun adalah mereka yang mampu menegakan sholat yaitu dengan sholat tersebut, ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar.

 

Sayangnya, saat ini banyak orang yang hanya meributkan sholat fisiknya saja dan melupakan hakekat sholat itu sendiri. Seringkali jika terdapat perbedaan pada gerakan ataupun bacaan sholat, mereka saling ribut mengatakan sholatnya paling benar dengan menyebut sejumlah Hadist yang diyakininya benar.

 

PAWELING;

PIYANDEL lan PAMAIBEN punika angalang-ngalangi pangertos tumrap dhateng ingkang nyata,
PIYANDEL lan PANGGAYUH punika akibating raos kuwatos; dene KUWATOS punika ngerem BABLASING PIKIRAN,
lajeng trimah ngajeng-ajeng lan ngganta-ngganta.
( Krisna Murti kala 7-7-1940 )

Untuk bisa merasakan makna Hu
Allah, syariat harus baik dan tertib, dan dijalankan sesuai dengan apa yang tertuang dalam wahyu Illahi..melalui rasul-rasulNYA


 

(14). Membuka Hati (Padmajaya)

Hati adalah :
– Kunci hubungan kepada Tuhan YME
– Pusat ketenangan
– Pusat kedamaian
– Pusat kebahagiaan sejati
– Kunci kesehatan fisik, mental dan emosional
– Kunci kemajuan spiritual dalam hal ini spiritual= pendekatan diri kepada Tuhan YME dengan membuka hati dan pasrah kepadaNya dalam hidup sehari-hari
spirit = diri sejati yang berada di dalam hati
spiritual = mengandalkan hati & berkat Tuhan YME
Dengan Hati yang terbuka kepada Tuhan YME maka :
– kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan YME
– Berdoa kepada Tuhan dari hati
– Melakukan perbuatan baik kepada sesama dengan kasih
– Mensyukuri berkat Tuhan lebih baik
– Lebih pasrah
– Jauh dari stress
– Ringan, tenang, damai dan bahagia
– Sehat secara mental, fisik dan emosional
– Mengenali kebenaran sejati

Hati itu apa ?
– Pusat perasaan karena diri sejati kita yang adalah dzat dari Sang Pencipta berada di dalam hati
– Kunci hubungan kepada Tuhan YME, karena keberadaan diri sejati yang adalah dzat Sang Pencipta didalam hati. Otak dan tubuh fisik hanyalah sesuatu yang bersifat sementara
– Pusat penerimaan berkat Tuhan YME
– Pusat ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan sejati yang berasal dari berkat Tuhan YME yang diterima oleh hati
Hati terletak pada rongga dada
 di dalam rongga dada terdapat cakra jantung didalam cakra jantung terdapat hati didalam hati terdapat sir
 di dalam sir terdapat hati nurani
Mengapa hati yang sedemikian penting tidak dipergunakan secara maksimal ??
– Pendidikan yang kita dapati selama ini lebih mengarahkan kita kepada pendidikan untuk otak (seperti pelajaran matematika, fisika, ilmu bumi dll)
– Dalam hidup sehari-hari, hampir setiap saat kita mempergunakan otak dan jarang sekali mempergunakan hati (itupun kalau ada)
– Setiap kali kita mempunyai emosi negatif seperti marah, sedih, takut, kecewa dan sebagainya kita mengotori hati kita
– Dengan semakin banyaknya kotoran yang menumpuk didalam hati, maka hati akan semakin tertutup
– Setiap kali kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati, maka hati akan menjadi semakin lemah

Mengapa Hati selalu mengenali kebenaran ??
– Karena hati sangat Khusus. Hanya Tuhan YME dan kita sendiri yang dapat mengAKSES hati kita oleh karena itu :
a. hanya kita yang dapat mengotori hati kita
b. hanya Tuhan YME yang dapat membersihkan dan membuka hati kita
– Tidak ada mahluk lain yang manapun yang dapat mengakses hati kita, termasuk malaikat, maupun mahluk suci/agung lainnya
– Oleh karena tidak ada mahluk lain yang dapat mengakses hati kita, maka tidak ada yang dapat mempengaruhi hati kita sehingga hati selalu mengenali kebenaran
oleh karena itu janganlah kita takut untuk membuka hati.
catatan : Hati mengetahui kebenaran, tetapi bukan kebenaran sejati. Hanya HATI NURANI lah yang mengenali KEBENARAN SEJATI.

Berikut adalah Proses Membuka hati yang saya dapatkan di padmajaya : (mohon maaf mungkin saya tidak bisa menshare seluruh nya satu persatu) 🙂 :
– Lebih mengenal hati
– Lebih mengenal hati / perasaan dan otak/pikiran
– Menguatkan hati
– Mengurangi dominasi otak
– Membuka hati dengan meditasi buka hati
– Menyadari berkat Tuhan YME di dalam hati
– Mengandalkan berkat Tuhan YME di dalam hati saat berdoa dan dalam hidup sehari-hari
– Membiarkan hati lebih dominan dalam hidup sehari-hari
– Memperoleh kebenaran dari hati
– Memanfaatkan hati untuk mengandalkan berkat Tuhan dalam hidup sehari-hari
– Membuka hati lebih lanjut kepada Tuhan YME
– Mengarahkan hati lebih baik kepada Tuhan YME
– Membuka gerbang Illahi lebih baik
– Membuka saluran ke hati lebih baik
– Membersihkan dan membuka hati lebih lanjut
– Masuk ke dalam hati
– Berdoa kepada Tuhan YME dari dalam hati
– Masuk ke dalam Hati nurani
– Menyadari kebenaran sejati dengan Hati Nurani
– Mengandalkan Berkat Tuhan lebih lanjut
– Membagikan Berkat Tuhan kepada sesama
– Persiapan hidup untuk mendekatkan diri kepada Tuhan

Hati&Perasaan VS Otak&Pikiran
Otak&Pikiran :
1. Mempergunakan salah 1 dari kelima indra
2. Berpikir
3. Mencari
4. Berusaha
5. Apabila terlalu banyak dipergunakan otak akan menjadi lebih kuat dan lebih berat
Hati&Perasaan :
1. Merasakan dengan hati
2. Menyadari
3. Menyadari
4. Santai, senyum dan mengandalkan Berkat Tuhan
5. Semakin digunakan semakin indah dan nikmat

 

EMOSI :
Marah,benci kesedihan 
.. semakin diikuti semakin menjadi-jadi, semakin merusak perasaan dan suasana hidup
Dengan semakin kuat dan terbukanya hati, emosi-emosi negatif akan berkurang dan tidak mudah dipengaruhi oleh emosi negatif
Catatan :
– Berlatih hati, tidak membutuhkan bakat dan setiap orang mempunyai hati, jadi setiap orang akan bisa
– Tetapi, sebagian orang terkadang jarang sekali mengandalkan hati&perasaan dalam hidup sehari-hari ( mengandalkan emosi tidak sama dengan perasaan), maka terkadang akan butuh sedikit waktu untuk dapat merasakan perasaannya
– Adalah sangat umum apabila dalam beberapa latihan pertama anda tidak merasakan apapun. Apabila ini terjadi:
1. Janganlah membuka mata atau menghentikan latihan
2. Janganlah berusaha memperhatikan atau mendengarkan keadaan sekeliling
3. Tetap santai dan mengikuti latihan yang sedang dilakukan, maka secepat otak santai perasaan akan dapat merasakan apa yang sedang dilatih
– Butuh waktu 🙂
– Perasaan yang disebut disini adalah perasaan dari hati, jadi bukanlah perasaan dari kelima indra, jadi tidak sama dengan merasa : terjepit, pedas, asin, terhimpit, terinjak, panas
– Perasaan disini paling mirip dengan apa yg dirasakan saat anda senang/ bahagia (bukan saat tertawa terbahak-bahak karena saat itu anda lebih emosional)
– Latihan banyak kemiripan namun memiliki fungsi yang berbeda2 karena setiap latihan berfungsi untuk mengaktifkan dan menguatkan bagian tertentu dari hati agar hati dapat terbuka dengan sebaik-baiknya, karena hati adalah sesuatu yang dalam, jadi, harap tetap mengikuti dan melakukan dengan sebaik-baiknya walaupun merasa telah dapat melakukan latihan sebelumnya. Setiap kali melatih hati dengan sebaik-baiknya pastilah hati akan semakin terbuka dan lebih baik lagi. (tiap latihan pasti bermanfaat biarpun diulang sooo jangan ragu)
– Semua latihan yang diberikan sebenarnya hanyalah metoda alami untuk mengstimulasi hati dan mengandalkan berkat Tuhan YME. Bukan teknik yang diandalkan, melainkan kepasrahan dari hati kepada Tuhan YME

 

(15). Hakekat Ha Na Ca Ra Ka

 

HA = Hana hurip wening suci
(Adanya hidup adalah kehendak yang Maha Suci)

NA = Nur candra,gaib candra,warsitaning candara
(harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi)

CA = Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi
(satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)

RA = Rasaingsun handulusih
(rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)

KA = Karsaningsun memayuhayuning bawana
(hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)

DA = Dumadining dzat kang tanpa winangenan
(menerima hidup apa adanya)

TA = Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa
(mendasar ,totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang  hidup)

SA = Sifat ingsun handulu sifatullah
(membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)

WA = Wujud hana tan kena kinira
(ilmu manusia hanya terbatas namun bisa juga tanpa batas)

LA  = Lir handaya paseban jati
(mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi)

PA  = Papan kang tanpa kiblat
(Hakekat Allah yang ada di segala arah)

DhA = Dhuwur wekasane endek wiwitane
(Untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar)

JA  = Jumbuhing kawula lan Gusti
(selalu berusaha menyatu -memahami kehendakNya)

YA  = Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
(yakin atas titah /kodrat Ilahi)

NYA = Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki
(memahami kodrat kehidupan)

MA  = Madep mantep manembah mring Ilahi
(yakin – mantap dalam menyembah Ilahi)

GA  = Guru sejati sing muruki
(belajar pada guru sejati)

BA  = Bayu sejati kang andalani
(menyelaraskan diri pada gerak alam)

THA = Tukul saka niat
(sesuatu harus tumbuh dari niat)

NGA = Ngracut busananing manungso
(melepaskan egoisme pribadi-manusia)

 

(16). PIWULANG:

PIWULANG BAB HANACARAKA;

 

DANDANGGULA.

Hananing wong sing ENENG duk dihin,

Hawarana anasir samoha,

Hagni angin bantala her,

Hiya Hyang Maha Luhur,

Hingkang wujud Eneng menuhi,

Hisining rat winahya,

Hobah osik tuhu,

Hamung saking ananing Hyang,

Hanartani jroning alam kabir sahir,

Hananing titahing Hyang.

 

1.  Asale manungsa kuwi saka “Eneng” ngrasuk awak-awakan anasir geni,angin, bumi, banyu.

2. Ana dene sing kita jejuluki asma Allah kuwi ENENG ngebaki alam semesta.

3. Kabeh isining jagad iki lan kabeh mobah mosik iki, sanyata saka anane Allah

4. Panjenengane anglimputi sadjroning jagad gede lan jagad cilik.

5. 

. kalebu ing aksara NA.

Nora akeh ingkang arsa uning,

Nalaring reh yen Sang Hyang Suksmana,

Nartani ing saanane,

Nadyan aran dumunung,

Neng isining jagad tan keni,

Netepken winastanan,

Neng kono dumunung,

Nanging mungguh Hyang Suksmana,

Namung namar namur more anartani,

Nora manggon mring ana.

 

Ha (10) ananing titahing Pangeran kuwi 


1. Ora akeh kang kepengin mangerti bab Allah, sing sipate nglimputi alam semesta iki.

2. Sanadyan katembungake “dumunung” ana ing isining jagad iki, ora kena diarani “manggon” ana ing kono

3. Allah kuwi, dumununge, momore, lan panglimpute, tembunge mung namar lan namur (tegese: ora katon tetela), mulane ya ora kena diarani manggon ana ing kahanan sing katon gumelar iki.

 

Cekakane Hyang Kang Maha Suci,

Cetha nanging tan kena wineca,

Cag-ceg lamun nora ceceg,

Curna temah katrucut,

Cupet cacad yen nora lancip,

Ciptane tan trawaca,

Cutel nora cancut,

Caritane kang wus lancar,

Careming Hyang cihnane neng ati suci,

Cewet lamun den ucap.

1. Cekakane bab anane Allah kuwi ceta, nanging angel anggone nerangake

2. Cag-ceg pada duwe pangira, sing kita tengeri jejuluk asma Allah kuwi ‘iki utawa iku’, nanging pangira mau ora bener

3. Katrucute panganggep sing ora bener mau ateges cacat, awit pancen ora dong, mung awur-awuran wae, katarik saka buntune lan ketule akal pikirane.

4. Ana dene ngandikane sang wicaksana manunggale Pangeran kuwi kacihna ana ing ati suci, nanging yen dikandakake mengkono, iya kliru.

 

Rasakena jroning sanubari,

Rumakete lawan angganira,

Raket lan rasa pamore,

Rorone lwir sajuru,

Rina wengi awor lestari,

Rata jroning sarira,

Rumasuk anurut,

Rosing urat daging darah,

Rambut-rambut kabeh kasrambah tan kari,

Rinoban uripira.

 

1. Rasakena ing ndalem atimu, sang Eneng sing nganggo awak- awakan anasir mau, anggone anjumenengi wadagmu, awor manunggal karo rasamu.

2. Anasir lan rasa kuwi bleger loro nanging kaya mung siji, sakarone rina wengi tansah awor.

3. Nyrambahi sajroning badan sakojur, rumasuk ing urat, daging, getih, dalah rambut pisan, ora ana sing kliwatan ora kesrambah. Ngerobi uripe manungsa iki.

 

Kakekate kawruhana kaki,

Kaya priye yakine ingkang khak,

Kahanane Pangran mangke,

Kalamun sira ngaku,

Kahanane Hyang Suksma kaki,

Kumpul lan sira mangkya,

Kompra kumalungkung,

Kena ingaranan mokal,

Kudu ngaku kumpul lan kang mengku kaki,

Kuwur kurang weweka.

1. Kawruhana kanti yakin kepriye sanyatane kahanane Allah kuwi

2. Yen kowe ngrumangsani kahanane Allah kuwi kumpul karo kowe, kuwi panganggep kliru lan kumalungkung

3. Mokal banget ingatase kowe kuwi kawula sing kawengku, teka kumpul karo Allah sing mengku. Panganggep sing mangkono mau kuwur (kupur?) lan lacut (kurang weweka).

 

Dene lamun sira angingkedi,

Dumadinta datan awor ing dat,

Durung weruh ing kadaden,

Dadi mungkir ing pandum,

Dinalih yen dadi pribadi,

Duraka dora arda,

Datan wruh ing udur,

Dunungena kang waspada,

Darunaning jatining dat dennya dadi,

Dandananing dumadya.

 

1. Dene yen kowe anekadake dumadimu kuwi ora kasamadan Dattullah, sanyata kowe durung dong bab asaling dumadi.

2. Panganggep mengkono mau (ora ngrumangsani) ateges nyelaki kuwasaning Pangeran, pangiramu dumadimu kuwi “dengan sendirinya”. Panganggep mangkono mau duraka lan goroh banget, terang yen kowe ora ngerti marang kawruh bab dumadi.

3. Genahna sing gamblang, kepriye sabab musababe (darunane), dattullah (jatining dat) ngeja wantah awujud titah iki.

 

Takokena mring kang wus patitis,

Teraping dat dennya moring titah,

Terangena wit tumetes,

Tekeng tlanakan tuntum,

Tata-tata amurweng gati,

Triloka amirantya,

Tigang candra tamtu,

Tamat rampung wujud kita,

Tinengeran kakung atanapi estri,

Tetela daya titah.

 

1. Takokna marang gurumu kepriye jelase pangeja wantahe dating Pangeran, awujud titah manungsa iki.

2.  Terangna wiwit banyuning Bapa tumestes ana ing guwa garbaning biyung, perkembangane dadi getih, banjur dadi daging, sabanjure kasinungan triloka (betalmakmur, betalmucharam, betalmukadas).

3. Sawise ganep telung sasi, sempurna wujud bayi, katamtokake dadi manungsa lanang utawa wadon.

 

Sang Hyang Esa sangang wulan keksi,

Saking jroning guwa garba mesat,

Sumeleng suwung wiyose,

Sampun sarira rasul,

Sulihing Hyang minangka saksi,

Sing kwaseng Hyang Wisesa,

Sinung sih rinasuk,

Sinedhahan amisesa,

Sesining kang sarira Sang Hyang Sa maksih,

Sipat siki tan pisah.

 

1. Jatining dat sing ngejawantah mau, sawise sangang sasi, banjur metu saka guwa garba, awujud jirim mawa papan, jirim.

2. Bayi sing lahir saka guwa garba mau apengawak “utusan” minangka pratanda bab kuwasaning Pangeran.

3. Saka kuwasaning Pangeran, deweke kaparingan sih sarta ditugasake mranata dirine sakojur. Dene jatining Dat kuwi isih lestari sipat siji karo dirine, ora tau pisah.

 

Wasitane pra parameng kawi,

Wali-wali neng srat kawi jarwa,

Wong urip jwa salah weweng,

Wruha wosing tumuwuh,

Wit sing purwa myang madya tuwin,

Wusana ajwa kewran,

Waskitaning kawruh,

Wruh woring kawula lawan,

Wujuding Hyang Winastan waluyeng uwit,

Wawasen den kawang-wang.

 

1. Para pujangga rambah-rambah paring wejangan kamot ing layang-layang tembang lan banjaran ngelingake wong urip mono aja salah weng-weng.

2. Kudu ngerti wose anggone dititahake kuwi kepriye. Kudu damang purwa, madyo, lan wusanane.

3. Waskitaning kawruh kuwi ngerti sagunging titah karo sing nitahake. Persudinen sing gamblang bab bisane mulih marang asal (asal saka pangeran, mulih marang pangeran).

 

Laksitane lena den kalingling,

Lalangene nalikarsa ilang,

Luwih angel yen tan oleh,

Laraping kang pitulung,

Lenging wulang ingkang dumeling,

Luluh aneng dadalan,

Lingak-linguk linglung,

Liyepe kyeh kang kawulat,

Lalu lali kalunglun kang ngatingali,

Lebur keneng begalan.

 

1. Mangertio pangalaman nalikane sakaratul maut (ngancik plawanganing pati). Goda rencanane, nalika arep pecating nyawa kuwi Gawat, tumrap wong sing durung oleh wejangan sing ceta gamblang.

2. Sajroning ngalami krisis (gawat) kuwi, rumongso ora biso nerusake lakune, tingak tinguk bingung atine.

3. Ing waktu kuwi katon sesawangan werna-werna, samongso deweke lali kerem marang sawangan mau, ateges kebegal, ora patitis patine.

 

Pati papa kalempiting kapir,

Pakolehe duk uripe tanpa,

Puruita panganggepe,

Patrape prapteng lampus,

Pantog tanpa kawruh nyukupi,

Prandene bareng wapat,

Paksa kempas-kempus,

Pan nora pasrah amapan,

Polahane palintiran nora apik,

Pratanda yen kalepyan.

 

1. Mati sing kasebut ing aksara LA baris angka sepuluh mau: mati sasar, jalarane suwung tanpa kawruh (kapir). Yakuwi akibate nalika isih urip ora gelem golek kawruh. Pamikire patrape mati kuwi gampang cukup tanpa kawruh.

2. Bareng ngancik plawangane pati kempas kempus, ora pasrah, ora mapan polahe palintiran, mracihnani yen deweke lali.

 

Dhasar beda lan kang wus amundhi,

Dhawuhing sang Pandhita kang medhar,

Dhanurdara mung sumendhe,

Dhatenging kang riridhu,

Dhadhag dhokoh tyas tan kalindhih,

Dhineseg gora godha,

Dhangan nora kidhung,

Dhangah-dhangah mandi pedhang,

Dhatenging kang ripu wirodha tinandhing,

Dhinendha tadhah dhadha.

 

1. Wong sing wis tampa wejanganing guru bab kawruh kasampurnan, sayekti beda karo sing kasebuting aksara PA mau. Wong sing wis tampa wejangan kuwi, nalika ngancik sakratul-maut, mung sumendhe

2.  Ana reridu teka, ana goda rencana teka, deweke tatag wae, ora kaget lan ora mrebawani atine.

3.  Kaya wong anggawa pedang ligan, ana mungsuh teka nrajang yo ditandingi. Mungsuhe menthung nganggo ‘DHENDHA” dadhane diungalake.

 

Jatining kang wus weruh ing janji,

Janji-janji janjining sang Dwidja,

Jenak jenjem karem ijen,

Jangkane mung angejum,

Jumenenging jiwangga mbenjing,

Jinungkung jro pamujan,

Jejeg terus tuwajuh,

Jejering driya prasaja,

Joging seja ing mbenjing praptaning janji,

Jatmika srah jiwarja.

 

1. Sing kacaritake ana ing aksara DHA kuwi wong sing wis insyaf yen wong urip kuwi pacangane pati. Lan wis oleh kaweruh saka gurune (utawa saka maca buku-buku) banjur tawakal lungguh ijen ‘olah cipta’.

