Archive for the ‘islamic’ Category

Laki-laki (suami) itu

Posted: 15 Agustus 2015 in islamic

LAKI-LAKI adalah ciptaan
TUHAN yg paling indah.
Dia banyak MENGALAH dari
umur yang sangat muda.

Dia membelanjakan
semua duit,
untuk beli HADIAH,
untuk yang dia CINTA,
hanya untuk melihat
dia TERSENYUM..

Dia KORBANKAN masa
lajangnya hanya untuk
seorang WANITA….
Dia KORBANKAN masa
mudanya demi istri dan anak2nya dengan bekerja sampai malam TANPA MENGELUH.

Dia bina MASA DEPAN
mereka Sekeluarga
dengan hutang
dan membayar cicilan
sampe stress..

Dia telah bersusah payah
tapi masih dimarahi Isteri
dan BOSS. Kehidupan Dia
berakhir hanya untuk
MENGALAH demi
KEBAHAGIAAN orang lain

Kalau dia keluar rumah,
kata org dia NGELAYAP…

Kalau dia tinggal dirumah,
kata org dia MALAS….

Kalau dia marahi anak2,
kata org dia GALAK…

Kalau dia tak marah, kata Org
dia laki-laki yang TAK TEGAS…

Kalau dia tak bolehkan isteri bekerja, kata org dia Seorang yang MENGUNGKUNG…

kalau dia bolehkan isteri
bekerja, kata org dia MAKAN
gaji isteri.

Kalau dia dengar apa kata ibunya, kata org dia ANAK MAMI

Kalau dia dengar kata isteri,
kata org dia DKI
(Dibawah Ketiak Istri)

Kalau dia banyak MENOLONG wanita yg membutuhkan, dibilang HIDUNG BELANG…

Kalau gak mau tolong
wanita lain, katanya KEJAM..

Tapi di tengah terpaan
segala macam tuduhan,
dia tetap TEGAR….
(Never Give Up ugh..!)

Dialah LAKI-LAKI….

HARGAILAH setiap LAKI-LAKI
dalam hidup anda.
Anda tidak akan pernah
tahu apa PENGORBANAN yang
sudah dilakukan buat Anda.

Boleh dikirim ke semua
LAKI-LAKI supaya mereka TERSENYUM dan kepada
semua wanita supaya
mereka SADAR bahwa
LAKI-LAKI itu amat BERHARGA


( diposting ulang dari : Wong Edan Bagu )
Di waktu yang lalu, saya sudah menyinggung sedikit tentang IMAN. ISLAM. IHSAN, sekarang di kesempatan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal tersebut, lebih rinci dan jelas lagi. Dengan Tema. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG. Semoga pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at berkah bagi sekalian sahabat-sahabat saya, terutaman anak-anak didik saya Terkasih, sebagai tambahan pemahaman di dalam pengalaman Spiritual Hakikat Hidup.

PENGERTIAN SHALAT:
Shalat secara bahasa berarti berdo’a. dengan kata lain, shalat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian shalat menurut syara’ terlalu banyak, ada yang mengartikan, shalat itu adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ada yang mengartikan, shalat itu adalah bacaan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a, ada yang mengartikan kalau shalat itu merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. ADA YANG MENGARTIKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, ADA PULA YANG MENGARTIKAN SEBAGAI : DOA, TIDAK KIKIR, SELALU BERSYUKUR, MENGHUBUNGKAN (SILATURAHIM ), AGAMA, AMANAH, PERKATAAN YANG BERGUNA, MENJAGA KEMALUAN, SHOLAWAT, BERBUAT BAIK DAN SEBAGAINYA. ISTILAH SHALAT DI DALAM AL-QUR’AN SUNGGUH TERAMAT LUAS MAKNA DAN PENGERTIANNYA, KARENA “ KATA SHALAT “ MEMPUNYAI KOSA KATA YANG SANGAT LUAS MAKNANYA JIKA DITINJAU DARI SEGI BAHASA ARAB MELAUI NAHWU SOROF, BALAGHO, BAYAN, BADI’, MA’ANI DAN LAIN SEBAGAINYA. dan masih banyak lagi Arti-arti DAN MAKNA-MAKNA lainya yang memusingkan kepaLa dan membingungkan otak. Seperti banyaknya hadist yang harus di percayai dan di benarkan, karena si empunya hadist adalah orang-orang yang diyakini adalah pilihan Tuhan. Contoh hadis dari satu tokoh dibawah ini:

