Arsip untuk April, 2015


siapa Aku? Banyak orang menyebutku sesosok manusia yang misterius. Dari mana aku berasal? Apa yang kulakukan? Tentangku semuanya tak pernah seorangpun tahu. Tahupun hanya menerka atau mencoba menelisik dan mengorek kisah hidup yang sedang kualami. Kok ya mereka ingin tahu siapa aku. Ada apa denganku? Katanya, hanya sebatas ingin tahu tentangku, tidak lebih. Bukan saja mereka yang selalu mempertanyakanku tentang siapa aku? Hingga saat ini akupun tidak tahu, Terus terang aku tak pernah merasa merahasiakan siapa aku sebenarnya. Baiklah kuceritakan siapa aku?

Absurd untuk memahami tentang aku. Liar untuk mengerti semua kelakuanku. Imajiner untuk mengetahui pola pikir beserta jalan hidupku. Untuk tahu siapa aku? Kata kuncinya, absurd, liar dan imajiner. Jangan terkejut. Kan kucoba berkisah untuk menceritakan apa yang kutahu tentang aku. Inilah kisahku.

“AKU” adalah anak manusia yang menahbiskan diri sebagai pengelana. Hidupku selalu berpindah tempat. Mengapa begitu? Menurutku tempat yang nyaman membuatku terasa tidak nyaman. Selalu tidak bisa berdiam diri terlalu lama pada satu tempat. Cepat merasa bosan pada ruang dan waktu yang monoton. Sudah banyak tempat telah kusinggahi, hingga kini tak satupun tempat yang memikat dan bisa membuatku merasa nyaman. Jadi jangan heran jika separuh hidupku selalu berpindah tempat sesuai selera apa yang kusuka.

“AKU” Seorang manusia berjenis kelamin persis dengan Adam. Manusia resah, selalu gelisah dengan ke”aku”anku. Ehm, boleh di bilang pencarian jati diri tepatnya. Pernah juga menyandang predikat sebagai manusia pendosa, psikopat, gila dan semua konotasi negatif lainnya! Itu kata orang-orang yang suka ataupun tidak suka dengan keberadaanku. Jika aku menanggapi gosip-gosip (Ghibah), takutnya malah aku menjadi faktor penyebab terjerumusnya para penggosip dalam kubangan neraka. Aku tak berani bertanggung jawab atas pergunjingan orang-orang terhadapku. Beruntung saja waktu itu gosip belum di fatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia. Aku tak terlalu ambil pusing dengan pergunjingan orang-orang mengenaiku. Obyektif atau tidaknya biarlah mereka yang menilaiku. Pun semua telah kumaafkan.

Seorang kawan pernah bercerita bahwa “aku” adalah seorang nista dan hina dina, namun aku hanya diam. Toh yang mereka katakan belum tentu akan kebenarannya. Diamku bukan berarti emas. Bukan pula bermaksud pasrah, aku hanya berharap kepada sang Pencipta, semoga apa yang telah mereka katakan itu membuat sadar akan dirinya. Lagi, harapanku hanya basa-basi saja. Bagiku harapan tak ubahnya seperti doa-doa yang tak pernah terkabul. Hanya bait-bait sanjungan tentang keagungan, tentang kebesaran dan tentang-tentang yang baik tentangNya. Untuk orang sepertiku, hingga mulut berbusa pun takkan pernah terealisasi harapan itu.

Terserah orang bilang apa tentangku, mulut-mulut mereka. Sak munimu! Yang jelas aku bangga dengan diriku sendiri. Sebab apa? Karena aku adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan (walaupun terkadang aku sendiri menyangkalNya). Semoga saja Ia masih mau mengakuiku, andai dia “ada”. Maaf Tuhan, kuakui jika meraguMu, anggap saja ini sebagai pengakuan dosa dariku. Sekalipun di hisab nanti dan pada akhirnya Engkau putuskan untuk menghuni neraka. Aku bersyukur, Dia masih mengakui eksistensiku sebagai makhluk ciptanNya. Biarlah pengadilan terakhir yang menentukan. Aku tak mau memikirkanNya.

Suatu ketika, Ayahku pernah mendongengi, jika “AKU” adalah hasil persenggamaan yang tidak dikehendaki. Namun dengan takdir dan kehendak Tuhan (?) lalu tercipta dan lahirlah aku di bumi manusia ini. Apapun itu, kusyukuri walaupun sebenarnya aku enggan bernafas dan menginjakkan kaki di bumi ini. Walaupun ia telah berdongeng, tak salah jika aku menghanturkan sembah serta berucap terima kasih untuk ayah yang telah mendongengi tatkala menjelang tidur nyenyakku. Namun sayang, kini engkau hanya bisa mendidikku diam-diam dari peristirahatannya yang tenang.