2. Tujuane ora liya, supaya sakwise ninggal donya iku jiwane nemu lelakon opo benere. Mulane deweke ngulinake ngolah cipta ana papan mirunggang. Kanti temen-temen, sabar lan telaten.

3. Adege uripe prasaja, dene yen wis teka wektune kudu mati, iya bakal dilakoni kanti anteng lan pasrah.

 

Ya marmane kulup kang kariyin,

Yaktekena waluyaring laya,

Yakina jrone urip kiye,

Yakti tan wurung layu,

Yen sira tan weruh kariyin,

Yuda-brataning laya,

Yatna liyep luyut,

Yitmanta wastu ngalaya,

Ywa pepeka myang mamrih mulyaning mayit,

Yogya den parsudiya.

 

1. Kulup, mulane wong kuwi perlu ngudi kawruh, supaya patine ora sasar. Soal pati kudu diyakinake sajrone isih urip iki.

2. Sabab wong urip mono mesti bakal mati. Yen kowe ora ngerti kawruh bab pati, iyo kuwi “yatno liyep luyut”, oncate jiwamu saka raga bakal klambrangan.

3. Aja gumampang Lho !. Lan maneh, kawruh supaya jinasahmu mulya, uga perlu kok parsudi.

 

Nyataning neng nyatakna ing sunyi,

Nyenyeting rat lawan kahanannya,

Nyirnakna nyet ajwa grenyeh,

Nyaring ilining banyu,

Nyuda rasa kang monyar-manyir,

Nyirnakake kedunyan,

Nyarong sirna kanyut (kang nyut),

Nyeneni naya kumenyar,

Nyamleng tentrem ayem tyase mari nyang-nying,

Nyata wus tekeng sunya.

 

1. Enenge atimu terusna nganti tekan ora rasa rumongsa (suwung).Kahananing jagad aja kok rasakake, aja mikir kae-kae.

2. Napasmu sarehna kaya nyaring ilining banyu, rasamu sing monjar-manjir temahan lerem. Bakune aja mikir bab kadonyan, amesthi rasa kang monjar-manjir mau ilang.

3.  Wusana kaya kataman cahya, polatanmu dadi sumringah, atimu ayem tentrem, ora karoneyan. Pranyata wis tekan ing kahanan suwung.

Mulane ta pra taruna sami,

Marsudiya ngelmu kang utama,

Mrih marem karem tumameng,

Madyeng ngalam ngalimun,

Meneng mrih wruh mring kang ngayomi,

Manawa wus tan samar,

More mring anggamu,

Muksane luwih utama,

Marga uwus tan samar denira mamrih,

Mulih alame lama.

 

1. Mulane para anom, prayoga pada marsudio ngelmu CHAK (utama).

2. Temahan kowe rumongso marem, lan duwe sedya ngambah alam gaib-gaib sarana meneng, supaya ngerti kanthi yakin bab anane Allah (kang ngayomi).

3. Yen kowe wis yakin temenan: Allah kuwi ora tau pisah karo kowe,patimu ora bakal sasar.

4. Amarga kowe wis ora samar anggonmu nedya mulih marang asalmu.

 

Gagarane kang luwih prayogi,

Gagayuhan arsa munggah swarga,

Gunung Tursena jujuge,

Grane kang luwih munggul,

Gondhelana den amaligi,

Gulunganing jiwangga,

Gumeleng saglugut,

Gigiten jwa ringga-ringga,

Gagar lamun sira tan nurut ing margi,

Graning Tursena arga.

 

1. Sarate sing prayoga banget tumrap setya munggah swarga kuwi:ngliwatane gunung TURSINA sing puncake duwur banget.

2. Puncake kuwi anggonen sipatan aja mangro mertelu. Anggonmu nyawijekake jiwa rogomu, sing nganti gumolong temenan, bebasan dadi sak glugut. Pangestimu aja samar-samar.

3. Yen kowe ora ngliwati puncake gunung tursina mau, sedyamu munggah swarga ora bakal kaleksanan.

 

Babarane prapteng alam kabir,

Bali murba angebaki keblat,

Busana kauban kabeh,

Bumi baruna klebu,

Badaning Hyang tetep ngelebi,

Babaran njero njaba,

Bola bali jumbuh,

Balik yen tan bangkit murba,

Bakal bali kapurba ing alam kabir,

Bubrah tan bisa mbabar.

 

1. (Yen kaleksanan tekan ing kahanan suwung) temahan babar apengawak jagad gede (alam semesta), ateges bali kaya asale angebaki keblat. Jagad iki: bumine, segarane, kauban kabeh.

2. Pranyata njero (jagad cilik, mikro kosmos) lan njaba (jagad gede,makro kosmos) kuwi kaebekan datullah, kalimputan sipatullah, tetep salawas-lawase.

3. Yen ora biso tekan ing kahanan suwung, kapeksa bakal kapurba maneh dening angger-anggering kodrat: nandang penderitaan bungah susah.

 

Thenging dwista tan ana kang kaesthi,

Thileg-thileg tan lalu palastha,

Thenger-thenger tanpa canthel,

Thok-thele mung ngalunthung,

Thering sedya tan bangkit mesthi,

Thukule pasti nistha,

Thinotol blegthuthur,

Thong-thongsot prapta pepathan,

Thek-ethekan nuthuki si kuthung nisthip,

Thinethel mring kanisthan.

 

1. (Sing ora biso bali marang asale mau): bingung ora karuwan sedyane.Temah tilek-tilek lan tenger-tenger wae. Pepuntone mung ngeluntung kanthisedya sing ora gumatok.

2. Bareng tukul sedyane, mesthi sedya sing remeh-remeh, dituntun blekutur. Para tong-tongsot teka, pada milara wong sing bingung kuwi,digeret marang kanisthan.

 

Nging kang paksa ngemba pra wirangi,

Nganggit ngelmu ngawag tan uninga,

Ngawur muhung andedongeng,

Ngluluri reh ing dangu,

Ngandikane pra mrih lulungit,

Ngudiya wadining rat,

Nging ywa rangu-rangu,

Ngungseda nganti uninga,

Ngracut ngukut wosing angga kang piningit,

Ngayuh wor kang wurweng rat.

 

1. Pengarange buku iki agahan tiru-tiru para pandhito: medharane ngelmu, satemene ora weruh. Mung ngawur kaya adongeng wae.

2. Mung ngestoake ngendikane para leluhur, ahli kebatinan, supaya kita ngudi kaweruh wadhine buwana kanthi temen- temen.

3. Supaya telaten mangsah semadi, nganti kasil ngalami kahanan suwung,yakuwi manunggale titah karo sing nitahake

 

(17). TANDA-TANDA PENCAPAIAN NENG, NING, NUNG, NANG

TINGKAT 1 (Neng; sembah raga)

Jumeneng; menjalankan “syariat”.

Namun makna syariat di sini mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling danwaspadha. Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb.

 

Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka MELATIH diri mengendalikan hawa nafsu negatif, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun BELUM TENTU melibatkan HATI dan BATIN kita secara benar dan tepat.

Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yg bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilakusipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan). Tanda pencapaiannya tampak pada SOLAH. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busanaatau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan BAWA-nya. BAWA yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.

 

Titik Lemah

Pada tataran awal ini meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif; rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Kredit point nya masih nihil. Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).

 

Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segala, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya; bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. Durung becus keselak besus !

 

TINGKAT 2 (Ning; sembah kalbu)

Wening atau hening; ibarat mati sajroning urip; kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil” (lihat dalam posting; Saloka Jati). Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan).Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yg ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta). Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.

 

1. Tapa ngeli; harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).

2. Tapa geniara; tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.

3. Tapa banyuara; mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).

 

4. Tapa mendhem; tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri. Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sbb: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.

 

 

Titik Lemah

Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri. Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun..ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia. Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan Anda untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu.

 

TINGKAT 3 (Nung; sembah cipta)

Kesinungan ; yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungandialah yang mendapatkan “hadiah” atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari.

 

Pencapaian tataran ini sama halnya laku hakekat. Laku hakekat adalah meliputi keadaan hati dan batin; sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada. Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal. Pada tahap ini manusia sudah mengenal akan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain. Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”.

 

NAH, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya,kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda. Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar gaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.

 

Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat.

 

1. Bumi Retna; jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia.

2. Bumi Kalbu; artinya istana iman sejati.

3. Bumi Jantung; merupakan istana semua ilmu.

4. Bumi budi; artinya istana puji dan zikir.

5. Bumi Jinem; istananya kasih sayang sejati.

6. Bumi suksma; yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati.

7. Bumi Rahmat; istana rasa mulia; rahsa sejati.

 

Titik Lemah

Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang ; maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah PUAS dan BANGGA dengan pencapaian hakekat ini bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi.

 

Tingkat 4 (Nang; sembah rahsa)

Nang merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang anda terima. Yakni kemenangan anda dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif. Kemenangan NUR (cahya sejati nan suci) mengalahkan NAR (api; ke-aku-an/”iblis”). Manusia NAR adalah seteru Tuhan (iblis laknat). SEBALIKNYA; manusia NUR adalah memenuhi janji atas kesaksian yg pernah ia ucapkan di mulut dan hati. Manusia NUR memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yg mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan. Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh(campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilahpertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan; “manunggaling kawula-Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tatar makrifat dapat ditemukan.

 

(18). PITUTUR IPUN TIYANG SEPUH

Bocah Bagus Anakku Lanang

Ojo Wedi,
 Golék-o Pepadhangé Dalan,

Ora Kendhat Anggonku Ngengudhang.

 

Duh Bocah Bagus Anakku Lanang

Wong Tuwamu Dudu Raja,

Sing Dak Wariské Dudu Bandha Dunya,

Sangumu Mung Isi Pitutur,

Muga Dadi Titah Kang Luhur.

 

Anak Lanang Bagusing Ati

Ojo Lali Anggonmu Memuji,

Marang Gusti Kang Murbéng Dumadi,

Mugo Dadi Padhangé Ati.

 

Urip Ing Dunyo Iku Sedhélo,

Urip Ing Kono Koyo Samudro,

Mulo Nggér
., Ojo Wegah Podho Tetanén,

Ing Kono Mbesuk-é Bakal Panén.

 

Bocah Bagus Anakku Lanang

Ojo Nganti Ninggal Piwulang,

Mumpung Jembar Golék-o Pepadhang,

Ojo Jirih Ing Pepalang.

 

Sejatiné Ora Ono Opo-Opo
..,

Sejatiné Jagadawujud Suwung,

Ora Warno Lan Ora Rupo,

Sing Ono Mung Awang-Uwung.

Akéhing Bandha Dudu Ukuran

Drajat Lan Pangkat Dudu Takeran,

Lan Pepujané Rasa Dudu Anak,

Pagering Jiwo Dudu Sanak.

Wong Tuwamu Dudu Dewo,

Ora Wenang Nulis Garisé Manungso,

Sangumu Mung Isi Pitutur,

Mugo Dadi Titah Kang Luhur.

 

(19). TAMBAHAN;

 

DARMA GANDHUL:

Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.
* * *

Gancaran basa Jawa ngoko;
Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara, Surakarta;
Cap-capan ingkang kaping sekawan, 1959;
Toko Buku “Sadu-Budi” Sala.
* * *

BEBUKA.
Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangiketira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggeguru, puruhita mring Raden Budi, mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sĂȘtya nglampahi dhawah, panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

Satuduhe Raden Budi ening, pan ingembun pinusthi ing cipta, sumungkem lair batine, tan etung lebur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasedyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.

 

Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susetya, mring dhawuh weling gurune, kedah medharken kawruh, karya suka pireneng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung tembang macapat.

Pan katemben amaos kinteki, tembang raras rum seya prasaja, trewaca wijang raose, mring tyas gung kumacelu, yun darbeya miwah nimpeni, pinirit tinuladha, lelepiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan tinedhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.

 

Pan sinambi-sambi jagi panti, saselanira ngupaya tedha, kinarya cagak lenggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarem-aremi, tarimanireng badan, anganggur ngethekur, ngebun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kaliren wayah siwi, sagotra minulyarja.

Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang, ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nem ringkĂȘlnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830].

 

DARMAGANDHUL;

Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kĂȘpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?”
Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrĂȘti, nanging aku tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kĂȘna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”.

Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satĂȘmĂȘne iya prĂȘlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrĂȘti mula-bukane karĂȘben ngrĂȘti”.

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jĂȘnĂȘnge nagara MajalĂȘngka, dene ĂȘnggone jĂȘnĂȘng Majapahit iku, mung kanggo pasĂȘmon, nanging kang durung ngrĂȘti dĂȘdongengane iya Majapahit iku jĂȘnĂȘng sakawit. (1)


Ing nagara MajalĂȘngka kang jumĂȘnĂȘng Nata wĂȘkasan jĂȘjuluk Prabu Brawijaya.
Ing wĂȘktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri CĂȘmpa, (2) ing mangka Putri CĂȘmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang RĂȘtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabĂȘn marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

 

Ora antara suwe kaprĂȘnah pulunane Putri CĂȘmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mĂȘnyang MajalĂȘngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparĂȘnga anggĂȘlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu iya marĂȘngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhĂȘdhukuh ana NgampeldĂȘnta ing (3) anggĂȘlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha tĂȘka, para ngulama lan para maulana iku padhamarĂȘk sang Prabu ing MajalĂȘngka, sarta padha nyuwun dhĂȘdhukuh ing pasisir. Panyuwunan mangkono mau uga diparĂȘngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhĂȘp mangkono mau saya ngrĂȘbda, wong Jawa banjur akeh bangĂȘt kang padha agama Islam.

 

Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab tĂȘdhake KanjĂȘng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Balambangan sapangulon nganti tumĂȘka ing BantĂȘn, wonge uga padha kelu rĂȘmbuge Sayid Kramat.


Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kĂȘlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manĂȘmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karĂȘping hati, manusa ora bisa apa-apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.


Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi tĂȘtĂȘngĂȘr Raden Patah.
BarĂȘng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. SatĂȘkane MajalĂȘngka Sang Prabu kewran panggalihe ĂȘnggone arĂȘp maringi sĂȘsĂȘbutan marang putrane, awit yen miturut lĂȘluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglĂȘluri lĂȘluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sĂȘsĂȘbutane Bambang.

 

Yen miturut ibu, sĂȘsĂȘbutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sĂȘsĂȘbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti tĂȘtimbangan ĂȘnggone arĂȘp maringi sĂȘsĂȘbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lĂȘluhur kuna putrane Sang Prabu mau disĂȘbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disĂȘbut Babah, tĂȘgĂȘse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sĂȘsĂȘbutan lan asma Babah Patah. KatĂȘlah nganti tumĂȘka saprene, yen blastĂȘran Cina lan Jawa sĂȘsĂȘbutane Babah. Ing nalika samana, Babah Patah wĂȘdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sĂȘnĂȘng, sĂȘnĂȘnge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satĂȘmĂȘne ora sĂȘnĂȘng bangĂȘt ĂȘnggone diparingi sĂȘsĂȘbutan Babah iku.

Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing DĂȘmak, madanani para bupati urut pasisir DĂȘmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabĂȘnĂȘr wayahe kiyai AgĂȘng Ngampel. BarĂȘng wis sawatara masa, banjur boyong marang DĂȘmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing DĂȘmak didhawuhi nglĂȘstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing TĂȘrung (5), pinaringan nama sarta sĂȘsĂȘbutan Raden Arya PĂȘcattandha.


Suwening suwe sarak Rasul saya ngrĂȘbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sĂȘsĂȘbutan Sunan, Sunan iku tĂȘgĂȘse budi, uwite kawruh kaelingan kang bĂȘcik lan kang ala, yen wohe budi ngrĂȘti marang kaelingan bĂȘcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.


Ing wĂȘktu iku para ngulama budine bĂȘcik-bĂȘcik, durung padha duwe karĂȘp kang cidra, isih padha cĂȘgah dhahar sarta cĂȘgah sare. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sĂȘsĂȘbutan Sunan, lakune isih padha cĂȘgah mangan, cĂȘgah turu. Yen sarak rasul, sirik cĂȘgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cĂȘgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumĂȘbar. Ing wĂȘktu iku ana nalar kang aneh, ora kĂȘna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wĂȘtune saka engĂȘtan, jroning utĂȘk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggĂȘp tĂȘmĂȘn lan ora, iya kudu ditimbang ing sabĂȘnĂȘre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kĂȘna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

 

Dhek nalika samana Sunan Benang sumĂȘdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. SatĂȘkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah KĂȘrtasana, kĂȘpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satĂȘkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggĂȘp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bĂȘbarĂȘngan mangan enak, padha sĂȘnĂȘng-sĂȘnĂȘng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama GĂȘdhah, GĂȘdhah iku ora irĂȘng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha GĂȘdhah”.
Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjĂȘnĂȘngan, kula ingkang nĂȘkseni”. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jĂȘnĂȘng Kutha GĂȘdhah, nganti tĂȘkane saiki isih karan Kutha GĂȘdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrĂȘti mula-bukane.


Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mĂȘnyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthĂȘk, yen diombe nglarani wĂȘtĂȘng, lan maneh iki wancine luhur, aku arĂȘp wudhu, arĂȘp salat”.


Sakabate siji banjur lunga mĂȘnyang padesan arĂȘp golek banyu, tĂȘkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arĂȘp mĂȘpĂȘg birahi, ing wĂȘktu iku lagi nĂȘnun. Sakabat tĂȘka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nĂȘdha toya imbon bĂȘning rĂȘsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barĂȘng noleh wĂȘruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arĂȘp njĂȘjawat, mĂȘjanani marang dheweke, mula ĂȘnggone mangsuli nganggo tĂȘmbung saru: “nDika mĂȘntas liwat kali tĂȘka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botĂȘn entĂȘn carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bĂȘning, yen sampeyan ajĂȘng ngombe”.


Santri krungu tĂȘtĂȘmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundĂȘlan turut dalan, satĂȘkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lĂȘlakone nalika golek banyu. Sunan Benang mirĂȘng ature sakabate, bangĂȘt dukane, nganti kawĂȘtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, barĂȘng kĂȘna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gĂȘdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patĂȘgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gĂȘdhe sanalika dadi asat. Nganti tumĂȘka saprene tanah GĂȘdhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ĂȘnggone omah-omah. Sunan Benang tĂȘrus tindak mĂȘnyang Kadhiri.


Ing wĂȘktu iki ana dhĂȘmit jĂȘnĂȘnge Nyai PlĂȘncing, iya iku dhĂȘmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubĂȘl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lĂȘlĂȘmbut, ngĂȘndĂȘl-ĂȘndĂȘlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mĂȘsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patĂȘgalan, kang padha rusak, iya iku saka panggawene Sunan Benang, kang uga ngĂȘsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ĂȘnggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diĂȘlih jĂȘnĂȘnge tanah aran Kutha GĂȘdhah, Sunan Benang dhĂȘmĂȘne salah gawe. Anak putune Nyai PlĂȘncing padha ngajak supaya Nyai PlĂȘncing gĂȘlĂȘma nĂȘluh sarta ngrĂȘridhu Sunan Benang, bisaa tumĂȘka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe.

 

Nyai PlĂȘncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mĂȘthukake lakune Sunan Benang, nanging dhĂȘmit-dhĂȘmit mau ora bisa nyĂȘdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas bangĂȘt kaya diobong. DhĂȘmit-dhĂȘmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satĂȘkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune manggon ing Selabale. (6) JĂȘnĂȘnge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jĂȘnĂȘnge kiyai Daha, duwe adhi jĂȘnĂȘnge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barĂȘng Sri Jayabaya rawuh, jĂȘnĂȘnge kiyai Daha dipundhut kanggo jĂȘnĂȘnge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.


Buta iku tĂȘgĂȘse: butĂȘng utawa bodho, Lo tĂȘgĂȘse kowe, caya tĂȘgĂȘse: kĂȘna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging tĂȘmĂȘn mantĂȘp sĂȘtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sĂȘbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai tĂȘgĂȘse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.
JĂȘngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangĂȘt marang kiyai Daka, jĂȘnĂȘnge kiyai Daka dipundhut kanggo jĂȘnĂȘng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jĂȘnĂȘng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pĂȘrang.


Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu PagĂȘdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu PagĂȘdhongan dadi ratuning dhĂȘmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jĂȘjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lĂȘlĂȘmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.


Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung KĂȘlut, rumĂȘksa kawah sarta lahar, yen lahar mĂȘtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.
Ing wĂȘktu iku kiyai Buta Locaya lagi lĂȘnggah ana ing kursi kĂȘncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinĂȘbutan ĂȘlaring mĂȘrak, diadhĂȘp patihe aran MegamĂȘndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhĂȘp, kang tuwa arane Panji SĂȘktidiguna, kang anom aran panji Sarilaut.


Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhĂȘp, kaget kasaru tĂȘkane Nyai PlĂȘncing, ngrungkĂȘbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumĂȘdya lĂȘlana mĂȘnyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai PlĂȘncing ngaturake susahe para lĂȘlĂȘmbut sarta para manusa.