“(Hasbi Asy-Syidiqi, 59) mengartikan bahwa shalat itu merupakan berhadapannya hati (jiwa) kepada Allah, dengan cara mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan keperluan kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya”

Disisi lain (Hasbi Asy-Syidiqi) mengartikan lain lagi, bahwa shalat yaitu beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. POKOKNYA…. pusing, karena saking banyaknya hadist dan riwayat yang mengartikan tentang Shalat yang harus kita akui kebenaranya walaupun semuanya berbeda-beda dalam mengartikannya.

Padahal INTInya sangat sederhana alias tidak sulit, tidak rumit, tidak jlimet tidak repot, tidak muter-muter, tidak memusingkan lagi. Karena makna dan arti Shalat itu. Adalah… INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Tidak muter-muter memusingkan kepala kan…?

PENGERTIAN SEMBAHYANG:
Sembahyang adalah suatu bentuk kegiatan keagamaan yang menghendaki terjalinnya hubungan dengan Tuhan, dewa, roh atau kekuatan gaib yang dipuja, dengan melakukan kegiatan yang disengaja. Sembahyang dapat dilakukan secara bersama-sama atau perseorangan. Dalam beberapa tradisi agama, sembahyang dapat melibatkan nyanyian berupa hymne, tarian, pembacaan doa atau puji-pujian dan naskah agama dengan dinyanyikan atau disenandungkan, pernyata’an formal kredo, atau ucapan spontan dari orang yang berdoa.

Seringkali sembahyang dibedakan dengan doa, doa lebih bersifat spontan dan personal, serta umumnya tidak bersifat ritualistik. Meskipun demikian pada hakikatnya aktivitas ini sama, yakni sebuah bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Kebanyakan agama menggunakan salah satu cara dalam melaksanakan ritual persembahyangannya. Beberapa agama meritualkan kegiatan ini dengan menerapkan berbagai aturan seperti waktu, tata cara, dan urutan sembahyang. Ada juga yang menerapkan aturan ketat mengenai apa saja yang harus disediakan, misalnya benda persembahan atau sesaji, pakaian dan tempat serta kapan ritual itu harus dilakukan. Sementara beberapa pandangan lainnya memandang berdoa atau bersembahyang dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja.

JELASNYA TENTANG PERBEDA’AN ANATAR SHALAT DAN SEMBAHYANG ADALAH:
Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
KALAU SHALAT tidak pakai waktu dan aturan, karena di lakukan seiring keluar masuknya napas selama 24 jam. SEDANGKAN SEMBAYANG harus tepat waktu dan aturan yang sudah di tentukan oleh masing-masing agama.
KALAU SHALAT bisa di lakukan dalam keada’an apapun dan dimanapun. SEDANGKAN SEMBAYANG harus di lakukan di tempat-tempat tertentu dan dengan waktu-waktu tertentu.
KALAU SHALAT lebih mengutamakan suara hati, bahasa hati dan tidak mengharuskan raga. SEDANGKAN SEMBAYANG lebih mengutamakan suara lisan dan gerakan raga.
SEMBAHYANG ADALAH GERAKAN TAPI SHALAT ADALAH PERILAKU ….
Saya Ulangi sekali lagi; Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
He he he . . . Edan Tenan.

LANJUT PUNYA CERITA:
Sekarang saya ingin mengungkap INTISARI dari Keduanya itu;
HAMPIR SEMUA UMAT MUSLIM MENGETAHUI BAHWA SHALAT ITU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ( INNASSHOLTA TANHA ANIL FAHSYAI WAL MUNKAR )
TAPI PADA KENYATAANNYA HAMPIR DISETIAP LORONG YANG saya JUMPAI, JUSTRU SEBALIKNYA, YAITU : YANG SHALAT MALAH MENGAJAK MANUSIA UNTUK BERBUAT KEJI DAN MUNGKAR…TERUTAMA KAUM HAWA ( KHUSUSNYA IBU IBU ) YANG SAMPAI SAAT INI MASIH SAJA MEMANFAATKAN MEDIA NGERUMPI DAN GHOSIB UNTUK MENJADI AJANG PERTEMUAN YANG HANGAT DAN SALING JOR JORAN UNTUK MEMBUKA AIB ORANG LAIN DENGAN PENUH KEAKRABAN. KELOMPOK WANITA YANG SATU MENG OLOK OLOK SEKELOMPOK WANITA YANG LAIN…DEMIKIAN PULA LELAKI YANG SATU MENGOLOK OLOK KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN…DAN SETERUSNYA .
DAN BAHKAN YANG LEBIH PARAH LAGI. SEKELOMPOK LAKI-LAKI YANG SATU MENGAJAK BEBERAPA KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN UNTUK MENFITNAH. MENCEMOH. MENGHINA BAHKAN MEMBUNUH, DAN MEMBINASAKAN ORANG2 YANG TAK BERDOSA LAINNYA…

