ini terinpirasi betul dari pengalaman orang-orang yang dianggap goblog, tak berilmu, dan gila dari dunia. Contohnya seperti pencipta pesawat terbang dan lampu misalnya.
Dulu mereka dianggap orang-orang disekitarnya anehlah, gobloglah, idiotlah, atau apalah istilahnya. Tapi mereka tetep gigih dan yakin pada imajinasi yang disertai langkah langkah kecil untuk mewujudkannya. Akhirnya kini mereka telah menjadi pewaris bagi dunia, bagi kita semua.

suatu motivasi yang dianggap kebanyakan orang konyol dan ga mutu, bisa jadi hal itu yang jadi detonator(catu di sebuah bom) meledaknya segala potensial kita. Jangan pernah remehin hal-hal yang dianggap kebanyakan orang goblog dan ga bermutu, karena yang goblog ga selamanya goblog.

GOBLOG – enjoy aja …

Posted: 9 April 2015 in education

Judul buku : Guru Goblok Ketemu Murid Goblok
Penulis : Iman Supriyono
Penerbit : SNF Consulting, Surabaya
( http://www.snfconsulting.com )
Peresensi : Abd. Sidiq Notonegoro
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 264 Halaman —–

Sangat banyak di negeri ini orang yang sesungguhnya pantas disebut sebagai orang goblok, tetapi tidak pernah mau untuk mengakui kegoblokannya. Apalagi sampai dengan menyadari bahwa dirinya benar-benar goblok. Mengapa demikian? Memang sangat memerahkan telinga –dan pasti ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar ”goblok”– apabila ada yang menyematkan identitas pada diri dengan panggilan ”orang goblok”.

Meskipun demikian, di balik sangat banyaknya orang goblok yang emoh disebut sebagai orang goblok, masih ada sebagian kecil orang yang sudi untuk mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang goblok. Bahkan mereka tampak enjoy untuk menyebut dan disebut sebagai orang goblok. Mengapa pula demikian? Karena dengan memproklamasikan diri sebagai ”orang goblok”, mereka mampu melapangkan jalan kesempatan yang luas dan panjang untuk selalu belajar dan belajar.

Salah satu manusia langka yang tidak malu untuk mendeklarasikan diri sebagai ”orang goblok” adalah Iman Supriyono (dan gurunya, Abdul Rachim). Dengan kesadarannya yang sangat dalam sebagai orang goblok, akhirnya buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok ini pun lahir. Hebatnya lagi, buku Iman Supriyono yang (merasa) goblok ini merupakan karya buku ke-7. Hebat kan, orang goblok bisa menulis buku, sampai tujuh lagi. Padahal yang selama ini mengaku ”pinter” saja banyak yang tidak mampu menggoreskan satu pun kalimat bermakna, dan selalu marah kalau dipanggil ”goblok”.

Tapi Iman Supriyono dan gurunya bukanlah orang ”goblok” yang sembarang goblok. Mereka adalah jenis manusia ”goblok” khusus. Menurutnya, kegoblokan manusia itu dapat dipilah menjadi tiga tingkatan. Yakni, orang goblok yang masih menyadari bahwa dirinya goblok. Goblok tingkat pertama ini bahkan menurut Iman Supriyono merupakan goblok yang disarankan. Seseorang boleh saja (dan bahkan harus) merasa goblok. Syaratnya, masih menyadari bahwa dirinya goblok dan kemudian mau belajar terus. Bahkan setiap saat kita harus merasa goblok. Maksudnya? Setiap saat merasa ada sesuatu yang kita ingin bisa tetapi belum bisa. Tindak lanjutnya dengan belajar hingga bisa. Begitu bisa, segera temukan apa lagi yang belum bisa. Temukan satu kegoblokan lagi. Demikian seterusnya. Selalu goblok (hlm. 83). Inilah yang disebut sebagai ”goblok dinamis” atau goblok yang beruntung.

Sedangkan tingkatan kedua, orang goblok yang tidak menyadari bahwa dirinya goblok. Orang goblok jenis ini tidak akan pernah berkembang (stagnan). Inilah yang juga bisa disebut dengan ”goblok statis”, karena membiarkan diri untuk tetap goblok dalam satu hal selamanya.