Buta Locaya krungu wadule Nyai PlĂȘncing mangkono mau bangĂȘt dukane, sarirane nganti kaya gĂȘni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pĂȘri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lĂȘlĂȘmbut mau padha sikĂȘp gĂȘgaman pĂȘrang, sarta lakune barĂȘng karo angin, ora antara suwe lĂȘlĂȘmbut wis tĂȘkan ing saĂȘloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lĂȘlĂȘmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadĂȘg ana ing tĂȘngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka ĂȘlor.


Ora antara suwe tĂȘkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadĂȘg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhĂȘmit, sumĂȘdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lĂȘlĂȘmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bĂȘtah kĂȘna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bĂȘtah cĂȘdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cĂȘdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.
Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisĂȘn, amarga kĂȘna daya prabawane kiyai Sumbre.


Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mĂȘthukake lakuku, sarta nganggo jĂȘnĂȘng Sumbre, kowe apa padha slamĂȘt?”.
Buta Locaya kaget bangĂȘt dene Sunan Benang ngrĂȘtos jĂȘnĂȘnge dheweke, dadi dheweke kawanguran karĂȘpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagĂȘd mangrĂȘtos manawi kula punika Buta Locaya?”.
Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrĂȘti yen kowe ratuning dhĂȘmit Kadhiri, jĂȘnĂȘngmu Buta Locaya.”.
Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gĂȘdhabyah, dede pangagĂȘm Jawi. Kados wangun walang kadung?”.


Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jĂȘnĂȘngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sĂȘdyaku arĂȘp mĂȘnyang Kadhiri, pĂȘrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prĂȘnahe ana ing ngĂȘndi?”.


Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun MĂȘnang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botĂȘn wontĂȘn, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu PagĂȘdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rĂȘdi KĂȘlut. Kula badhe pitaken, paduka gĂȘndhak sikara dhatĂȘng anak putu Adam, nyabdakakĂȘn ingkang botĂȘn patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngĂȘlih nami Kutha GĂȘdhah, ngĂȘlih lepen, lajĂȘng nyabdakakĂȘn ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botĂȘn surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gĂȘsang laki rabi sampun lungse, lajĂȘng botĂȘn gampil pĂȘncaripun titahing Latawalhujwa, makatĂȘn wau saking sabda paduka, sĂȘpintĂȘn susahipun tiyang ingkang sami kĂȘbĂȘnan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintĂȘn-pintĂȘn sami risak, ngriki paduka-sotakĂȘn, sĂȘlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botĂȘn surup, nyikara tanpa prakara”.


Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-ĂȘlih jĂȘnĂȘng Kutha GĂȘdhah, amarga wonge kene agamane ora irĂȘng ora putih, tĂȘtĂȘpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-ĂȘlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ĂȘnggonku ngĂȘsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”.
Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botĂȘn timbang kaliyan sot panjĂȘnĂȘngan, botĂȘn sapintĂȘn lĂȘpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lĂȘpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangĂȘt, botĂȘn timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damĂȘl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakĂȘn tanah, lah sapunika mugi panjĂȘnĂȘngan-sotakĂȘn wangsulipun malih, ing ngriki sagĂȘda mirah toya malih, sagĂȘd dados asil panggĂȘsangan laki rabi taksih alit lajĂȘng mĂȘncarakĂȘn titahipun Hyang Manon. PanjĂȘnĂȘngan sanes Narendra tĂȘka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.


Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu MajalĂȘngka aku ora wĂȘdi”.
Buta Locaya barĂȘng krungu tĂȘmbung ora wĂȘdi marang Ratu MajalĂȘngka banjur mĂȘtu nĂȘpsune, calathune sĂȘngol: “RĂȘmbag paduka niki dede rĂȘmbage wong ahli praja, patute rĂȘmbage tiyang entĂȘn ing bambon, ngĂȘndĂȘlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajĂȘng tumindak sakarsa-karsa botĂȘn toleh kalĂȘpatan, siya dahwen sikara botĂȘn ngangge prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontĂȘn ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sĂȘsikuning Dewa, tĂȘbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatĂȘng sĂȘsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil.

 

Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajĂȘng minggat saking tanah Jawi, sumbĂȘr toya ing MĂȘdhang saurutipun dipunbĂȘkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatĂȘng sĂȘsami, sami damĂȘl awising toya, paduka ngakĂȘn Sunan rak kĂȘdah simpĂȘn budi luhur, damĂȘl wilujĂȘng dhatĂȘng tiyang kathah, nanging kok jĂȘbul botĂȘn makatĂȘn, wujud paduka niki jajil bĂȘlis katingal, botĂȘn tahan digodha lare, lajĂȘng mubal nĂȘpsune gĂȘlis duka, niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yĂȘktos, mĂȘsthi simpĂȘn budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajĂȘng paduka-ĂȘnggeni piyambak, siram salĂȘbĂȘting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lĂȘlĂȘmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engĂȘt dhatĂȘng wilujĂȘngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakĂȘn malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakĂȘn kados sawaunipun, manawi panjĂȘnĂȘngan botĂȘn karsa mangsulakĂȘn, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-tĂȘluh kajĂȘngipun pĂȘjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatĂȘng KanjĂȘng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontĂȘn samodra kidul”.


Sunan Benang barĂȘng mirĂȘng nĂȘpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kĂȘna mbaleni caturku kang wus kawĂȘtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.
Buta Locaya barĂȘng krungu kĂȘsagahane Sunan Benang, banjur nĂȘpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “KĂȘdah paduka- wangsulna sapunika, yen botĂȘn sagĂȘd, paduka kula-banda”.


Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kĂȘna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jĂȘnĂȘngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhĂȘmit lan wong pĂȘcicilan rĂȘbut bĂȘnĂȘr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhĂȘmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asĂȘm, wijine mĂȘtuwa lĂȘngane, asĂȘm dadi pasĂȘmoning ulat kĂȘcut, dene dhĂȘmit padu lan manusa, lĂȘnga tĂȘgĂȘse dhĂȘmit mlĂȘlĂȘng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasĂȘksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan tĂȘtĂȘmon iki, kang lor jĂȘnĂȘnge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jĂȘnĂȘnge desa Kawanguran”.


Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katĂȘlah nganti tumĂȘka saprene ing tanah Kutha GĂȘdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran tĂȘgĂȘse kawruhan, Singkal tĂȘgĂȘse sĂȘngkĂȘl banjur nĂȘmu akal.


Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake tĂȘkan ing desa BogĂȘm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rĂȘca jaran, rĂȘca mau awak siji ĂȘndhase loro, dene prĂȘnahe ana sangisoring wit trĂȘnggulun, wohe trĂȘnggulun mau akeh bangĂȘt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rĂȘca jaran ĂȘndhase digĂȘmpal.


Buta Locaya barĂȘng wĂȘruh patrape Sunan Benang anggĂȘmpal ĂȘndhasing rĂȘca jaran, saya wuwuh nĂȘpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa SrĂȘnggi, sintĂȘn ingkang sumĂȘrĂȘp rĂȘca punika, lajĂȘng sami mangrĂȘtos tekadipun para wanita Jawi”.


Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhĂȘmit kok wani padu karo manusa, jĂȘnĂȘnge dhĂȘmit kĂȘmĂȘnthus”.


Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.
Sunan Benang ngandika: “Woh trĂȘnggulun iki tak-jĂȘnĂȘngake kĂȘnthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kĂȘrĂȘngan karo dhĂȘmit kumĂȘnthus, prakara rusaking rĂȘca”.


Ki Kalamwadi ngandika: “KatĂȘlah nganti saprene, woh trĂȘnggulun jĂȘnĂȘnge kĂȘnthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.


Sunan Benang banjur tindak mangalor, barĂȘng wis wanci asar, kĂȘrsane arĂȘp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagĂȘd mundhut banyu kagĂȘm wudhu banjur salat.


Ki Kalamwadi ngandika: “KatĂȘlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, ĂȘmbuh bĂȘnĂȘr lupute”.


Sunan Benang sawise salat banjur nĂȘrusake tindake, satĂȘkane desa Nyahen (10) ing kona ana rĂȘca buta wadon, prĂȘnahe ana sangisoring wit dhadhap, wĂȘktu iku dhadhape pinuju akeh bangĂȘt kĂȘmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rĂȘca buta mau, nganti katon abang mbĂȘranang, saka akehe kĂȘmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rĂȘca mau gumun bangĂȘt, dene ana madhĂȘp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubĂȘnge bangkekane 10 kaki, saupama diĂȘlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune tĂȘngĂȘn rĂȘca mau disĂȘmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

 

Buta Locaya wĂȘruh yen Sunan Benang ngrusak rĂȘca, dheweke nĂȘpsu maneh, calathune: “PanjĂȘnĂȘngan nyata tiyang dahwen, rĂȘca buta bĂȘcik-bĂȘcik dirusak tanpa prakara, saniki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjĂȘnĂȘngan ngrisak rĂȘca?”


Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rĂȘca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jĂȘnĂȘnge kapir kupur lair batine kĂȘsasar.”


Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrĂȘtos, yen punika rĂȘca sela, botĂȘn gadhah daya, botĂȘn kuwasa, sanes Hyang Latawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lĂȘlĂȘmbut sampun sami manggen wontĂȘn ing siti utawi kajĂȘng, amargi siti utawi kajĂȘng punika wontĂȘn asilipun, dados tĂȘdhanipun manusa, mila para lĂȘlĂȘmbut sami dipunsukani panggenan wontĂȘn ing rĂȘca, panjĂȘnĂȘngan-tundhung dhatĂȘng pundi? Sampun jamakipun brĂȘkasakan manggen ing guwa, wontĂȘn ing rĂȘca, sarta nĂȘdha ganda wangi, dhĂȘmit manawi nĂȘdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sĂȘnĂȘng malih manawi manggen wontĂȘn ing rĂȘca wĂȘtah ing panggenan ingkang sĂȘpi edhum utawi wontĂȘn ngandhap kajĂȘng ingkang agĂȘng, sampun sami ngraos yen alamipun dhĂȘmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontĂȘn ing rĂȘca tĂȘka panjĂȘnĂȘngan-sikara, dados panjĂȘnĂȘngan punika tĂȘtĂȘp tiyang jail gĂȘndhak sikara siya-siya dhatĂȘng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rĂȘca ingkang pantĂȘs simpĂȘn budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.


Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa KangjĂȘng Nabi Ibrahim, ing kono pusĂȘring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.
Buta Locaya mangsuli karo nĂȘpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapuntĂȘn sadaya kalĂȘpatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?


Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasĂȘbut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan”.

Buta Locaya mangsuli karo mbĂȘkos: “PĂȘjah malih yen sumĂȘrĂȘpa, kamulyan sanyata wontĂȘn ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyĂȘmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nĂȘmbah curi, prayogi dhatĂȘng rĂȘdi KĂȘlut kathah sela agĂȘng-agĂȘng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kĂȘdah sumĂȘrĂȘp ing Batu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayĂȘktos, sayĂȘktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kĂȘdah dipunrĂȘksa, sintĂȘn sumĂȘrĂȘp asalipun badanipun, sumĂȘrĂȘp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha.

 

Sanadyan rintĂȘn dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pĂȘtĂȘng, kawruhipun sasar-susur, sasar nĂȘmbah tugu sela, tugu damĂȘlan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kĂȘkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pintĂȘr sugih engĂȘtan, sidik paningalipun tĂȘrus, sumĂȘrĂȘp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan.

 

Dene ingkang yasa rĂȘca punika Prabu Jayabaya, inggih kĂȘkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintĂȘr sugih engĂȘtan sidik paningalipun tĂȘrus, sumĂȘrĂȘp saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bĂȘtuwah saking lĂȘluhuripun. sami-sami nyungkĂȘmi kabar, aluwung nyungkĂȘmi kabar sastra saking lĂȘluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkĂȘmi kabar ‘Arab, dereng ngrĂȘtos kawontĂȘnanipun ngrika, punapa dora punapa yĂȘktos, anggĂȘga ujaripun tiyang nglĂȘmpara. Mila panjĂȘnĂȘngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari MĂȘkah, kula sumĂȘrĂȘp nagari MĂȘkah, sitinipun panas, awis toya, tanĂȘm-tanĂȘm tuwuh botĂȘn sagĂȘd mĂȘdal, bĂȘnteripun bantĂȘr awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani MĂȘkah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. PanjĂȘnĂȘngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrĂȘp lan bĂȘnteripun cĂȘkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanĂȘm sagĂȘd tuwuh, tiyangipun jalĂȘr bagus, wanitanipun ayu, madya luwĂȘs wicaranipun.

 

RĂȘmbag panjĂȘnĂȘngan badhe priksa pusĂȘring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjĂȘnĂȘngan ukur, manawi kula lĂȘpat panjĂȘnĂȘngan jotos. RĂȘmbag panjĂȘnĂȘngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nĂȘdha kawruh budi, rĂȘmĂȘn niksa ing sanes. Ingkang yasa rĂȘca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjĂȘnĂȘngan, panjĂȘnĂȘngan punapa sagĂȘd ngĂȘpal lampahing jaman? Sampun ta, kula aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botĂȘn purun kesah sapunika, badhe kula undhangakĂȘn adhi kula ingkang wontĂȘn ing rĂȘdi KĂȘlut, panjĂȘnĂȘngan kula-kroyok punapa sagĂȘd mĂȘnang, lajĂȘng kula bĂȘkta mlĂȘbĂȘt dhatĂȘng kawahipun rĂȘdi KĂȘlut, panjĂȘnĂȘngan punapa botĂȘn badhe susah, punapa panjĂȘnĂȘngan kĂȘpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatĂȘng Selabale, dados murid kula!”.


Sunan Benang ngandika: “Ora arĂȘp manut rĂȘmbugmu, kowe setan brĂȘkasakan”.
Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhĂȘmit, nanging dhĂȘmit raja, mulya langgĂȘng salamine, panjĂȘnĂȘngan dereng tampu mulya kados kula, tekad panjĂȘnĂȘngan rusuh, rĂȘmĂȘn nyikara niaya, mila panjĂȘnĂȘngan dhatĂȘng tanah Jawi, wontĂȘn ing ‘Arab nakal kalĂȘbĂȘt tiyang awon, yen panjĂȘnĂȘngan mulya tamtu botĂȘn kesah saking ‘Arab, mila minggat, saking lĂȘpat, tandhanipun wontĂȘn ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damĂȘl risak barang sae, ngarubiru agamane lĂȘluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatĂȘng MĂȘnadhu”.
Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kĂȘmbange tak jĂȘnĂȘngake celung, uwohe kledhung, sabab aku kĂȘcelung nalar lan kĂȘledhung rĂȘmbag, dadiya pasĂȘksen yen aku padu lan ratu dhĂȘmit, kalah kawruh kalah nalar”.
Mula katĂȘlah nganti tumĂȘka saprene, woh dhadhap jĂȘnĂȘnge kledhung, kĂȘmbange aran celung.


Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arĂȘp mulih mĂȘnyang Benang”.
Buta Locaya mangsuli karo nĂȘpsu: “Inggih sampun, panjĂȘnĂȘngan enggala kesah, wontĂȘn ing ngriki mindhak damĂȘl sangar, manawi kadangon wontĂȘn ing ngriki mindhak damĂȘl susah, murugakĂȘn awis wos, nambahi bĂȘnter, nyudakakĂȘn toya”.
Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. GĂȘnti kang cinarita, nagari ing MajalĂȘngka, anuju sawijining dina, Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka, diadhĂȘp Patih sarta para wadya bala, Patih matur, yen mĂȘntas nampani layang saka TumĂȘnggung ing KĂȘrtasana, dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara KĂȘrtasana kaline asat, kali kang saka Kadhiri miline nyimpang mangetan, saperanganing layang mau unine mangkene: “WontĂȘn ler-kilen Kadhiri, pintĂȘn-pintĂȘn dhusun sami karisakan, anggenipun makatĂȘn wau, saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab, namanipun Sunan Benang.
Sang Prabu mirĂȘng ature Patih bangĂȘt dukane, Patih banjur diutus mĂȘnyang KĂȘrtasana, niti-priksa ing kono kabeh, kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang.
GĂȘlising carita, Patih sawise niti-priksa, banjur ngaturake kahanane kabeh, dene duta kang diutus mĂȘnyang Tuban uga wis tĂȘka, matur yen ora oleh gawe, amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane.


Sang Prabu midhangĂȘt ature para wadya banjur duka, paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga, amarga gawe ribĂȘding nagara, mung ing DĂȘmak lang Ngampelgadhing kang kĂȘparĂȘng ana ing tanah Jawa, nglĂȘstarekake agamane, liyane loro iku didhawuhi ngulihake mĂȘnyang asale, dene yen padha ora gĂȘlĂȘm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Ature Patih: “Gusti! lĂȘrĂȘs dhawuh paduka punika, amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botĂȘn sowan utawi botĂȘn ngaturakĂȘn bulubĂȘkti, mĂȘnggah sĂȘdyanipun badhe rĂȘraton piyambak, botĂȘn ngrumaosi nĂȘdha ngombe wontĂȘn tanah Jawi, dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka, pĂȘparabipun Sunan ‘AĂȘnalyakin, punika nama ing tĂȘmbung ‘Arab, mĂȘnggah tĂȘgĂȘsipun Sunan punika budi, tĂȘgĂȘsipun Aenal punika ma’rifat, tĂȘgĂȘsipun Yakin punika wikan, sumĂȘrĂȘp piyambak, dados nama tingal ingkang tĂȘrus, suraosipun ing tĂȘmbung Jawi nama Prabu Satmata, punika asma luhur ingkang makatĂȘn punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa, mariksa botĂȘn kasamaran, ing alam donya botĂȘn wontĂȘn kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata, kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumĂȘnĂȘng Nata wontĂȘn ing nagari MĂȘdhang-Kasapta.

 

Sang Prabu midhangĂȘt ature Patih, banjur dhawuh nglurugi pĂȘrang mĂȘnyang Giri, Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit, nglurug mĂȘnyang Giri. Patih sawadya-balane satĂȘkane ing Giri banjur campuh pĂȘrang. Wong ing Giri geger, ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. Sunan Giri mlayu mĂȘnyang Benang, golek kĂȘkuwatan, sawise oleh bĂȘbantu, banjur pĂȘrang maneh mungsuh wong MajalĂȘngka, pĂȘrange rame bangĂȘt, ing wĂȘktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam, wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam, dene kang kidul isih tĂȘtĂȘp nganggo agama Buddha. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane, ĂȘnggone ora sowan mĂȘnyang MajalĂȘngka, mula banjur lunga karo Sunan Giri mĂȘnyang DĂȘmak, satĂȘkane ing DĂȘmak, banjur ngĂȘbang marang Adipati DĂȘmak, diajak nglurug mĂȘnyang MajalĂȘngka, pangandikane Sunan Benang marang Adipati DĂȘmak:

 

“WĂȘruha yen saiki wis tĂȘkan masa rusake Kraton MajalĂȘngka, umure wis satus tĂȘlu taun, saka panawangku, kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe, rĂȘmbugku rusakĂȘn Kraton MajalĂȘngka, nanging kang sarana alus, aja nganti ngĂȘtarani, sowana besuk GarĂȘbĂȘg Mulud, nanging rumantiya sikĂȘping pĂȘrang: 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing DĂȘmak, yen kumpule iku arĂȘp gawe masjid, mĂȘngko yen wis kumpul, para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam, kabeh mĂȘsthi nurut marang kowe”.


Ature Adipati DĂȘmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari MajalĂȘngka, amĂȘngsah bapa tur raja, kaping tiganipun damĂȘl sae paring kamukten ing dunya, lajĂȘng punapa ingkang kula-walĂȘsakĂȘn, kajawi namung sĂȘtya tuhu. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing, botĂȘn kaparĂȘng yen kula mĂȘngsah bapa, sanadyan Buddha nanging margi-kula sagĂȘd dumados gĂȘsang wontĂȘn ing dunya. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir, tiyang punika bapa inggih kĂȘdah dipunhurmati, punapa malih dereng wontĂȘn lĂȘpatipun dhatĂȘng kula”.


Sunan Benang ngandika mĂȘneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu, ora ana alane, amarga iku wong kapir, ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-tĂȘmu ganjaran swarga. Eyangmu kuwi santri mĂȘri, gundhul bĂȘntul butĂȘng tanpa nalar, patute mung dadi godhogan, sapira kawruhe Ngampelgadhing, bocah kalairan CĂȘmpa, masa padhaa karo aku Sayid Kramat, Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam, tĂȘdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu Nata, sanadyan dosa pisan, mung karo wong siji, tur ratu kapir, nanging yen bapakmu kalah, wong satanah Jawa padha Islam kabeh. Kang mangkono iku, sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikĂȘl kaping ĂȘmbuh, sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. SatĂȘmĂȘne ramanira iku siya-siya marang sira, tandhane sira diparingi jĂȘnĂȘng Babah, iku ora prayoga, tĂȘgĂȘse Babah iku saru bangĂȘt, iya iku: bae mati bae urip, wiji jawa digawa Putri Cina, mula ibumu diparingake Arya Damar, Bupati ing Palembang, wong pranakan buta; iku mĂȘgat sih arane. Ramanira panggalihe tĂȘtĂȘp ora bĂȘcik, mulane rĂȘmbugku, walĂȘsĂȘn kalawan alus, lire aja katara, ing batin sĂȘsĂȘpĂȘn gĂȘtihe, mamahĂȘn balunge”.