BEGITULAH PEMAHAMAN SHALAT YANG AYAT DAN DALILNYA ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ITU DIPERKOSA OLEH PARA BADUT – BADUT YANG MERASA SHALAT 5 WAKTUNYA ADALAH TIKET EXCUTIV UNTUK MASUK SURGA, PADAHAL PERBUATAN DIA SANGAT TIDAK SESUAI ( BERTENTANGAN ) DENGAN KEMAUAN ALLAH YANG TERCANTUM DI ALQURAN BAHWA YANG DISEBUT SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR.

029:045 “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih utama. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

049:011 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri”
[1410] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman
[1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

049:012 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”

YANG SAYA HERANKAN…. KENAPA TOKOH TOKOH AGAMA TIDAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENCARI DEVINISI SHALAT YANG SEBENARNYA MELALUI PEDOMAN HIDUP ( AL-QURAN ) YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADA PARA NABI. MENGAPA SHALAT 5 WAKTU YANG JELAS-JELAS MASIH MENGGUNJING, BERPRASANGKA BURUK, DAN BAHKAN MEMBUNUH SECARA KEJI DAN BIADAB ITU MASIH DIANGGAB SHALAT YANG KATANYA DILAKSANAKAN OLEH PARA NABI ITU.
BUKANKAH MASIH ADA PENGERTIAN DAN MAKSUD YANG LAIN TENTANG SHALAT ITU. DISAMPING HANYA SEKEDAR TUNGKAT-TUNGKIT. JENGKANG-JENGKING TETAPI TERNYATA MASIH KEJI DAN MUNGKAR ITU ??

JANGAN- JANGAN PARA NABI DALAM MENGAJARKAN SHALAT ITU TIDAK SEPERTI PENGAJARAN NENEK MOYANG KITA YANG TIDAK DAPAT PETUNJUK DAN TERSERET KE NERAKA OLEH IBLIS SYAITAN YANG TERKUTUK ITU…??!
ATAU BARANG KALI SEMUA INI TERJADI OLEH AKIBAT UMAT YANG MINIM PENGETAHUAN DAN HANYA MENGIKUTI KATANYA PARA PENDAHULU TANPA MENGETAHUI SUMBER YANG ASLINYA…??!
He he he . . . Edan Tenan. Piye Lurr…!!!

017:036 “Janganlah sekali-kali kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hatimu, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

ATAU BARANG KALI TIDAK HANYA MENGIKUTI KATANYA SAJA. YANG MENJADIKAN KEBANYAKAN DARI KITA TERSESAT DAN TULI TERHADAP PENGERTIAN SHALAT YANG SEBENARNYA, JANGAN – JANGAN BANYAKNYA BUKU IMPORT DAN OKNUM YANG MEMUTAR-MUTAR LIDAHNYA ITU, JUGA MENJADI ANDIL KESALAH PAHAMAN SAUDARA-SAUDARI KITA SECARA TURUN TEMURUN SAMPAI KINI HINGGA YANG AKAN DATANG …? Waduh… payah tur parah kie…