“AKU” adalah aku yang mengaku benci dengan kehidupan, sebab kehidupan hanyalah berisi desingan omong kosong dengan segala sumpah serapah manusia. Sampah audio yang memekakkan gendang telingaku.

Pikirku, kehidupan ini sangatlah menjemukan. Kehidupan itu ibarat menunggu antrian panjang pada kematian. Mengapa lahir kemudian mati? Lahir mengantri dan matipun mengantri. Evolusi manusia sampai akhir zaman. Bukankah pekerjaan menunggu itu menjemukan? Berbicara tentang kematian? Omong-omong aku sudah lelah bermain petak umpat dengan malaikat pencabut nyawa. Kata agama yang kuimani sejak lahir, konon malaikat pencabut nyawa itu bernama Izroil. Ia selalu menguntitku juga manusia lain. Menunggu waktu yang tepat menikamkan belati, tepat di ulu hati. Mematikan memang! Aku sudah lelah berlari, lari pada kenyataan bahwa kematian itu tak satupun orang yang bisa menghindari! Kita sedang mengantri kematian. Mutlak, tak terelakkan. Ingin rasanya ku berteriak “Hentikan Pembunuhan secara sistemik!”

Pada satu malam yang sepi. Udara dingin terasa menusuk tulang belulang. Nafasku tersengal. Terasa ngilu, dingin menggigil, disisi lain tubuhku terasa panas menyengat. Secara sengaja, pernah menantangnya. “Apa yang kau inginkan dariku?”. Ia hanya tersenyum sinis menatapku. Sorot matanya tajam terus memandang, memelototiku dengan hasrat ingin membunuh.

“Hunuskan belati yang kau sarungkan! Lalu tusukkan tepat di jantungku! Jika kau mau!” kataku seraya membusungkan dada. Lagi ia hanya tersenyum tanpa berucap kata. Senyum dan terus tersenyum. Tubuhku kusodorkan pasrah, memasang dada agar ia lekas melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya. “Tikamlah, Tusuklah” teriakku.

“AKU” sadar, laku hidupku seperti wayang yang seringkali dipermainkan sang dalang (baca; Tuhan). Seperti bidak catur, angkat sana-oper sini, berjalan ke kotak hitam lalu berpindah di kotak putih, adu sana-adu sini, lantas berakhir dengan kematian. Skak Mat! Rocker juga akan Mati! Gayaku memang sok urakan (Rock n Roll man!), membuatku tidak percaya akan diriku sendiri. Mungkin karma atau sebab akibat dari perbuatanku. Orang bilang, mungkin inilah yang sudah digariskan Tuhan. Namun aku selalu menepisnya. Mengalir saja kata kuncinya. Jika ditanya siapa Tuhanku? Mendongak ke atas, menerawang jauh tanpa menyebut nama Tuhan.

Dalam hidupku tak ada yang istimewa atau di istimewakan. Hidupku berjalan biasa-biasa saja. Melakoni hidup dengan apa adanya. Kulakukan hidup ini sesuai apa yang harus kulakukan. Bisa jadi inilah garis Tuhan yang ditentukan dalam hidupku (kata orang yang beragama). Dan kutak ingin menjalani hidup dengan menuntut. Apalah aku? Siapakah aku? Betul aku sadar semua itu. Aku menjalani seperti ini, bukan lantaran garis yang ditentukan olehNya Bukan pula aku tidak ingin merubah apa yang kuharus lakukan dalam hidup. Inginku hidup ini kulalui seperti air yang mengalir. Mengalir terus tanpa henti hingga muara. Terombang-ambing di tengah samudera, limbung lalu tenggelam. Mungkin saja! Jika meminjam istilah orang bijak, biarlah waktu yang menjawab.

Tentang hidup. Menurutku hidup itu sekumpulan lakon cerita manusia yang diliputi dengan aneka kesialan. Tak perlu mendebat pendapatku. Berilah aku kesempatan untuk melanjutkan cerita.

Berceritalah seorang sahabat tentangku. Konon, aku adalah sesosok manusia menyerupa anjing. Selalu menggonggong jika melihat apa yang tidak disuka. senantiasa melolong jika nasib sedang tak berpihak. Kupikir benar apa yang dimaksud olehnya. Anjing hewan najis, jadah, sebagian orang menganggap sebagai binatang kutukan. Binatang jalang yang teraniaya! Aku mengamini apa yang ia sebutkan tentangku. Kuakui aku hanyalah manusia yang diperlakukan layaknya anjing. Anjing-anjing yang mengumpat “anjing!”. Haram dan tanpa guna. Itulah kesialanku yang pertama.