Sunan Giri nyambungi rĂȘmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu, didakwa rĂȘraton, amarga aku ora seba marang MajalĂȘngka. Sumbare Patih, yen aku kacandhak arĂȘp dikuciri lan dikon ngĂȘdusi asu, akeh bangsa Cina kang padha tĂȘka ana ing tanah Jawa, ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku, yen ngislamake wong kapir, besuk ganjarane swarga, mula akeh bangsa Cina kang padha tak- Islamake, tak-anggĂȘp kulawarga. Dene tĂȘkaku mrene ini ngungsi urip mĂȘnyang kowe, aku wĂȘdi marang Patih MajalĂȘngka, lan ramanira sĂȘngit bangĂȘt marang santri kang muji dhikir, ĂȘnggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore, yen kowe ora ngukuhi, mĂȘsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.


Wangsulane Sang Adipati DĂȘmak: “Anggenipun nglurugi punika lĂȘrĂȘs, tiyang rĂȘraton, botĂȘn ngrumaosi yen kĂȘdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakĂȘn, sampun wajibipun dipunlurugi, dipunukum pĂȘjah, awit panjĂȘnĂȘngan botĂȘn ngrumaosi dhahar ngunjuk wontĂȘn in tanah Jawi”.


Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rĂȘbut dina iki, kowe ngĂȘnteni surude bapakmu, kaprabone bapakmu wis mĂȘsthi ora bakal tiba kowe, mĂȘsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga, amarga iku putrane kang tuwa, utawa dipasrahake marang putra mantu, iya iku Ki Andayaningrat ing PĂȘngging, kowe anak nom, ora wajib jumĂȘnĂȘng Nata, mumpung iki ana lawang mĂȘnga, Giri kang dadi jalarane ngrusak MajalĂȘngka, nadyan mati, mungsuh wong kapir, mati sabilu’llah, patine slamĂȘt nampani swarga mulya, wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir, saka ĂȘnggone nyungkĂȘmi agamane, karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya, golek darajat kang unggul dhewe, yen wong urip ora wĂȘruh marang uripe, iku durung gĂȘnĂȘp uripe, lamun sipat manusa mĂȘsthi melik mĂȘngku praja angreh wadya bala, awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi, apa bae kang dikarĂȘpake bisa kĂȘlakon, satĂȘmĂȘne kowe wis pinasthi bakal jumĂȘnĂȘng Ratu ana ing tanah Jawa, sumilih kaprabone ramamu, ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirĂȘbut sarana pĂȘrang, yen kowe ora gĂȘlĂȘm nglakoni, mĂȘsthine sihe Gusti Allah kang mĂȘnyang kowe bakal dipundhut bali, dadi kowe jĂȘnĂȘnge nampik sihe Allah, aku mung sadarma njurungi, amarga aku wis wĂȘruh sadurunge winarah, wis tak-sĂȘmprong nganggo sangkal bolong katon nĂȘrawang ora samar sajroning gaib, kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran, bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa, murwani agama suci, ambirat ĂȘnggonmu madĂȘg Narendra, bisa ngideni adĂȘgmu Nata mĂȘngku tanah Jawa, bisa lĂȘstari satĂȘruse”. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang, pambujuke marang adipati DĂȘmak supaya mĂȘtu nĂȘpsune, gĂȘlĂȘm ngrusak MajalĂȘngka, malah diwenehi lĂȘpiyan carita Nabi, kang gĂȘlĂȘm ngrusak bapa kapir, iku padha nĂȘmu rahayu.


Adipati DĂȘmak matur: “Manawi karsa panjĂȘnĂȘngan makatĂȘn, kula namung sadarmi nglampahi dhawuh, panjĂȘnĂȘngan ingkang mbotohi”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karĂȘpake, saiki kowe wis gĂȘlĂȘm tak botohi, lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati TĂȘrung, ananging tĂȘmbungmu kang rĂȘmit sarta alus, adhimu antĂȘpĂȘn, apa abot Sang Nata, apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Yen adhimu wis rujuk adĂȘgmu Nata, gampang bangĂȘt rusaking MajalĂȘngka. Majapahit sapa kang diĂȘndĂȘlake yen Kusen mbalik, Si gugur isih cilik, masa ndadak waniya, Patihe wis tuwa, dithothok bae mati, mĂȘsthi ora bisa nadhahi yudamu”. Adipati DĂȘmak banjur kirim layang marang TĂȘrung, ora suwe utusan bali, wis tinampan wangsulane Sang Adipati TĂȘrung, saguh ambiyantu pĂȘrang, layang banjur katur Sunan Benang, ndadekake sukaning panggalih, Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati DĂȘmak, supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh, samudana yen arĂȘp ngĂȘdĂȘgake masjid, lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing DĂȘmak.

 

GĂȘlising carita, ora suwe para Sunan lan para Bupati padha tĂȘka kabeh, banjur pakumpulan ngĂȘdĂȘgake masjid, sawise mĂȘsjid dadi, banjur padha salat ana ing masjid, sabakdane salat, banjur tutup lawang, wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang, yen Adipati DĂȘmak arĂȘp dijumĂȘnĂȘngake Nata, sarta banjur arĂȘp ngrusak Majapahit, yen wis padha rujuk, banjur arĂȘp kĂȘpyakan tumuli. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh, mung siji kang ora rujuk, iya iku Syekh SitijĂȘnar. Sunan Benang duka, Syekh SitijĂȘnar dipateni, dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri, Syekh SitijĂȘnar dilawe gulune mati. Sadurunge Syekh SitijĂȘnar tumĂȘka ing pati, ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri, kowe ora tak-walĂȘs ing akhirat, nanging tak-walĂȘs ana ing dunya kene bae, besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa, ing kono gulumu bakal tak-lawe gĂȘnti”.

 

Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani, saiki wani, aku ora bakal mundur”. Sawise golong karĂȘpe, nglĂȘstarekake apa kang wis dirĂȘmbug. Sang Adipati DĂȘmak banjur ingidenan jumĂȘnĂȘng Nata, amĂȘngku tanah Jawa, jĂȘjuluk Senapati Jimbuningrat, patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pĂȘrang, banjur budhal mĂȘnyang Majapahit, diiringake para Sunan lan para Bupati, lakune kaya dene GarĂȘbĂȘg Maulud, para wadya bala ora ana kang ngrĂȘti wadining laku, kajaba mung para TumĂȘnggung lan para Sunan apa dene para ngulama, Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mĂȘnyang Majapahit, pawadane sarehne wis sĂȘpuh, mung arĂȘp salat ana ing masjid bae, lan paring idi rahayuning laku, dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara, ora kacarita lakune ana ing dalan.


GĂȘnti kocapa nagara in Majapahit, Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba, bab ĂȘnggone mukul pĂȘrang ing Giri, mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam, arane SĂȘcasena, mangsah mĂȘncak nganggo gĂȘgĂȘman abir, sawadya-balane watara wong tĂȘlung atus, padha bisa mĂȘncak kabeh, brĂȘngose capang sirahe gundhul, padha manganggo srĂȘban cara kaji, mangsah pĂȘrang paculat kaya walang kadung, wadya Majapahit ambĂȘdhili, dene wadya-bala ing Giri pating jĂȘnkelang ora kĂȘlar nadhahi tibaning mimis. Senapati SĂȘcasena wis mati, dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang, bala ing Giri ngungsi mĂȘnyang alas ing gunung, sawĂȘneh ngambang ing sagara, mlayu mĂȘnyang Benang tĂȘrus diburu dening wadya-bala Majapahit, Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara, kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa.

 

Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, supaya utusan mĂȘnyang DĂȘmak, andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha tĂȘka ing DĂȘmak, didhawuhi nyĂȘkĂȘl, kaaturna bĂȘbandan ing ngarsa Nata, awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing KĂȘrtasana, dene dosane santri Giri ora gĂȘlĂȘm seba marang ngarsa Prabu, tekade sumĂȘdya nglawan pĂȘrang.

 

Patih samĂȘtune ing paseban jaba, banjur nimbali duta kang arĂȘp diutus mĂȘnyang DĂȘmak, sajrone ana ing paseban jaba, kĂȘsaru tĂȘkane utusane Bupati ing Pathi, ngaturake layang marang Patih, layang banjur diwaos kiyai Patih, mungguh surasaning layang. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga, yen Adipati ing DĂȘmak, iya iku Babah Patah, wis madĂȘg Ratu ana ing DĂȘmak, dene kang ngĂȘbang- ĂȘbang adĂȘging Nata, iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri, para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi, dene jĂȘjuluking Ratu, Senapati Jimbuningrat, utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam, ing Bintara. Ing samĂȘngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit, sĂȘdya mungsuh ingkang rama, Babah Patah abot mĂȘnyang gurune, ngenthengake ingkang rama, para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arĂȘp mbĂȘdhah Majapahit. Babah Patah anggone nggawa bala tĂȘlung lĂȘksa miranti sapraboting pĂȘrang, mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih.

 

Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303, masa Kasanga Wuku Prangbakat. Kiyai Patih sawise maos layang, njĂȘtung atine, sarta kĂȘrot, gĂȘrĂȘng-gĂȘrĂȘng, gedheg-gedheg, bangĂȘt pangungune, banjur tumĂȘnga ing tawang karo nyĂȘbut marang Dewa kang Linuwih, bangĂȘt gumune mĂȘnyang wong Islam, dene ora padha ngrĂȘti mĂȘnyang kabĂȘcikane Sang Prabu, malah padha gawe ala. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu, ngaturake surasane layang mau.


Sang Prabu Brawijaya midhangĂȘt ature Patih kaget bangĂȘt panggalihe, njĂȘgrĂȘg kaya tugu, nganti suwe ora ngandika, jroning panggalih ngungun bangĂȘt marang putrane sarta para Sunan, dene padha duwe sĂȘdya kang mangkono, padha diparingi pangkat, wĂȘkasane malah padha gawe buwana balik, kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama tĂȘka arĂȘp ngrusak karaton, digoleki nalar-nalare tansah wudhar, lair batin ora tinĂȘmu ing nalar, dene kok padha duwe pikir ala. Ing wĂȘktu iku panggalihe Sang Prabu pĂȘtĂȘng bangĂȘt, sungkawane ratu GĂȘdhe kang linuwih, sinĂȘmonan dening Dewa, kaya dene atining kĂȘbo ĂȘntek dimangsa ing tumaning kinjir. Sang Prabu banjur andangu marang Patih, apa ta mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit, ora padha ngelingi marang kabĂȘcikan.


Ature Patih, mratelakake yen uga ora mangĂȘrti, amarga adoh karo nalare, wong dibĂȘciki kok padha malĂȘs ala, lumrahe mĂȘsthi, padha malĂȘs bĂȘcik. Ki Patih uga mung gumun, dene wong Islam pikire kok padha ora bĂȘcik, dibĂȘciki walĂȘse kok padha ala.


Sang Prabu banjur ngandika marang patih, bab anane lĂȘlakon kaya mangkono iku amarga saka lĂȘpate sang nata piyambak, dene nggĂȘgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun, sarta ĂȘnggone kĂȘgiwang marang ature Putri CĂȘmpa, ngideni para ngulama mĂȘncarake agama Islam. Sang Nata saka putĂȘking panggalihe nganti kawĂȘdhar pangandikane ngĂȘsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung, muga winalĂȘsna susah-ingsun, wong Islam iku besuk kuwalika agamanira, manjalma dadi wong kucir, dene tan wruh kabĂȘcikan, sun-bĂȘciki walĂȘse angalani”.

 

“Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan, katarima dening Bathara, sinĂȘksen ing jagad, katandhan ana swara jumĂȘgur gĂȘtĂȘr patĂȘr sabuwana, iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. Sunan, ngulama kabeh ngrangkĂȘp jĂȘnĂȘng walikan, katĂȘlah tumĂȘka saprene, ngulama jĂȘnĂȘnge walian, kuntul kucir githoke. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih, prakara tĂȘkane mungsuh, santri kang ngrĂȘbut nagara, iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gĂȘtun lan ngungun, dene Adipati DĂȘmak kapengin mĂȘngkoni Majapahit bae kok dirĂȘbut sarana pĂȘrang, saupama disuwun kalayan aris bae mĂȘsthi diparingake, amarga Sang Nata wis sĂȘpuh.

 

Ature Patih prayoga nglawan tĂȘkaning mungsuh. Sang Prabu ngandika, yen nganti nglawan rumaos lingsĂȘm bangĂȘt, dene mungsuh karo putra, mula dhawuhe Sang Prabu, yen mapag pĂȘrang kang sawatara bae, aja nganti ngrusakake bala. Patih didhawuhi nimbali Adipati PĂȘngging sarta Adipati Pranaraga, amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pĂȘrang, sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu banjur lolos arsa tĂȘdhak marang Bali, kadherekake abdi kĂȘkasih, Sabdapalon lan Nayagenggong. Sajrone Sang Prabu paring pangandika, wadya-bala DĂȘmak wis pacak baris ngĂȘpung nagara, mula kasĂȘsa tindake. Wadya DĂȘmak banjur campuh karo wadya Majapahit, para Sunan banjur ngawaki pĂȘrang, Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papĂȘrangan. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. PĂȘrange rame bangĂȘt, bala DĂȘmak tĂȘlung lĂȘksa, balang Majapahit mung tĂȘlung ewu, sarehne Majapahit karoban mungsuh, prajurite akeh kang padha mati, mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nĂȘsĂȘg. Bala DĂȘmak kang katrajang mĂȘsthi mati.

 

Putrane Sang Prabu aran Raden LĂȘmbupangarsa ngamuk ana satĂȘngahing papĂȘrangan, tandhing karo Sunan Kudus, lagi rame-ramene tĂȘtandhingan pĂȘrang, Patih Mangkurat ing DĂȘmak nglambung, Putra Nata tiwas, saya bangĂȘt nĂȘpsune, pangamuke kaya bantheng kataton, ora ana kang diwĂȘdeni, Patih ora pasah sakehing gĂȘgaman, kaya dene tugu waja, ora ana braja kang tumama marang sarirane, ing ngĂȘndi kang katrajang bubar ngisis, kang tadhah mati nggĂȘlasah, bangkening wong tumpang tindhih, Patih binendrongan saka kadohan, tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya, nanging ora pasah, Sunan Ngudhung disuduk kĂȘna, barĂȘng Sunan Ngudhung tiwas, Patih dibyuki wadya ing DĂȘmak, dene wadya Majapahit wis ĂȘntek, sapira kuwate wong siji, wĂȘkasan Patih ing Majapahit ngĂȘmasi, nanging kuwandane sirna, tinggal swara: “Eling-eling wong Islam, dibĂȘciki gustiku walĂȘse ngalani, kolu ngrusak nagara Majapahit, ngrĂȘbut nagara gawe pĂȘpati, besuk tak-walĂȘs, tak-ajar wĂȘruh nalar bĂȘnĂȘr luput, tak-damoni sirahmu, rambutmu tak-cukur rĂȘsik”.
Sapatine Patih, para Sunan banjur mlĂȘbu mĂȘnyang kadhaton. nanging sang Prabu wis ora ana, kang ana mung Ratu Mas, iya iku Putri CĂȘmpa, sang Putri diaturi sumingkir mĂȘnyang Benang uga karsa.


Para prajurit DĂȘmak banjur padha mlĂȘbu mĂȘnyang kadhaton, ana ing kono pada njarah rayah nganti rĂȘsik, wong kampung ora ana kang wani nglawan. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Adipati TĂȘrung banjur mlĂȘbu mĂȘnyang jĂȘro pura, ngobongi buku-buku bĂȘtuwah Buddha padha diobongi kabeh, wadya sajroning pura padha bubar, beteng ing Bangsal wis dijaga wong TĂȘrung. Wong Majapahit kang ora gĂȘlĂȘm tĂȘluk banjur ngungsi mĂȘnyang gunung lan alas-alas, dene kang padha gĂȘlĂȘm tĂȘluk, banjur dikumpulake karo wong Islam, padha dikon nyĂȘbut asmaning Allah. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake, pinĂȘtak ana sakidul-wetan pura. Kuburan mau banjur dijĂȘnĂȘngake Bratalaya, jarene iku kubure Raden LĂȘmbupangarsa.

 

BarĂȘng wis tĂȘlung dina, Sultan DĂȘmak budhal mĂȘnyang Ngampel, dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit, iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati TĂȘrung, njaga kaslamĂȘtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri, Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu, TĂȘrung uga dijaga ngulama tĂȘlung atus, sabĂȘn bĂȘngi padha salat kajat sarta andĂȘrĂȘs Kur’an, wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mĂȘnyang Ngampelgadhing, Sunan Ngampel wis seda, mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel, garwane mau asli saking Tuban, putrane Arya Teja, sasedane Sunan Ngampel, Nyai AgĂȘng kanggo tĂȘtuwa wong Ngampel. Sang Prabu Jambuningrat satĂȘkane ing Ngampel, banjur ngabekti Nyai Agung, para Sunan sarta para Bupati gĂȘnti-gĂȘnti padha ngaturake sĂȘmbah mĂȘnyang Nyai AgĂȘng. Prabu Jimbuningrat matur yen mĂȘntas mbĂȘdhah Majapahit, ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur, ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjĂȘnĂȘngane wis madĂȘg Nata mĂȘngku tanah Jawa, dene jĂȘjuluke:

 

Senapati Jimbun, sarta PanĂȘmbahan Palembang, ĂȘnggone sowan mĂȘnyang Ngampel iku, prĂȘlu nyuwun idi, tĂȘtĂȘpa jumĂȘnĂȘng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyĂȘlani.


Nyai AgĂȘng Ngampel sawise mirĂȘng ature Prabu Jimbun, banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu, Nyai AgĂȘng ing batos karaos-raos, mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku, kowe dosa tĂȘlung prakara, mungsuh Ratu tur sudarmane, sarta kang aweh kamukten ing dunya, tĂȘka dirusak kang tanpa prakara, yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya, para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamĂȘtu minangka dadi pangane, sarta padha diuja sakarĂȘpe, wong pancene rak sĂȘmbah nuwun bangĂȘt, wusana banjur diwalĂȘs ala, seda utawa sugĂȘnge ora ana kang wĂȘruh”.


Nyai AgĂȘng banjur ndangu Sang Prabu, pangandikane: “Êngger! aku arĂȘp takon mĂȘnyang kowe, kandhaa satĂȘmĂȘne, bapakmu tĂȘnan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?”


Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane tĂȘmĂȘnan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mĂȘngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam, isih ngagĂȘm agama kapir kupur, Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk.

 

Nyai AgĂȘng barĂȘng mirĂȘng ature Prabu Jimbun, banjur njĂȘrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wĂȘruha, kowe iku dosa tĂȘlung prakara, mĂȘsthi kĂȘsiku ing Gusti Allah. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kĂȘna dipĂȘksa yen durung mĂȘtu saka karĂȘpe dhewe. Wong kang nyungkĂȘmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama.

 

Yen Gusti Allah wis marĂȘngake, ora susah ngango dikon, wis mĂȘsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kabeh iki sasĂȘnĂȘnge dhewe-dhewe. Gusti Allah ora niksa wong kapir kang ora luput, sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bĂȘnĂȘr, mung bĂȘnĂȘr karo lupute sing diadili nganggo tĂȘtĂȘping adil, lalar-lulurĂȘn asalmu, ibumu Putri CĂȘmpa nyĂȘmbah pikkong, wujud dluwang utawa rĂȘja watu. Kowe ora kĂȘna sĂȘngit mĂȘnyang wong kang agama Buddha, tandha mripatmu iku lapisan, mula blero pandĂȘlĂȘngmu, ora ngrĂȘti marang kang bĂȘnĂȘr lan kang luput, jarene anake Sang Prabu, tĂȘka kolu marang bapa, kĂȘduga ngrusak ora nganggo prakara, beda matane wong Jawa, Jawa Jawi ngrĂȘti matane mung siji, dadi wĂȘruh ing bĂȘnĂȘr lan luput, wĂȘruh kang bĂȘcik lan kang ala, mĂȘsthi wĂȘdi mĂȘnyang bapa, kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha, iku wajib dibĂȘkteni. Eklasing ati bĂȘkti bapa, ora bĂȘkti wong kapir, amarga wis wajibe manusa bĂȘkti marang wong tuwane. Kowe tak-dongengi, wong Agung Kuparman, iku agamane Islam, duwe maratuwa kapir, maratuwane gĂȘthing marang wong Agung amarga seje agama, maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati, ewadene Wong Agung tansah wĂȘdi- asih lang ngaji-aji, amarga iku wong tuwane, dadi ora dielingi kapire, nanging kang dielingi wong tuwane, mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. Iya iku ĂȘngger, kang diarani wong linuwih, ora kaya tekadmu, bapa disiya-siya, dupeh kapir Budha ora gĂȘlĂȘm ganti agama, iku dudu padon. Lan aku arĂȘp takon, apa kowe wis matur marang wong tuwamu, kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye?