TENTU AKAL DAN LOGIKA YANG BERDASARKAN AL-QUR’AN LAH YANG DAPAT MENYELAMATKAN UMAT ISLAM YANG SA’AT INI SEDANG DIRUDUNG PERSOALAN BESAR DI TENGAH MASYARAKAT YANG KEBANYAKAN MELAKSANAKAN SHALAT 5 WAKTU NAMUN TIDAK DAPAT MENCEGAH KEJI DAN MUNGKAR ITU. CUMA YANG JADI MASALAH… MEREKA MALU DAN GENGSI TIDAK UNTUK MEMBUKAN AL-QUR’AN DAN MEMPELAJARINYA DARI AWAL LAGI…? AL-QUR’AN DAN AKAL YANG DIBERI RAHMATLAH YANG MAMPU MENYELAMATKAN ANAK CUCU ADAM YANG TELAH LAMA TERSESAT DARI KATANYA DAN MEMBACA BUKU-BUKU YANG DIKARANG OLEH MANUSIA MANUSIA YANG TIDAK BERPEMBUTIAN DAN YANG TIDAK PULA MENDAPAT PETUNJUK ( HIDAYAH ) LANTARAN TIDAK PERNAH LAKU KETUHANAN SENDIRI… TAUNYA KULAK JARE ADOL NDEAN TERUS DI BUKUKAN LALU DI SYI’ARKAN… WELEH-WELEH… JAN UEEEEDAN TENAN.

MAKSUD DAN TUJUAN ALLAH MENJADIKAN DAN MENURUNKAN AL-QUR’AN DENGAN BERBAHASA ARAB. ITU HANYA DAPAT DIBUKTIKAN OLEH SESEORANG, KETIKA ORANG ITU MENGALAMI DISTORSI TERHADAP SEBUAH ISTILAH YANG BERTENTANGAN DENGAN NALURI KEBANYAKAN ORANG PADA SAAT TERTENTU DAN DI TEMPAT-TEMPAT TERTENTU… KARENA ITU ALLAH MENYERUKAN AGAR AL-QUR’AN YANG BERBAHASA ARAB ITU. TIDAK HANYA SEKEDAR DIBACA SAJA, NAMUN LEBIH TAJAM LAGI HENDAKNYA DAPAT DIPAHAMI DAN DAPAT DILAKSANAKAN HUKUM-HUKUMNYA ..

PERSOALAN PEMAHAMAN INILAH YANG DAPAT MENYEBABKAN PERBEDAAN SUDUT PANDANG DI KALANGAN AKAR RUMPUT YANG MEMBUAHKAN PERSELISIHAN ANTAR KELOMPOK TURUN TEMURUN HINGGA SEKARANG INI. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG SAJA SAMPAI SAAT INI MEMPUNYAI TINGKAT KEBUNTUAN YANG SULIT UNTUK DIMENGERTI. ADA YANG MENGATAKAN SHALAT DAN SEMBAHYANG ITU SAMA, ADA YANG MENGATAKAN SHALAT ITU BAHASA ARAB ( KHUSUS UNTUK ORANG ISLAM ), SEDANGKAN SEMBAHYANG ADALAH SHALATNYA ORANG DILUAR ISLAM, BAHKAN ADALAGI YANG MENGATAKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH SEMUA PERBUATAN BAIK.

BAGI UMAT ISLAM SEMBAHYANG ITU WAJIB HUKUMNYA AGAR MANUSIA TETAP INGAT UNTUK TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK PELIT, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK MENGGUNJING, AGAR TETAP INGAT UNTUK SELALU BERBUAT BAIK DAN BERMANFAAT BAGI MANUSIA. SEMBAHYANG BAGI UMAT ISLAM MERUPAKAN REMAINING SISTEM YANG SELALU BERBUNYI DALAM SEHARI 5 KALI,

SEMBAHYANG ADALAH SHALAT YANG DIATUR WAKTUNYA
SEMBAHYANG ADALAH ALAT MENUJU SHALAT
SEMBAHYANG ADALAH CARA MENGINGAT ALLAH DI WAKTU WAKTU TERTENTU, DI TEMPAT TEMPAT TERTENTU, DAN MEMPUNYAI SYARAT SYARAT TERTENTU,

TAPI SHALAT ADALAH MELAKSANKAN PERINTAH YANG DISUKAI DAN DIRIDHAI ALLAH DISETIAP SAAT TANPA MENGENAL WAKTU DAN TEMPAT ( TERMASUK MELAKSANAKAN SEMBAHYANG ITU SENDIRI ), MAKA SEMBAHYANG PUN BISA DIARTIKAN SEBAGAI SHALAT JIKA DI JALANKAN DENGAN KHUSU’ KARENA SEMBAHYANG SEBAGIAN KECIL DARI PADA SHALAT, AKAN TETAPI SHALAT BELUM TENTU SEMBAHYANG…BISA BERSEDEKAH, BISA BERBUAT BAIK, BISA SILATURAHIM, BISA MENCARI NAFKAH, BISA BERDZIKIR, BISA BERSAMADI ATAU BERMEDITA DAN LAIN SEBAGAINYA.