Dan, tingkatan ketiga, orang goblok yang tidak merasa dirinya goblok dan bahkan suka menggoblok-goblokkan orang lain. Inilah jenis manusia yang terjangkiti penyakit goblok total, goblok sempurna, goblok absolut. Orang goblok absolut ini bila dinasehati tentang kegoblokannya, serta merta ia menolak. Bahkan merasa dirinya lebih pintar dari orang yang menasehatinya. Inilah jenis manusia yang merasa pintar padahal goblok. Karena itu, Iman Supriyono mewanti-wanti agar kita tidak termasuk golongan orang yang goblok jenis ini. Bahaya !!! (hlm. 84).

Tetapi, untuk menjadi ”goblok dinamis” pun membutuhkan kecerdasan yang berlipat. Untuk belajar menumbuhkan kesadaran sebagai orang goblok, dibutuhkan seorang guru yang bisa mendidik untuk bisa merasa goblok. Nah, guru jenis ini pun ternyata juga sangat langka. Sebab yang banyak ialah guru yang menuntut muridnya pintar dan cenderung menyisihkan murid yang bergaya goblok. Sang guru kerapkali juga tidak mau dikalahkan oleh muridnya, sehingga dia sendiri pun kemudian menjadi sok pintar dan keminter.

Karena itulah, Iman Supriyono pantas merasa bersyukur karena bisa bertemu dan mendapatkan guru yang sudi mendidiknya untuk bisa merasa goblok. Lebih dari itu, Pak Rohim –yang diklaimnya sebagai guru (dalam buku ini)– rela untuk menggoblokkan dirinya yang tidak pernah bosan untuk mendidik dan bahkan memberi kepercayaan terhadap murid-muridnya yang goblok.

Dengan tempaan guru gobloknya, akhirnya Iman Supriyono yang saat ini merupakan konsultan senior di SNF Consulting tidak pernah berhenti untuk terus merasa goblok. Salah satu bukti kesadaran akan kegoblokan dirinya ialah tentang mimpinya untuk bisa membuat kantor konsultan yang bisa dipercaya perusahaan-perusahaan kelas dunia. Akan tetapi hingga saat ini belum tercapai. Belum bisa. Goblok. Dan, karena itu, ia tidak akan pernah berhenti untuk mengentaskan diri dari ambisi goblok tersebut hingga mimpinya jadi kenyataan.

Memperhatikan semangat Iman Supriyono yang meledak-ledak untuk membakar jiwa entrepreneur dan investor ini, maka kehadiran buku perlu menjadi pegangan wajib bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari kegoblokan statis dan bahkan kegoblokan absolut. Bahkan tidak hanya bagi mereka yang sedang ingin mengembangkan usaha bisnis jasa saja, tetapi juga para pendidik (guru dan dosen) yang selalu merasa sok lebih pandai dari murid atau mahasiswanya. Teladan Pak Rohim –yang selalu merasa sebagai guru goblok– perlu diwarisi para pemegang kunci gerbang dunia akademis.


IMG_20140607_102059


Selamat Ulang Tahun istriku tercinta…

Semoga selalu diberikan kesehatan, kekuatan, kebaikan, keberhasilan dalam segala hal.

Selalu menjadi Super mom untuk anak kita.

Selalu menjadi Super wife untukku & kehidupan kita.

Doa terbaikku selalu bersamamu istriku.

Sekali lagi,
Dengan penuh rasaku padamu kuucapkan ; Selamat Ulang Tahun Istriku.

Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku,

Kamu bagian terindah

dan pastinya akan ku habiskan seluruh hidup ini bersamamu.

Aku yang mencintaimu sepenuhnya,

Suamimu. (latif)


( diposting ulang dari : Wong Edan Bagu )
Di waktu yang lalu, saya sudah menyinggung sedikit tentang IMAN. ISLAM. IHSAN, sekarang di kesempatan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal tersebut, lebih rinci dan jelas lagi. Dengan Tema. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG. Semoga pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at berkah bagi sekalian sahabat-sahabat saya, terutaman anak-anak didik saya Terkasih, sebagai tambahan pemahaman di dalam pengalaman Spiritual Hakikat Hidup.