Kesialanku yang kedua. Tidak bermaksud menyalahi takdir dan atau siapapun. Selalu saja aku mengutuk diriku sebagai orang yang dungu! Tak berani bersikap dalam menentukan jalan hidupku sendiri. Bodoh dalam bertindak. Banyak teman yang mengatakan aku seperti itu. Kembali lagi pada prinsip semula, aku ingin menjalani hidup ini apa adanya. Tanpa menuntut! Laku hidup yang berjalan sesuai mekanisme alam. Lahir tumbuh-kembang setelah itu mati. Dengan apa aku melakoni hidup? Biarlah otakku yang bekerja mencari celah memenuhi kebutuhan dasar hidupku. Dengan cara apa aku mati, kuserahkan Ia yang menentukan. Tapi sejujurnya, berharap matiku secara perlahan dan tidak menyakitkan. Kematian yang sempurna. Tanpa isak tangis tatkala pelepasan dan pertemuanku yang terakhir. Kematian yang tanpa doa-doa serta seremonial yang menghabiskan uang. Bid’ah! Kematian yang membebaskanku dan tanpa masalah. Sejenak saja aku beranjak gila agar aku lebih merdeka!

Singkat cerita, mereka menyebutku jalang! Tapi kusebut diriku elang. Tanpamu, kalian atau siapalah aku masih sanggup mengepakkan sayap terbang kemana arah yang kutuju. Itulah aku yang ingin bebas tanpa sekat pembatas. Andaipun ada penghalang kan kuterjang! Tak peduli lagi apapun itu yang merintang, kulibas.

Jika aku boleh mendefinisikan diri, aku adalah seorang yang apa adanya. Hidupku terlalu santai! Banyak teman yang menyimpulkanku demikian. Sedang lain orang, mengatakanku sebagai anak terbuang! Selalu saja berjalan diseberang jalan dari orang-orang kebanyakan.

Kesimpulan, AKUlah aku yang mengaku tak pernah menjadi aku. Mengakui aku sebagai aku yang takkan kuakui. Pun aku tak berharap mendapat pengakuan atau terakui untuk diakui menjadi aku. Keakuankulah yang berkehendak menjadi aku. Kuakui Akulah aku. Akui saja aku sebagai manusia. Itu lebih dari sekedar cukup.

Tentang apa, kenapa, mengapa, bagaimana, dimana, kapan menjadi “AKU”, berproseslah. Jangan jadi atau berperan menjadi orang lain apalagi aku. Jadilah diri sendiri. Tegar lalu hadapi


ini terinpirasi betul dari pengalaman orang-orang yang dianggap goblog, tak berilmu, dan gila dari dunia. Contohnya seperti pencipta pesawat terbang dan lampu misalnya.
Dulu mereka dianggap orang-orang disekitarnya anehlah, gobloglah, idiotlah, atau apalah istilahnya. Tapi mereka tetep gigih dan yakin pada imajinasi yang disertai langkah langkah kecil untuk mewujudkannya. Akhirnya kini mereka telah menjadi pewaris bagi dunia, bagi kita semua.

suatu motivasi yang dianggap kebanyakan orang konyol dan ga mutu, bisa jadi hal itu yang jadi detonator(catu di sebuah bom) meledaknya segala potensial kita. Jangan pernah remehin hal-hal yang dianggap kebanyakan orang goblog dan ga bermutu, karena yang goblog ga selamanya goblog.

GOBLOG – enjoy aja …

Posted: 9 April 2015 in education

Judul buku : Guru Goblok Ketemu Murid Goblok
Penulis : Iman Supriyono
Penerbit : SNF Consulting, Surabaya
( http://www.snfconsulting.com )
Peresensi : Abd. Sidiq Notonegoro
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 264 Halaman —–

Sangat banyak di negeri ini orang yang sesungguhnya pantas disebut sebagai orang goblok, tetapi tidak pernah mau untuk mengakui kegoblokannya. Apalagi sampai dengan menyadari bahwa dirinya benar-benar goblok. Mengapa demikian? Memang sangat memerahkan telinga –dan pasti ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar ”goblok”– apabila ada yang menyematkan identitas pada diri dengan panggilan ”orang goblok”.

Meskipun demikian, di balik sangat banyaknya orang goblok yang emoh disebut sebagai orang goblok, masih ada sebagian kecil orang yang sudi untuk mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang goblok. Bahkan mereka tampak enjoy untuk menyebut dan disebut sebagai orang goblok. Mengapa pula demikian? Karena dengan memproklamasikan diri sebagai ”orang goblok”, mereka mampu melapangkan jalan kesempatan yang luas dan panjang untuk selalu belajar dan belajar.