WAHAI SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI KUSUSNYA ANAK-ANAK DIDIKKU…MARI KITA PAHAMI SHALAT KITA….DAN MARI KITA PAHAMI SEMBAHYANG KITA….JANGANLAH SEMBAHYANG KITA DIANGGAB OLEH ALLAH SEBAGAI SIULAN DAN TEPUK TANGAN BELAKA. YANG MENYEBABKAN AZAB BESERTA KITA…. YAITU SEMBAHYANG YANG TIDAK TAHU APA APA….SEMBAHYANG YANG HANYA IKUT-IKUTAN KATANYA…

MASIH BANYAK ORANG SEMBAHYANG YANG MELAMUN KEMANA -MANA….MEREKA MENGATAKAN MENGHADAP ALLAH YANG SELALU DIUCAPKAN DALAM DOA IFTITAH, YAITU : IINI WAJJAHTU WAJHIYA LILLADHI FATOROS SAMAWATI WAL ARDHO ) SESUNGGUHNYA KU HADAPKAN WAJAHKU KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI…TAPI KENYATAANNYA DI HATI KITA MASIH MENGHADAP SESUATU YANG BUKAN ALLAH, PADAHAL MEREKA MENGUCAPKAN HUSOLLI SEBELUM TAKBIR… YAITU HUSOLLI FARDHOL MAGHRIBI SALASA ROKAATIM MUSTAKBILAL KIBLATI….HUSALLI YANG DIUCAPKAN ADALAH MUSTAKBILAL KIBLATI TETAPI DISAAT YANG SAMA KITA SEDANG MENGHADAP KA’BAH….KENAPA TIDAK DIGANTI DENGAN MUSTAKBILAL KA’BAITI…

AWALNYA SAYAPUN INGIN MENDAPAT PENJELASAN YANG SEBENAR BENARNYA MELALUI AL-QUR’AN, APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH…..? LALU APA PULA BEDANYA ALLAH, KIBLAT DAN KA’BAH…? PADAHAL YANG KITA UCAPKAN DI DOA IFTITAH ADALAH ALLAH… YANG KITA UCAPKAN DI AYAT INI, BAHWA KITA MENGHADAPKAN DIRI KITA KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI DENGAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN NYA…. TAPI NIAT UCAPAN KITA DI AWAL SEBELUM TAKBIR MENGATAKAN MENGHADAPKAN DIRI KITA KE KIBLAT….SEMENTARA KENYATAAN ASLINYA KITA MENGHADAP KE BARAT ATAU KE ARAH KA’BAH…. SEMENTARA LAGI ALLAH BERFIRMAN BAHWA APA YANG KAMU SEMBAH SELAIN ALLAH ITU ADALAH BERHALA DAN MEMBUAT KAMU DUSTA…

LALU PERTANYAANNYA ADALAH : APA BEDANYA ALLAH DENGAN KIBLAT… APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH…DAN APA BEDANYA ALLAH, KIBLAT, KA’BAH DAN BERHALA….?
INILAH YANG MENJADI PERTANYAAN SAYA SELAMA LAKU SPIRITUAL…?
DAN ALHAMDULILLAH SAYA BERHASIL MENDAPAT JAWABAN DARI WAHYU PANCA GA’IB (KUNCI), BAHWA SEMBAHYANG ITU HARUS BERDASARKAN WAHYU….BUKAN BERDASARKAN KITAB KITAB SELAIN WAHYU…