PENGERTIAN SHALAT:
Shalat secara bahasa berarti berdo’a. dengan kata lain, shalat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian shalat menurut syara’ terlalu banyak, ada yang mengartikan, shalat itu adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ada yang mengartikan, shalat itu adalah bacaan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a, ada yang mengartikan kalau shalat itu merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. ADA YANG MENGARTIKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, ADA PULA YANG MENGARTIKAN SEBAGAI : DOA, TIDAK KIKIR, SELALU BERSYUKUR, MENGHUBUNGKAN (SILATURAHIM ), AGAMA, AMANAH, PERKATAAN YANG BERGUNA, MENJAGA KEMALUAN, SHOLAWAT, BERBUAT BAIK DAN SEBAGAINYA. ISTILAH SHALAT DI DALAM AL-QUR’AN SUNGGUH TERAMAT LUAS MAKNA DAN PENGERTIANNYA, KARENA “ KATA SHALAT “ MEMPUNYAI KOSA KATA YANG SANGAT LUAS MAKNANYA JIKA DITINJAU DARI SEGI BAHASA ARAB MELAUI NAHWU SOROF, BALAGHO, BAYAN, BADI’, MA’ANI DAN LAIN SEBAGAINYA. dan masih banyak lagi Arti-arti DAN MAKNA-MAKNA lainya yang memusingkan kepaLa dan membingungkan otak. Seperti banyaknya hadist yang harus di percayai dan di benarkan, karena si empunya hadist adalah orang-orang yang diyakini adalah pilihan Tuhan. Contoh hadis dari satu tokoh dibawah ini:

“(Hasbi Asy-Syidiqi, 59) mengartikan bahwa shalat itu merupakan berhadapannya hati (jiwa) kepada Allah, dengan cara mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan keperluan kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya”

Disisi lain (Hasbi Asy-Syidiqi) mengartikan lain lagi, bahwa shalat yaitu beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. POKOKNYA…. pusing, karena saking banyaknya hadist dan riwayat yang mengartikan tentang Shalat yang harus kita akui kebenaranya walaupun semuanya berbeda-beda dalam mengartikannya.

Padahal INTInya sangat sederhana alias tidak sulit, tidak rumit, tidak jlimet tidak repot, tidak muter-muter, tidak memusingkan lagi. Karena makna dan arti Shalat itu. Adalah… INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Tidak muter-muter memusingkan kepala kan…?

PENGERTIAN SEMBAHYANG:
Sembahyang adalah suatu bentuk kegiatan keagamaan yang menghendaki terjalinnya hubungan dengan Tuhan, dewa, roh atau kekuatan gaib yang dipuja, dengan melakukan kegiatan yang disengaja. Sembahyang dapat dilakukan secara bersama-sama atau perseorangan. Dalam beberapa tradisi agama, sembahyang dapat melibatkan nyanyian berupa hymne, tarian, pembacaan doa atau puji-pujian dan naskah agama dengan dinyanyikan atau disenandungkan, pernyata’an formal kredo, atau ucapan spontan dari orang yang berdoa.

Seringkali sembahyang dibedakan dengan doa, doa lebih bersifat spontan dan personal, serta umumnya tidak bersifat ritualistik. Meskipun demikian pada hakikatnya aktivitas ini sama, yakni sebuah bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Kebanyakan agama menggunakan salah satu cara dalam melaksanakan ritual persembahyangannya. Beberapa agama meritualkan kegiatan ini dengan menerapkan berbagai aturan seperti waktu, tata cara, dan urutan sembahyang. Ada juga yang menerapkan aturan ketat mengenai apa saja yang harus disediakan, misalnya benda persembahan atau sesaji, pakaian dan tempat serta kapan ritual itu harus dilakukan. Sementara beberapa pandangan lainnya memandang berdoa atau bersembahyang dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja.