Salah satu manusia langka yang tidak malu untuk mendeklarasikan diri sebagai ”orang goblok” adalah Iman Supriyono (dan gurunya, Abdul Rachim). Dengan kesadarannya yang sangat dalam sebagai orang goblok, akhirnya buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok ini pun lahir. Hebatnya lagi, buku Iman Supriyono yang (merasa) goblok ini merupakan karya buku ke-7. Hebat kan, orang goblok bisa menulis buku, sampai tujuh lagi. Padahal yang selama ini mengaku ”pinter” saja banyak yang tidak mampu menggoreskan satu pun kalimat bermakna, dan selalu marah kalau dipanggil ”goblok”.

Tapi Iman Supriyono dan gurunya bukanlah orang ”goblok” yang sembarang goblok. Mereka adalah jenis manusia ”goblok” khusus. Menurutnya, kegoblokan manusia itu dapat dipilah menjadi tiga tingkatan. Yakni, orang goblok yang masih menyadari bahwa dirinya goblok. Goblok tingkat pertama ini bahkan menurut Iman Supriyono merupakan goblok yang disarankan. Seseorang boleh saja (dan bahkan harus) merasa goblok. Syaratnya, masih menyadari bahwa dirinya goblok dan kemudian mau belajar terus. Bahkan setiap saat kita harus merasa goblok. Maksudnya? Setiap saat merasa ada sesuatu yang kita ingin bisa tetapi belum bisa. Tindak lanjutnya dengan belajar hingga bisa. Begitu bisa, segera temukan apa lagi yang belum bisa. Temukan satu kegoblokan lagi. Demikian seterusnya. Selalu goblok (hlm. 83). Inilah yang disebut sebagai ”goblok dinamis” atau goblok yang beruntung.

Sedangkan tingkatan kedua, orang goblok yang tidak menyadari bahwa dirinya goblok. Orang goblok jenis ini tidak akan pernah berkembang (stagnan). Inilah yang juga bisa disebut dengan ”goblok statis”, karena membiarkan diri untuk tetap goblok dalam satu hal selamanya.

Dan, tingkatan ketiga, orang goblok yang tidak merasa dirinya goblok dan bahkan suka menggoblok-goblokkan orang lain. Inilah jenis manusia yang terjangkiti penyakit goblok total, goblok sempurna, goblok absolut. Orang goblok absolut ini bila dinasehati tentang kegoblokannya, serta merta ia menolak. Bahkan merasa dirinya lebih pintar dari orang yang menasehatinya. Inilah jenis manusia yang merasa pintar padahal goblok. Karena itu, Iman Supriyono mewanti-wanti agar kita tidak termasuk golongan orang yang goblok jenis ini. Bahaya !!! (hlm. 84).

Tetapi, untuk menjadi ”goblok dinamis” pun membutuhkan kecerdasan yang berlipat. Untuk belajar menumbuhkan kesadaran sebagai orang goblok, dibutuhkan seorang guru yang bisa mendidik untuk bisa merasa goblok. Nah, guru jenis ini pun ternyata juga sangat langka. Sebab yang banyak ialah guru yang menuntut muridnya pintar dan cenderung menyisihkan murid yang bergaya goblok. Sang guru kerapkali juga tidak mau dikalahkan oleh muridnya, sehingga dia sendiri pun kemudian menjadi sok pintar dan keminter.

Karena itulah, Iman Supriyono pantas merasa bersyukur karena bisa bertemu dan mendapatkan guru yang sudi mendidiknya untuk bisa merasa goblok. Lebih dari itu, Pak Rohim –yang diklaimnya sebagai guru (dalam buku ini)– rela untuk menggoblokkan dirinya yang tidak pernah bosan untuk mendidik dan bahkan memberi kepercayaan terhadap murid-muridnya yang goblok.

Dengan tempaan guru gobloknya, akhirnya Iman Supriyono yang saat ini merupakan konsultan senior di SNF Consulting tidak pernah berhenti untuk terus merasa goblok. Salah satu bukti kesadaran akan kegoblokan dirinya ialah tentang mimpinya untuk bisa membuat kantor konsultan yang bisa dipercaya perusahaan-perusahaan kelas dunia. Akan tetapi hingga saat ini belum tercapai. Belum bisa. Goblok. Dan, karena itu, ia tidak akan pernah berhenti untuk mengentaskan diri dari ambisi goblok tersebut hingga mimpinya jadi kenyataan.

Memperhatikan semangat Iman Supriyono yang meledak-ledak untuk membakar jiwa entrepreneur dan investor ini, maka kehadiran buku perlu menjadi pegangan wajib bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari kegoblokan statis dan bahkan kegoblokan absolut. Bahkan tidak hanya bagi mereka yang sedang ingin mengembangkan usaha bisnis jasa saja, tetapi juga para pendidik (guru dan dosen) yang selalu merasa sok lebih pandai dari murid atau mahasiswanya. Teladan Pak Rohim –yang selalu merasa sebagai guru goblok– perlu diwarisi para pemegang kunci gerbang dunia akademis.