TERNYATA SEMBAHYANG ITU HARUS DIBIMBING WAHYU….OLEH KARENA ITU SAYA SELALU BERUSAHA BERSAMA KUNCI DI SETIAP SEMBAHYANG SAYA. AGAR SELALU BENAR-BENAR NYAMBUNG DENGAN ALLAH DAN MENGURANGI BAYANG BAYANG KESYIRIKAN AGAR SUPAYA DAPAT MERASAKAN KHUSYU’ NYA TAKHIATAL MASJID….SUBUH…DHUHUR…ASHAR…MAGRIB DAN ISYA’ TANPA MEMPERSEKUTUKAN ALLAH….LHA ILA HA ILLALLAH…..
ASSHADU ALLA ILA HAILLALLAH, WA ASSHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLAH… JIKA TIDAK. SAYA HANYA AKAN SHALAT SAJA. TIDAK AKAN SEMBAHYANG. MAKA… JANGAN HERAN JIKA BERSAMA DENGAN SAYA. MELIHAT SAYA TIDAK SEMBAHYANG. KARENA SAYA HANYA MAU SEMBAHYANG KETIKA BERSAMA KUNCI. JIKA TIDAK, SAYA MERASA RUGI DALAM SEMBAHYANG. UNTUK APA SAYA JENGANG JENGKING SEMBAYANG, JIKA TIDAK BISA NYAMBUNG DENGAN TUHAN…. BAGI SAYA, SEMBAHYANG. HUKUMNYA HARUS DAN WAJIB NYAMBUNG/BERTEMU DENGAN TUHAN.

SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI SEKALIAN. KUSUSNYA ANAK-ANAK DIDIK SAYA…. APAPUN YANG SAYA TULIS/WEDARKAN INI. MASIH BERUPA KONSEP…. JADI. JANGAN LANGSUNG DI CERNA. IBARATNYA MAKANAN, JANGAN LANGSUNG DI MAKAN/DI EMPLOK… HARAN DAN MOHON DIKOREKSI DAN DI RENUNGKAN SEBAIK MUNGKIN. AGAR TAMBAH MENJADI YANG TERBAIK BUAT KITA SEMUANYA… AMIIN

SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SELAMAT BERKAH SELALU.


 “…………..maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

(QS : Thaahaa,14)

Sudah menjadi Tradisi bagi setiap Umat Muslim se Dunia bahwa setiap melaksanakan Sembahyang/Sholat, maka yang terbenak dalam pikirannya adalah Penyembahan/Menyembah. Entah darimana Bahasa itu berasal, tetapi yang jelas hampir semua dari seluruh Umat Muslim meyakini bahwa kita harus menyembah kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, jika tertanam pada diri untuk Meyembah Allah dalam Amal Ibadah maka yang terjadi adalah pengkultusan suatu “sosok”/”personal”. Padahal telah diketahui dan diyakini oleh Umat Muslim bahwa Allah adalah “Laisa Kamitslihi Syai’un”/Tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun… He he he . . . Edan Tenan

Kata-kata “Menyembah/Penyembahan”, maka masih bisa dimisalkan dengan seseorang yang menyembah kepada sesuatu misalnya Patung, Pohon, Matahari, Api bla… bla… bla… dll, yang mana ada suatu “sosok” yang berada di luar atau di depan atau di atas atau dikanan atau dikiri dari diri Sang Penyembah. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menyembah Patung, Pohon, Matahari, Api bla…bla…dllnya…????. Melihat ataupun tidak melihat akan yang di SEMBAH, tetap saja bertentangan dengan TAUHID yang sebenarnya. Karena TAUHID itu, bukan PENYEMBAHAN melainkan SADAR akan KESADARAN ke ESA an Allah Swt… He he he . . . Edan Tenan

KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt MUTLAK tidak bisa di ganggu gugat, karena Allah Muhitum Fil ‘Aaalamiin/Allah Meliputi sekalian Alam. Tetapi jika dimaknai dengan MENYEMBAH, maka menunjukkan bahwa Allah itu adalah suatu “sosok” yang berada di suatu Tempat yang berada Nan jauh disana….., ada yang meyakini bahwa Allah bersemayam di Atas Arsy yang berada di atas langit ke tujuh, Salahkah jika dikatakan demikian… Benar dan Tidak salah. Tetapi yang salah adalah Penafsiran dari pada Ayat tsb. Apalagi Ayat tsb terdapat dalam Al-Qur’an, berarti itu sudah benar adanya, tetapi…jika salah menafsirkan maka salah pula lah Keyakinan yang ada. Bahasa al-Qur’an adalah Perkataan Allah/Suara Allah, tentunya tidak bisa di cerna dengan Akal pikir Manusia, karena Akal pikir Manusia itu terbatas dan juga Akal itu tercipta. Sesuatu yang tercipta itu adalah Baru dan tidak Kekal, apakah bisa sesuatu yang baru dan tidak kekal itu mengetahui Hakikat sebenarnya dari kata-kata/Firman/Suara Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an…???