Prabu Jimbun matur, yen durung ngaturi salin agama, tĂȘkane Majapahit banjur ngĂȘpung nagara bae.


Nyai AgĂȘng Ngampel gumujĂȘng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangĂȘt, sanadyan para Nadi dhek jaman kuna, ĂȘnggone padha wani mungsuh wong tuwane, iku amarga sabĂȘn dinane wis ngaturi santun agama, nanging ora karsa, mangka sabĂȘn dinane wis diaturi mujijade, kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam, ananging atur mau ora dipanggalih, isih nglĂȘstarekake agamane lawas, mula iya banjur dimungsuh. Lamun mangkono tumindake, sanadyan mungsuh wong tuwa, lair batine ora luput. BarĂȘng wong kang kaya kowe, mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wĂȘnang nyalini agama lah coba wĂȘtokna mujijadmu tak-tontone”.


Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa, mung manut unine buku, jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga.
Nyai AgĂȘng Ngampel gumujĂȘng nanging wĂȘwah dukane. Ujar-jare bae kok disungkĂȘmi, tur dudu bukuning lĂȘluhur, wong ngumbara kok diturut rĂȘmbuge, sing nglakoni rusak ya kowe dhewe, iku tandha yen isih mĂȘntah kawruhmu, durung wani marang wong tuwa, saka kĂȘpenginmu jumĂȘnĂȘng Nata, kasusuhane ora dipikir. Kowe kuwi dudu santri ahli budi, mung ngĂȘndĂȘlake ikĂȘt putih, nanging putihe kuntul, sing putih mung ing jaba, ing jĂȘro abang, nalika eyangmu isih sugĂȘng, kowe tau matur yen arĂȘp ngrusak Majapahit, eyangmu ora parĂȘng, malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa, saiki eyangmu wis seda, wĂȘwalĂȘre kok-trajang, kowe ora wĂȘdi papacuhe. Yen kowe njaluk idi marang aku, prakara tĂȘtĂȘpmu dadi Ratu tanah Jawa, aku ora wĂȘnang ngideni, aku bangsa cilik tur wong wadon, mĂȘngko rak buwana balik arane, awit kowe sing mĂȘsthine paring idi marang aku, amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa, mung kowe dhewe sing tuwa, saucapmu idu gĂȘni, yen aku tuwa tiwas, yen kowe tĂȘtĂȘp tuwa Ratu”.

 

Banjure pangandikane Nyai AgĂȘng Ngampel: “Putu! kowe tak- dongengi kupiya patang prakara, ing kitab hikayat wis muni, carita tanah MĂȘsir, panjĂȘnĂȘngane KanjĂȘng Nabi Dhawud, putrane anggege kapraboning rama, Nabi Dhawud nganti kengsĂȘr saka nagara, putrane banjur sumilih jumĂȘnĂȘng Nata, ora lawas Nabi Dhawud sagĂȘd wangsul ngrĂȘbut nagarane. Putrane nunggang jaran mlayu mĂȘnyang alas, jarane ambandhang kĂȘcanthol-canthol kayu, nganthi pothol gumantung ana ing kayu, iya iku kang diarani kukuming Allah.

 

Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cĂȘngkar, iku iya anggege kapraboning rama, nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta, sabĂȘn dina mangsa jalma, ora suwe antarane, ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa, aran Aji Saka, anggĂȘlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka, gĂȘthing marang DewatacĂȘngkar, Ajisaka diangkat dadi Raja, DewatacĂȘngkar dipĂȘrangi nganti kĂȘplayu, ambyur ing sagara, dadi bajul, ora antara suwe banjur mati. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono, Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama, kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau, kabeh padha nĂȘmu sangsara. Apa maneh kaya kowe, mungsuh bapa kang tanpa prakara, kowe mĂȘsthi cilaka, patimu iya mlĂȘbu mĂȘnyang yomani, kang mangkono iku kukume Allah”.


Sang Prabu Jimbun mirĂȘng pangandikane ingkang eyang, panggalihe rumasa kĂȘduwung bangĂȘt, nanging wis ora kĂȘna dibalekake.


Nyai AgĂȘng Ngampel isih nĂȘrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilĂȘbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati, mung kowe kok gĂȘlĂȘm nglakoni, sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe, tur kelangan bapa, salawase urip jĂȘnĂȘngmu ala, bisa mĂȘnang pĂȘrang nanging mungsuh bapa Aji, iku kowe mrĂȘtobata marang Kang Maha Kuwasa, kiraku ora bakal oleh pangapura, sapisan mungsuh bapa, kapindho murtat ing Ratu, kaping tĂȘlune ngrusak kabĂȘcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. Adipati Pranaraga lan Adipati PĂȘngging masa trimaa rusaking Majapahit, mĂȘsthine labuh marang bapa, iku bae wis abot sanggane”.

 

 Nyai AgĂȘng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. Sawise Sang Prabu dipangandikani, banjur didhawuhi kondur mĂȘnyang DĂȘmak, sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama, yen wis kĂȘtĂȘmu diaturana kondur mĂȘnyang Majapahit, lan aturana mampir ing Ngampelgadhing, nanging yen ora kĂȘrsa, aja dipĂȘksa, amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani, mĂȘsthi mandi.

 

Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing DĂȘmak, para wadya padha sĂȘnĂȘng-sĂȘnĂȘng lan suka-suka nutug, para santri padha trĂȘbangan lan dhĂȘdhikiran, padha angucap sukur lan bungah bangĂȘt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mĂȘnang pĂȘrange.
Sunan Benang mĂȘthukake kondure Sang Prabu Jimbun, Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kĂȘlakon bĂȘdhah, layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh, sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos, Patih Majapahit mati ana samadyaning papĂȘrangan, Putri CĂȘmpa wis diaturi ngungsi mĂȘnyang Benang, wadya Majapahit sing wis tĂȘluk banjur padha dikon Islam.


Sunan Benang mirĂȘngake ature Sang Prabu Jimbun, gumujĂȘng karo manthuk-manthuk, sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.
Sang Prabu matur, yen kondure uga mampir ing NgampeldĂȘnta, sowan ingkang eyang Nyai AgĂȘng Ngampel, ngaturake yen mĂȘntas saka Majapahit, sarta nyuwun idi ĂȘnggone jumĂȘnĂȘng Nata, nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman, ĂȘnggone ora ngrĂȘti marang kabĂȘcikane Sang Prabu Brawijaya, nanging sawise, banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama, apa sapangandikane Nyai AgĂȘng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang.


Sunan Benang sawise mirĂȘngake ature Sang Nata ing batos iya kĂȘduwung, rumaos lupute, dene ora ngelingi marang kabĂȘcikane Sang Prabu Brawijaya. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika, samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih, ĂȘnggone ora karsa salin agama Islam.


Sunan Benang banjur ngandika, yen dhawuhe Nyai AgĂȘng Ngampel ora pĂȘrlu dipanggalih, amarga panimbange wanita iku mĂȘsthi kurang sampurna, luwih bĂȘcik ĂȘnggone ngrusak Majapahit dibanjurake, yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai NgampeldĂȘnta, Sunan Benang arĂȘp kondur mĂȘnyang ‘Arab, wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang, yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel, mĂȘsthine bakal oleh sabda kang ora bĂȘcik, mula iya wĂȘdi.

 

Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu, yen ingkang rama mĂȘksa kondur mĂȘnyang Majapahit, Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane, dene yen arĂȘp ngaturi jumĂȘnĂȘng Nata maneh, aja ana ing tanah Jawa, amarga mĂȘsthi bakal ngribĂȘdi lakune wong kang padha arĂȘp salin agama Islam, supaya dijumĂȘnĂȘngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa.
Sunan Giri banjur nyambungi pangandika, mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala, Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bĂȘcik ditĂȘnung bae, awit yen mateni wong kapir ora ana dosane.


Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panĂȘmune Sunan Giri kang mangkono mau.
GĂȘnti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ĂȘnggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kĂȘlunta-lunta, sabĂȘn desa diampiri, saka ĂȘnggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya.


Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis tĂȘkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendĂȘl ana sapinggiring beji. Ing wĂȘktu iku panggalihe Sang Prabu pĂȘtĂȘng bangĂȘt, dene sing marak ana ngarsane mung kĂȘkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gĂȘguyon, lan padha mikir kahaning lĂȘlakon kang mĂȘntas dilakoni, ora antara suwe kĂȘsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabĂȘkti sumungkĂȘm padane Sang Prabu.
Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe tĂȘka ana apa? Apa prĂȘlune nututi aku?”


Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjĂȘnĂȘngan paduka, kapanggiha wontĂȘn ing pundi-pundi, sĂȘmbah sungkĂȘmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrĂȘbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botĂȘn sumĂȘrĂȘp tata krami, sangĂȘt kapenginipun mĂȘngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalĂȘpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyĂȘngkakakĂȘn saking ngandhap aparing darajat Adipati ing DĂȘmak, tangeh malĂȘsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjĂȘnĂȘngan paduka linggar saking praja botĂȘn kantĂȘnan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mĂȘsthi manggih dĂȘdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjĂȘnĂȘngan paduka, kapanggiha wontĂȘn ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, tĂȘtĂȘpa kados ingkang wau-wau, mĂȘngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jĂȘjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujĂȘngipun wontĂȘn ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakĂȘn pĂȘjah gĂȘsang, yen kaparĂȘng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalĂȘpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing DĂȘmak, tĂȘtĂȘpa kados ingkang sampun. Dene yen panjĂȘnĂȘngan paduka botĂȘn karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontĂȘn ing rĂȘdi, ing pundi sasĂȘnĂȘnging panggalih paduka, ing rĂȘdi ingkang karsakakĂȘn badhe dipundhĂȘpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila tĂȘrusing panggalih”.


Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rĂȘmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarĂȘp nanging jĂȘbul anjĂȘnggung ing buri, rĂȘmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picĂȘka mataku siji. Sakawit ingsun bĂȘciki, walĂȘse kaya kĂȘnyung buntut, apa ta salah-ingsun, tĂȘka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pĂȘrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa kang utama”.


Sunan Kalijaga barĂȘng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ĂȘnggone melu mbĂȘdhah karaton Majapahit, ing batin bangĂȘt panalangsane, dene kadudon kang wis kĂȘbanjur, mula banjur ngrĂȘrĂȘpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatĂȘng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapĂȘtĂȘk wontĂȘn ing ĂȘmbun, mandar amĂȘwahana cahya nurbuwat ingkang wĂȘning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalĂȘpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntĂȘn paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatĂȘng pundi?”
Sang Prabu Brawijaya ngandika:

 

“Saiki karsaningsun arsa tindak mĂȘnyang Bali, kĂȘtĂȘmu karo yayi Prabu Dewa agung ing KĂȘlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samĂȘkta sakapraboning pĂȘrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wĂȘruh, yen anake karo pisan satĂȘkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wĂȘruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arĂȘp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mĂȘtu lanang siji, ananging ora wĂȘruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samĂȘkta sakapraboning pĂȘrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samĂȘkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lĂȘlabĂȘtan kabĂȘcikaningsun, lan duwe wĂȘlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yĂȘkti padha tĂȘka ing Bali sagĂȘgamaning pĂȘrang, sun-jak marang tanah Jawa angrĂȘbut kapraboningsun, iya sanadyan pĂȘrang gĂȘdhe gĂȘgĂȘmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.”


Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhĂȘlĂȘg-dhĂȘlĂȘg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai AgĂȘng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrĂȘgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gĂȘgĂȘr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pĂȘrang gĂȘdhe tur wadya ing DĂȘmak masa mĂȘnanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping tĂȘlune kang mbĂȘciki, wis mĂȘsthi bae wong Jawa kang durung Islam yĂȘkti asih marang Ratu tuwa, angantĂȘp tangkĂȘping jurit, mĂȘsthi asor wong Islam tumpĂȘs ing pĂȘpĂȘrangan.”


Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun JĂȘng Sang Prabu! saupami paduka lajĂȘngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pĂȘrang gĂȘgĂȘmpuran, punapa botĂȘn ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nĂȘmahi kasoran, panjĂȘnĂȘngan paduka jumĂȘnĂȘng Nata botĂȘn lami lajĂȘng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sĂȘgawon rĂȘbatan bathang, ingkang kĂȘrah tulus kĂȘrah tĂȘtumpĂȘsan sami pĂȘjah sadaya daging lan manah kathĂȘda ing sĂȘgawon sanesipun”.

 

Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nĂȘtĂȘpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bĂȘnĂȘr paningalku, kang miturut adat pranatane para lĂȘluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kĂȘpengin dadi Ratu, disuwun krananing bĂȘcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bĂȘcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warĂȘg jumĂȘnĂȘng Ratu, nrima dadi pandhita, pitĂȘkur ana ing gunung. Balik samĂȘngko si Patah siya mring sun, mĂȘsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.”


Sunan Kalijaga barĂȘng mirĂȘng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkĂȘmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsĂȘm manawa mĂȘruhi lĂȘlakon kang saru.


Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggĂȘg, mula nganti suwe ora ngandika tansah tĂȘbah jaja karo nĂȘnggak waspa, sĂȘrĂȘt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bĂȘcik, tak-timbange aturmu, bĂȘnĂȘr lan lupute, tĂȘmĂȘn lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mĂȘnyang aku, gĂȘthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicĂȘkĂȘl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprĂȘdi sĂȘmbahyang, yen ora ngrĂȘti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.”


Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirĂȘn, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyĂȘkrukuk, kok dikum ing banyu”.
Sunan Kalijaga gumujĂȘng karo matur: “Mokal manawi makatĂȘn, benjing kula ingkang tanggĂȘl, botĂȘn-botĂȘnipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatĂȘng panjĂȘnĂȘngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjĂȘnĂȘngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajĂȘng nyĂȘbut asmaning Allah, manawi botĂȘn karsa punika botĂȘn dados punapa, tiyang namung bab agami, pikĂȘkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrĂȘtos sahadat punika inggih tĂȘtĂȘp nama kapir”.

Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrĂȘti, coba ucapna tak-rungokne”.
Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, tĂȘgĂȘsipun: Ingsung anĂȘkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anĂȘkseni, KangjĂȘng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”.


Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nĂȘmbah dhatĂȘng arah kemawon, botĂȘn sumĂȘrĂȘp wujud tĂȘgĂȘsipun, punika tĂȘtĂȘp kapiripun, lan malih sintĂȘn tiyang ingkang nĂȘmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nĂȘmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prĂȘlu mangrĂȘtos dhatĂȘng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kĂȘdah sumĂȘrĂȘp dhatĂȘng ingkang dipunucapakĂȘn, dene tĂȘgĂȘsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botĂȘn muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wĂȘwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados ĂȘndhut, kasĂȘbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkĂȘs dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wĂȘruh badan, kaping kalih wĂȘruh ing tĂȘdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan tĂȘdhi dados nyĂȘbut Mukhammad rasulu’llah, mila sĂȘmbahyang mungĂȘl “uzali” punika tĂȘgĂȘsipun nyumĂȘrĂȘpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, tĂȘgĂȘsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mĂȘdal saking badan kang mĂȘnga, lantaran ashadualla, manawi botĂȘn mĂȘngrĂȘtos tĂȘgĂȘsipun sahadat, botĂȘn sumĂȘrĂȘp rukun Islam, botĂȘn mangrĂȘtos purwaning dumados”.


Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora tĂȘdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora tĂȘdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kĂȘna diparasi.


Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyĂȘbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”.


Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumĂȘksa tanah Jawa. SintĂȘn ingkang jumĂȘnĂȘng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lĂȘluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, SakutrĂȘm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajĂȘr Jawi, kula manawi tilĂȘm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilĂȘm tamtu wontĂȘn pĂȘpĂȘrangan sadherek mĂȘngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nĂȘdha jalma, sami nĂȘdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajĂȘr Jawi, botĂȘn wontĂȘn ingkang ewah agamanipun, nĂȘtĂȘpi wiwit sapisan ngestokakĂȘn agami Buddha. SawĂȘg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi tĂȘgĂȘsipun ngrĂȘti, tĂȘka narimah nama Jawan, rĂȘmĂȘn manut nunut-nunut, pamrihipun damĂȘl kapiran muksa paduka mbenjing.”


Sabdane Wiku tama sinauran gĂȘtĂȘr-patĂȘr.
Sang Prabu Brawijaya sinĂȘmonan dening Jawata, ĂȘnggone karsa mlĂȘbĂȘt agama Rasul, iya iku rĂȘrupan kahanan ing dunya ditambahi warna tĂȘlu: 1: aran sukĂȘt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi.
Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kĂȘkĂȘncĂȘnganmu, apa gĂȘlĂȘm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyĂȘbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyĂȘbut asmaning Allah Kang Sajati?”


Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Paduka mlĂȘbĂȘt piyambak, kula botĂȘn tĂȘgĂȘl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika tĂȘgĂȘsipun ngukum, tur siya dhatĂȘng raga, manawi kula santun agami, saestu damĂȘl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalĂȘm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botĂȘn urus, ngalĂȘm saening tangga, ngapĂȘsakĂȘn badanipun piyambak, kula rĂȘmĂȘn agami lami, nyĂȘbut Dewa Ingkang Linangkung.


Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatĂȘng eling budi karĂȘpan, dados botĂȘn ngapirani, manawi nyĂȘbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, tĂȘgĂȘse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing ĂȘndhut, namung tansah nĂȘdha eca, botĂȘn ngengĂȘti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi tĂȘgĂȘsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatĂȘng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajĂȘng manggen wontĂȘn pundi. Adam punika muntĂȘl kaliyan Hyang Brahim, tĂȘgĂȘsipun kĂȘbrahen nalika gĂȘsangipun, botĂȘn manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabĂȘn awon, bapa biyung botĂȘn damĂȘl, mila dipunwastani anak, wontĂȘnipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bĂȘkta dhatĂȘng pundi kemawon, manawi dados dhĂȘmit ingkang tĂȘngga siti, makatĂȘn punika ingkang nistha, namung prĂȘlu nĂȘnggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatĂȘn wau tĂȘtĂȘp botĂȘn wontĂȘn prĂȘlunipun.

 

Ingkang makatĂȘn punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gĂȘsangipun dereng nĂȘdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pĂȘjah dados setan, nĂȘdha siti ngajĂȘng-ajĂȘng tiyang ngirim sajen tuwin slamĂȘtanipun, ing tĂȘmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatĂȘng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pĂȘjah botĂȘn kĂȘbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mĂȘsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”.


Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”.
Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gĂȘsangipun rugi, botĂȘn gadhah kawruh kaengĂȘtan, dereng nĂȘdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pĂȘjah ingkang utami, dene pĂȘjah ingkang utami punika sewu satus tĂȘlung puluh. TĂȘgĂȘsipun satus punika putus, tĂȘlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgĂȘng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botĂȘn mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mĂȘsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi.

 

Surup tĂȘgĂȘsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nĂȘtĂȘpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prĂȘnahipun mlĂȘbĂȘt mbĂȘkta sir cipta lami”.
Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kĂȘsasar, kados dene kĂȘmladeyan tumemplek wit-witan agĂȘng, botĂȘn bawa piyambak, kamuktenipun namung nĂȘmpil. Punika botĂȘn pĂȘjah utami, pĂȘjahipun tiyang nistha, rĂȘmĂȘnipun namung nempel, nunut-nunut, botĂȘn bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajĂȘng klambrangan, dados brĂȘkasakan, lajĂȘng nempel dhatĂȘng sanesipun malih”.


Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mĂȘnyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”.
Sabdapalon: “Punika pĂȘjahipun tiyang kalap nglawong, botĂȘn iman ‘ilmi, nalika gĂȘsangipun kados kewan, namung nĂȘdha ngombe lan tilĂȘm, makatĂȘn punika namung sagĂȘd lĂȘma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gĂȘsangipun salĂȘbĂȘtipun pĂȘjah”.


Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lĂȘbu”.
Sabdapalon: “Inggih punika pĂȘjahipun tiyang cubluk, dados setan kuburan, nĂȘnggani daging wontĂȘn kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botĂȘn mangrĂȘtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrĂȘtosa. Nun!”


Sang Prabu ngandika: “Aku arĂȘp muksa saragaku”.
Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul tĂȘrang botĂȘn sagĂȘd muksa, botĂȘn kuwawi ngringkĂȘs nguntal raganipun, lĂȘma kakathahĂȘn daging. Tiyang pĂȘjah muksa punika cĂȘlaka, amargi nami pĂȘjah, nanging botĂȘn tilar jisim, namanipun botĂȘn sahadat, botĂȘn pĂȘjah, botĂȘn gĂȘsang, botĂȘn sagĂȘd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhĂȘmit”.


Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”.

 

Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botĂȘn ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwĂȘnangakĂȘn nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botĂȘn prĂȘlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”.
Sang Prabu: “Ciptaku arĂȘp mulih mĂȘnyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”.


Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bĂȘkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mĂȘngku ‘alam sahir kabir, nalika tapĂȘl Adam, sampun pĂȘpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatĂȘng akhirat pundi, mangke manawi kĂȘsasar lo, mangka ĂȘnggene akhirat punika tĂȘgĂȘse mlarat, saĂȘnggen- ĂȘnggen wontĂȘn akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatĂȘng kamlaratan sarta minggah dhatĂȘng akhirat adil nagari, manawi lĂȘpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damĂȘl awrat tur botĂȘn tampa arta.

 

KlĂȘbĂȘt akhirat nusa SrĂȘnggi, nusa tĂȘgĂȘsipun manusa, SrĂȘng tĂȘgĂȘsipun padamĂȘlan ingkang awrat sangĂȘt. Ênggi tĂȘgĂȘsipun gawe. Dados tĂȘgĂȘsipun jalma pinĂȘksa nyambut damĂȘl dhatĂȘng Ratu Nusa SrĂȘnggi namanipun, punapa botĂȘn cilaka, tiyang gĂȘsang wontĂȘn ing dunya kados makatĂȘn wau, sakulawargane mung nadhah bĂȘras sapithi, tanpa ulam, sambĂȘl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pĂȘjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatĂȘng akhirat, sampun ngantos minggah dhatĂȘng swarga, mindhak kĂȘsasar, kathah rajakaya ingkang wontĂȘn ing ngriku, sadaya sami trima tilĂȘm kĂȘmul siti, gĂȘsangipun nyambut damĂȘl kanthi paksan, botĂȘn salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botĂȘn kantha botĂȘn warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontĂȘn ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng tĂȘpang, tĂȘpangipun amung tĂȘpang kados cahyanipun lintang lan rĂȘmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botĂȘn pisah botĂȘn kumpul, tĂȘbihipun botĂȘn mawi wangĂȘnan, cĂȘlak botĂȘn panggihan, kula botĂȘn kuwawi cĂȘlak, punapa malih paduka, KangjĂȘng Nabi Musa toh botĂȘn kuwawi mandĂȘng dhatĂȘng Gusti Allah, mila Allah botĂȘn katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sĂȘpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botĂȘn wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pĂȘjah gĂȘsang, ingkang gĂȘsang napasipun taksih lumampah, tĂȘgĂȘsipun urip, ingkang tĂȘtĂȘp langgĂȘng, botĂȘn ewah botĂȘn gingsir, ingkang pĂȘjah namung raganipun, botĂȘn ngraosakĂȘn kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sĂȘpuh, suksmanipun mĂȘdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sĂȘpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgĂȘng, botĂȘn ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.


Prabu Brawijaya botĂȘn anem botĂȘn sĂȘpuh, nanging langgĂȘng manggen wontĂȘn satĂȘngahipun jagadipun, lumampah botĂȘn ebah saking panggenanipun, wontĂȘn salĂȘbĂȘting guwa sir cipta kang ĂȘning. GawanĂȘn gĂȘgawanmu, ngGĂȘgawa nĂȘdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plĂȘsatipun wĂȘtaha. Ningali jantung kĂȘtĂȘg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cĂȘtha cĂȘthik cĂȘthak.

 

Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. LĂȘbĂȘtipun roh saking cĂȘthak marginipun, kendĂȘl malih wontĂȘn cĂȘthik, mĂȘdal wontĂȘn kalamwadi, kentir sagara rahmat lajĂȘng lumĂȘbĂȘt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontĂȘn ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontĂȘn tĂȘngahing jagad swarganing tiyang sĂȘpuh estri, mila jalma keblatipun wontĂȘn tĂȘngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbĂȘkta dhatĂȘng pundi- pundi botĂȘn ewah, umuripun sampun dipunpasthekakĂȘn, botĂȘn sagĂȘd ewah gingsir, sampun dipunsĂȘrat wontĂȘn lokhil-makful, bĂȘgja cilakanipun gumantung wontĂȘn ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bĂȘgjanipun.

 

Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : tĂȘgĂȘsipun wetan : wiwitan manusa maujud; tĂȘgĂȘsipun kulon : bapa kĂȘlonan; tĂȘgĂȘsipun kidul : estri didudul wĂȘtĂȘnge ing tĂȘngah; tĂȘgĂȘsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sĂȘnteg sapisan tĂȘnunan sampun nigasi. TĂȘgĂȘsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhĂȘp dhatĂȘng wujud; jumbuh punika tĂȘgĂȘsipun pĂȘpak, sarwa wontĂȘn, mĂȘngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sĂȘpuhipun estri, sarĂȘng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarĂȘp adhi ragil, kakang mbarĂȘp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarĂȘng tanggal gaibipun, rumĂȘksa gĂȘsangipun elingipun panjanmaning surya, lĂȘnggah rupa cahya, kontĂȘning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumĂȘlang dhatĂȘng sadaya rĂȘrupen, ingkang engĂȘt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha.

 

Raga punika dipunibaratakĂȘn baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontĂȘn ing baita wau, ingkang nĂȘdahakĂȘn pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pĂȘcah, tiyangipun rĂȘbah. Pramila kĂȘdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botĂȘn mapan gĂȘsangipun, pĂȘjah malih sagĂȘda mapan, nĂȘtĂȘpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; tĂȘgĂȘsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah tĂȘgĂȘsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajĂȘng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatĂȘng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrĂȘtitis ingkang botĂȘn-botĂȘn, yen tunggal, kabĂȘsaran, tanggalipun botĂȘn surup salaminipun, punika kĂȘdah ingkang waspada, ngengĂȘtana dhatĂȘng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wĂȘnang matur dhatĂȘng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami.

 

Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagĂȘd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gĂȘsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rĂȘmuk, manawi suksma punika pĂȘjah ing ‘alam dunya suwung, botĂȘn wontĂȘn tiyang, manawi tiyang punika tĂȘrus gĂȘsang, ing dunya kĂȘbak manusa, lampahipun saking ĂȘnem urut sĂȘpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pĂȘjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagĂȘd manjalma dados tiyang (kajĂȘngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak).

 

Nalika panjĂȘnĂȘnganipun Bathara Wisnu jumĂȘnĂȘng Nata wontĂȘn ing MĂȘndhang Kasapta, sato wana tuwin lĂȘlĂȘmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontĂȘn ing Gajahoya, sato wana tuwin lĂȘlĂȘmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. SĂȘrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok tĂȘgĂȘsipun namung puji thok.

 

Dewa ingkang damĂȘl cahya murub nyrambahi badan, tĂȘgĂȘsipun incĂȘngĂȘn aneng cĂȘngĂȘlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk tĂȘgĂȘsipun panakna. Timbangan tĂȘgĂȘsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontĂȘn ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gĂȘsang, gĂȘsang langgĂȘng ingkang botĂȘn sagĂȘd pĂȘjah. TĂȘpak tĂȘgĂȘsipun tĂȘpa-tapanira. Walikat: walikane gĂȘsang.

 

Ula-ula: ulatana, lalarĂȘn gĂȘgĂȘrmu sing nggligir. Sungsum tĂȘgĂȘsipun sungsungĂȘn. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. LĂȘmpeng kiwa tĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘsipun tekadmu sing lĂȘmpĂȘng lair batin, purwa bĂȘnĂȘr lawan luput, bĂȘcik lawan ala. Mata tĂȘgĂȘsipun tingalana batin siji, sing bĂȘnĂȘr keblatira, keblat lor bĂȘnĂȘr siji. TĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘsipun tĂȘngĂȘnĂȘn ingkang tĂȘrang, wontĂȘn ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botĂȘn damĂȘl botĂȘn tumbas. Kiwa tĂȘgĂȘsipun: raga iki isi hawa kĂȘkajĂȘngan, botĂȘn wĂȘnang ngĂȘkahi pĂȘjah.

 

MakatĂȘn punika ungĂȘling sĂȘrat. Manawi paduka maibĂȘn, sintĂȘn ingkang damĂȘl raga? SintĂȘn ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibĂȘn, paduka tĂȘtĂȘp kapir, kapiran seda paduka, botĂȘn pitados dhatĂȘng sĂȘratipun Gusti, sarta murtat dhatĂȘng lĂȘluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajĂȘng sela, dados dhĂȘmit tĂȘngga siti, manawi paduka botĂȘn sagĂȘd maos sastra ingkang wontĂȘn ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatĂȘng kuwuk, dene manawi sagĂȘd sagĂȘd maos sastra ingkang wontĂȘn ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasĂȘbut ing sĂȘrat Anbiya, KanjĂȘng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pĂȘjah wontĂȘn ing kubur, lajĂȘng tangi malih, gĂȘsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal.

 

Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajĂȘng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglĂȘbĂȘt inggih jawi, dados kantun sasĂȘdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagĂȘd sami sanalika, manawi kula kĂȘpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sĂȘdya ngadam, inggih sagĂȘd ical sami sanalika, yen sĂȘdya maujud sagĂȘd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botĂȘn katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botĂȘn ĂȘnem botĂȘn sĂȘpuh, botĂȘn pĂȘjah botĂȘn gĂȘsang, gĂȘsangipun nglimputi salĂȘbĂȘting pĂȘjahipun, dene pĂȘjahipun nglimputi salĂȘbĂȘting gĂȘsangipun, langgĂȘng salaminipun”.


Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngĂȘndi Pangeran Kang Sajati?”
Sabdapalon matur: “BotĂȘn tĂȘbih botĂȘn cĂȘlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggĂȘp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botĂȘn pisah, nanging inggih botĂȘn kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botĂȘn badhe kĂȘkilapan dhatĂȘng atur-kula punika”.
Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”


Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Manut agami lami, dhatĂȘng agami enggal botĂȘn manut! Kenging punapa paduka gantos agami tĂȘka botĂȘn nantun kula, paduka punapa kĂȘkilapan dhatĂȘng nama kula Sabdapalon? Sabda tĂȘgĂȘsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya tĂȘgĂȘsipun ulat, Genggong: langgĂȘng botĂȘn ewah. Dados wicantĂȘn-kula punika, kenging kangge pikĂȘkah ulat pasĂȘmoning tanah Jawi, langgĂȘng salaminipun.”


Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kĂȘbacut mlĂȘbu agama Islam, wis disĂȘkseni Sahid, aku ora kĂȘna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digĂȘguyu bumi langit.”


Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botĂȘn tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prĂȘlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangĂȘt, sarta matur yen arĂȘp nyipta banyu kang ana ing beji, prĂȘlu kanggo tandha yĂȘkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantĂȘp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sĂȘndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantĂȘp marang agama Rasul, amarga banyu sĂȘndhang gandane wangi. (11)


Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasĂȘkten punapa? kasĂȘktening uyuh kula wingi sontĂȘn, dipunpamerakĂȘn dhatĂȘng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mĂȘngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rĂȘbat punika? Paduka sampun kĂȘlajĂȘng kĂȘlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rĂȘmĂȘn manut nunut-nunut, tanpa guna kula ĂȘmong, kula wirang dhatĂȘng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botĂȘn rĂȘmĂȘn momong paduka. Manawi kula sumĂȘdya ngĂȘdalakĂȘn kaprawiran, toya kula-ĂȘntut sĂȘpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botĂȘn pitados, kang kasĂȘbut ing pikĂȘkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rĂȘdi rĂȘdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wĂȘkdal samantĂȘn tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agĂȘnging latu ingkang wontĂȘn ing ngandhap siti, rĂȘdi-rĂȘdi sami kula ĂȘntuti, pucakipun lajĂȘng anjĂȘmblong, latunipun kathah ingkang mĂȘdal, mila tanah Jawi lajĂȘng botĂȘn goyang, mila rĂȘdi-rĂȘdi ingkang inggil pucakipun, sami mĂȘdal latunipun sarta lajĂȘng wontĂȘn kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damĂȘl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damĂȘl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagĂȘd matur piyambak dhatĂȘng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yĂȘktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apĂȘs, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rĂȘmĂȘn nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrĂȘti.


Cobi paduka-yĂȘktosi, benjing: sasi murub botĂȘn tanggal, wiji bungkĂȘr botĂȘn thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanĂȘma thukul mriyi, namung kangge tĂȘdha pĂȘksi, mriyi punika pantun kados kĂȘtos, amargi paduka ingkang lĂȘpat, rĂȘmĂȘn nĂȘmbah sela. Paduka-yĂȘktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wĂȘwah bĂȘnter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rĂȘmĂȘn dora, kĂȘndĂȘl tindak nistha tuwin rĂȘmĂȘn supata, jawah salah masa, damĂȘl bingungipun kanca tani. Wiwit dintĂȘn punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrĂȘtobat, sami engĂȘt dhatĂȘng agami Buddha malih, lan sami purun nĂȘdha woh kawruh, Dewa lajĂȘng paring pangapura, sagĂȘd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”.


Sang Prabu mirĂȘng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangĂȘt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ĂȘnggone mlĂȘbĂȘt agama Islam iku, amarga kĂȘpencut ature putri CĂȘmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.
Sabdapalon matur, angaturake lĂȘpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mĂȘsthi nĂȘmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wĂȘnang miwiti karĂȘp, Sabdapalon akeh-akeh ĂȘnggone nutuh marang Sang Prabu.


Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kĂȘbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kĂȘkĂȘncĂȘnganing tekadmu? Yen aku mono ĂȘnggonku mlĂȘbu agama Islam, wis disĂȘkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mĂȘnyang Buddha mĂȘneh”.


Sabdapalon matur yen arĂȘp misah, barĂȘng didangu lungane mĂȘnyang ngĂȘndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nĂȘtĂȘpi jĂȘnĂȘnge SĂȘmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyĂȘktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajĂȘnĂȘng tuwa, agĂȘgaman kawruh, iya iku sing diĂȘmong Sabdapalon, wong jawan arĂȘp diwulang wĂȘruha marang bĂȘnĂȘr luput.


Sang Prabu karsane arĂȘp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nĂȘnggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jĂȘnĂȘng nagara Banyuwangi, dadiya tĂȘngĂȘr Sabdapalon ĂȘnggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samĂȘngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nĂȘngĂȘri banyu sĂȘndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh.
Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sĂȘndhang. Banyu sĂȘndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh.

 

Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpĂȘli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.
Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawĂȘngen ana ing dalan, nyare ana ing SumbĂȘrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srĂȘngenge, wis tĂȘkan ing Panarukan.

 

Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.
BarĂȘng wis wayah surup srĂȘngenge, tĂȘkan ing BĂȘsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nĂȘrusake tindake nganti wayah surup srĂȘngenge, tĂȘkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawĂȘngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kĂȘrĂȘp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sĂȘndhang barĂȘng ditiliki gandane dadi bangĂȘr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jĂȘnĂȘnge loro, Prabalingga karo BangĂȘrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintĂȘran lan kabatinan, Prabalingga tĂȘgĂȘse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis tĂȘkan ing Ampelgadhing. Nyai AgĂȘng Ampelgadhing tumuli mĂȘthukake banjur ngabĂȘkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sĂȘsambate.


Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis ĂȘngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lĂȘlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. BĂȘgja cilaka ora kĂȘna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kĂȘpengin mĂȘnyang ilmu”.


Nyai AgĂȘng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasĂȘbut ing ngarĂȘp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mĂȘnyang DĂȘmak nggawa layang, satĂȘkane ing DĂȘmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mĂȘnyang Ampel.

Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirĂȘng pawarta yen nagara Majapahit dibĂȘdhah Adipati DĂȘmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mĂȘnyang ngĂȘndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngĂȘndi dununge ingkang rama, satĂȘkane Surabaya, mirĂȘng warta yen ingkang rama Sang Prabu tĂȘdhak ing Ampel, nanging banjur gĂȘrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabĂȘkti.

 

 

Sang Prabu ndangu: “Sing ngabĂȘkti iki sapa?”

Raden Bondhankajawan matur yen panjĂȘnĂȘngane kang ngabĂȘkti.
Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gĂȘrahe Sang Prabu sangsaya mbatĂȘk, ngrumaosi yen wis arĂȘp kondur marang jaman kalanggĂȘngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyĂȘdhaka mrene, aku wis arĂȘp mulih marang jaman kalanggĂȘngan, kowe gaweya layang mĂȘnyang PĂȘngging lan Pranaraga, mĂȘngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake MajalĂȘngka, aja padha ngrĂȘbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pĂȘrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang DĂȘmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apĂȘsa.”


Sunan Kalijaga banjur nyĂȘrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang PĂȘngging lan Pranaraga.
Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune ĂȘmongĂȘn, manawa ana bĂȘgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajĂȘre tanah Jawa, lan maneh wĂȘkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggĂȘngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jĂȘnĂȘng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri CĂȘmpa, lan maneh wĂȘlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pĂȘrang wong kang seje bangsa.”


Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botĂȘn paring idi dhatĂȘng ingkang putra Prabu Jimbun jumĂȘnĂȘngipun Nata wontĂȘn ing tanah Jawi?”

Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhĂȘg tĂȘlung turunan.”
Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh tĂȘgĂȘse araning bakal pasareyane Sang Prabu.


Sang Prabu ngandika: “Sastra tĂȘgĂȘse tulis, Wulan tĂȘgĂȘse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gĂȘbyaring wulan, yen isih ana gĂȘbyaring wulan, ing tĂȘmbe buri, wong Jawa padha wĂȘruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri CĂȘmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggĂȘp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ĂȘnggonku mangĂȘni madĂȘge Ratu mung tĂȘlung turunan, amarga si Patah iku wiji tĂȘlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wĂȘkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapĂȘsake urip, mula aku paring piwĂȘling aja gawe senapati pĂȘrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisĂȘn.”


Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakĂȘp, tĂȘrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katĂȘlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri CĂȘmpa, dene mungguh satĂȘmĂȘne Putri CĂȘmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning.


BarĂȘng wis tĂȘlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai AgĂȘng.
Nyai AgĂȘng ngandika: “Wis bĂȘgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama, dadi ora bisa ngabĂȘkti sarta nyuwun idi ĂȘnggone jumĂȘnĂȘng Nata, sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kĂȘlakon”.
Prabu Jimbun ature marang Nyai AgĂȘng, iya mung mupus pĂȘpĂȘsthen, barang wis kĂȘbacut iya mung kudu dilakoni.


Sultan DĂȘmak ana ing Ampel tĂȘlung dina lagi kondur.
Kacarita Adipati PĂȘngging lan Pranaraga, iya iku Adipati Andayaningrat ing PĂȘngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis padha mirĂȘng pawarta yen nagara Majapahit dibĂȘdhah Adipati DĂȘmak, nanging ĂȘnggone mbĂȘdhah sinamun sowan riyaya, dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja, ora karuhan jujuge ana ing ngĂȘndi, Adipati PĂȘngging lan Adipati Pranaraga bangĂȘt dukane, mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumĂȘdya nglurug pĂȘrang marang DĂȘmak, labuh bapa ngrĂȘbut praja, para wadya-bala wis rumanti gĂȘgamaning pĂȘrang pupuh, mung kari budhale bae, kasaru tĂȘkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati PĂȘngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos, layang banjur disungkĂȘmi kanthi bangĂȘt ing pamuwune lan bangĂȘt anjĂȘntung panggalihe, tansah gedheg-gedheg lan gĂȘrĂȘng-gĂȘrĂȘng, wajane kĂȘrot-kĂȘrot, surya katon abang kaya gĂȘni, lan kawiyos pangandikane sĂȘru, kang surasane nyupatani marang panjĂȘnĂȘngane dhewe, muga aja awet urip, mundhak ndĂȘdawa wirang.


Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang DĂȘmak, amarga saka putĂȘking panggalihe banjur padha gĂȘrah, ora antara lawas padha nĂȘmahi seda, dene kaol kang gaib, sedane Adipati PĂȘngging lan Adipati Pranaraga padha ditĂȘnung dening Sunan Giri, pamrihe supaya aja ngribĂȘdi ing tĂȘmbe buri. Mula carita bĂȘdhahe Majapahit iku mung dicĂȘkak, ora satimbang karo gĂȘdhene nagara sarta ambane jajahane, amarga aran ambuka wĂȘwadining ratu, putra mungsuh bapa, yen dirasa satĂȘmĂȘne saru bangĂȘt. Mula carita bĂȘdhahe Majapahit sinĂȘmonan dening para pujangga wicaksana, mangkene pasĂȘmone:

Amarga saka kramate para Wali, kĂȘrise Sunan Giri ditarik mĂȘtu tawone ngĂȘntupi wong Majapahit.

Sunan CirĂȘbon badhonge mĂȘtu tikuse maewu-ewu, padha mangani sangu lan bĂȘkakas jaran, wong Majapahit bubar, amarga wĂȘruh akehing tikus.

PĂȘthi saka Palembang ana satĂȘngahing paprangan dibukak mĂȘtu dhĂȘmite, wong Majapahit padha kagegeran amarga ditĂȘluh ing dhĂȘmit.

 

Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad.

Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul, kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasĂȘmon, mungguh sanyatane, carita bĂȘdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarĂȘp. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake, ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Alas angkĂȘr akeh dhĂȘmite, bubaring dhĂȘmit yen alase dirusak dening wong, arĂȘp ditanduri. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus, tawon lan dhĂȘmit, sapa kang ngandĂȘl yen rusake Majapahit amarga tikus, tawon lan dhĂȘmit, iku pratandha yen wong mau ora landhĂȘp pikire, amarga carita kang mangkono mau kalĂȘbu aneh lan ora mulih ing nalar, ora cocog lair lan batine, mula mung kanggo pasĂȘmon, yen dilugokake jĂȘnĂȘnge ambukak wadine Majapahit, mula mung dipralambangi pasĂȘmon kang orang mulih karo nalare. Dene tĂȘgĂȘse pasĂȘmon mau mangkene:


Tikus iku watake ikras-ikris, suwe-suwe yen diumbar banjur ngrĂȘbda, tĂȘgĂȘse: para ‘ulama dhek samana, nalika lagi tĂȘkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit, barĂȘng wis diparingi, piwalĂȘse ngrusak. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis, gĂȘgamane ana ing silit, dene panggonane ana ing gowok utawa tala, tĂȘgĂȘse: maune tĂȘkane nganggo tĂȘmbung manis, wusana ngĂȘntup saka ing buri, dene tala tĂȘgĂȘse mĂȘntala ngrusak Majapahit, sapa kang ngrungu padha gawok.

 

Dene dhĂȘmit diwadhahi pĂȘthi saka Palembang, barĂȘng dibukak muni jumĂȘglug, tĂȘgĂȘse: Palembang iku mlembang, iya iku ganti agama, pĂȘthi tĂȘgĂȘse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar, dhĂȘmit tĂȘgĂȘse samar, rĂȘmit, rungsid, dhĂȘmit iku uga tukang nĂȘluh. Mungguh gĂȘnahe mangkene: bĂȘdhahe nagara Majapahit sarana ditĂȘluh kalayan primpĂȘn lan samar, nalika arĂȘp pambĂȘdhahe ora ana rĂȘmbag apa-apa, samudanane mung sowan garĂȘbĂȘgan, dadi dikagetake, mula wong Majapahit ora sikĂȘp gĂȘgaman pĂȘrang, wĂȘruh-wĂȘruh Adipati TĂȘrung wis ambantu Adipati DĂȘmak.


Kuna-kunane ora ana praja gĂȘdhe kaya Majapahit bĂȘdhahe mung saka diĂȘntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae, apa dene bubare wong sapraja mung saka ditĂȘluh ing dhĂȘmit.
BĂȘdhahe Majapahit swarane jumĂȘgur, kĂȘprungu saka ing ngĂȘndi-ĂȘndi nagara, yen bĂȘdhahe saka binĂȘdhah dening putra, iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimĂȘmule wong Jawa, sangane Adipati DĂȘmak, kabeh mau padha mbalela mbalik.


Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi, sadurunge Majapahit bĂȘdhah, manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir, barĂȘng nagara wis ngalih marang DĂȘmak, kahanan ing dunya nuli malih, banjur ana manuk kuntul nganggo kucir.


Prabu Brawijaya sinĂȘmonan ing gaib: kĂȘbo kombang atine ĂȘntek dimangsa tuma kinjir, kĂȘbo tĂȘgĂȘse ratu sugih, kombang tĂȘgĂȘse mĂȘnĂȘng swarane kang mbrĂȘngĂȘngĂȘng, iya iku Prabu Brawijaya panggalihe tĂȘlas nalika bĂȘdhahe Majapahit, kajaba mung kendĂȘl gĂȘrĂȘng-gĂȘrĂȘng bae, ora karsa nglawan pĂȘrang, dene tuma kijir iku tumane celeng, tuma tĂȘgĂȘse tuman, celeng iku iya aran andhapan, iya iku Raden Patah nalika tĂȘkane ana ing Majapahit sumungkĂȘm marang ingkang rama Sang Prabu, ing wĂȘktu iku banjur diparingi pangkat, tĂȘgĂȘse oleh ati saka Sang Prabu, wusana banjur mukul pĂȘrang ngrĂȘbut nagara, ora ngetung bĂȘnĂȘr utawa luput, nganti ngĂȘntekake panggalihe Sang Prabu.


Dene kuntul nganggo kucir iku pasĂȘmone Sultan DĂȘmak, ĂȘnggone nyĂȘri-nyĂȘri marang ingkang rama Sang Prabu, dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur, mulane Gusti Allah paring pasĂȘmon, githok kuntul kinuciran, tĂȘgĂȘse: tolehĂȘn githokmu, ibumu Putri Cina, ora kĂȘna nyĂȘri-nyĂȘri marang wong seje bangsa, Sang Prabu Jimbun iku wiji tĂȘlu, purwane Jawa, iya iku Sang Prabu Brawijaya, mula Sang Prabu Jimbun gĂȘdhe panggalihe melik jumĂȘnĂȘng Nata, mulane melik ĂȘnggal sugih, amarga katarik saka ibune, dene ĂȘnggone kĂȘndĂȘl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar, amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa, sĂȘnĂȘng yen ngokop gĂȘtih, pambĂȘkane siya, mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah, ora mung Sunan DĂȘmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane, nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani, yen ora padha gĂȘlĂȘm ngrumasani kaluputane, dosane lair batin, mula jĂȘnĂȘnge Wali ditĂȘgĂȘsi Walikan: dibĂȘciki malĂȘs ngalani.


Dene anane bangsa Cina padha nĂȘnĂȘka ana ing tanah Jawa iku dĂȘdongengane mangkene: Jare, dhek jaman kuna, nalika santri Jawa durung akeh kawruhe, sawise padha mati, suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China, mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa, dadi suksmane bangsa mau, iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa.

Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?”
Kiyai Kalamwadi banjur nĂȘrangake: “Kang diarani agama Srani iku tĂȘgĂȘse sranane ngabĂȘkti: tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘn ngabĂȘkti marang Pangeran, ora nganggo nĂȘmbah brahala, mung nĂȘmbah marang Allah, mula sĂȘbutane Gusti KanjĂȘng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkono kang kasĂȘbut ing kitab Anbiya”.


Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi.
Sultan DĂȘmak waskitha ing gaib, rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane, nuli sowan andĂȘdagan ana ing pasareyane ingkang rama, barĂȘng wis antara tĂȘlung dina lawase, kaprĂȘnah pusĂȘring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat, siji warnane irĂȘng sĂȘmu abang dalah godhong sarta kĂȘmbange, loro wit sarta kĂȘmbange putih godhonge sĂȘdhĂȘngan, tĂȘlu wit kang godhonge ngrĂȘmbuyut mubĂȘng kaya payung, papat wit kang godhonge lĂȘmbut sarta mawa ĂȘri, lan wĂȘktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kĂȘprungu ana swara dumĂȘling, mangkene ujaring swara: “Êntek katrĂȘsnanku marang anak.

 

Den enak mangan turu. Ana gajah digĂȘtak kaya kucing, sanajan matiya ing tata-kalairane, nanging lah eling-elingĂȘn ing besuk, yen wis agama kawruh, ing tĂȘmbe bakal tak-walĂȘs, tak-ajar wĂȘruh ing nalar bĂȘnĂȘr lan luput, pranatane mĂȘngku praja, mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.”


Sultan DĂȘmak mirĂȘng swara dumĂȘling kang surasane mangkono iku, ing batos bangĂȘt kaduwung marang apa kang wis dilampahi, mula nganti suwe njĂȘgrĂȘg ora bisa ngandika, ngrumaosi klirune dene nuruti rĂȘmbuge para Sunan kabeh, nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan, dadi pasĂȘmon kabeh, iya iku Tlasih, SĂȘmboja, Turugajah lan GĂȘtakkucing. Mula nganti tumĂȘka saprene wit SĂȘmboja panggonane ana ing kuburan, kĂȘmbang Tlasih kanggo ngirim para lĂȘluhur, godonge GĂȘtakkucing yen kasenggol banjur obah, godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong GĂȘtakkucing.

 

 

Sawise mangkono, Sultan DĂȘmak banjur kondur, sakondure saka pasareyane ingkang rama, bangĂȘt panalangsane ing dalĂȘm batos, tansah ngrumaosi ing kalĂȘpatane.


Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinĂȘmonan dening Kang Maha Kuwasa, mula uga bangĂȘt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane, mula banjur mangagĂȘm sarwa wulung, beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane, mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula bangĂȘt mrĂȘtobate, wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah, sinĂȘmonan wiwit anane orong-orong githoke tumĂȘka ing punuk disĂȘsĂȘli tataling kayu jati, mungguh karĂȘpe: punukmu panakna, sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab, ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe,wujude puji thok, nanging dudu puji jatining kawruh, kang ngawruhi sajatining urip, urip dadi wayangan Dzating Pangeran, manusa bisa apa, mobah mosik mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake, sabda iku mĂȘtu saka ing karĂȘp, karĂȘp mĂȘtu saka ing budi, budi iku Dzate Kang Maha Agung, agung iku wis samĂȘkta, tanpa kurang tan wuwuh, tanpa luwih sarta ora arah ora ĂȘnggon.


Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima, muji marang Allah iku, iku sindhenan DharudhĂȘmble. TĂȘmbung dhar iku tĂȘgĂȘse wudhar, ru iku tĂȘgĂȘse ruwĂȘt sulit lan rungsit, dene dhĂȘmble tĂȘgĂȘse dhĂȘmbel dadi siji, yen wis sumurup tĂȘpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat, iku mau wis muji tanpa ngucap, sarak iku sarate ngaurip, iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota, sari’at iku saringane kawruh agal alus, tarekat iku kang nimbang lan nandhing bĂȘnĂȘr lan luput, hakekat iku wujud, wujud karsaning Allah, kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi, wĂȘruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. Yen kowe wis ngrĂȘti marang tĂȘgĂȘse DharudhĂȘmble, mĂȘsthi wis marĂȘm marang kawruhmu dhewe. Mangan woh kawruh lan budi, sĂȘmbahe kaya wĂȘsi kang dilabuh ana ing gĂȘni ilang abange mung rupa siji, kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji, dhĂȘmble wujud siji. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki, jĂȘnĂȘnge munajad. Saupama wong nulup manuk, yen ra wĂȘruh prĂȘnahe manuke, masa kĂȘnaa, ĂȘnggone nulup mung ngawur. Yen kawruhe wong pintĂȘr ora angel yen disawang, mĂȘtune saka ing utĂȘk”.


Darmagandhul matur, nyuwun ditĂȘrangake bab ĂȘnggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kĂȘsiku dening Pangeran, sabab saka ĂȘnggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satĂȘngahing taman Pirdus. Ana maneh kitab kang nĂȘrangake, kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun tĂȘrange, yen ing kitab Jawa caritane kapriye, kang nyĂȘbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani.
Kiyai Kalamwadi banjur nĂȘrangake, yen kitabe wong Jawa ora nyĂȘbutake bab mangkono iku, dene Sajarah Jawa iya ana kang nyĂȘbutake turun Adam, iya kitab Manik Maya.

 

Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi, amarga mundhak ngrĂȘribĂȘdi agama Rasul, sanadyan buku kang padha disimpĂȘni dening para wadya, iya dipundhut banjur diobongi, nalika sabĂȘdhahe Majapahit, sapa kang durung gĂȘlĂȘm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah, mula wong-wong ing kono padha wĂȘdi marang wisesaning Ratu. Dene wong-wong kang wis padha gĂȘlĂȘm salin agama Rasul, banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajĂȘg, mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam, amarga padha melik ganjaran. Ing wĂȘktu iku Sunan Kalijaga, kagungan panggalih, caritane lĂȘluhure supaya aja nganti pĂȘdhot, banjur iyasa wayang, kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lĂȘluhur Jawa, buku-buku sakarine, kang isih padha disimpĂȘn uga padha dipundhut kabeh, nanging wis padha amoh, Sang Nata ing Mataram andangu para wadya, nanging wis padha ora mĂȘnangi, wiwit Kraton GilingwĂȘsi nganti tumĂȘka Mataram wis ora kasumurupan caritane, buku-buku asli saka ing DĂȘmak lan Pajang padha dipriksa, nanging tinĂȘmu tulisan ‘Arab, kitab PĂȘkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh, mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ĂȘnggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga, andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa, ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngĂȘmungake wong siji bae, mula ora bisa padha gaweyane, kang diĂȘnggo pathokan layang Lokapala, mungguh caritane kaya kang kasĂȘbut ing ngisor iki”.


Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis, arane Sayid Anwar. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang, amarga wani- wani mangan wohe wit kayu Budi sĂȘngkĂȘrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran, ora narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae, nanging wohe kayu Budi kang disuwun. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe, ora karsa ngagĂȘm agamane ingkang rama lan ingkang eyang, dadi murtat sarta nampik agamane lĂȘluhure, mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis, pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak, mung waranane bae saka Adam lan Sis, dadine saka budi hawaning Pangeran.

 

Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantĂȘpi bangĂȘt, jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sĂȘpi, bali marang asale maneh. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karĂȘping atine, lakune mangetan nganti tumĂȘka ing tanah Dewani, ana ing kono banjur kĂȘtĂȘmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi, Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lĂȘlakone kabeh, wusanane Sayid Anwar diĂȘpek mantu sarta dipasrahi kaprabon, ngratoni para jin, jĂȘjuluk Prabu Nurcahya, wiwit jumĂȘnĂȘnge Prabu Nurcahya, jĂȘnĂȘnge nagara banjur diĂȘlih dadi aran nagara Jawa. Misuwure, kang jumĂȘnĂȘng Nata, Jawa jawi ngrĂȘti kawruh agal alus. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara, saucaping wong Jawa bisa kaucap, dijĂȘnĂȘngake Sastra Endra Prawata. TĂȘmbung Jawa, ditĂȘgĂȘsi: nguja hawa, karsane Sang Prabu: bisaa rowa, saturun-turune bisaa jumĂȘnĂȘng Nata mĂȘngkoni tanah Jawa.

 

Sang Prabu putrane siji pĂȘparab Sang Hyang Nurrasa, uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang WĂȘnang. Sang Hyang WĂȘnang uga dhaup karo putri jin, dene putrane uga mung siji kakung pĂȘparab Sang Hyang Tunggal, krama oleh putri jin. Sang Hyang Tunggal pĂȘputra Sang Hyang Guru, kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya, kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah, mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru, sarta ngakoni yen purwaning dumadi mĂȘtune asal saka budi hawa nĂȘpsu. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh, agamane Buddha budi, mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. SĂȘdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa, sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Dewa iku wĂȘrdine ana loro tĂȘgĂȘse: budi hawa, sarta: wadi dawa, mulane agamane Buddha. SĂȘbutan Dewi: tĂȘgĂȘse: dening wadining wadon iku bisa ngĂȘtokake ĂȘndhas bocah.


Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bĂȘnĂȘr kang ĂȘndi, mangan woh wit kayu Kawruh, apa wit kayu Budi, apa woh wit Kuldi?
Saka panimbange Darmagandhul, kabeh iku iya bĂȘnĂȘr, sĂȘnĂȘngan salah siji ĂȘndi kang disĂȘnĂȘngi, diantĂȘpi salah siji aja nganti luput. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi, agamane Buddha budi, panyĂȘbute marang Dewa; manawa mangan woh wit kawruh, pĂȘnyĂȘbute marang KangjĂȘng Nabi ‘Isa, agamane srani, yen sĂȘnĂȘng mangan woh wit kayu Kuldi, agamane Islam, sambate marang nabi panutan; iya iku Gusti KangjĂȘng Nabi Rasul; dene yen dhĂȘmĂȘn Godhong Kawruh Godhong Budi, panĂȘmbahe marang Pikkong, sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim; salah sijine aja nganti luput. Yen bisa woh-wohan warna tĂȘlu iku mau iya dipangan kabeh, yen wong ora mangan salah sijine woh mau, mĂȘsthine banjur dadi wong bodho, uripe kaya watu ora duwe kĂȘkarĂȘpan lan ora mangrĂȘti marang ala bĂȘcik.

 

Dene mungguh bĂȘcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae, dadi ora aran siya-siya marang uripe, yen Kalifah dhahar woh Budi, iya melu mangan woh Budi, yen Kalifah dhahar woh kawruh, iya melu mangan who kawruh, yen kalifah dhahar woh Kuldi, iya melu mangan woh Kuldi. Dene prakara bĂȘnĂȘr utawa lupute, uki Kalifah kang bakal tanggung. Sarehne diĂȘnut wong akeh, dadi Panutan kudu kang bĂȘnĂȘr, amarga wong dadi Panutan iku saupama tĂȘtuwuhan minangka wite. Yen wong ora gĂȘlĂȘm manut marang kang bĂȘnĂȘre kudu diĂȘnut, iku kaya dene iwak kang mĂȘtu saka ing banyu.

 

Saupama woh ora gĂȘlĂȘm nempel wit, mĂȘsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. Awit saka iku, mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake, amarga sanadyan saupama ana salahe, Gusti Allah mĂȘsthi paring pangapura. Darmagandhul matur nyuwun tĂȘrange agama Rasul lan liya-liyane, mungguh kang dadi bedane apa?


Kiyai Kalamwadi banjur nĂȘrangake beda-bedane, yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa, manusa didhawuhi muja marang agamane. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon, kaya ta kĂȘris, tumbak, utawa liya-liyane barang. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama, amarga banjur mangeran marang wujud, satĂȘmah lali marang Pangerane, amarga maro tingal marang barang rĂȘrupan. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama, amarga yen ora duwe agama mĂȘsthi duwe dosa, mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku, mung banyu suci, iya iku tekad suci lair batin. Kang diarani banyu tekad suci iku kang ĂȘning, iya iku minangka aduse manusa, bisa ngrĂȘsiki lair batine. Yen wong luwih, ora ngarĂȘp-arĂȘp munggah swarga, kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane, aja nganti nĂȘmu sangsara, bisaa duwe jĂȘnĂȘng kang bĂȘcik, sinĂȘbut kang utama, bisaa nikmat badan lan atine, mulya kaya maune, kaya nalika isih ana ing alam samar, ora duwe susah lan prihatin. Lawang swarga iku prĂȘlu dirĂȘsiki, dirĂȘngga ing tekad kang utama, supaya aja ngrĂȘribĂȘdi ana ing donyane, bisaa slamĂȘt lair batine. Kang diarani lawang swarga lan lawang nĂȘraka iku, pancadan kang tumuju marang kabĂȘgjan utawa kacilakan. Yen bĂȘcik narik raharja, yen ala ngundhuh cilaka, mula pangucap kang ala, mĂȘsthi mlĂȘbu yomani. Yen bĂȘcik, bisa tampa ganjaran.


Darmagandhul matur maneh, nyuwun tĂȘrange, manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene sastrane kok uga beda-beda. Iku maune kĂȘpriye, dalah tĂȘgĂȘse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?


Kyai Kalamwadi banjur nĂȘrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mĂȘthik who Kawruh lan woh Budi, pamĂȘthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa sastra, nanging sastrane nglimputi ing jĂȘro, lan manut wujud, iya iku kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para Auliya sarta para Nabi ĂȘnggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wĂȘruh, mula jĂȘnĂȘnge dalwang, tĂȘgĂȘse mĂȘtu wangune, mangsi tĂȘgĂȘse mangsit, dadi yen dalwang ditrapi mangsi, mĂȘsthi banjur mĂȘtu wangune, mangsit mangan kawruh, mula jĂȘnĂȘng kalam, amarga kawruhe anggawa alam.

 

Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangrĂȘten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrĂȘti sastra paringe Gusti Allah, mĂȘsthi ora mangĂȘrti marang wangsit. Auliya Gong Cu kumĂȘnthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh bangĂȘt cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kĂȘsusu mangan woh Kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi.

 

Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Ewadene mĂȘksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kĂȘsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe, jĂȘnĂȘnge sastra godhong. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh, dipĂȘthik saka sathithik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon. Auliya Cina kĂȘsiku, amarga arĂȘp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ĂȘnggone mangan woh wit kayu Budi nganti warĂȘg, mula ĂȘnggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe.

 

Auliya Arab ĂȘnggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangĂȘt. Dene ĂȘnggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah, dadine saka sabda, wujude dadi dhewe, mulane unine iya cĂȘtha, sastrane ora ana kang padha.

 


Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang, mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang ĂȘndi?


Saka panimbange Darmagandhul, kabeh mau iya bĂȘnĂȘr, nanging anggĂȘr mĂȘtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik, nanging wis bisa nyukupi, iku mratandhani yen luwih pintĂȘr tinimbang karo liya-liyane.


Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arĂȘp wĂȘruh sastrane Gusti Allah, tulisan mau ora kĂȘna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Yen mangkono iya bisa katon, Gusti Allah iku mung sawiji, nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Yen ndĂȘlĂȘng kudu nganggo ati kang bĂȘning, ora kĂȘna kacampuran pikiran kang warna-warna, sarta kudu kang mĂȘlĂȘng ĂȘnggone mawas, supaya ora bisa kliru karo kanyatane”.

 

Kiyai Kalamwadi lĂȘnggah diadhĂȘp garwane aran Endhang PrĂȘjiwati. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane, dadi nĂȘtĂȘpi jĂȘnĂȘnge priya kudu mulang muruk marang rabine. Dene kang diwulangake, bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumĂȘka ing pati, ing wong sĂȘsomahan iku. Kang wadon diupamakake omah, sanadyan kahanane wis sarwa bĂȘcik. Nanging sabĂȘn dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi, wong iku yen dipitakoni, satĂȘmĂȘne ragane wis bisa mangsuli, sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang, nanging ora mĂȘtu ing lesan, mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur.