JELASNYA TENTANG PERBEDA’AN ANATAR SHALAT DAN SEMBAHYANG ADALAH:
Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
KALAU SHALAT tidak pakai waktu dan aturan, karena di lakukan seiring keluar masuknya napas selama 24 jam. SEDANGKAN SEMBAYANG harus tepat waktu dan aturan yang sudah di tentukan oleh masing-masing agama.
KALAU SHALAT bisa di lakukan dalam keada’an apapun dan dimanapun. SEDANGKAN SEMBAYANG harus di lakukan di tempat-tempat tertentu dan dengan waktu-waktu tertentu.
KALAU SHALAT lebih mengutamakan suara hati, bahasa hati dan tidak mengharuskan raga. SEDANGKAN SEMBAYANG lebih mengutamakan suara lisan dan gerakan raga.
SEMBAHYANG ADALAH GERAKAN TAPI SHALAT ADALAH PERILAKU ….
Saya Ulangi sekali lagi; Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
He he he . . . Edan Tenan.

LANJUT PUNYA CERITA:
Sekarang saya ingin mengungkap INTISARI dari Keduanya itu;
HAMPIR SEMUA UMAT MUSLIM MENGETAHUI BAHWA SHALAT ITU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ( INNASSHOLTA TANHA ANIL FAHSYAI WAL MUNKAR )
TAPI PADA KENYATAANNYA HAMPIR DISETIAP LORONG YANG saya JUMPAI, JUSTRU SEBALIKNYA, YAITU : YANG SHALAT MALAH MENGAJAK MANUSIA UNTUK BERBUAT KEJI DAN MUNGKAR…TERUTAMA KAUM HAWA ( KHUSUSNYA IBU IBU ) YANG SAMPAI SAAT INI MASIH SAJA MEMANFAATKAN MEDIA NGERUMPI DAN GHOSIB UNTUK MENJADI AJANG PERTEMUAN YANG HANGAT DAN SALING JOR JORAN UNTUK MEMBUKA AIB ORANG LAIN DENGAN PENUH KEAKRABAN. KELOMPOK WANITA YANG SATU MENG OLOK OLOK SEKELOMPOK WANITA YANG LAIN…DEMIKIAN PULA LELAKI YANG SATU MENGOLOK OLOK KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN…DAN SETERUSNYA .
DAN BAHKAN YANG LEBIH PARAH LAGI. SEKELOMPOK LAKI-LAKI YANG SATU MENGAJAK BEBERAPA KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN UNTUK MENFITNAH. MENCEMOH. MENGHINA BAHKAN MEMBUNUH, DAN MEMBINASAKAN ORANG2 YANG TAK BERDOSA LAINNYA…

BEGITULAH PEMAHAMAN SHALAT YANG AYAT DAN DALILNYA ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ITU DIPERKOSA OLEH PARA BADUT – BADUT YANG MERASA SHALAT 5 WAKTUNYA ADALAH TIKET EXCUTIV UNTUK MASUK SURGA, PADAHAL PERBUATAN DIA SANGAT TIDAK SESUAI ( BERTENTANGAN ) DENGAN KEMAUAN ALLAH YANG TERCANTUM DI ALQURAN BAHWA YANG DISEBUT SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR.

029:045 “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih utama. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

049:011 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri”
[1410] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman
[1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

049:012 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”

YANG SAYA HERANKAN…. KENAPA TOKOH TOKOH AGAMA TIDAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENCARI DEVINISI SHALAT YANG SEBENARNYA MELALUI PEDOMAN HIDUP ( AL-QURAN ) YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADA PARA NABI. MENGAPA SHALAT 5 WAKTU YANG JELAS-JELAS MASIH MENGGUNJING, BERPRASANGKA BURUK, DAN BAHKAN MEMBUNUH SECARA KEJI DAN BIADAB ITU MASIH DIANGGAB SHALAT YANG KATANYA DILAKSANAKAN OLEH PARA NABI ITU.
BUKANKAH MASIH ADA PENGERTIAN DAN MAKSUD YANG LAIN TENTANG SHALAT ITU. DISAMPING HANYA SEKEDAR TUNGKAT-TUNGKIT. JENGKANG-JENGKING TETAPI TERNYATA MASIH KEJI DAN MUNGKAR ITU ??