Jika akal mencerna lalu menafsirkan hanya sebatas kata-kata yang menurut akal pikir semata, maka Nyata SALAH lah….penafsiran yang demikian. Sebab, Allah itu Laitsa Kamitslihi Syai’un, bagaimana mungkin bisa dikatakan berada di suatu tempat, sedangkan Allah tidak terikat oleh Ruang dan Waktu. Ruang dan Waktu menunjukkan Tempat, dan hanya Makhluk lah….yang berada dan terikat oleh Ruang dan Waktu. Sedangkan Allah….., Tidak bertempat tetapi yang memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat).

Karenanya dalam pandangan TAUHID dan TASAWUF atau MA’RIFATULLAH, maka siapa yang menyembah Allah maka mereka berada dalam ke kufuran, Karena telah menyamakan Allah dengan “sosok” yang berada di suatu tempat… He he he . . . Edan Tenan

Para Arifbillah(yang Mengenal akan Allah), menilik kata-kata “MENYEMBAH” itu bukanlah suatu “PENYEMBAHAN” melainkan “KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”.

Jadi……..mendirikan Sembahyang/Sholat adalah untuk mengenal akan ALLAH MAHA BESAR (ALLAHU AKBAR) yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa BENAR lah….ALLAH itu ESA tiada sekutu bagi-Nya, Tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan-Nya meliputi tiap-tiap sesuatu.

Karenanya renungkanlah…..kenapa pada saat Takbiratul Ihram mengangkat ke dua tangan dan mengatakan “ALLAAHU AKBAAR”. Ternyata Itu adalah Tanda dan Bukti bahwa dalam Penyerahan Diri akan Tumbuh Kesadaran bahwa “YA” BENAR!!!!…..Allah Maha Besar dan Meliputi”.

fadilah surat yasin

Posted: 23 September 2011 in islamic

RASULULLAH s.a.w telah bersabda yang bermaksud: “Bacalah surah Yassin kerana ia mengandungi keberkatan”, iaitu:

1. Apabila orang lapar membaca surah Yassin, ia boleh menjadi kenyang.
2. Jika orang tiada pakaian boleh mendapat pakaian.
3. Jika orang belum berkahwin akan mendapat jodoh.
4. Jika dalam ketakutan boleh hilang perasaan takut.
5. Jika terpenjara akan dibebaskan.
6. Jika musafir membacanya, akan mendapat kesenangan apa yang dilihatnya.
7. Jika tersesat boleh sampai ke tempat yang ditujuinya.
8. Jika dibacakan kepada orang yang telah meninggal dunia, Allah meringankan siksanya.
9. Jika orang yang dahaga membacanya, hilang rasa hausnya.
10. Jika dibacakan kepada orang yang sakit, terhindar daripada penyakitnya.
11. Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati dan hati al-Quran itu ialah Yassin. Sesiapa membaca surah Yassin,nescaya Allah menuliskan pahalanya seperti pahala membaca al-Quran sebanyak 10 kali.
12. Sabda Rasulullah s.a.w lagi, “Apabila datang ajal orang yang suka membaca surah Yassin pada setiap hari, turunlah beberapa malaikat berbaris bersama Malaikat Maut. Mereka berdoa dan meminta dosanya diampunkan Allah, menyaksikan ketika mayatnya dimandikan dan turut menyembahyangkan jenazahnya”.
13. Malaikat Maut tidak mahu memaksa mencabut nyawa orang yang suka membaca Yassin sehingga datang Malaikat Redwan dari syurga membawa minuman untuknya.Ketika dia meminumnya alangkah nikmat perasaannya
dan dimasukkan ke dalam kubur dengan rasa bahagia dan tidak merasa sakit ketika nyawanya diambil.
14. Rasulullah s.a.w bersabda selanjutnya: “Sesiapa bersembahyang sunat dua rakaat pada malam Jumaat, dibaca pada rakaat pertama surah Yassin dan rakaat kedua Tabaroka, Allah jadikan setiap huruf cahaya dihadapannya pada hari kemudian dan dia akan menerima suratan amalannya ditangan kanan dan diberi kesempatan membela 70 orang daripada ahli rumahnya tetapi sesiapa yang meragui keterangan ini, dia adalah orang-orang yang munafik.