 

Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk, dadi ora bisa aweh piwulang kang endah, aku mung arĂȘp pitakon marang ragamu, amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”.


Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa tĂȘgĂȘs dhewe, lan wis dadi piwulang kang bĂȘcik lan nyata, kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa, mung hawa kang katon. TĂȘmbung ki: iku tĂȘgĂȘse iki, wa: tĂȘgĂȘse wĂȘwadhah, ragamu iku di’ibaratake prau, prau dadi ‘ibarate wong wadon, wong tĂȘgĂȘse ngĂȘlowong, wadon tĂȘgĂȘse mung dadi wadhah, dene isine mung tĂȘlung prakara, iya iku: “kar-ri-cis”. Yen prau wis isi tĂȘlung prakara iku, wong wadon wis kĂȘcukup butuhe, dadi ora goreh atine. Dene tĂȘgĂȘse kar-ri-cis iku mangkene.

Kar, tĂȘgĂȘse dakar, iya iku yen wong lanang wis bisa nĂȘtĂȘpi lanange, mĂȘsthi wong wadon atine marĂȘm, wusanane dadi nĂȘmu slamĂȘt ĂȘnggone jĂȘjĂȘdhowan.

Ri, tĂȘgĂȘse pari, iya iku kang minangka pangane wong wadon, yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane, mĂȘsthi wong wadon bisa tĂȘntrĂȘm ora goreh.

Cis, tĂȘgĂȘse picis, utawa dhuwit, ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi, mĂȘsthi wong wadon bisa tĂȘntrĂȘm, tak baleni maneh, cis tĂȘgĂȘse bisa goreh atine.

Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan tĂȘlung prakara mau, wong wadon bisa goreh atine. Tangan tĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘse etungĂȘn panggawemu, sabĂȘn dina sudiya, sanggup dadi kongkonan, wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan.

Bau tĂȘgĂȘse kanthi, gĂȘnahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang, tumrap nindakake samubarang kang prĂȘlu.


Sikut tĂȘgĂȘse singkurĂȘn sakehing panggawe kang luput. UgĂȘl-ugĂȘl tĂȘgĂȘse sanadyan tukar padu, nanging yen isih padha trĂȘsnane iya ora bisa pĂȘdhot. Epek-epek tĂȘgĂȘse ngĂȘpek-ngĂȘpek jĂȘnĂȘnge kang lanang, awit wong wadon iku yen wis laki, jĂȘnĂȘnge banjur melu jĂȘnĂȘnge kang lanang. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga, warangkane wanita, curigane jĂȘnĂȘnge wong lanang.


Rajah (ing epek-epek) tĂȘgĂȘse wong wadon iku panganggĂȘpe marang guru-lakine dikaya dene panganggĂȘpe marang raja.

Driji tĂȘgĂȘse drĂȘjĂȘg utawa pagĂȘr, iya iku idĂȘrana jiwamu nganggo pagĂȘr kautaman, wanita iku kudu andarbeni ambĂȘk kang utama, dene driji kabeh mau ana tĂȘgĂȘse dhewe-dhewe.


JĂȘmpol tĂȘgĂȘse ĂȘmpol, yen wanita dikarsakake dening priyane, iku kang gampang gĂȘtas rĂȘnyah kaya dene ĂȘmpoling klapa.
Driji panuduh tĂȘgĂȘse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.
Driji panunggul, tĂȘgĂȘse wanita wajib ngunggulake marang priyane, supaya nyupangati bĂȘcik.


Driji manis, tĂȘgĂȘse wanita kudu duwe pasĂȘmon utawa polatan kang manis, wicarane kudu kang manis lan prasaja.
JĂȘnthik, tĂȘgĂȘse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang, mula kudu sĂȘtya tuhu marang priyane.
Kuku tĂȘgĂȘse ĂȘnggone rumĂȘksa marang wadi, paribasane aja nganti kĂȘndho tapihe.
Mungguh pikikuhe wong jĂȘjodhowan iku, wanita kudu sĂȘtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara, iya iku: pawon, paturon, pangrĂȘksa, apa dene kudu nyingkiri padudon.


Wong jĂȘjodhowan yen wis nĂȘtĂȘpi kaya piwulang iki, mĂȘsthi bisa slamĂȘt sarta akeh tĂȘntrĂȘme.


Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh, dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jĂȘjodhowan. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi, wong jĂȘjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling, aja nganti tumindak kang ora bĂȘnĂȘr. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku, dudu dunya lan dudu rupa, pikukuhe mung ati eling. Wong jĂȘjodhowan, yen gampang luwih gampang, nanging yen angel, angele ngluwihi. Wong jĂȘjodhowan itu luput pisan kĂȘna pisan, yen wis luput, ora kĂȘna tinambak ing rajabrana lan rupa. Wanita kudu tansah eling yen winĂȘngku ing priya, yen nganti ora eling, lupute banjur ngambra-ambra, amargi yen wanita nganti cidra, iku ugi ngilangake Pangerane wong jĂȘjodhowan, dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae, nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra, mula wanita kudu prasaja lair batine, amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara, kang sapisan dosa marang kang lanang, kapindhone dosa marang Gusti Allah, kang mangkono iku mĂȘsthi ora bisa nĂȘmu lĂȘlakon kang kapenak.

 

Mula ati, kudu tansah eling, amarga tumindaking badan mung manut karĂȘping ati, awit ati iku dadi ratuning badan. Wong jĂȘjodhowan di’ibaratake prau kang gĂȘdhe, lakuning prau manut satang lan kĂȘmudhine, sanadyan satange bĂȘnĂȘr, yen kĂȘmudhine salah, prau ora bĂȘcik lakune. Wong lanang iku lakuning satang, dene kang wadon ngĂȘmudheni, sanadyan bĂȘcik ĂȘnggone ngĂȘmudheni, nanging yen kang nyatang ora bĂȘnĂȘr, lakune prau iya ora bisa jĂȘjĂȘg, sarta bisa tĂȘkan kang disĂȘdya, amarga kang padha nglakokake padha karĂȘpe, dadi tĂȘgĂȘse, wong jĂȘjodhowan, kudu padha karĂȘpe, mula kudu rukun, rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katĂȘntrĂȘman, ora ngĂȘmungake wong jĂȘjodhowan kang rukun bae, kang oleh katĂȘntrĂȘmaning ati, sanadyan tangga tĂȘparone iya melu tĂȘntrĂȘm, mula wong rukun iku bĂȘcik bangĂȘt.


Kowe tak-pituturi, mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara:
(1) Mulya saka jĂȘnĂȘng.
(2) Mulya saka bandha.
(3) Mulya saka sugih ‘ilmu.
(4) Mulya saka kawignyan.
Kang diarani mulya saka jĂȘnĂȘng, iku wong kang utama, bisa oleh kabĂȘgjan kang gĂȘdhe, nanging kabĂȘgjane mau ora mung kanggo awake dhewe, kapenake uga kanggo wong akeh liyane. Dene kang mulya saka ing bandha, lan mulya saka ĂȘnggone sugih ‘ilmu, lan mulya saka kapintĂȘran, iku ana ngĂȘndi bae, iya akeh rĂȘgane.


Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara:
(1) Rusaking ati, manusa iku yen pikire rusak, ragane mĂȘsthi iya melu rusak.
(2) Rusaking raga, iya iku wong lara.
(3) Rusaking jĂȘnĂȘng, iya iku wong mlarat.
(4) Rusaking budi, iya iku wong bodho, cupĂȘt budine, wong bodho lumrahe gampang nĂȘpsune.


Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah, iya iku wong kang sĂȘgĂȘr kawarasan sarta kacukupan, apa dene tĂȘntrĂȘm atine.
Wong urip kang kĂȘpengin bisaa dadi wong utama, duweya jĂȘnĂȘng kang bĂȘcik, kanggo tĂȘtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing tĂȘmbene”.
Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditĂȘrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki, iku satĂȘmĂȘne pintĂȘr kang ĂȘndi, amarga wong akeh panĂȘmune warna-warna tumrape bab iku.


Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki, iku satĂȘmĂȘne iya padha pintĂȘre, mung bae tumrape wong ing jaman kuna, akeh kang durung bisa mujudake kapintĂȘrane, mula katone banjur kaya dene ora pintĂȘr. Ana dene wong ing jaman saiki ĂȘnggone katon luwih pintĂȘr iku amarga bisa mujudake kapintĂȘrane. Wong ing jaman kuna kapintĂȘrane iya wis akeh, dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. Saupama ora ana kapintĂȘrane wong ing jaman kuna, mĂȘsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo tĂȘtuladhan, amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana, ĂȘndi kang kurang bĂȘcik banjur dibĂȘcikake.

 

Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra, yen manusa iku rumasa pintĂȘr, iku tĂȘgĂȘse ora rumasa yen kawula, mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni, mung sadarma nganggo raga, dene mobah mosik, wis ana kang murba. Yen kowe arĂȘp wĂȘruh wong kang pintĂȘr tĂȘmĂȘnan, dununge ana wong wadon kang nutu sabĂȘn dina, tampahe diiseni gabah banjur diubĂȘngake sadhela, gabah kang ana kabur kabeh, sawise, banjur dadi beda-beda, awujud bĂȘras mĂȘnir sarta gabah, nuli mung kari ngupuki bae, sabanjure dipilah-pilah. TĂȘgĂȘse: bĂȘras yen arĂȘp diolah kudu dirĂȘsiki dhisik, miturut kaya karĂȘpe kang arĂȘp olah-olah.

 

Yen kowe bisa mangreh marang manusa, kaya dene wong wadon kang nutu mau, ĂȘnggone nyilah-nyilahake bĂȘras aneng tampah, kowe pancen wong linuwih, nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu, awit iku dadi kawajibane para Raja, kang misesa marang kawulane. Dene kowe, mung wajib mangrĂȘti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa, uripmu dadi bisa slamĂȘt, kowe bakal dadi tĂȘtuwa, kĂȘna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikĂȘle wong ngawula ing praja. Mula wĂȘlingku marang kowe, kowe aja pisan- pisan ngaku pintĂȘr, amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa, yen ngrumasani pintĂȘr, mundhak kĂȘsiku marang Kang Maha Kuwasa, kaelokane Gusti Allah, ora kĂȘna ginayuh ing manusa, ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma, ana wong pintĂȘr isih kalah pintĂȘr karo wong pintĂȘr liyane, utawa uga ana wong pintĂȘr bisa kasoran karo wong kompra, bodho pintĂȘring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa, manusa anduweni apa, bisane apa, mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa, yen wis dipundhut, kabeh mau bisa ilang sanalika, saka kalangkungane Gusti Allah, yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra, wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintĂȘr. Mula wĂȘlingku marang kowe, ngupayaa kawruh kang nyata, iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”.


Ki Darmagandhul banjur matur maneh, nyuwun tĂȘrange bab tilase kraton KĂȘdhiri, iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Kiyai Kalamwadi ngandika:

 

“Sang Prabu Jayabaya ora jumĂȘnĂȘng ana ing KĂȘdhiri, dene kratone ana ing Daha, kaprĂȘnah sawetane kali Brantas. Dene yen KĂȘdhiri prĂȘnahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis, ana ing desa Klotok, ing kono iku ana bata putih, iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha, saikine jĂȘnĂȘnge desa MĂȘnang, patilasane kadhaton wis ora katon, amarga kurugan ing lĂȘmah lahar saka gunung KĂȘlut, patilasan-patilasan mau wis ilang kabeh, pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna, dene pasanggrahan Sabda, kadhatone Ratu PagĂȘdhongan uga wis sirna. Kang isih mung rĂȘca yasane Sri Jayabaya, iya iku candhi Prudhung, TĂȘgalwangi, prĂȘnahe ing sa-lor-wetane desa MĂȘnang, lan rĂȘca buta wadon, iya iku rĂȘca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lĂȘlana mĂȘnyang KĂȘdhiri, rĂȘca mau lungguhe madhĂȘp mangulon, ana maneh rĂȘca jaran awak siji ĂȘndhase loro, panggonane ana ing desa BogĂȘm, wĂȘwĂȘngkon dhistrik SukarĂȘja, mula Sri Jayabaya yasa rĂȘca, mangkene caritane, (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”.

Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya, nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu, buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik, buta wadon banjur ambruk, nanging durung mati, barĂȘng ditakoni, lagi waleh yen sumĂȘdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau, barĂȘng didangu iya matur kang dadi sĂȘdyane. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu, karsaning Dewa Kang Linuwih, aku iku dudu jodhomu, kowe dak-tuturi, besuk sapungkurku, kulon kene bakal ana Ratu, nagarane ing Prambanan, iku kang pinasthi dadi jodhomu, nanging kowe aja wujud mangkono, wujuda manusa, aran Rara Jonggrang”.

Sawise dipangandikani mangkono, putri buta banjur mati. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya, supaya desa ing ngĂȘndi papan matine putri buta mau dijĂȘnĂȘngake desa Gumuruh. (11)

 

Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rĂȘca ana ing desa BogĂȘm. RĂȘca mau wujud jaran lagaran awak siji ĂȘndhase loro, kiwa tĂȘngĂȘn dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu, kang surasane nyuwun mitĂȘrang kang dadi karsa-Nata, ĂȘnggone Sang Prabu yasa rĂȘca mangkono mau, apa mungguh kang dadi karsane. Sang Prabu banjur paring pangandika, yen ĂȘnggone yasa rĂȘca kang mangkono itu prĂȘlu kanggo pasĂȘmon ing besuk, sapa kang wĂȘruh marang wujude rĂȘca iku mĂȘsthi banjur padha mangrĂȘti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk, yen wis jaman Nusa SrĂȘnggi. BogĂȘm tĂȘgĂȘse wadhah bangsa rĂȘtna-rĂȘtna kang adi, tĂȘgĂȘse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. Laren (12)

 

kang ngubĂȘngi jaran tĂȘgĂȘse iya sĂȘngkĂȘran. Dene jaran sĂȘngkĂȘran iya iku ngibaratake wong wadon kang disĂȘngkĂȘr. Sirah loro iku dadi pasĂȘmone wong wadon ing jaman besuk, kang akeh padha mangro tingal, sanadyan ora kurang ing panjagane, iya bisa cidra, lagaran, iku tĂȘgĂȘse tunggangan kang tanpa piranti. Ing jaman besuk, kang kĂȘlumrah wong arĂȘp laki-rabi, ora nganggo idine wong tuwane, margane saka lagaran dhisik, yen wis mathuk pikire, iya sida diĂȘpek rabi, nanging yen ora cocog, iya ora sida laki-rabi.


Sang Prabu ĂȘnggone yasa candhi, prĂȘlu kanggo nyĂȘdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono, supaya bisa sirna mulih marang alam sĂȘpi. Yen pinuju ngobong mayit, Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati.


Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa, muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit, kaya adate Raja ing jaman kuna, amarga aku iki anak dhalang, aja suwe-suwe kaya mĂȘmĂȘdi, duwe rupa tanpa nyawa, bisaa mulih marang asale.


Samuksane Sang Prabu Jayabaya, Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung, apa dene putrane Sang Prabu kang kĂȘkasih Ni Mas Ratu PagĂȘdhongan, kabeh banjur padha andherek muksa.

Buta Locaya banjur dadi ratuning dhĂȘdhĂȘmit ing KĂȘdhiri. Tunggulwulung ana ing gunung KĂȘlut, dene Ni Mas Ratu PagĂȘdhongan banjur dadi ratuning dhĂȘdhĂȘmit ana ing sagara kidul, asmane ratu Anginangin.


Ana kĂȘkasihe Sang Prabu Jayabaya, jĂȘnĂȘnge Kramatruna, nalika Sri Jayabaya durung muksa, Kramatruna didhawuhi ana ing sĂȘndhang Kalasan. Sawise tĂȘlung atus taun, putrane Ratu ing Prambanan, kĂȘkasih LĂȘmumbardadu iya Sang Pujaningrat, jumĂȘnĂȘng Nata ana ing KĂȘdhiri, kadhatone ana sakuloning bangawan (3), kĂȘdhi tĂȘgĂȘse wong wadon kang ora anggarap sari, dene dhiri iku tĂȘgĂȘse anggĂȘp, kang paring jĂȘnĂȘng iku RĂȘtna Dewi Kilisuci, dicocogake karo adate Sang RĂȘtna piyambak, amarga Sang RĂȘtna Dewi Kilisuci iku wadat, sarta ora anggarap sari. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane, aja akeh gĂȘtihe wong kang mĂȘtu. Mula KĂȘdhiri iku diarani nagara wadon, yen nglurug pĂȘrang akeh mĂȘnange, nanging yen dilurugi apĂȘs. Kang kĂȘlumrah pambĂȘkane wanita ing KĂȘdhiri iku gĂȘdhe atine, amarga kasawaban pambĂȘkane Sang RĂȘtna Dewi Kilisuci. Dene RĂȘtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sĂȘpuh Nata ing JĂȘnggala. Sang RĂȘtna mau tapa ana ing guwa Selamangleng, sukune gunung Wilis.

 


WUWUHAN KATÊRANGAN.

Kanjeng Susuhunan AmpeldĂȘnta pĂȘputra ratu Fatimah, patutan saka Nyai AgĂȘng Bela. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim, ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura, karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pĂȘputra putri nama Nyai AgĂȘng Malaka, katĂȘmokake Raden Patah.

 

Raden Patah (Raden Praba), putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri CĂȘmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang, barĂȘng Raden Patah wis jumĂȘnĂȘng Nata, jĂȘjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (DĂȘmak).


Putri CĂȘmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya, pĂȘputra tĂȘlu:

Putri nama RĂȘtna Pambayun, katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing PĂȘngging, nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit.

Raden Arya LĂȘmbupĂȘtĂȘng Adipati ing Madura.

Isih timur rĂȘmĂȘn marang laku tapa, nama Raden Gugur, barĂȘng muksa kasĂȘbut nama Sunan Lawu.

 

PanĂȘnggak Putri CĂȘmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I, patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi, isih tĂȘdhake KangjĂȘng Nabi Mukammad, asma Maulana Ibrahim, dĂȘdalĂȘm ana ing Jeddah, banjur pindhah ing CĂȘmpa, dadi Imam ana ing Asmara tanah ing CĂȘmpa, banjur kasĂȘbut nama Maulana Ibrahim Asmara, iku kang pĂȘputra Susuhunan AmpeldĂȘnta Surabaya.

 

Dene putra CĂȘmpa kang waruju kakung, nama Awastidab, wus manjing Islam, nyakabat marang maulana Ibrahim, jumĂȘnĂȘng Raja Pandhita ing CĂȘmpa anggĂȘnteni ingkang rama, pĂȘputra siji kakung kĂȘkasih Raden Rachmat. Kang ibu putri CĂȘmpa (garwa Maulana Ibrahim), pĂȘputra Sayid ‘Ali Rachmat, ngĂȘjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya, dĂȘdalĂȘm ing AmpeldĂȘnta, kasĂȘbut Susuhunan AmpeldĂȘnta. CĂȘmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china).

Sayid Kramat kang kasĂȘbut ing buku iki pĂȘparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).

 

KATRANGAN:
(1) Kulon kutha MajakĂȘrta lĂȘt +/- 10 km.
(2) PĂȘlabuhane saiki aran: “Haipong”.
(3) Lor Stasiyun: Surabaya kota “SĂȘmut”.
(4) Benang = Bonang ing KarĂȘsidhenan RĂȘmbang.
(5) Tarik.
(6) Kulon kutha KĂȘdhiri.
(9) Akire MĂȘnang didĂȘgi pabrik gula arane iya pabrik MĂȘnang,
stasiyune ing Gurah antarane KĂȘdhiri – Pare +/- 7 km. saka KĂȘdhiri.
(10) Kidul Majaagung lĂȘt +/- 15-16 km. Saiki dicĂȘluk desa Ngrimbi.
(11) Ing sacĂȘlakipun pabrik MĂȘnang, wontĂȘn dhusun nama Guruh.
1. mbok manawi ewah-ewahan saking GumĂȘrah-Gumuruh.
2. Gurah = gusah.
3. ngrĂȘsiki gorokan.
(12) Laren = kalenan.
(13) Bangawan = Brantas.

(20). TAMAT:

Layang WEWADINING RASA iki jangkepane layang JATIMURTI, kang wis nate katerbitake dening Toko Buku TAN KHOEN SWIE ing Kediri, seket taunan kapungkur. Wujude cap-capan nganggo aksara Jawa, saiki katedhak mawa aksara latin, supaya tebane luwih omber.

Sarehne isine bab RASA, dadi ya wis samesthine yen rinasakake klawan weninging ati. Mula sadurunge maos buku iki, prayogane nyatitekake pamrayogane sing yasa layang iki.

 

Cirebon, 1 Sura 1433 Hijriyah.

27 november 2011

Ttd

Toso Wijaya.D