JANGAN- JANGAN PARA NABI DALAM MENGAJARKAN SHALAT ITU TIDAK SEPERTI PENGAJARAN NENEK MOYANG KITA YANG TIDAK DAPAT PETUNJUK DAN TERSERET KE NERAKA OLEH IBLIS SYAITAN YANG TERKUTUK ITU…??!
ATAU BARANG KALI SEMUA INI TERJADI OLEH AKIBAT UMAT YANG MINIM PENGETAHUAN DAN HANYA MENGIKUTI KATANYA PARA PENDAHULU TANPA MENGETAHUI SUMBER YANG ASLINYA…??!
He he he . . . Edan Tenan. Piye Lurr…!!!

017:036 “Janganlah sekali-kali kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hatimu, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

ATAU BARANG KALI TIDAK HANYA MENGIKUTI KATANYA SAJA. YANG MENJADIKAN KEBANYAKAN DARI KITA TERSESAT DAN TULI TERHADAP PENGERTIAN SHALAT YANG SEBENARNYA, JANGAN – JANGAN BANYAKNYA BUKU IMPORT DAN OKNUM YANG MEMUTAR-MUTAR LIDAHNYA ITU, JUGA MENJADI ANDIL KESALAH PAHAMAN SAUDARA-SAUDARI KITA SECARA TURUN TEMURUN SAMPAI KINI HINGGA YANG AKAN DATANG …? Waduh… payah tur parah kie…

TENTU AKAL DAN LOGIKA YANG BERDASARKAN AL-QUR’AN LAH YANG DAPAT MENYELAMATKAN UMAT ISLAM YANG SA’AT INI SEDANG DIRUDUNG PERSOALAN BESAR DI TENGAH MASYARAKAT YANG KEBANYAKAN MELAKSANAKAN SHALAT 5 WAKTU NAMUN TIDAK DAPAT MENCEGAH KEJI DAN MUNGKAR ITU. CUMA YANG JADI MASALAH… MEREKA MALU DAN GENGSI TIDAK UNTUK MEMBUKAN AL-QUR’AN DAN MEMPELAJARINYA DARI AWAL LAGI…? AL-QUR’AN DAN AKAL YANG DIBERI RAHMATLAH YANG MAMPU MENYELAMATKAN ANAK CUCU ADAM YANG TELAH LAMA TERSESAT DARI KATANYA DAN MEMBACA BUKU-BUKU YANG DIKARANG OLEH MANUSIA MANUSIA YANG TIDAK BERPEMBUTIAN DAN YANG TIDAK PULA MENDAPAT PETUNJUK ( HIDAYAH ) LANTARAN TIDAK PERNAH LAKU KETUHANAN SENDIRI… TAUNYA KULAK JARE ADOL NDEAN TERUS DI BUKUKAN LALU DI SYI’ARKAN… WELEH-WELEH… JAN UEEEEDAN TENAN.

MAKSUD DAN TUJUAN ALLAH MENJADIKAN DAN MENURUNKAN AL-QUR’AN DENGAN BERBAHASA ARAB. ITU HANYA DAPAT DIBUKTIKAN OLEH SESEORANG, KETIKA ORANG ITU MENGALAMI DISTORSI TERHADAP SEBUAH ISTILAH YANG BERTENTANGAN DENGAN NALURI KEBANYAKAN ORANG PADA SAAT TERTENTU DAN DI TEMPAT-TEMPAT TERTENTU… KARENA ITU ALLAH MENYERUKAN AGAR AL-QUR’AN YANG BERBAHASA ARAB ITU. TIDAK HANYA SEKEDAR DIBACA SAJA, NAMUN LEBIH TAJAM LAGI HENDAKNYA DAPAT DIPAHAMI DAN DAPAT DILAKSANAKAN HUKUM-HUKUMNYA ..

PERSOALAN PEMAHAMAN INILAH YANG DAPAT MENYEBABKAN PERBEDAAN SUDUT PANDANG DI KALANGAN AKAR RUMPUT YANG MEMBUAHKAN PERSELISIHAN ANTAR KELOMPOK TURUN TEMURUN HINGGA SEKARANG INI. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG SAJA SAMPAI SAAT INI MEMPUNYAI TINGKAT KEBUNTUAN YANG SULIT UNTUK DIMENGERTI. ADA YANG MENGATAKAN SHALAT DAN SEMBAHYANG ITU SAMA, ADA YANG MENGATAKAN SHALAT ITU BAHASA ARAB ( KHUSUS UNTUK ORANG ISLAM ), SEDANGKAN SEMBAHYANG ADALAH SHALATNYA ORANG DILUAR ISLAM, BAHKAN ADALAGI YANG MENGATAKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH SEMUA PERBUATAN BAIK.

BAGI UMAT ISLAM SEMBAHYANG ITU WAJIB HUKUMNYA AGAR MANUSIA TETAP INGAT UNTUK TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK PELIT, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK MENGGUNJING, AGAR TETAP INGAT UNTUK SELALU BERBUAT BAIK DAN BERMANFAAT BAGI MANUSIA. SEMBAHYANG BAGI UMAT ISLAM MERUPAKAN REMAINING SISTEM YANG SELALU BERBUNYI DALAM SEHARI 5 KALI,

SEMBAHYANG ADALAH SHALAT YANG DIATUR WAKTUNYA
SEMBAHYANG ADALAH ALAT MENUJU SHALAT
SEMBAHYANG ADALAH CARA MENGINGAT ALLAH DI WAKTU WAKTU TERTENTU, DI TEMPAT TEMPAT TERTENTU, DAN MEMPUNYAI SYARAT SYARAT TERTENTU,

TAPI SHALAT ADALAH MELAKSANKAN PERINTAH YANG DISUKAI DAN DIRIDHAI ALLAH DISETIAP SAAT TANPA MENGENAL WAKTU DAN TEMPAT ( TERMASUK MELAKSANAKAN SEMBAHYANG ITU SENDIRI ), MAKA SEMBAHYANG PUN BISA DIARTIKAN SEBAGAI SHALAT JIKA DI JALANKAN DENGAN KHUSU’ KARENA SEMBAHYANG SEBAGIAN KECIL DARI PADA SHALAT, AKAN TETAPI SHALAT BELUM TENTU SEMBAHYANG…BISA BERSEDEKAH, BISA BERBUAT BAIK, BISA SILATURAHIM, BISA MENCARI NAFKAH, BISA BERDZIKIR, BISA BERSAMADI ATAU BERMEDITA DAN LAIN SEBAGAINYA.

WAHAI SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI KUSUSNYA ANAK-ANAK DIDIKKU…MARI KITA PAHAMI SHALAT KITA….DAN MARI KITA PAHAMI SEMBAHYANG KITA….JANGANLAH SEMBAHYANG KITA DIANGGAB OLEH ALLAH SEBAGAI SIULAN DAN TEPUK TANGAN BELAKA. YANG MENYEBABKAN AZAB BESERTA KITA…. YAITU SEMBAHYANG YANG TIDAK TAHU APA APA….SEMBAHYANG YANG HANYA IKUT-IKUTAN KATANYA…

MASIH BANYAK ORANG SEMBAHYANG YANG MELAMUN KEMANA -MANA….MEREKA MENGATAKAN MENGHADAP ALLAH YANG SELALU DIUCAPKAN DALAM DOA IFTITAH, YAITU : IINI WAJJAHTU WAJHIYA LILLADHI FATOROS SAMAWATI WAL ARDHO ) SESUNGGUHNYA KU HADAPKAN WAJAHKU KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI…TAPI KENYATAANNYA DI HATI KITA MASIH MENGHADAP SESUATU YANG BUKAN ALLAH, PADAHAL MEREKA MENGUCAPKAN HUSOLLI SEBELUM TAKBIR… YAITU HUSOLLI FARDHOL MAGHRIBI SALASA ROKAATIM MUSTAKBILAL KIBLATI….HUSALLI YANG DIUCAPKAN ADALAH MUSTAKBILAL KIBLATI TETAPI DISAAT YANG SAMA KITA SEDANG MENGHADAP KA’BAH….KENAPA TIDAK DIGANTI DENGAN MUSTAKBILAL KA’BAITI…

AWALNYA SAYAPUN INGIN MENDAPAT PENJELASAN YANG SEBENAR BENARNYA MELALUI AL-QUR’AN, APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH…..? LALU APA PULA BEDANYA ALLAH, KIBLAT DAN KA’BAH…? PADAHAL YANG KITA UCAPKAN DI DOA IFTITAH ADALAH ALLAH… YANG KITA UCAPKAN DI AYAT INI, BAHWA KITA MENGHADAPKAN DIRI KITA KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI DENGAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN NYA…. TAPI NIAT UCAPAN KITA DI AWAL SEBELUM TAKBIR MENGATAKAN MENGHADAPKAN DIRI KITA KE KIBLAT….SEMENTARA KENYATAAN ASLINYA KITA MENGHADAP KE BARAT ATAU KE ARAH KA’BAH…. SEMENTARA LAGI ALLAH BERFIRMAN BAHWA APA YANG KAMU SEMBAH SELAIN ALLAH ITU ADALAH BERHALA DAN MEMBUAT KAMU DUSTA…

LALU PERTANYAANNYA ADALAH : APA BEDANYA ALLAH DENGAN KIBLAT… APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH…DAN APA BEDANYA ALLAH, KIBLAT, KA’BAH DAN BERHALA….?
INILAH YANG MENJADI PERTANYAAN SAYA SELAMA LAKU SPIRITUAL…?
DAN ALHAMDULILLAH SAYA BERHASIL MENDAPAT JAWABAN DARI WAHYU PANCA GA’IB (KUNCI), BAHWA SEMBAHYANG ITU HARUS BERDASARKAN WAHYU….BUKAN BERDASARKAN KITAB KITAB SELAIN WAHYU…

TERNYATA SEMBAHYANG ITU HARUS DIBIMBING WAHYU….OLEH KARENA ITU SAYA SELALU BERUSAHA BERSAMA KUNCI DI SETIAP SEMBAHYANG SAYA. AGAR SELALU BENAR-BENAR NYAMBUNG DENGAN ALLAH DAN MENGURANGI BAYANG BAYANG KESYIRIKAN AGAR SUPAYA DAPAT MERASAKAN KHUSYU’ NYA TAKHIATAL MASJID….SUBUH…DHUHUR…ASHAR…MAGRIB DAN ISYA’ TANPA MEMPERSEKUTUKAN ALLAH….LHA ILA HA ILLALLAH…..
ASSHADU ALLA ILA HAILLALLAH, WA ASSHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLAH… JIKA TIDAK. SAYA HANYA AKAN SHALAT SAJA. TIDAK AKAN SEMBAHYANG. MAKA… JANGAN HERAN JIKA BERSAMA DENGAN SAYA. MELIHAT SAYA TIDAK SEMBAHYANG. KARENA SAYA HANYA MAU SEMBAHYANG KETIKA BERSAMA KUNCI. JIKA TIDAK, SAYA MERASA RUGI DALAM SEMBAHYANG. UNTUK APA SAYA JENGANG JENGKING SEMBAYANG, JIKA TIDAK BISA NYAMBUNG DENGAN TUHAN…. BAGI SAYA, SEMBAHYANG. HUKUMNYA HARUS DAN WAJIB NYAMBUNG/BERTEMU DENGAN TUHAN.

SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI SEKALIAN. KUSUSNYA ANAK-ANAK DIDIK SAYA…. APAPUN YANG SAYA TULIS/WEDARKAN INI. MASIH BERUPA KONSEP…. JADI. JANGAN LANGSUNG DI CERNA. IBARATNYA MAKANAN, JANGAN LANGSUNG DI MAKAN/DI EMPLOK… HARAN DAN MOHON DIKOREKSI DAN DI RENUNGKAN SEBAIK MUNGKIN. AGAR TAMBAH MENJADI YANG TERBAIK BUAT KITA SEMUANYA… AMIIN

SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SELAMAT BERKAH SELALU.


 “…………..maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

(QS : Thaahaa,14)

Sudah menjadi Tradisi bagi setiap Umat Muslim se Dunia bahwa setiap melaksanakan Sembahyang/Sholat, maka yang terbenak dalam pikirannya adalah Penyembahan/Menyembah. Entah darimana Bahasa itu berasal, tetapi yang jelas hampir semua dari seluruh Umat Muslim meyakini bahwa kita harus menyembah kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, jika tertanam pada diri untuk Meyembah Allah dalam Amal Ibadah maka yang terjadi adalah pengkultusan suatu “sosok”/”personal”. Padahal telah diketahui dan diyakini oleh Umat Muslim bahwa Allah adalah “Laisa Kamitslihi Syai’un”/Tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun… He he he . . . Edan Tenan

Kata-kata “Menyembah/Penyembahan”, maka masih bisa dimisalkan dengan seseorang yang menyembah kepada sesuatu misalnya Patung, Pohon, Matahari, Api bla… bla… bla… dll, yang mana ada suatu “sosok” yang berada di luar atau di depan atau di atas atau dikanan atau dikiri dari diri Sang Penyembah. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menyembah Patung, Pohon, Matahari, Api bla…bla…dllnya…????. Melihat ataupun tidak melihat akan yang di SEMBAH, tetap saja bertentangan dengan TAUHID yang sebenarnya. Karena TAUHID itu, bukan PENYEMBAHAN melainkan SADAR akan KESADARAN ke ESA an Allah Swt… He he he . . . Edan Tenan

KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt MUTLAK tidak bisa di ganggu gugat, karena Allah Muhitum Fil ‘Aaalamiin/Allah Meliputi sekalian Alam. Tetapi jika dimaknai dengan MENYEMBAH, maka menunjukkan bahwa Allah itu adalah suatu “sosok” yang berada di suatu Tempat yang berada Nan jauh disana….., ada yang meyakini bahwa Allah bersemayam di Atas Arsy yang berada di atas langit ke tujuh, Salahkah jika dikatakan demikian… Benar dan Tidak salah. Tetapi yang salah adalah Penafsiran dari pada Ayat tsb. Apalagi Ayat tsb terdapat dalam Al-Qur’an, berarti itu sudah benar adanya, tetapi…jika salah menafsirkan maka salah pula lah Keyakinan yang ada. Bahasa al-Qur’an adalah Perkataan Allah/Suara Allah, tentunya tidak bisa di cerna dengan Akal pikir Manusia, karena Akal pikir Manusia itu terbatas dan juga Akal itu tercipta. Sesuatu yang tercipta itu adalah Baru dan tidak Kekal, apakah bisa sesuatu yang baru dan tidak kekal itu mengetahui Hakikat sebenarnya dari kata-kata/Firman/Suara Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an…???

Jika akal mencerna lalu menafsirkan hanya sebatas kata-kata yang menurut akal pikir semata, maka Nyata SALAH lah….penafsiran yang demikian. Sebab, Allah itu Laitsa Kamitslihi Syai’un, bagaimana mungkin bisa dikatakan berada di suatu tempat, sedangkan Allah tidak terikat oleh Ruang dan Waktu. Ruang dan Waktu menunjukkan Tempat, dan hanya Makhluk lah….yang berada dan terikat oleh Ruang dan Waktu. Sedangkan Allah….., Tidak bertempat tetapi yang memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat).

Karenanya dalam pandangan TAUHID dan TASAWUF atau MA’RIFATULLAH, maka siapa yang menyembah Allah maka mereka berada dalam ke kufuran, Karena telah menyamakan Allah dengan “sosok” yang berada di suatu tempat… He he he . . . Edan Tenan

Para Arifbillah(yang Mengenal akan Allah), menilik kata-kata “MENYEMBAH” itu bukanlah suatu “PENYEMBAHAN” melainkan “KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”.

Jadi……..mendirikan Sembahyang/Sholat adalah untuk mengenal akan ALLAH MAHA BESAR (ALLAHU AKBAR) yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa BENAR lah….ALLAH itu ESA tiada sekutu bagi-Nya, Tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan-Nya meliputi tiap-tiap sesuatu.

Karenanya renungkanlah…..kenapa pada saat Takbiratul Ihram mengangkat ke dua tangan dan mengatakan “ALLAAHU AKBAAR”. Ternyata Itu adalah Tanda dan Bukti bahwa dalam Penyerahan Diri akan Tumbuh Kesadaran bahwa “YA” BENAR!!!!…..Allah Maha Besar dan Meliputi”.