Tafsir Ayat Kursi

Posted: 16 Agustus 2011 in islamic

Keutamaan Ayat Kursi

Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255. Yang akan kita pelajari bersama dalam kesempatan ini adalah ayat kursi.

Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

“Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau berkata, “Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”

Aku pun menjawab,

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Maka beliau memukul dadaku dan berkata, “Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810)

Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,

“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”

Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata,

“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)

Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa si jin mengatakan:

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ

“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.” (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)

Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur.

Tafsir Ayat Kursi

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).”

Allah adalah nama yang paling agung milik Allah ta’ala. Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.

Al-Hayyu dan al-Qayyum adalah dua di antara al-Asma’ al-Husna yang Allah miliki. Al-Hayyu artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. Al-Qayyum berarti bahwa semua membutuhkan-Nya dan semua tidak bisa berdiri tanpa Dia. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asma’ al-Husna yang lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Hayyul Qayyum adalah nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua nama ini ada di ayat kursi.

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

“Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.”

Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Dia tidak lalai terhadap hamba-hamba-Nya.

Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur.

Barangkali ada yang mengatakan, “Menafikan kantuk saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja tidak, apalagi tidur.”

Akan tetapi, Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi (1) orang tidur tanpa mengantuk terlebih dahulu, dan (2) orang bisa menahan kantuk, tetapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak berarti otomatis menafikan tidur.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ

“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.”

Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali dengan kehendak Allah.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”

Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah adalah doa. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallamberarti mengharapkan agar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang tidak khusus untuk Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, seperti syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan ke dalamnya, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di surga.

Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak, saudara atau sahabatnya di akhirat. Akan tetapi, syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:

  1. Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.
  2. Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan menaatiNya menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua laranganNya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”

Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi, bahkan hal yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu Allah sangat sempurna.

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.”

Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan. Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan kursi dengan berkata:

الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah.” (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)

Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Ayat ini menunjukkan besarnya kursi Allah dan besarnya Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallambersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْع مَعَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْض فَلاَةٍ

“Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang.” (HR. Ibnu Hibban no.361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)

وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Allah tidak terberati  pemeliharaan keduanya.”

Seorang ibu, tentu merasakan betapa lelahnya mengurus rumah sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun, tidak demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi beserta isinya sangat ringan bagi-Nya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzat-Nya berada di ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan: “Di mana Allah?”

Ia menjawab, “Di langit.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapa saya?”

Ia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.”

Maka, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepada majikannya (majikan budak perempuan tersebut -ed),“Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!” (HR. Muslim no. 537)

Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.

Kesimpulan:

  1. Semua ayat al-Qur’an agung. Adapun ayat yang paling agung adalah ayat kursi.
  2. Disunnahkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.
  3. Penegasan kalimat tauhid.
  4. Arti al-Hayyu dan al-Qayyum yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.
  5. Semua bentuk  kekurangan harus dinafikan dari Allah.
  6. Arti syafaat dan syarat memperolehnya.
  7. Ilmu Allah sangat sempurna.
  8. Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat  yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.
  9. Arti dan keagungan kursi Allah.
  10. Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.
  11. Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.
  12. Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Wallahu a’lam.

Referensi:

  1. Al-Quran dan  Terjemahnya
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Fathul Qadir, asy-Syaukani
  4. Taysirul Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa’di
  5. Shahih al-Bukhari
  6. Shahih Muslim
  7. Al-Mu’jam al-Kabir, ath-Thabrani
  8. al-Mustadrak, al-Hakim.
  9. Shahih Ibnu Hibban
  10. Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani
  11. Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani
  12. Fathul Majid, Abdurrahman bin Hasan
  13. Fiqhul Asma’il Husna, Abdurrazzaq al-Badr
  14. Al-Qamus al-Muhith, al-Fairuzabadi

Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi berkata: “…tiada kehidupan untuk hati, tidak ada kesenangan dan ketenangan baginya, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintai-Nya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya tanpa yang lain…”(Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah)